Si Rumah Baru

Berat emang meninggalkan rumah yang lama. Secara itu rumah mungkin sudah sangat-sangat menjual harganya, tepat sasaran sesuai tujuan awal. Persis seperti arsitektur yang membangun rumah dengan hitung-hitungan rumit dan njlimet, biar bisa laku dijual lebih mahal dari total biaya … paling nggak ngetop laghh

Seiring jalanya waktu, empunya rumah sadar. Bahwa sebagus apapun rumah, semoncer apapun bentuknya. Tetap saja tidurnya di dalam rumah, dalam ruangan kamar yang luasnya nggak lebih dari 1/8 luas bangunan rumah … sempit


Walhasil, empunya rumah berandai-andai … pasti enak ya, klo tidurnya di depan rumah. Sembari tidur-tiduran, sembari menghayal, dari mulai tidur sampai bangun tidur, bisa terus-terusan memandang rumah yang telah lama dibangun. 😕


Edyannnnn pastinya itu yang punya rumah. Daripada terus-terusan dianggap gila, ora waras … punya rumah kok tidurnya di luar rumah. Si Empu memutuskan untuk cabut dari rumah itu.

Dia lalu membangun rumah baru, masih tetap dilingkungan rumah lamanya. Pastinya, rumah baru dibangun tidak lagi berdasarkan ambisi lamanya. Tapi dengan pondasi baru, agar dia bisa merasakan ketenangan hidup tanpa sekat-sekat tembok yang membagi relung-relung terdalam karyanya.

1 Komentar

Tinggalkan Balasan