Miris saya melihat tulisan di detiksurabaya.com tentang pengaduan seorang wali murid SD karena anaknya memberikan contekan ke temannya.
Surabaya - Suasana di SDN Gadel II/577 Tandes Surabaya mendadak didatangi puluhan warga yang juga wali murid kelas VI. Kabar di sekolah terjadi contekan massal saat pelaksanaan ujian nasional (UN), membuat wali murid teriak histeris bahkan ada yang menangis sesunggukan.
Puluhan wali murid itu menunggu di depan pintu masuk SDN Gadel. Mereka berteriak bahkan ada yang menangis, meminta nama baik sekolahan di kawasan Tandes itu dikembalikan dan berharap Fatkhur salah satu guru yang juga wali kelas VI B, agar tidak dimutasi atau diberi sanksi.
“Jangan dipindah Pak Fatkhur. Pak Fatkhur orangnya baik, puluhan tahun mengajar di sini. Anak cucu saya juga mendapatkan ilmu dan dipintarkan Pak Fatkhur,” teriak Mak Ni, nenek dari salah satu murid kelas VI SDN Gadel II, Senin (6/6/2011).
beritanya klik disini: detik.com
Pertamax, mohon dipahami dulu bahwa tingkat pendidikan Dasar (SD/MI) terutama yang berstatus negeri apalagi yang non favorit, pasti tidak ada seleksi masuk yang menyaring apakah si siswa pintar, bodoh atau malah berstatus “luar biasa” … ingat murid terakhir di film Laskar Pelangi kan?
Keduax, anak usia SD lebih memerlukan pendekatan empiris-psikologis daripada statis-statistik. Karenanya wajar lagh jika guru-guru di SDN ataupun sekolah dasar yang memiliki murid “luar biasa” dizinkan untuk menyontek temanya. karena apa?, karena kasihan! … ya kasihan, kasihan kenapa pak guru?
Pertamax, kasihan karena Pemerintah tidak bisa menyediakan “sekolah dasar luar biasa/SDLB” sebanyak SD normal. Di Wilayah kecamatan Kebonsari-Madiun, hanya ada 1 SDLB
Keduax, biasanya murid yang luar biasanya ini datang golongan tidak mampu.
Ketigax, simpati … dengan keterbatasanya, si murid masih tetap semangat belajar sampe kelas enam … malah ada yang butuh waktu lebih dari enam tahun hanya untuk sampai bisa duduk di kelas akhir SD. Lalu disaat-saat akhir dia belajar, tega-kah kita untuk mengganjarnya dengan mengatakan …. ohh maaf nak, kamu gak lulus SD.
Padahal hanya cuma memiliki ijazah SD saja thok sudah merupakan hukuman, lha kok ini tega-teganya sampai membiarkan dirinya tidak punya ijazah blasss
se”luar biasa” apa pun mereka, pemerintah nggak berhak mem”vonis” mereka dengan alasan UN, mereka adalah tunas yang baru mekar tanpa dosa.
Tapi bukankah itu mengganggu kualitas generasi masa depan bangsa pak guru?, ooohhh tidak, karena …
Pertamax, di tingkat SLTP ada seleksi masuk calon siswa untuk memilah layak tidaknya si siswa untuk meneruskan belajar ke jenjang SMP. dan siswa “luar biasa” seperti ini biasanya akan ditolak
Keduax, meski nilai UN (Ujian Nasional) -nya bagus, tapi nilai raport si “siswa luar biasa” tidak bisa berbohong. karena guru lebih jujur dalam menulis raport karena berdasarkan nilai ulangan harian dan keseharian siswa. Bobot raport sendiri menentukan 50% dalam seleksi masuk SLTP
Ketigax, jika datang dari keluarga tidak mampu, biasanya si murid luar biasa tidak meneruskan belajar. Klo datang dari keluarga menengah-mampu biasanya wali murid akan menempatkan si sekolah luar biasa. Bahkan ada yang malu dengan mengisolirnya di rumah

Pengalaman saya, sudah 2 tahun ini selalu kebagian tugas mengawas. siswa luar biasa seperti ini selalu ada di setiap kelas di setiap SDN di daerah pinggiran. di Sekolah Dasar swasta tempat saya mengajar pun hampir selalu ada di setiap angkatan, tapi probabilitasnya agak tinggi 1 dari 60 siswa. Beda klo di SD Negeri di daerah pinggiran yang hampir 1 dari 10 siswa.
Naghh apakah kemudian kita akan membiarkan mereka meninggalkan bangku SD dengan sebuah “vonis” … nggak lulus SD
itulah sussahnya jadi Guru di tingkat usia anak-anak SD 5-12 tahun. Dihadapi dengan cara dewasa … mereka masih anak-anak, di saat guru ikut kekanak-kanakan yang punya anak marah … lha karepe piye?
Saya tambahi lagi
Nilai itu bukan hanya angka
apakah pantas anak usia SD sudah harus dinilai berdasarkan angka thok
jangan melihat kasus secara kasat mata, pendidikan level SD itu lebih rumit daripada menjejalkan angka-angka pada siswa SMK
naghh sekarang coba lihat kembali film Laskar pelangi
Apakah Harun (yang idiot) pantas diganjar dengan status tidak lulus UN oleh pemerintah?
padahal saat masuk SD saja dia tidak diseleksi oleh pemerintah, lalu kenapa pemerintah berhak menghakimi dia di saat-saat terakhir
dan menurut beberapa radio lokal Jawa Timur, yang terjadi di SDN Gadel bukanlah “contekan massal” seperti yang ditulis detik.com dan jawapos
Tapi murid AL disuruh memberi contekan untuk murid “idiot” biar dia lulus
Mustahil klo dari 26 anak didik, hanya AL yang pinter
Tapi masuk akal klo dari 26 anak didik ada 1 yg idiot,
ingat, ini SD Negeri bukan SD Ciputra atau SD Al-Azhar yang ada seleksi masuk

dilema..
memang harusnya perkembangan anak disesuaikan dengan usianya.
yaghh begitulah kondisinya Mas Ben
ah Muuuooosooookk..
Btw, Emang paling Uuenak dadi GURU SMEA wae.. Nyawange sing Bening-Bening iso nambah dowo Umur Bro..
opo maneh jurusan TATA BUGIL
cita citaku tuh,xixixi pgn jd guru SMEA.
STM pertanian ada jur tata bugil.. sapi
ora mung bugil, malah ngrogoh-ngrogoh barang
skrng msk sd negri harus umur 7thn ya?soalny ponakan d bandung kok dtolak krn umur masih 6thn akhirny msk sd swasta.
mungkin itu kebijakan lokal UPT (unit pelaksana teknis) pendidikan setempat
Sekarang wali murid dan muridnya sama-sama Guoblok. Mentang2 anaknya bisa menjawab/nilainya paling tinggi sudah dibangga-bangga in belum tentu masa depannya cerah. Tergantung nasib …
Trus radio SS juga radio over acting. Mentang2 penyiarnya gajinya tinggi banyak pendengarnya lantas menanggapi berita semacam ini, ditambah panggil wartawan.
Gue juga seorang guru, wali murid, istri seorang penyiar. Jadi masalahnya dari radionya tuh yang banyak kompornya jadi seperti ini … dasar radio gila …
aneh saya melihat anda, kalo anda seorang guru mestinya sering memberikan nasihat jangan berbohong, kok malah ada yang jujur seperti ini sampean bilang goblok. ckckck
Ingat bro, Nilai itu bukan hanya angka
apakah pantas anak usia SD sudah harus dinilai berdasarkan angka thok
jangan melihat kasus secara kasat mata, pendidikan level SD itu lebih rumit daripada menjejalkan angka-angka pada siswa SMK
naghh sekarang coba lihat kembali film Laskar pelangi
Apakah Harun (yang idiot) pantas diganjar dengan status tidak lulus UN oleh pemerintah?
padahal saat masuk SD saja dia tidak diseleksi oleh pemerintah, lalu kenapa pemerintah berhak menghakimi dia di saat-saat terakhir
dan menurut beberapa radio lokal Jawa Timur, yang terjadi di SDN Gadel bukanlah “contekan massal” seperti yang ditulis detik.com dan jawapos
Tapi murid AL disuruh memberi contekan untuk murid “idiot” biar dia lulus
Mustahil klo dari 26 anak didik, hanya AL yang pinter
Tapi masuk akal klo dari 26 anak didik ada 1 yg idiot,
ingat, ini SD Negeri bukan SD Ciputra atau SD Al-Azhar yang ada seleksi masuk
Wah, wah kasus ini jadi kasus nasional … habat. Hanya seorang Penjahit “Ibu Siami” akhirnya kasus ini jadi perhatian nasional. Sampai2 di Metro TV 14 Juni 2011 barusan datang pengamat yang kasih komentar. Tapi menurutku mereka tidak meluruskan kasus ini tapi hanya menyesalkan kasus ini melebar kemana-mana. (Kayak ga pernah nyontek atau nyontekin waktu kecil dulu, payah deh) @Ali juga … kaya ga pernah nyontek atau nyontekin.
Tapi intinya, masalah ini hanya salah bahasa saja. Sebuah bahasa/kalimat jika diutarakan kepada orang lain akan berubah maknanya. Semakin banyak orang yang mendengarnya maka semakin banyak pula makna2 yang ditangkap masalah itu.
Satu lagi ini masalah media, memang sulit jadi media apalagi radio yang tinggal dipuncak jalan (Radio SS). Selama jadi pendengar SS melakukan pilih kasih. Ketika ada seorang pendengar ingin mencurahkan kekurangan pemkot atau masalah pemerintahan mereka akan menahan komentar pendengar semacam itu, sebab sebelum pendengar berkomentar mereka melalui operatornya dulu. Coba mana ada Radio SS yang berkomentar miring akibat banjir di Mayjen Sungkono akibat lambatnya penanganan pemerintah. Atau pejabat yang melakukan hal yang aneh2. Lha wong mereka radio berita yang dekat dengan pemerintahan.
Aku juga jujur lho … apakah akan mendapat respon. Kejujuran adalah dari hati dan bahasa. Bukan dari hati keluar emosi. Semoga cepat reda …
Aminnn
pengalam saya tuh, Ebtanas ngiterin jawabn buat satu kelas, akhirnya yang ketrima SMP paporit ada 5 orang, padahal lulusan sebelumnya cuma dua orang seumur-umur MI-ku yang masuk ntu SMP…
http://kangmase.wordpress.com/2011/06/06/harga-piaggio-liberty-100-karburator-belum-jelas-kenapa/
1 untuk semuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!! gak masalah demi KEBERSAMAAN
Mang Gateli Owg he,,,
masag anak SD di kasus kan,,,
kaya die dulu kaga…
padahal yg Tingkat SMA lebih parah….
malah kaga ada Kasusnya…
Nitip sekalian Ah…
http://pandahitam.wordpress.com/2011/06/07/mau-freestylesilahkan-di-pelajari/
iya mas bro…
kadang kita mencoba ‘mendewasakan’ anak kecil, padahal anak kecil bukan orang dewasa yang bebadan kecil!!!
tetapi mereka hanya anak kecil yang BELUM dewasa!!
ini harus menjadi perhatian buat semua!
salam damai mas bro!
Kalao gak salah baca ulasannya, yang dipermasalahkan si wali siswa ini adalah anaknya disuruh wali kelasnya menconteki teman2nya saat ujian berlangsung, nyuruhnya pun pake emotional blackmail (“kapan lagi kamu bisa membalas budi baik gurumu”).
Di Surabaya, iklim pendidikannya sudah peka terhadap kebutuhan khusus siswa-siswanya, hubungan wali kelas-wali siswa juga cukup erat, wawasan guru mulai luas, wali siswa juga memiliki akses terhadap layanan2 yang memenuhi kebutuhan khusus anaknya. memelihara siswa2 yang tidak mampu mengikuti pelajaran dengan kecepatan siswa “normal” sebenarnya merupakan bentuk penyiksaan, dan mengijinkan contekan apalagi mengelolanya secara massal bukanlah solusi. Betul bahwa anak bukanlah manusia dewasa bertubuh kecil, namun menanamkan benih kejujuran bukanlah pemaksaan menuju kedewasaan.
Mas Ali, biar bagaimanapun tindakan guru yang menyuruh si AI ini untuk memberikan contekan kepada teman-temannya adalah tindakan yang keblinger, bagaimana mungkin seorang guru mengajarkan kecurangan, bukankah dalam pendidikan hal yang paling penting adalah pembentukan karakter, bukankah kita harus mendidik anak anak kita dengan nilai nilai moral yang mulia. Kalau dari SD sudah diajari untuk curang dan mengakali sistem, ya makin susah korupsi di berantas di masa depan…lha wong generasi penerusnya diajarin curang berjamaah demi sebuah kelulusan. Justru kita harus memberikan apresiasi kepada ortu si AI karena membongkar kecurangan ini, wajar saja dia merasa resah karena tujuan di nyekolahin anaknya kan biar jadi orang bener n jujur eh malah diajarin curang berjamaah…keblinger
Klo sebab akibat, justru yang salah adalah pemerintah dengan UN tingkat SD. Anak tingkat SD tidak layak dihakimi, dengan lulus atau tidak. cukuplah Semangat belajar mereka menjadi standar bahwa generasi penerus bangsa ini mau belajar apapun kondisinya.
Naghh silahkan kemudian buat UN tingkat SMP-SMA no problem …
Klo untuk mengukur kinerja Guru, cukup suruh guru tingkat SD membuat RPP, jurnal dan penelitian yang wajib disetor pada jangka waktu tertentu.
Saya setuju dengan anda bahwa sistem UN kita masih jauh dari ideal, namun yang menjadi point penting adalah tindakan guru menginstruksikan AL untuk memberi contekan sama sekali tidak bisa dimaklumi karena akan menanamkan bibit kecurangan dalam diri anak didik, ingat Mas Ali tugas guru lah sebagai pendidik untuk menanamkan benih-benih karakter unggul bagi generasi penerus bangsa, tidak ada toleransi untuk kecurangan apapun kondisinya
tugas guru juga untuk menanamkan nilai-nilai sosial dan empati kemasyarakatan
justru Ulangan Harian dan semester di sekolah lebih jujur daripada pelaksanaan UN sendiri
Boleh saja suasana Ulangan Harian lebih jujur, tapi yang saya heran, mengapa saat UN tidak jujur juga?
Apakah menanamkan nilai2 sosial dan empati kemasyarakatan harus saat UN dan dengan cara menyontek?
Ini yang saya bingung…
Kasihan dong si AL, hati jujurnya yang masih “bersih” sudah terganggu karena disuruh memberi contekan. Terlepas dari berapa jumlah anak yang AL beri contekan, tetap saja bagi guru, menyuruh muridnya untuk memberi contekan sungguh tak pantas.
Jadi, apa Mas Ali tidak mendukung kejujuran Bu Siami?
Saya rasa pantas saja beliau mengadukan hal ini ke mana-mana. Ke media, juga ke dinas terkait. Bagus, saya rasa.
Toh para guru yang berkomplot merencanakan percontekan ini juga pasti harus mau menerima konsekuensi dong… masa’ mereka gak mau menerima konsekuensi ketahuan dan dimutasi? Saya baca di Surya.co.id mereka sudah legowo kok.
Reaksi para warga Gadel saya rasa terlalu berlebihan. Harusnya mereka malah malu karena sekolah yang selama ini mereka banggakan ternyata berbuat hal yang amat ditentang di dunia akademis.
Tentu saya mendukung kejujuran Bu Siami, tapi caranya itu lho yang langsung mengadu ke Radio Suzana dan Jawa Pos
tanpa melihat konteks permasalahanya
Guru maksudnya juga baik, memberi penghargaan kenapa si anak idiot yang sudah belajar sampai kelas enam, yang mungkin butuh waktu lebih dari 6 tahun
lalu disaat terakhir, biarkan dia bangga karena mendapatkan “ijazah semu” … taoh itu ijzah gak bisa dia buat masuk SLTP, hanya sekedar membiarkan dia tersenyum disaat terakhir
Membaca al-Qur’an itu baik, tapi kalau disampingnya ada orang tidur dan dia membaca dengan suara keras, itu menjadi perbuatan yang dibenci (makruh)
Jangan biarkan praktik kecurangan terjadi di sekolah. Kecurangan merupakan biang keladi rendahnya mutu pendidikan dan rendahnya harga diri guru. Kecurangan juga bisa menghasilkan generasi maling yang ulung atau koruptor kelas kakap. Jangan biarkan sekolah menjadi tempat persemaian benih-benih calon garong dan koruptor.
but still, mencontek itu salah. apa gunanya lulus tapi dengan cara curang? bapak guru ali sendiri mengatakan pendidikan anak SD lebih rumit dari anak SMA. ya memang benar, karena di masa SD anak belajar nilai-nilai dasar kehidupan. kalau waktu SD dia belajar bahwa “mencontek itu boleh yang penting tujuan tercapai”, karakter macam apa yang terbentuk saat SMA nanti?
tolong dibedakan, toleransi dan tolong menolong itu beda dengan kecurangan. memang tidak bisa menilai manusia hanya dari angka di selembar ijazah. tapi kita bisa menilai mereka dari kejujurannya.
kita menuai apa yang kita semai. kalau yang disemai adalah kecurangan, ya jangan kaget kalau dua atau tiga puluh tahun lagi kita menuai kehancuran.
orangtua saya keduanya juga guru. dan mereka mengakui mengajar anak SD memang berat. one of them once taught disabled children. tapi itu bukan pembenaran untuk kecurangan.
konon, guru itu singkatan dari digugu dan ditiru. kalau guru seperti pak ali ini memaklumi kecurangan, lantas siapa yang bisa kami tiru dalam hal kejujuran?
kejujuran itu sikap mental pak. nggak peduli dia miskin atau kaya, pintar atau bodoh.
apa iya orang yang ngasih contekan besarnya jadi penjahat? … klo pencontek mungkin iya?
tapi klo memberi dengan sebelumnya memahami kondisi temannya, justru disitu melatih ke-peka-an sosial
dalam kasus SDN Gadel, siswa AL hanya disuruh memberi contekan kepada 1 temannya yang memang agak difabel
naghh wajarkan jika masyarakat sekitar situ dan para wali murid marah
karena media massa , Radio Suzana dan Jawa Pos mem-blow up seakan-akan terjadi contekan massal
memberi contekan itu sebuah kecurangan / melatih sikap kesetiakawanan?
naghh klo
meminta contekan = curang? … itu pasti
begini ya pak guru….(btw, anda ini guru tapi kok ya pola pikirnya aseli mbingungi ya???)
kalau memang ada siswa yang difabel, itu tanggungjawab guru untuk membimbing saat ujian. lha waktu UMPTN aja ada siswa yang dibantu membacakan soal toh? itu anak SMA lo pak, dan nggak ada yang nyuruh peserta UMPTN lain membantu si peserta yang yang difabel. sejak kapan tugas membantu siswa diserahkan pada siswa lain?
kedua, saya baca ada simulasinya dulu. kalo emang cuma disuruh ngasih ke satu siswa, ngapain pake simulasi?
ketiga, saya nggak pernah bilang bahwa pencontek itu bakal jadi penjahat di masa depan. sama sekali nggak. coba sampeyan baca baik-baik komentar saya ya, dipahami dengan kepala dingin, jangan dengan hati yang panas. panjenengan guru toh? tapi contekan itu melatih tidak jujur. dan tidak jujur itu tidak baik. that’s it.
dan keempat, ada ratusan cara lain untuk melatih kepekaan sosial. tapi mencontek jelas bukan salah satu cara itu. meminta contekan itu curang, tapi memberi contekan sama saja dengan membuka peluang orang lain untuk curang. mengatakan TIDAK pada kecurangan itu tidak mudah, dan akan lebih sulit jika itu dialami oleh anak SD yang disuruh oleh si guru.
apa pendapat saya bisa dipahami?
oh saya lupa, satu hal yang pasti pak guru. saya nggak akan pernah membiarkan anak saya dididik oleh guru seperti anda.
Sekarang coba anda ke Gadel dan lihat dulu konteks yang sebenarnya
jangan baca dari media yang asal blow-up
kenapa masyarakat dan wali murid sampe sebegitu marah….
karena ya fakta dan berita ora imbang
yo pantess to klo mereka marah, karena ini juga menyangkut masa depan anak-anak yang masih belia
kasihan to klo mereka di cap … ehh ente lulusan Gadell ya yang tukang contek itu ya?
padahal faktanya yang ngasih contekan dan mencontek hanya 1
Lha masa depan anak-anak itu lebih penting … masih panjang … kasihan klo kena “stigma” karena berita wartawan koplak
ali aliiiiiiiiii…. bagaimanapun memberi contekan itu TIDAK BOLEH dg alasan apapun. klo emang tujuannya HANYA untuk menolong SATU SISWA yg ABK (anak berkebutuhan khusus – jangan bilang EDIOT ya…), kan bisa dicari solusi nya… dan gampang sekali…. Ali ALiiiiiiiii…. sampeyan kuwi piye tooooooooooooooo….
nagh bagaimana contoh solusi lainya?
Oh….. diusia yang masih belia dan di pendidikan dasar sudah dibiasakan untuk tidak jujur.
Robin Hood itu pencuri, dan mencuri itu tercela
tapi entah karena konteks apa dia kemudian jadi pahlawan
tanya kenapa??
sangar pak tulisane…
wah wah bener bener masyarakat kito lagi “sakit” parah pak, bu, mas, mbak…. nyuwun sewu nggih…
mungkin “amama ali” tdk suka nonton film ya, tp suka nya sinetron “cinta fitri dr 1-99″ ya… cobalah sekali kali nonton film yg bermutu seperti film karya anak bangsa sendiri yg dapat penghargaan di mana2, yg jumlah penontonnya lebih dari 4,5 juta penonton… hebat kan… film tersebut adalah : “Film Laskar Pelangi”. habis nonton film tsb pasti anda manggut-manggut… Mungkin Amama Ali bisa beli DVD nya di kaki lima juga ada kaleee… ato nyewa di persewaan DVD… Cobalah mengerti kawan…………………….. Nggih mekaten to poro bapak, ibu, mbak, mas yg ikut komentar wonten mriki….. matur suwun….
dalam laskar pelangi ada murid bernama Harun yang berkebutuhan khusus
sayang disitu tidak digambarkan bagaimana masa depan Harun
yang ada selalu saja cerita tentang murid sehat yang sukses
Laskar Pelangi, baca juga novelnya, cak.. disitu diceritakan bagaimana kondisi dewasanya anak2 Laskar Pelangi.. yg sehat pun ada yg jd tidak waras..
memang dgn adanya UN, membuat pihak sekolah & guru “berjuang keras” agar nama sekolah terjaga (dgn predikat lulus 100%).. dengan segala “daya upaya”, termasuk dalam kasus ini..
Ping-balik: Kejujuran Di Tengah Samudra Kebohongan | Arah Kita
POTRET MASYARAKAT KITA….
http://ekojuli.wordpress.com/2011/06/12/kasus-mencontek-massal-jujur-ancur-prihatin-lagi2-sang-peniup-peluit-itupun-di-caci-maki/
om ali memang berani tampil beda, menentang arus nie
bukan masbro
tapi menantang gaya pemberitaan “Jawa Pos” yang selalu melihat kasus dari 1 sudut
DUNIA SUDAH MENDEKATI KIAMAT TANDA TANDANYA : YG BENAR DISALAHKAN..YG SALAH DIBENARKAN…CURANG ADALAH KEBAIKAN…JUJUR BERBUAH MAKIAN..inilah yg saya pelajari dr SDN GANDEL 2
Apapun alasannya (ketidakadilan sistem UN, ketidakmerataan pendidikan dsb), mengajarkan untuk lulus ujian dengan mencontek itu salah besar. Ketika anak SD sudah diajari bahwa semua cara dibolehkan untuk mencapai tujuan, bisa dibayangkan generasi Indonesia yang akan datang.
Ingat “Children Learn What They Live… If Children Live with Honesty, They Learn Truthfulness”. Kebalikannya, “If Children Live with Dishonesty, They Learn Untruthfullness”…
jujur saya tidak setuju contek-mencontek, termasuk di lingkungan SD. saya sendiri punya pengalaman ketika SD saya tidak memberi dan meminta contekan akhirnya teman2 SD saya banyak yang tidak suka dengan saya. akhirnya, mulai SMP saya mulai terbuka dan mau memberikan contekan tapi tidak pernah meminta. akibatnya raport saya selalu tertinggal dibanding teman2 (saya jago matematika dan fisika, tapi untuk urusan biologi, PPKn, dll payah), tapi begitu EBTANAS, wus… wus… temen saya saya salip karena waktu EBTANAS enggak ada yang berani contek2an dan saya selalu masuk sekolah favorit di Semarang
tapi dalam kondisi UN saat ini apalagi untuk SD kejujuran tampaknya sulit diterapkan. tanggapan Mas Ali saya benarkan, yaitu memang di SD Negeri ada anak tertinggal. saya ingat ada teman SD waktu kelas 5 ada yang umurnya 17 tahun dan enggak naik kelas lagi akhirnya putus sekolah. ada beberapa yang pernah sekelas dengan kakak saya yang umurnya lebih tua.
saya sendiri setuju dengan Mas Ali kalau dikatakan UN untuk anak SD terlalu dini. saya sendiri berpendapat bahwa sebenarnya UN tidak perlu menjadi tolok ukur menentukan lulus tidaknya siswa. kita luluskan saja semuanya 100% dari SD-SMP-SMA, kecuali kalau sekolahnya menganggap si anak memang tidak layak lulus. UN hanya untuk tolok ukur penerimaan SMP dan SMA seperti jaman saya dulu. jadi tidak ada punishment untuk yang tidak sanggup secara akademis, tapi ada reward luar biasa bagi siswa yang cerdas yaitu bebas memilih mau sekolah dimana.
yupp
UN tingkat SD itu memukul rata kemampuan siswa
padahal tidak ada seleksi masuk kemampuan untuk anak SD terutama yg berstatus Negeri
mereka masuk Sekolah Dasar karena semangat, riang gembira
lalu kenapa di saat akhir pemerintah datang mencoba mem-vonis
klo untuk mengukur kinerja guru masih banyak “alat” yang lain
Ping-balik: Mungkin Lebih Baik Bila Ujian Nasional (UN) Diubah | UNTAIAN MAKNA
Betul BRO unas-nya yang salah dengan memberi PENGHAKIMAN kepada anak SD, saya gak sakit hati, anak saya ada di sd top di malang, nilai uasnya juga 9.5 tapi gak diterima di smp ecek-cek di sidoarjo, padahal di malang sudah masuk kategori smp favorit, tahu sendiri lah kualitas pendidikan di malang dg sidoarjo kan spt bumi langit jauhnya. ya nggak apa apa , toh swasta juga lebih bagus dari smp negeri …. uang kita juga punya kok …… jadi alhamdulillah anak saya tidak diterima bersamaan dengan anak-2 sd dari SD GATEL-GATEL yang ada di smp-smp negeri sidoarjo itu ….. jadi kita orang tua ya bersukur saja …..
kita berusaha dengan ikhtiar dan terus berusaha agar anak kita bisa belajar jujur dengan mengerjakan ujian sendiri, masak anak kita yg kelas 6 SD sudah kita ajari KORUPSI soal , waaah smp=nya gimana nanti, smanya gimana nantinya , kalo dia sudah besar …bisa kita bayangkan dia akan melebih gayus saat ini ……… kita ingin mencetak anak seperti antasari atau susno …… hehehe ALHAMDULILLAH !!!!