Perang Shiffin dan Kisah Keteladanan Ali bin Abi Thalib demi persatuan umat.


Mumpung masih dalam bulan Ramadhan, mohon maaf bila konten R2B.com banyak yang berisi seputar Islam. ;) Bukan bermaksud menggurui, hanya sekedar berbagi. Bukan bermaksud mempekeruh suasana, tapi sekedar bermudzakarah bersama.

Masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, banyak sekali terjadi fitnah. Fitnah itu seharusnya menjadi pelajaran bagi kita umat Islam untuk mengambil hikmah dalam menjaga persatuan umat ini. Ditengah egoisme kepentingan kelompok maupun pribadi.

Berbeda dengan 3 khalifah sebelumnya yang mendapat suara bulat dari dewan syura’. Naiknya Ali bin Abi Thalib tidak dengan suara utuh, bahkan di dalam kota Madinah sekalipun.

Bukan karena tuduhan bahwa Ali telah membunuh Utsman … naudzubillah klo sampai kita percaya.

Yang dituntut oleh Aisyah dalam perang Jamal adalah ketegasan Ali dalam menghukum kaum pemberontak yang telah membunuh Utsman, sedangkan bukti maupun terdakwa tentang siapa pelakunya sangat sedikit.

Posisi Ali ketika itu juga sedang dikepung oleh banyaknya kaum Munafik, hal ini bisa dimaklumi karena banyak sahabat yang meninggalkan Madinah setelah Rasulullah meninggal. Baik yang mati syahid ataupun menetap di daerah baru untuk meneruskan penyebaran syiar Islam.

Walhasil, yang di Madinah justru banyak orang-orang Munafik yang sedari semasa Nabi hidup sudah enggan untuk berjihad dan berdakwah di jalan Allah.

Maksud Ali menunda Hadd / mahkamah atas pembunuh Utsman adalah menghindari perpecahan antara golongan Anshor dan Muhajirin di Madinah. Karena kaum munafik selalu dengan akal-licik berusaha memisahkan tali antara dua golongan ini.

Bahkan demi terlaksana-nya Hadd ini, Ali memindahkan pemerintahan ke tempat netral, Kufah. Agar lepas dari pengaruh kaum munafik.

Enggak heran, bila dikemudian hari, Muawiyyah juga memilih untuk memindahkan  pusat pemerintahan ke Damaskus, karena untuk menghindari kaum munafik juga.

Posisi Ali ketika itu juga diperparah dengan semakin fanatik-nya golongan Syi’ah Kadzabiyah (semacam gerakan Nabi Palsu dengan mencoba mengangkat Ali sebagai Nabi dan Putra Tuhan) sudah ada sejak zaman Abu Bakar.

Maksud Pawai Militer Muawiyyah.

Awalnya maksud dan tujuan Muawiyah dengan 20.000 orang pasukan adalah untuk memberikan dorongan moral bagi Ali bin Abi Thalib yang sedang dikepung oleh golongan Munafikun.

Sekaligus untuk berjaga-jaga jika mahkamah hadd dilaksanakan, dan terjadi perang saudara antara Muhajirin dan Anshor karena hasutan kaum munafik. Muawiyah dapat segera membantu meredam dengan pasukannya.

Muawiyah ingin memberikan dukungan moril dan menjaga independensi keputusan Ali terkait akan digelarnya mahkamah atas pembunuhan Ustman. Tapi issu yang dihembuskan oleh kaum munafik (pimpinan Abdullah bin Saba’) adalah bahwa, Muawiyah bermaksud memberontak.

Maka kaum munafik ini mendorong Ali bin Abi Thalib untuk keluar dan membatalkan mahkamah atas pembunuh Utsman karena ada pemberontak yang sedang menuju Madinah. biar bisa lolos dari hukuman coyy!

Ali sendiri sebenarnya lebih suka menyambut pawai pasukan dari Damaskus sebagai tamu. Karena dia tahu benar, bahwa Muawiyah bukanlah sosok pemberontak, dan pasti ada maksud baik dari kedatanganya. Sebagaimana pujian beliau ketika ditanya tentang sosok Muawiyah

“bahwa Muawiyah adalah orang yang paling baik adabnya diantara kami”

Tapi salah seorang panglima Ali berkaum munafik malah memulai dulu pertempuran, sehingga pecahlah perang Shiffin.

TAHKIM … perdamaian demi keutuhan ummat.

Amr bin Ash, salah seorang sahabat Nabi yang strategi perang dan politiknya dikagumi oleh orang Romawi. Akhirnya bisa membaca, bahwa perang ini adalah buah provokasi  kaum Munafik.

Terutama setelah sahabat Amar bin Yasir meninggal dalam pertempuran. Tewasnya beliau memberi pengaruh amat besar bagi kedua belah pihak, dimana sebelumnya Rasulullah (SAW) telah berkata kepada Amar, bahwa ia tidak meninggal, kecuali terbunuh di antara dua kelompok orang-orang mukmin

Oleh karenanya, Amr bin Ash berijtihad dengan menyuruh seorang prajurit untuk menombak al-Qur’an dan mengangkatnya untuk bisa menghentikan perang, melakukan evaluasi sekaligus mengidentifikasi mana yang mu’min asli dan mana kaum munafik.

Kaum munafik pasti menginginkan perang terus berlangsung, sedang orang mukmin pasti meletakkan senjata menunggu ijtihad para ulama dan umara’ sesuai al-Qur’an.

Selama proses Tahkim dan musyawarah antara sahabat terkemuka Nabi inilah kebenaran nyata akan Orang mu’min sejati dan kaum munafikun tersibak.

Orang mukmin meletakkan senjatanya dengan ikhlas, terutama di yang berada di pihak Ali bin Abi Thalib. Orang mukmin di pihak Ali jelas menanggalkan egoisme pribadi mereka dengan suka rela meletekkan senjata, padahal kemenangan mereka sudah nyata di depan mata.

Sedang orang munafik, mereka tetap tidak mau meletakkan senjata. Terus membujuk Sayyidina Ali untuk melanjutkkan perang, karena kemenangan tinggal selangkah lagi.

Tapi Sayyidina Ali adalah orang mengutamakan kepentingan umat dan persatuan umat. Untuk apa sebuah kemenangan, tapi persatuan dan kesatuan umat terkoyak.

Hasil dari tahkim sendiri sebenarnya berisi, bahwa Ali bin Abi Thalib ditetapkan membawahi wilayah Iraq dan penduduknya, sedangkan Muawiyah ditetapkan membawahi wilayah Syam beserta para penduduknya, dan tidak boleh lagi ada pertempuran.

Tapi fakta sejarah kemudian menerangkan, bahwa benar ketika itu Sayyidina Ali dikelilingi oleh orang-orang munafik yang berperang demi kepentingan pribadi. Bahkan penduduk Kufah sendiri mengkhianati beliau.

Rakyat (Kufah/Irak) Sayyidina Ali terpecah ke dalam 3 golongan.

Pertama, adalah mereka yang menerima Tahkim karena taat kepada Ali sebagai Khalifah dan tetap taat kepada Ali setelah Tahkim.

Kedua, adalah golongan Syi’ah yang memanfaatkan kisah Tahkim untuk  menarik simpati dan menyesatkan umat. Dan fakta sejarah mengatakan, bahwa mereka malah berkhianat kepada Ali setelah tahkim, karena rasa kecewa pada keputusan Tahkim yang dianggap menghapus kemenangan perang mereka.

Ketiga, adalah kaum Khawarij. Mereka yang menolak Tahkim dan berusaha membunuh siapa saja terlibat dalam Tahkim. Yaitu, Amru bin Ash, Mu’awiyah dan Ali. Andai tidak dibantu oleh golongan Syi’ah, pasti upaya khawarij membunuh Ali tidak berhasil. Seperti upaya mereka yang gagal dalam membunuh Mu’awiyah.

Hikmah. Hukmul Qadhi yar’faul Khilaf.

Ali dan Mu’awiyah berusaha menghentikan perang saudara dengan menunjuk Amru bin Ash dan Abu Musa Al-Asy’ari sebagai Qadli/hakim. Lalu mereka pun mentaati apapun keputusan musyawarah dua hakim tersebut.

Umat ketika itu juga mentaati keputusan Tahkim, bahkan di pihak Ali juga lebih banyak yang ta’at keputusan Qadli daripada yang akhirnya menjadi Syiah dan Khawarij.

Kalaupun pertanyaanya kenapa dua sahabat itu yang ditunjuk sebagai Qadli, karena dalam perang ini banyak sahabat Nabi yang tidak turun ke medan perang. Menurut kitab al-bidayah wal Nihayah hanya ada 30 sahabat yang berangkat ke Shiffin.

Para Sahabat, terutama yang bermukim di Mekkah dan Madinah sudah kapok dengan perang Jamal. Sehingga mereka tidak mau lagi terpecah belah oleh hasutan kaum munafik.

Kalau dalam hemat saya, perang Shiffin adalah murni perang Ahli Irak (120 ribu) dengan Ahli Syam (60 ribu pasukan).

Dalam Al-Qur’an sendiri telah termaktub bahaya kaum munafik dan bahkan mengancam dengan siksa neraka

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu(ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun meraka” (Q.s. an-Nisa’[4]:145)

Semoga kita dijauhkan dari sikap kaum munafik ini, yang salah satu cirinya adalah lebih menyukai perpecahan umat ini daripada persatuan dan kesatuan.

“Jika mereka berangkat bersama-sama kalian, niscaya mereka hanya menambah kerusakan belaka kepada kalian, dan tentu mereka akan bergegas maju ke depan di celah-celah barisan kalian untuk mengadakan kekacauan (fitnah) diantara kalian, sedangkan diantara kalian ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan.” (Q.s. at-Taubah [9]: 47)

Penutup.

Dari kisah perang Shiffin ini, kita bisa mengambil pelajaran, betapa persatuan dan keutuhan umat itu lebih diatas segalanya.

Bila egois dan serakah, demi status kedaulatan baiah ummat atas kekuasaanya. Tentu Sayyidina Ali bin Abi Thalib akan memilih terus memerangi pihak Muawiyyah bin Abi Sufyan yang sudah diambang kekalahan.

Tapi Ali bin Abi Thalib lebih mementingkan ishlah dan ukhuwwah umat ini daripada gelar atau status Khalifah yang mutlak.

Bukankah dengan memenangi perang dan meraih kekuasaan dia bisa menulis sejarahnya sendiri yang Agung?

Tapi Ali bin Abi Thalib tidak peduli siapa benar dan siapa yang salah. Siapa menang dan siapa yang kalah. Yang terpenting, umat harus satu Hati dalam satu kesatuan.

NB: Tokoh Munafik dalam perang ini adalah Abdullah bin Saba’ dan Al Asytar An Nakhai

Tentang iklan-iklan ini

16 thoughts on “Perang Shiffin dan Kisah Keteladanan Ali bin Abi Thalib demi persatuan umat.

  1. semakin fanatik-nya golongan Syi’ah Kadzabiyah (semacam gerakan Nabi Palsu dengan mencoba mengangkat Ali sebagai Nabi dan Putra Tuhan) sudah ada sejak zaman Abu Bakar.
    ===

    Alasannya apa ya?

    Suka

    • Mungkin yg ini,

      Dan sesungguhnya para ulama Rafidhah (syi’ah) telah mengakui, bahwa
      wasiat ini pada hakekatnya merupakan hasil rekayasa Abdullah bin Saba’.
      An-Naubakhty dan Al-Kasyi menyatakan :

      “Sesungguhnya asal-usul wasiat ini muncul dari lisan Abdullah bin Saba’,
      dia adalah orang Yahudi yang masuk Islam dan menampakkan loyalitas
      kepada Ali bin Abi Thalib.

      Ketika masih Yahudi, dia menyebarkan isu bahwa Tusa’ bin Nun adalah
      orang yang diwasiati kekhalifahan oleh Nabi Musa.
      Kemudian setekah masuk Islam dia menyatakan hal yang serupa tentang Ali
      (setelah wafatnya Rasulullah Dialah orang pertama yang berpendapat bahwa
      seharusnya kekhalifahan diberikan kepada Ali bin Abi Thalib.

      Dia menunjukan rasa permusuhan dan berlepas diri dari semua
      orang yang bertentangan dengan Ali bin Abi Thalib.

      Berdasarkan hal inilah musuh-musuh syi’ah menganggap bahwa
      syi’ah (Rafidhah) berasal dari agama Yahudi.(6

      http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2011/11/18/fitnah-pada-masa-utsman-bin-affan/

      Suka

  2. harus ada yang pembeberan sejarah dari sisi Ahli Sunnah sebagai referensi lain di tengah maraknya pembeberan sejarah versi Syiah…
    Thanks bro…

    Suka

  3. so golongan yang lurus itu siapa? mohon penjelasan.
    namanya penjelasan berarti tidak ada yang ditutupi, golongan mana juga yang sesat.

    Suka

  4. muawiyah, abu sufyan, hindun lah orang munafik itu, kaya+punya pengaruh+punya banyak hubungan dengan petingi” daerah, makanya bisa provokasi/menebar fitnah dan menggulingkan kekuasaan hassan dan menghasut istrinya untuk meracuninya

    abdulah bin saba siapa???emang orang cukup berpengaruh??? pejabat bkn???
    orang kaya bkn?? orang terkenal jago perang bkn??, pedagang kaya bkn?? kok bisa menciptakan permusuhan dan mengadu domba, wong tokoh ga berpengaruh gitu dan fiktif gitu
    tokoh ga jelas gitu dalam sejarah islam, sejarahnya saja masih diragukan

    track record muawiyah dan keluarganya
    – abu sofyan (bapaknya muawiyah)
    ( ketua musuh islam dalam perang khandak, kepaksa masuk islam karena pendudukan di mekah, ga bisa ngelawan karena mekah dikuasi kaum muslimin, ga jadi muslim bayar pajaknya gede, maklum die pedagang kaya mata duitan, makanya jadi islam tp ga beriman alias orang munafik dan lebih mudah untuk merusak dari dalam)

    -hindun (istri abu sofyan, ibu dari muawiyah)
    (orang yang memakan hati hamzah paman nabi, pejuang islam)

    -muawiyah (anak abu sofyan)
    -memprovokasi istri hassan (cucu nabi) untuk meracuni hasan,dan di iming-imingi dinikahi oleh muawiyah sebagai calon penguasa
    – memerintahkan pasukan untuk mengepung dan membunuh cucu nabi husein

    pelajarilah sejarah islam, ulama suni, syiah yg pinter dan berada di jalan yg benar juga ga bakalan suka sma muawiyah dan kluarganya

    saya sebagai org islam yg beriman saya tidak mau menyukai dan dikumpulkan kelak di akhirat bersama dgn abu sofyan,muawiyah,hindun, saya mengutuk dan membenci perbuatan mereka

    Suka

    • menurut ane, saudari kurang arif jika berpendapat seperti ini. abu sofyan, ra, muawiyah, ra, dan hindun, ra adalah org2 yg masuk islam di masa Rasulullah SAW msh hidup dan tidak ada satupun hadist ataupun kisah2 yg mengatakan ttg kemunafikan ketiganya. Jadi menurut ane, ketiga sahabat tersebut telah benar2 bertaubat dan masuk Islam secara penuh. setelah masuk Islam Abu Sofyan ra banyak menyumbangkan kekayaan dan pengaruhnya utk mendukung Rasulullah SAW, Hindun, ra lebih banyak beribadah setrta menyesal akan perbuatannya semasa jahiliyah dan Muawiyah termasuk sahabat yg banyak meriwayatkan Hadist (membuktikan kedekatan beliau dgn Rasulullah SAW). dan tidak mungkin Rasulullah SAW tidak diberitahu Allah SWT ttg kemunafikan ketiga org tsb.

      Suka

Tinggalkan Balasan, mohon maaf bila tidak bisa membalas

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s