SBSS: Air Mata Umar bin Khattab


Dengan mata kepala sendiri, Umar menyaksikan sendiri Hamzah bin Abdul Muthalib memukul Abul Hakam (Abu Jahal) si pembesar Quraisy dengan sangat keras di depan pembesar suku lainya yang sedang berkumpul di Darun Nadwa.

“Cukup sudah!” teriak Umar dalam jiwanya.

Sudah cukup perpecahan yang ditimbulkan oleh Muhammad dalam suku Quraisy. Apalagi sekarang perseteruan karena agama baru sudah menjalar sampai pada sesepuh suku, Hamzah dan Abul Hakam (Abu Jahal).

Setengah berlari dengan dibakar amarah dia menuju rumahnya. Membanting  pintu lalu bersimpuh dihadapan pedang kesayanganya.

Tekadnya sudah bulat, memenggal Muhammad lalu menyerahkan diri kepada  klan Bani Hasyim sebagai martir persatuan kaum Quraisy. Kematiannya akan tetap mulia karena demi tujuan mulia, agar persatuan dan kesatuan Quraisy tetap teguh.

Dia bangkit dengan menenteng pedang di pinggulnya, berjalan cepat menuju rumah Muhammad agar semakin cepat pula segala galau dalam hatinya.

Tentang perpecahan kaumnya, tentang siksaan tak berperi kemanusiaan, tentang pidato-pidato Abul Hakam yang penuh kebohongan tentang Muhammad, tentang penyesalan karena membunuh putrinya demi mengangkat statusnya.

Sebagai orang yang terlahir di Bani ‘Adiy, mayoritas Bani ‘Adiy berprofesi dibidang peternakan dan perkebunan. Oleh sebab itu Klan Bani ‘Adiy tidak termasuk dalam golongan atas tapi juga tidak golongan bawah, tidak terlalu miskin tapi juga tidak terlalu kaya karena mereka rata-rata tidak pandai berniaga.

Gemblengan sebagai penggembala onta yang handal, cakap dan jujur telah memberi Umar reputasi sekaligus modal untuk berdagang. Dari modal itulah, dia sukses menaikkan statusnya dari seorang penggembala menjadi saudagar.

Langkah mantap dengan segala galau dalam fikiranya tiba-tiba terhenti ketika Nu’aim bin Abdullah mengejar lalu menarik lengannya

“Untuk apa kamu menenteng pedang sedang perang tak ada?” tanya Nuaim.

“Tidakkah engkau melihat bahwa perpecahan di kaum kita sudah sedemikian parah?”

“Jadi kau hendak membunuh Muhammad?”

“Ya”

“Tidak engkau takut terhadap tuntutan Bani Hasyim sedang engkau cuma seorang dari Bani ‘Adiy?” Nuaim

“Biarlah aku serahkan leherku pada mereka setelah urusan ini selesai”

“Hai Umar, sebelum engkau memperbaiki kaum-mu, sebaiknya engkau perbaiki dulu keluargamu. Bukankah adikmu telah menjadi pengikut Muhammad?”

Satu kabar berita yang semakin menambah kekalutan pada diri Umar yang sedang galau. Bagaimana mungkin ada anggota keluarganya yang berkhianat sedang dia sendiri selalu .

Umar pun mengubah arah langkah kakinya menuju rumah adiknya, Fatimah. Di depan pintu rumah dia kembali mendengar ayat-ayat al-Qur’an yang sedang dibaca oleh Khabab. Dalam amarah yang dibaluk kekalutan dan kegalauan, Umar mengetuk pintu dengan kasar.

Khabab segera bersembunyi mencari tempat aman, sedang iparnya berusaha menyembunyikan lembaran al-Qur’an dan Fatimah, adik perempuanya membuka pintu.

“Apa yang sedang kalian baca?”,

“Kami tidak sedang membaca apa-apa.” Jawab Fatimah

Umar bin Khattab menimpali, “Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian.”

Iparnya menjawab, “wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?”

“Jadi benar bahwa kalian telah memilih Muhammad daripada aku”

“Kami memilih kebenaran, bukan Tuhan Umar”

“Kalau begitu aku akan membunuhmu dengan tanganku” sahut Umar sembari mencekik leher iparnya.

Fatimah berusaha mencegah tapi hentakan lengan kekar Umar mementalkan dan mengalirkan darahnya dari hidungnya. Fatimah tidak menyerah, dia kembali berusaha dan menjambak janggut kakaknya.

Persis seperti permintaan manja seorang seorang gadis kecil kepada ayah atau kakaknya. Memohon sang kakak untuk melihat kepadanya agar mendengarkan permintaanya, melepaskan cekikan pada leher suaminya.

Umar memalingkan wajahnya pada wajah sang adik yang berlumuran darah,  sejurus kemudian bayangan putri kecilnya yang dia kubur hidup-hidup tampak dalam dihadapanya.

Umar mengendorkan cengkeramanya, dia terduduk lesu di sudut ruang sembari mengenang kebodohanya. Memori otaknya memutar kembali saat detik-detik akhir menjelang ritual penguburan.

Dalam gendongan menuju lubang kubur yang telah disiapkan, putri kecilnya terus memainkan jenggotnya dengan manja dan canda tawa. Sampai di tempat tujuan, dia langsung mengikat kaki dan tangan gadis kecilnya.

“Ayah, Ayah, Ayah” teriak gadis kecil itu meronta-ronta ketika pasir mulai menimbuni tubuhnya.

Air mata Umar terus mengalir, tapi prosesi harus terus dilanjutkan demi derajat kaum elite yang ingin disandangnya. Ditambah pembesar-pembesar Quraisy yang hadir menyaksikan, tidak memungkin nuraninya untuk menang daripada keinginannya.

Suasana rumah menjadi hening, Fatimah terus terisak dalam dekapan sang suami.  Adapun Umar semakin galau setiap mendengar isakan tangis adiknya yang mengingatkanya pada putrinya.

Sekuat apapun Umar, sehebat apapun dirinya dalam ilmu bela diri. Tapi hatinya tetaplah hati seorang penggembala unta yang penuh kasih sayang. Menggembala unta memerlukan kesabaran melebihi menggembala kambing.

Tiba-tiba ingatan Umar tertuju kepada Abdullah bin Mas’ud, sahabatnya sesama penggembala. Beberapa hari yang lalu, dia berjumpa Abdullah sembari berkata

“Demi Allah, kamu lebih baik daripada dua Orang itu (Abu Jahal dan Abu Lahab), semoga Allah mengabulkan doa Rasul-Nya”

Umar menyeka airmatanya, lalu mendekati adiknya sembari berkata

“Berikan padaku apa yang sedang kamu baca tadi”

Lembaran yang sedari tadi disembunyikan sang ipar, kini dipegang dan dibaca oleh Umar

[20:1] Thaahaa.
[20:2] Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah;
[20:3] tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),
[20:4] yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.
[20:5] (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.
[20:6] Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.

“Inikah yang membuatmu berpaling dari agamamu” tanya Umar dan hanya dijawab anggukan kepala oleh Fatimah.

[20:7] Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.
[20:8] Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik),

Umar meneruskan membaca pada dua ayat terakhir, yang langsung mengguncang jiwanya dan mengetuk pintu hatinya.

“Berarti Dia (Allah) benar-benar Tuhan yang patut disembah, karena Dia tahu bahwa sesungguhnya hatiku telah lama galau” batin Umar dalam hati.

“Sungguh ini adalah kalimat Allah, katakan padaku, dimana Muhammad berada?” tanya Umar.

“Maha Suci Allah dan semoga engkau diberkati ya Umar, berarti doa Nabi telah dijawab oleh Allah” sahut Khabab dengan histeris sembari keluar dari persembunyianya.

“Beliau menyebut namaku?” tanya umar dengan heran.

“Ya, Beliau memohon untuk dikuatkan dalam dakwah Islam ini dengan kamu atau Abul Hakam”

About these ads

8 pemikiran pada “SBSS: Air Mata Umar bin Khattab

  1. subhanallah…
    Ya ALLAH berilaht taufik hidayah bagi hamba, Ibu Bapak hamba, Istri hamba, saudara saudara kandung hamba dan keluarga kami masing masing, anak cucu kami dan kaum muslimin yang mengharap RidhoMU.
    AAMIIN

  2. semakin mnguatkn diri kita untuk terus beribadah, betapa sucinya al-quran yang mampu menyentuh hati manusia. Umar yang sebelumnya teguh dan yakin dgn keyakinannya menjadi luluh dengan indahnya kata-kata Al-quran yang diturunkan untuk kita umatNya.

  3. maaf gan ane coppas komennya semoga jd doaku jg. subhanallah…
    Ya ALLAH berilaht taufik hidayah bagi hamba, Ibu Bapak hamba, Istri hamba, saudara saudara kandung hamba dan keluarga kami masing masing, anak cucu kami dan kaum muslimin yang mengharap RidhoMU.
    AAMIIN

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s