Karbala yang sesungguhnya.


Tragedi Karbala, dimana cucu Nabi yang tersayang Imam Hussein Ra. terbunuh sering kali dijadikan alat untuk menarik simpati dan pembenaran ajaran Syi’ah. Bila pernah hadir di perayaan Asyura’ kaum Syiah pasti akan terbawa hanyut oleh simpati dan air mata karena kisah karbala ini.

Seorang cucu Nabi yang wajahnya paling mirip dengan Rasulullah, manusia macam apa yang tega memenggal kepalanya.  Mengepung 103 orang dengan 10.000 pasukan bersenjata lengkap, setelah 3 hari memutus aliran air sehingga mereka berperang dalam kehausan.

Laknatullah!. Tapi bila itu sudah takdir Allah, apa yg bisa kita perbuat?

Artikel ini hanya berbagi kisah sejarah setelah penelurusan saya, sembari berharap agar bisa menjadi hujjah atas kisah-kisah karbala yang banyak dipalsukan.

Wilayah kaum muslimin pada masa meninggalnya Muawiyah terbagi menjadi tiga. Kufah (Irak) basis Syiah, Damaskus Ibukota kerajaan dan Hejjaz yang termasuk didalamnya Mekkah dan Madinah.

Imam Syiah?

Benarkah Ali bin Abi Thalib Ra dan Hassan bin Ali Ra meridhoi terhadap ajaran Syiah yang mencaci maki sahabat. Benarkah mereka adalah imam Syiah dan pemimpin Syiah yang pertama?.

Tidak, setelah Tahkim pada perang Shiffin orang-orang yang mengaku Syiah malah menjauhi Ali bin Abi Thalib, bahkan ketika beliau wafat dan dimakamkan, beliau berwasiat agar kuburan beliau dirahasiakan karena takut pada fitnah Syiah ini.

Walhasil, sampai sekarang dimana kuburan beliau Ali bin Abi Thalib yg sebenarnya tidak ada yang tahu. (artikel terpisah saja, panjang soalnya)

Setelah wafatnya Imam Ali, Hassan Ra. demi persatuan umat membaiat Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai khalifah tunggal lalu Hassan memilih tinggal di Madinah.

Orang-orang Syiah sangat marah dengan pilihan ini, apalagi beliau kemudian lebih memilih Madinah daripada Kufah. Ketika beliau meninggalkan Kufah, rahasia di mana makam Sayyidina Ali pun menjadi abadi.

Lalu siapa Imam Syiah ketika itu? … Imam Ali? Bukan … Imam Hassan? juga bukan. lalu? … Setelah perjanjian Muawiyah dan Hassan, anak-cucu Sayyidina Ali menghabiskan waktu untuk mengajar umat dan mereka yang belajar tidak disebut Syiah.

Imam Hassan Ra. kemudian wafat karena diracun, siapa yang meracun? … Orang Syiah yang tidak suka pada keputusanya? … mungkinkah Muawiyah yang baru saja diberinya kekuasaan mutlak?

Setelah wafatnya Imam Hassan Ra. orang-orang Syiah di Kufah kemudian mengklaim Imam Hussein sebagai penerus Imamah. Tapi beliau berbuat seperti ayah dan saudaranya dengan tidak mengindahkan orang-orang Syiah.

Beliau tetap memilih tinggal di Madinah sampai meninggalnya Muawiyah dan naiknya Yazid bin Muawiyah sebagai Khalifah. Beliau tidak ikut membaiat Yazid karena dalam kesepakatan antara Muawiyah dan Hassan. Urusan khalifah harus diserahkan pada musyawarah ummat setelah Muawiyah wafat.

Bujukan Palsu Syiah di Kufah.

Orang-orang Syiah di Kufah yang selama ini tidak mempunyai keturunan Ahlul-Bait untuk menguatkan klaim kebenaran mereka atas ajaran Ahlu-Bait, terus berupaya membujuk Imam Hussein untuk datang ke Kufah. Mereka berjanji palsu siap mati demi membela Imam Hussein.

Para tabiin terkemuka seperti Abdullah bin Umar, Abdurrahman bin Abu Bakr, Abdulllah bin Zubair terus membujuk beliau untuk tinggal di Madinah atau Mekkah mengabaikan Kufah. Karena disana ayah beliau Ali bin Abi Thalib meninggal terbunuh.

Imam Hussein kemudian mengirim sepupunya Muslim bin ‘Aqil untuk menyelidiki keadaan Kufah, lalu beliau melaporkan bahwa keadaan Kufah sangat kondusif.

Ketika Gubernur Kufah yang baru Ubaydillah bin Ziyad memenggal kepala Muslim bin ‘Aqil tak satupun penduduk Kufah yang berusaha memberi tahu bahwa di Kufah telah berganti Gubernur baru yang lalim dan dzalim.

Walhasil, ketika Imam Hussein Ra. berangkat dari Mekkah dia tidak mengetahui bahwa telah terjadi pergantian Gubernur di Kufah.

Imam Hussein berangkat dari Kufah karena memang tidak ada sejengkal pun Tanah Hijjaz yang aman dari kedzaliman tentara Yazid.  Hal ini disebabkan karena penduduk Madinah dan Mekkah menolak membaiat Yazid.

Sebelum berangkat Imam Hussein berkata pada Ibnu Abbas:
“Sungguh jika aku terbunuh di tempat demikian dan demikian, tentu lebih aku sukai daripada aku mengorbankan kemuliaan negeri Mekah ini”

Rombongan Imam Hussein ini berjumlah 70 Orang, 30 berkuda dan 40 berjalan kaki bukan dengan maksud berperang.

Di Karbala pada tanggal 2 Muharram 61 H. Ketika itu, Imam Husayn dicegat oleh 1.000 pasukan di bawah komando Hurr ibn Yazid. Tentu sang Imam sangat kaget, karena beliau diminta datang oleh penduduk Kufah untuk menjadi  “Imam”, bukan gubernur apalagi memberontak.

Oleh karenanya beliau meminta kepada Hurr bin Yazid untuk diizinkan kembali ke Madinah saja, agar tidak terjadi fitnah. Tapi permintaan ini ditolak oleh Hurr bin Yazid.

Lalu Gubernur Kufah, Ubaydillah Bin Ziyad menambah jumlah pasukan dengan mengirimkan pasukan dipimpin oleh Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Sehingga total ada 10.000 pasukan yang siap memerangi 72 orang.

Sebelum perang terjadi, semua pasukan yang ada di Kufah (Lawan atau Kawan) sholat subuh bermakmum pada Hussein Ra. Lalu beliau berkhutbah sehingga ada beberapa orang di pihak pasukan Umar bin Sa’ad yang membelot termasuk pasukanya Hurr bin Yazid yang akhirnya memilih berpihak pada Hussein.

Sayyidina Hussein Ra Terbunuh.

Riwayat yang paling shahih tentang kepala Husain telah dibawakan oleh Imam al-Bukhâri, nomor 3748:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنِي حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أُتِيَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ بِرَأْسِ الْحُسَيْنِ فَجُعِلَ فِي طَسْتٍ فَجَعَلَ يَنْكُتُ وَقَالَ فِي حُسْنِهِ شَيْئًا فَقَالَ أَنَسٌ كَانَ أَشْبَهَهُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ مَخْضُوبًا بِالْوَسْمَةِ

Aku diberitahu oleh Muhammad bin Husain bin Ibrâhîm, dia mengatakan; aku diberitahu oleh Husain bin Muhammad, kami diberitahu oleh Jarîr dari Muhammad dari Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan; ‘Kepala Husain dibawa dan didatangkan kepada ‘Ubaidullah bin Ziyâd. Kepala itu ditaruh di bejana. Lalu ‘Ubaidullah bin Ziyâd menusuk-nusuk (dengan pedangnya) seraya berkomentar sedikit tentang ketampanan Husain. Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan; ‘Diantara Ahlul-Bait, Husain adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Saat itu, Husain radhiyallahu ‘anhu disemir rambutnya dengan wasmah (tumbuhan, sejenis pacar yang condong ke warna hitam).

Lalu ‘Ubaidullah yang durhaka ini kemudian menusuk-nusuk hidung, mulut dan gigi Husain radhiyallahu ‘anhu, padahal disitu ada Anas bin Mâlik, Zaid bin Arqam dan Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu ‘anhuma. Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan; “Singkirkan pedangmu dari mulut itu, karena aku pernah melihat mulut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium mulut itu!” Mendengarnya, orang durhaka ini mengatakan; “Seandainya saya tidak melihatmu sudah tua renta yang akalnya sudah rusak, maka pasti kepalamu saya penggal.

Dalam riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Hibbân dari Hafshah binti Sirîn dari Anasradhiyallahu ‘anhu dinyatakan:

Lalu ‘Ubaidullah mulai menusukkan pedangnya ke hidung Husain radhiyallahu ‘anhu.

Dalam riwayat ath-Thabrâni rahimahullah dari hadits Zaid bin Arqamradhiyallahu ‘anhu:

Lalu dia mulai menusukkan pedang yang di tangannya ke mata dan hidung Husain radhiyallahu ‘anhu. Aku (Zaid bin Arqam) mengatakan; ‘Angkat pedangmu, sungguh aku pernah melihat mulut Rasulullah (mencium) tempat itu.’

Demkian juga riwayat yang disampaikan lewat jalur Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu:

Aku (Anas bin Malik) mengatakan kepadanya; ‘Sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium tempat dimana engkau menaruh pedangmu itu.’ Lalu Ubaidullah mengangkat pedangnya.

Keadilan telah ditegakkan.

Peristiwa Karbala adalah murni karena “kepengecutan” orang Syiah Kufah. Bahkan setelah peristiwa yang keji demikian, mereka yang sebelumnya berjanji siap melindungi cucu Rasulullah malah diam entah kemana. Tidak satu pun yang berani mengangkat senjata.

Setelah peristiwa Karbala, umat yang marah justru para penduduk Hijjaz, Madinah dan Mekkah. Dibawah Pimpinan Abdullah bin Zubair mereka mengangkat senjata menuntut ditegakkanya qisas.

Yazid kemudian menggerakkan pasukan menuju Madinah lalu terjadilah pembantaian pada penduduk Madinah yang dikenal sebagai perang Harrah.

Setelah itu, Yazid menggerakkan pasukan ke Mekkah untuk juga membantai penduduk Mekkah yang menuntut balas atas kematian Hussein.

Tapi Allah Maha Adil, Yazid tiba-tiba meninggal padahal baru berkuasa sebagai Khalifah 3 tahun.

Demikian juga Ubaydillah Bin Ziyad, nyawanya juga melayang setelah dipenggal dan dibakar.

 

Note: Maaf jika saya menggelari Ubaydillah bin Ziyad dan Yazid Bin Muawiyah  laknatullah, karena saya cuma meneladani Umar bin Khattab ketika beliau mengkritik Khalid bin Walid.

 

Artikel yang berikatan:

1.

SBSS: Air Mata Umar bin Khattab

About these ads

65 thoughts on “Karbala yang sesungguhnya.

      • apa yang kamu katakan pada joko sebenarnya adalah cerminan dari dirimu sendiri bahadur bedanya kamu ditambah dengan sombong kalau ada yang tidak tahu beritahu yang benar jangan dihina atau sebenernya kamu yang ngga tahu

        Suka

      • Jawaban yang mencerminkan diri sendiri.. Janganlah mnjawab dengan celaan..
        Jauh lebih arif, jikalau ditanya maka dijawab dengan jawaban yang benar.. Bukankah ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal yang tidak terputus?

        Suka

  1. analisa dangkal, perlu rujuk web syiah, syiah tak perlu anda sebagai jurubela..jika tak tahu rujuklah ahlinya…studi lebih lagi .elok bincang pasal moto saja tak perlu kondem mazhab orang lain

    Suka

  2. cucunya kesayangan nabi muhammad dibunuh oleh orang islam sendiri. gak kebayang gimana perasaan sang nabi di alam kedamaian sana. dan sampai sekarang terus diungkit2 siapa sebenarnya yg salah. ckckck..
    #nyesek…

    Suka

  3. bingung mencari bacaan di blog, Dunia otomotif masih sibuk dengan keunggulan produk dan penjualannya. sekali-sekali apalagi di bulan ramadhan membaca artikel seperti ini.
    terima ksih

    Suka

    • • Allah SWT dalam surah Muhammad ayat 38, berfirman, “Dan jika kamu berpaling (daripada beriman, bertakwa dan berderma) Dia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain; setelah itu mereka tidak akan berkeadaan seperti kamu.”Ketika turun ayat ini, para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, siapakah yang akan menggantikan kami? Baginda menepuk bahu Salman al-Farisi dan bersabda, “Dia dan kaumnya! Dan jika agama berada di bintang Suraya sekalipun, nescaya yang akan mengambilnya adalah lelaki dari bangsa Farsi.” (Tafsir Ibnu Kathir, Jilid 4, halaman 182)
      http://www.alalam-news.com/news/1244464

      Suka

  4. Yang saya pernah dengan pimpinan pasukan yazid bernama Hisyam,dan dengan peristiwa itu nama Hisyam tidak dipakai oleh habib/sayid keturunan sy Husain Ra sampai sekarang,wallahu a’lam.

    Suka

  5. bagi yang ingin menyimak keterangannya lebih jelas bisa mendengarkan kajian ilmiyyah yang disampaikan oleh seorang ahli hadits yang dimiliki negri kita ini yaitu ustadz Abdul Hakim Abdat, beliau telah mengadakan safar ilmiyyah puluhan tahun lamanya dalam memeriksa riwayat2 antara yang sah dan tidaknya termasuk tentang kisah terbunuhnya cucu Nabi yang mulia husein radhiyallahuanhuma yang memang merupakan kemampuan yang diberikan Allah kepada beliau secara ilmu riwayat dan dirayatnya :http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abdul%20Hakim%20Amir%20Abdat/Menyingkap%20Hakikat%20di%20Balik%20Peristiwa%20Karbala%20Berdarah

    Suka

  6. Ikhwaniy rahimakumullah,jgn brdebat soal itu yg mana justru akn brpotensi memudarkan muru’ah Islam,mari sgra ingat sgl pristiwa hingga akhir umur dunia ini telah Allah catat di Lauhilmahfuzh,jika s’org aktor film hrs brtindak sesuai keinginan sutradara,maka manusia dan makhluk lainnya hrs brtindak dan menjalankn apa yg dkehendaki sang Khaliq yg Maha Kuasa.Wallahu a’lam bisshawab

    Suka

  7. Siap2 diserang orang2 Syi’ah…wkwkwkwk…. Susah ngomong sama orang Syi’ah. Sedikit2 taqiyah. Hanya percaya hadits, kalau yang meriwayatkan hanya Ahlul Bait. Bukhari? Kagak dipercaya, kecuali yang menguntungkan Syi’ah saja…

    Suka

  8. Ane syiah!
    Ane tantang ente bermubahalah
    “Ane Ali Al Mujtaba bermubahalah meminta kepada Alloh yang maha adil untuk mengadili yang benar dan yang salah dengan mengatakan “Syi’ah adalah ajaran Islam sejati seperti Islamnya Rosululloh saww dan Imam Ali as,
    Orang yang mengatakan syi’ah Ali kafir, maka dia adalah syi’ah Muawiyah la’natulloh.

    Jika pernyataan saya ini salah, maka saya akan dihukum Alloh dengan hukuman seberat-beratnya mulai detik ini juga ane akan sekarat sampai akhir hidup ane.”

    Penentang syi’ah silakan membalasnya!

    Suka

  9. Kayak nya sejarah yang ada tulis itu banyak kesalahannya! Sebab dari tulisan anda tesebut mengatakan bahwa shia sesat! Saya rasa anda harus banyak baca buku-buku tentang shia dari sana akan bisa menilai bahwa siapa yang sesat! Shia Ali atau Shia Muawiyah! & Anda bisa cari gambar nya Muawiyah di Internet maka anda akan dapatkan gambaran orang yang begis & jelek!
    Kemudian bandingkan dengan Makamnya!
    Makam siapakah yang paling banyak peziarah-nya, Makam Muawiyah atau Makam Imam Ali?
    Saya rasa dari situ anda seharusnya bisa berfikir! Nggak akan mungkin orang datang ke Makam seorang penjahat (Manusia Terkutuk seperti Muawiyah atau anaknya Yazid)!!!!

    Suka

  10. Syi’ah termasuk golongan “At Tawwaabun” yang menyesali tindakan mereka sendiri terhadap Al-Hussein dan keluarganya seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi sebagai pernyataan taubatnya kepada Allah kerana kesalahan mereka menyembah anak lembu sepeninggalan Nabi Musa ke Thur Sina.

    Suka

  11. TRAGEDI PEMBUNUHAN HUSSEIN

    Orang yang mengkaji tragedi ini, merenungnya dengan penuh perasaan dan melihat dengan hati sanubarinya, akan dapat merasakan al-Husain adalah cucu Rasulullah SAW dan ibunya ialah Fatimah anak perempuan penghulu segala makluk.
    Tentang al-Husain yang termasuk ke dalam keluarga Ahli al-Bait, Allah SWT berfirman:
    Katakanlah: Aku tidak mengharapkan sebarang upah kecuali rasa kasih kepada kaum kerabat terdekat. (Surah al-Syura, ayat 23)
    Apabila tajuk ini dikaji dalam bentuk seperti ini, pengkaji akan pasti merasa simpati dan kasih kepada keluarga Ahli al-Bait. Ia sekali-kali tidak akan mendengar lagi sebarang ucapan musuh-musuhnya, tidak akan menerima sebarang alasan dan keuzuran mereka yang membunuh al-Husain tanpa mengira apa sebabnya sekalipun.
    Berdasarkan perasaan simpati kita kepada keluarga Ali al-Bait, kita akan melaknat orang yang melaknat mereka dan kita akan mencaci orang yang mencaci mereka. Walau bagaimanapun sejarah sebenarnya tidak dikaji dengan penuh perasaan sentimen dan hakikat yang sebenar tidak pernah terserlah di dalam bayangan perasaan marah yang melonjak-lonjak dan menyala-nyala.
    Sejarah dikaji berdasarkan neraca akal dan logik dan perkara ini tidak berlaku kecuali dengan merujuk kepada sumber-sumbernya yang sebenar dan mendengar keterangan dari berbagai-bagai pihak, supaya apabila keputusan dikeluarkan, ia lebih hampir kepada keadilan.
    Sehubungan dengan itu, dalam membuat penganalisa ini kita perlu melupakan sejenak yang al-Husain adalah cucu Rasulullah SAW dan keududukannya di hati seluruh orang-orang Islam kemudian kita akan membicarakan tentang isu bersejarah ini atas sifatnya sebagai salah satu peristiwa yang boleh diukur dengan ukuran manusia dalam menyelesaikan permasalahan yang berlaku di kalangan mereka. Kita akan membentangkan perkara-perkara yang menyebabkan tercetusnya peperangan, mengalirnya darah umat Islam dan mengenalpasti suasasa yang melibatkan persekitaran di mana peristwa itu berlaku dan akhir sekali menganalisanya dari sudut kepentingan umum
    Pendirian Pelik al-Husain
    Sebelum menyentuh tentang tragerdi Karbala, suka penulis bentangkan terlebih dahulu pendirian-pendirian yang hampir menyamai pendirian al-Husain ra yang diambil oleh sahabat yang terkemuka dan masyhur menjadi sebutan sejarah. Sebenarnya orang-orang yang membuka lembaran hidup Rasulullah SAW, akan menemui berbagai-bagai contoh tindakan yang muncul dari sahabat-sahabat yang terpilih. Mereka telah menggariskan untuk diri mereka sendiri beberapa jalan dan mereka menempuh jalan itu secara sendirian jauh dari yang ditempuhi oleh orang ramai dan tabiat manusia. Mereka mengelakkan dari cenderung kepada dunia, sebaliknya mereka begitu bergantung kepada Akhirat dan begitu rindu untuk bertemu dengan Rasulullah SAW. Mereka menyuruh yang makruf dan mencegah yang mungkar dan mengelak diri dari terlibat dengan fitnah yang berlaku di kalangan orang-orang Islam.
    Persamaan Antara al-Husain dengan Uthman
    Antara sahabat yang terpilih ialah Uthman bin Affan ra, yang membingungkan dan menimbulkan kehairanan orang ramai tentang sikap yang diambil oleh beliau pada hari beliau dikepung oleh para pemberontak di dalam rumahnya, padahal beliau yakin kepungan tersebut akan berakhir dengan pembunuhan beliau dan sekali-kali tidak dapat dielakkan. Persoalannya apakah tindakan beliau pada masa itu?.
    Al-Tabari melaporkan ketika para pemberontak mengepung rumah Uthman, mereka berkata kepadanya: Kami sekali-kali tidak akan beredar melainkan setelah kami berjaya memecat tuan atau membunuh tuan atau roh tuan dipertahankan oleh sahabat-sahabat tuan dan juga kaum keluarga tuan, kami akan memerangi mereka sehingga kami berjaya mara kearah tuan.
    Jawab Uthman: Saya tidak akan sekali-kali meletakkan jawatan sebagai Khalifah Allah. Jika saya dibunuh kerana memperatahankan hak tersebut, adalah lebih saya sukai dari meletakkan jawatan. Berhubung kata-kata anda semua yang anda akan memerangi saya, saya tidak akan sekali-kali menyuruh seorangpun dari kalangan sahabat saya untuk memerangi anda semua. Jika ada di antara mereka yang memerangi anda, itu bukanlah di atas kehendak saya. (al-Tabari, jil.1, hlm. 371-372. Al-kamil, jil.3, hlm. 85-86)
    Laporan-laporan sejarah menjelaskan apabila Uthman dapat menangkap maksud para pemberontak, yang berkeras untuk membunuhnya, beliau terus menetap di dalam rumahnya dan memerintahkan penduduk Madinah yang berusaha mempertahankannya supaya pulang saja ke rumah masing-masing, bahkan beliau bersumpah agar mereka pulang ke rumah masing-masing kecuali al-Husain bin Ali, Ibn Abbas, Muhammad bin Talhah dan Abdullah bin al-Zubir. (al-Kamil, hlm. 86-87)
    Ibn al-Athir melaporkan, apabila para pemberontak memutuskan untuk membunuh Uthman dan mereka menuju ke rumah Uthman dengan tujuan mencerobohnya secara kekerasan, mereka telah dihalang oleh al-Husain bin Ali, Ibn al-Zubir, Muhammad bin Talhah, Marwan bin al-Hakam, Said bin al-As dan beberapa orang anak-anak sahabat yang lain. Mereka berkeras tidak membenarkan pihak pemberontak mara ke rumah Uthman, tetapi Uthman telah mencela mereka dengan menyatakan: Tidak payahlah anda semua menolong saya. Tetapi mereka tetap enggan berganjak dari pendirian mereka, lantas Uthman bangun dan membuka sendiri pintu rumahnya untuk dimasuki oleh para pemberontak dan beliau sendiri keluar berdepan dengan mereka. Apabila orang-orang Mesir melihat Uthman, mereka semua berundur ke belakang. Kesempatan ini diambil oleh para sahabat yang mempertahankan Uthman untuk menghalau para pemberontak itu. Walau bagaimanapun, Uthman telah bersumpah meminta para sahabat itu masuk ke dalam rumahnya, lalu mereka semua masuk ke dalam rumahnya dan beliau telah menutup pintu dari dimasuki oleh orang-orang Mesir itu. (Rujukan yang lalu, jil.3, hlm. 88)
    Terdapat beberapa rahsia pelik, yang sukar difahami oleh sejarah, malah ahli-ahli sejarah sendiri juga turut merasa bingung dan sukar mencari sebab-sebabnya.
    Di hadapan mereka duduk seorang lelaki yang sedang menunggu maut datang ke muka pintu rumahnya dan dia pula menyambut kedatangan maut itu tanpa sedikitpun melarikan diri darinya. Terdapat segolongan orang ramai yang cuba mempertahankannya, tetapi ia menolak pertahan ini dengan mengarahkan agar mereka semua pulang saja ke rumah masing!!.
    Apakah dia faktor-faktor psikologi yang telah menguasai jiwa Uthman bin Affan, padahal beliau pada masa itu sedang berada diambang maut?. Tidak diragui lagi beliau sebenarnya melihat kejadian yang berlaku itu dari sebalik alam ghaib. Beliau telah melihat tempat tinggalnya di Akhirat dan keinginannya untuk keluar dari dunia ini melonjak-lonjak. Beliau begitu yakin dengan janji Rasulullah SAW dan tidak ingin menagangguhkan lagi perlaksanaan janji tersebut!!.
    Ini dapat dilihat melalui laporan-laporan berikut.
    Ibn al-Athir melaporkan para pemberontak membakar pintu bilik Uthman kemudian menyerbu ke dalam biliknya. Uthman pada masa itu sedang menunaikan solat dan sedang membaca surah Taha. Pencerobohan pihak pemberontak dengan tujuan untuk membunuhnya langsung tidak mengejutkannya. Beliau langsung tidak tersalah atau teragak-agak dalam bacaannya, sehinggalah beliau selesai menunaikan solatnya, lalu beliau duduk menghadap Mushafnya, seterusnya beliau membaca ayat-ayat Al-Quran – sedangkan pada masa itu beliau melihat kepada orang yang di sekelilingnya di dalam rumahnya, seraya berkata: Rasulullah SAW telah berjanji kepada saya dengan satu janji dan saya bersabar menghadapi janji itu. Mereka (para pemberontak) tidak membakar pintu itu kecuali kerana menuntut sesuatu yang lebih besar dari itu. Uthman tidak membenarkan seorangpun dari kalangan sahabat-sahabat yang hadir melawan pihak pemberontak yang menceroboh biliknya. (al-Kamil, jil. 3, hlm. 88)
    Al-Tabari melaporkan Uthman telah dikejutkan dengan penyerbuan yang dilakukan oleh pihak pemberontak yang membakar pintu biliknya dan mencerobohnya, lalu beliau berkata kepada sahabat-sahabat yang ada di samping beliau: Jangan ada seorangpun dari kalangan anda yang cuba menggerakkan tangannya. Demi Allah sekiranya saya adalah orang paling rendah sekali di antara anda sekelian, mereka akan mendapatkan saya dahulu sebelum anda sekalian. Saya bersabar menghadapi janji yang telah dijanjikan oleh Rasulullah SAW kepada saya. Saya akan berdepan dengan saat kematian saya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. (Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 4, hlm. 831-892)
    Dari laporan-laporan ini, jelas kepada kita, gambaran sebenar pendirian Amir al-Mukminin Uthman ra yang bergelar orang yang mempunyai dua cahaya. Gambaran tersebut menjelaskan kepada kita di saat akhir hayatnya. Uthman telah hidup di dalam satu suasana yang lain, yang bukan lagi suasana yang biasa dihadapi oleh orang ramai. Negara Akhirat telah jelas nyata kepadanya dan beliau pula telah bermimpi berjumpa Rasulullah SAW yang memanggil-manggilnya, kerana itu adalah haknya menyibukkan diri dengan menyahut penggilan penghulu segala makhluk dari menumpukan kepada segala peristiwa yang berlaku di sekitarnya dan seterusnya beliau menyerahkan dirinya menjadi mangsa para pemberontak. Mereka melaksanakan qadar Allah yang telah ditetapkan kepadanya, sehingga jarak antara beliau dengan Rasulullah SAW terhapus sama sekali.
    Begitulah kedudukan sebenar pendirian Uthman. Sikap Uthman ini disebut-sebut oleh para sahabatnya selepas beliau meninggal dunia. Pengarang buku al-Riyad al-Nadirah melaporkan dari Abd a-Rahman bin Ma’di katanya: Ada dua perkara yang terdapat pada diri Uthman yang tidak terdapat pada diri Abu Bakar dan Umar iaitu kesabaran beliau menghadapi para pemberontak sehingga beliau dibunuh dan usaha beliau mengumpulkan mushaf al-Quran. (al-Tabari, jil. 2, hlm. 102, cetakan al-Khanji.)
    Tujuan dikemukakan Kisah Pembunuhan Uthman.
    Tujuan penulis mengemukakan kisah pembunuhan Uthman di saat akhir hayatnya, adalah untuk menjadikannya sebagai satu pengenalan kepada tragedi pembunuhan al-Husain di Karbala – mudah-mudahan beliau mendapat rahmat dan keredaan dari Allah SWT – Kerana antara kisah pembunuhan al-Husain dengan kisah pembunuhan Uthman terdapat ciri-ciri persamaan yang begitu besar sekali, khasnya dari sudut ketegasan berpegang dengan pendirian yang membawa kepada kematian walaupun telah dinasihatkan oleh para penasihat dan wujud tanda-tanda awal yang menunjukkan sikap beliau itu akan berkahir dengan natijah yang menggerikan.
    Di sini di utarakan kepada para pembaca peristiwa yang berlaku kepada al-Husain supaya pembaca dapat membuat perbandingan dengan kisah pembunuhan yang berlaku ke atas Uthman. Pembaca akan menemui ciri-ciri persamaan yang besar antara keduanya di dalam menghadapi ujian masing-masing, sebagaimana yang dicatatkan oleh sejarah pembunuhan berdarah, yang telah menyebabkan tercetusnya pemberontakan demi pemberontakan, sehingga mengganggu gugat perpaduan orang-orang Islam dan kehebatan mereka yang mereka warisi dari Rasulullah SAW dan Khulafa’ al-Rasyidin selepas baginda.
    Al-Husain Antara Ketegasan Memegang Pendapatnya Dengan Nasihat Para Penasihat
    Sejarah menceritakan, penduduk Kufah menulis kepada al-Husain untuk menjemput beliau datang ke Kufah. Di Dalam surat tersebut, mereka melahirkan keikhlasan dan kesungguhan untuk mempertahankannya. Mereka telah menggunakan kata-kata yang menarik dalam rangka menarik perhatian al-Husain datang ke Kufah. Al-Husain telah menghantar sepupunya Muslim bin Akil untuk membuat persiapan di sana bagi menyambut kedatangannya.
    Muslim bin Akil berjaya mendapat sokongan dari 12,000 orang penduduk Kufah dan mereka bersedia membaiah al-Husain. Muslim menjangkakan mereka ini adalah orang-orang yang boleh menjadi tempat pergantungannya di saat kecemasan, apabila al-Husain datang ke Kufah. Muslim telah menghantar berita kepada al-Husain tentang sambutan itu, tetapi malangnya Muslim telah dikepung secara mengejut oleh Abdullah bin Ziyad. Muslim cuba meminta bantuan dari golongan yang mengaku bersedia untuk membaiah al-Husain, namun malangnya tidak ada seorangpun dari kalangan mereka yang sanggup bersamanya yang sedang dikepung itu, malah mereka menangkap dan menyerahkannya kepada Gabenor Yazid untuk dibunuh. Setelah beliau dibunuh, mayatnya dicampakkan di tengah-tengah orang yang membaiahnya. (Rujuk al-Tabari, jil. 4, hlm. 260)
    Surat-surat yang dihantar oleh Muslim yang menjelaskan seramai 12,000 orang bersedia untuk membaiah, telah sampai ke tangan al-Husain. Beliau bermesyuarat dengan orang ramai tentang hasratnya untuk pergi ke Kufah.
    Persepakatan Para Penasihat Agar al-Husain Tidak ke Iraq
    Sebenarnya al-Husain tidak bermesyuarat dengan para sahabat dan ahli keluarga beliau untuk mendapat pandangan mereka, sebaliknya hanyalah bertujuan meninjau pandangan mereka sahaja dan untuk memberitahu kepada mereka yang beliau tetap akan bertolak ke Iraq.
    Kita kemukakan di sini sejumlah nasihat yang diberikan oleh beberapa orang penasihat. Mereka merayu al-Husain supaya tidak terlalu bergantung kepada janji-janji manis penduduk Kufah yang mahu membaiahnya, walaupun beliau sendiri mengetahui nasib yang dialami oleh Muslim bin Akil dan kerapuhan janji penduduk Iraq itu.
    Antara yang begitu lantang menasihat al-Husain supaya tidak bertolak ke Iraq ialah Muhammad bin al-Hanafiyah yang sangat mengasihinya dan sanggup menebus beliau dengan nyawanya sendiri, tetapi malangnya al-Husain tidak mendengar nasihat yang disampaikan kepada beliau, sebaliknya beliau tetap bertolak dari Mekah menuju ke Iraq dan tinggallah saudaranya keseorangan di Madinah menunggu berita tentang nasib yang dialami oleh al-Husain, sehinggalah beliau menerima berita tentang pembunuhan saudaranya itu. Ketika menerima berita itu, beliau sedang berwuduk di dalam sebuah bekas. Seorang sahabat beliau yang pada masa itu kebetulan berada disamping beliau melaporkan: Beliau (Muhammad bin al-Hanafiyah) menangis bersungguh-sungguh sehingga saya dapat mendengar dengan jelas suara tangisan beliau dan melihat sendiri bagaimana air matanya mengalir masuk ke dalam bekas yang digunakan untuk mengambil wuduk itu. (al-Tabari, jil. 4, hlm. 394)
    Abd al-Rahman bin Hisyam al-Makhzumi menceritakan tentang pendirian al-Husain,. Ujar beliau: Apabila surat-surat penduduk Iraq sampai ke tangan al-Husain dan al-Husain bersedia untuk memulakan perjalannya ke Iraq, saya datang menemui beliau di Mekah, lantas saya memuji Allah dan menyanjungNya, seterusnya saya berkata: Saya datang menemui anda wahai sepupuku kerana ada satu hajat yang ingin saya ceritakan kepada anda dan ia menjadi sebagai satu nasihat kepada anda. Sekiranya anda bersedia mendengar nasihat saya ini, saya akan meneruskannya, tetapi jika anda tidak bersedia untuk menerima nasihat saya ini, saya tidak akan menyatakan hasrat saya itu. Jawab al-Husain: Beritahulah kepada saya nasihat itu: Jawab saya: Sampai berita kepada saya yang anda tetap berkeras mahu bertolak ke Iraq. Saya sebenarnya merasa bersimpati dengan perjalanan anda ini. Saya tidak dapat menjamin anda dari dibunuh oleh orang-orang yang berjanji untuk membaiah anda itu. Jawab al-Husain: Mudah-mudahan Allah membalas dengan balasan yang baik di atas nasihat anda itu wahai sepupuku. Demi Allah anda telah memberikan nasihat yang bernas dan bercakap dengan akal yang waras sehingga ke akhirnya (al-Tabari, jil. 4, hlm. 382). Tetapi malangnya beliau tidak mendengar nasihat yang diberikan oleh Hisyam itu.
    Abdullah bin Abbas telah menasihat al-Husain dengan panjang lebar supaya beliau membatalkan sahaja hasratnya untuk bertolak ke Iraq, malah beliau menggunakan berbagai-bagai teknik untuk memuaskan hati al-Husain supaya menghentikan sahaja hasratnya itu. Satu ketika beliau pernah berkata al-Husain: Beritahu kepada saya – mudah-mudahan anda dirahmati Allah – adakah anda akan tetap juga bertolak menemui satu kaum yang telah membunuh pemimpin mereka sendiri, menguasai negeri mereka dan menghalau musuh-musuh mereka?. Jika mereka benar-benar mampu berbuat demikian, bertolaklah anda kepada mereka, tetapi jika sekiranya mereka menjemput anda dalam keadaan mereka sendiri tidak mampu berbuat demikian, kerana Gabenor mereka menekan mereka dan menguasai segala urusan mereka, manakala petugas-petugas Gabenor itu pula memungut hasil sewenang-wenangnya di Negara mereka, sebenarnya mereka menjemput anda untuk mencetuskan peperangan dan pertempuran. Saya bimbang, mereka akan membohongi, mendustai, menentang dan juga menghina anda nanti.
    Di ketika yang lain Abdullah bin Abbas menyatakan kepada beliau: Jika anda berkeras juga untuk bertolak ke Iraq, janganlah anda bertolak dengan isteri dan anak-anak anda sekali. Demi Allah saya bimbang anda akan dibunuh sebagaimana Uthman dibunuh di hadapan isteri dan anak-anaknya.
    Akhir sekali Ibn Abbas menyatakan: Demi Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia, sekiranya saya tahu apabila saya pegang rambut dan dahi anda sehingga orang ramai berkumpul menentang saya dan juga menentang anda dan anda pula mentaati saya, nescaya akan saya lakukan demikian.
    Antara orang yang ikhlas memberikan nasihat kepada al-Husain ialah Farazdak bin Ghalib seorang ahli syair yang pernah ditanya oleh al-Husain tentang kedudukan orang-orang yang mendokongnya ke Iraq. Al-Faradzak menjawab: Anda telah bertanya kepada orang yang pakar tentang apa yang anda tanya itu. Sebenarnya hati orang ramai bersama dengan anda, tetapi pedang-pedang mereka bersama dengan Bani Umayyah. Qadak telah turun dari langit dan Allah melakukan apa sahaja yang ingin dilakukan-Nya. Jawab al-Husain: Anda benar kepada Allahlah kembali segala urusan dan Alah melakukan apa saja yang Ia kehendaki. Setiap hari Tuhan kita menguruskan urusanNya. Sekiranya qadak turun berbetulan dengan apa yang kita sukai, kita memuji Allah di atas nikmat-nikmat itu dan Dialah satu-satunya tempat memohon pertolongan bagi menunaikan kesyukuran yang tidak terhingga. Jika qadak berlaku tidak sebagaimana yang diharapkan, orang yang bertujuan mencari kebenaran dan menyembunyikan ketakwaan di dalam lubuk hatinya akan tetap dengan pegangannya. Setelah itu keduanya berpisah.
    Abdullah bin Jaafar bin Abi Talib pernah menulis kepada al-Husain sepucuk surat. Antara lain kandungan surat itu ialah: Saya sangat mengharapkan agar anda benar-benar merenung isi kandungan surat ini. Saya sebenarnya amat kasihan dengan anda, kerana bimbang kalau-kalau anda binasa hari ini, akan padamlah cahaya bumi. Anda adalah salah seorang tokoh yang menjadi ikutan masyarakat dan harapan orang-orang Mukim. Janganlah anda tergesa-gesa bertolak ke Iraq. Saya akan susuli surat ini dengan surat yang lain pula, Sekian Wa al-Salam
    Abdullah bin Muti’ al-Afdawi mengetahui al-Husain sudah hampir tiba di Bandar Kufah. Beliau telah berkhemah di satu kawasan takungan air kepunyaan sebuah perkampungan Arab pendalaman. Di sini Abdullah bin al-Muti; bertemu dengan al-Husain ra dan mengetahui sebab-sebab kedatangan beliau ke bumi Iraq. Antara nasihat yang diberikan oleh Abdullah kepada al-Husain ialah: Saya suka memperingatkan anda wahai cucu Rasulullah SAW. Kehormatan Islam akan diceroboh. Saya merayu kepada anda atas nama Allah, supaya menjaga kehormatan Rasulullah SAW. Saya merayu kepada anda atas nama Allah, supaya anda menjaga kehormatan bangsa Arab. Demi Allah, jika anda masih juga menuntut apa yang ada di tangan golongan Bani Umayyah itu, mereka pasti akan membunuh anda. Apabila mereka membunuh anda, mereka tidak lagi menaruh rasa hormat kepada seorang pun tokoh terkemuka Islam. Demi Allah, jika anda meneruskan juga hasrat anda itu, kehormatan Islam akan dicerobohi. Begitu juga dengan kehormatan Kabilah Quraish dan Arab. Jangan anda meneruskan perjalanan ini dan jangan anda pergi ke kota Kufah. Janganlah anda mendedahkan diri kepada golongan Bani Umayyah. Tetapi malangnya nasihat yang bernas ini tidak diterima oleh beliau dan beliau meneruskan juga perjalanannya. (rujukan yang sama, jil. 4, hlm. 396)
    Selain dari yang disebutkan di atas, terdapat beberapa orang penasihat lain yang menjelaskan kelemahan pengaruh yang dimiliki al-Husain dan kekuatan yang pengaruh dimiliki oleh golongan Bani Umayyah. Para penasihat itu menceritakan, mereka melihat sendiri bagaimana Muslim bin Akil – sepupunya – dan Hani’ bin Urwah yang disewa oleh Muslim bin Akil dibunuh dan mayat keduanya diseret di hadapan orang ramai di pasar.

    Rahsia Yang Tersembunyi Di saat Akhir Kehidupan Uthman dan al-Husain
    Al-Tabari menceritakan Abdullah bin Jaafar bin Abi Talib bukan sahaja menghantar surat kepada al-Husain melalui kedua orang anaknya, bahkan beliau juga mengambil langkah yang lebih positif dalam usaha memujuk al-Husain supaya menarik balik hasratnya untuk pergi ke Iraq. Beliau telah mengambil inisiatif untuk bertemu dengan Amru bin Said, Gabenor Yazid bin Muawiyah di kota Mekah dan meminta beliau menulis sepucuk surat kepada al-Husain. Surat tersebut memberi jaminan keamanan kepada al-Husain jika beliau menarik balik hasratnya untuk pergi ke Iraq, malah sanggup memberikan kepada beliau beragai-bagai jaminan lain jika al-Husain sanggup berbuat demikian. Tidak cukup dengan itu, Abdullah bin Jaafar telah meminta Amru bin Said supaya menghantar supucuk surat kepada al-Husain melalui saudaranya sendiri Yahya bin Said, kerana beliau berpendapat tindakan sebegini dapat menenenangkan hati al-Husain dan supaya beliau mengetahui kesungguhan yang ditunjukkan oleh Gabenor Yazid di Mekah dalam usaha memujuknya supaya tidak pergi ke Iraq.
    Abdullah bin Jaafar sendiri menemani Yahya bin Said menemui al-Husain dan membacakan surat yang dihantar oleh Amru bin Said itu. Walaubagaimanapun jawapan al-Husain ialah: Saya telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW dan saya telah melakukan sesuatu yang telah ditentukan kepada saya tanpa mengira ia mendatangkan keburukan kepada diri saya atau memberikan keuntungan kepada saya. Lalu Abdullah dan Yahya berkata: Apakah mimpi anda itu? Jawab al-Husain: Saya tidak dapat menceritakannya kepada seseorangpun, malah saya tidak boleh memberitahu kepada seseorangpun sehingga saya bertemu dengan Tuhan saya. (al-Tabari, jil. 4m hlm. 388)
    Begitu juga kata-kata terakhir al-Husain kepada para sahabatnya ketika beliau menghadapi saat akhir riwayatnya dan beliau menyuruh mereka menjauhkan diri darinya. Antara lain beliau berkata: Mudah-mudahan Allah sahajalah yang membalas di atas kebaikan anda semua. Walaubagaimanapun saya menyakini hari kita berdepan dengan musuh ialah esok hari, beredarlah anda semua dari saya bagi mengelakkan pertumpahan darah. Anda semua tidak mempunyai sebarang tali ikatan. Sekarang malam sudah pun tiba, ambillah kesempatan untuk beredar dari sini. Kaum itu sebenarnya mahukan saya. Sekiranya mereka telah berjaya mendapatkan saya, mereka tidak akan lagi memperdulikan orang yang lain daripada saya. Walaubagaimanapun para sahabatnya enggan beredar dari situ. ( al-Dawlah al-Amawiyah oleh al-Dokor Mahmuad Ziyadah, hlm. 131)
    Tidakkah pembaca bersama dengan penulis yang berpendirian yang diambil oleh al-Husain adalah sama dengan pendirian yang diambil oleh Uthman bin Affan?. Keduanya melihat kematian sebagai sesuatu yang sudah pasti berada di hadapannya. Keduanya juga telah dinasihati oleh keseluruhan orang-orang yang ikhlas yang berada di sampingnya.
    Masing-masing menjawab dengan satu bentuk jawapan sahaja. Percubaan untuk memujuk Uthman dan al-Husain jelas menemui kegagalan, kerana Uthman dan al-Husain berkeras dengan sikap masing-masing. Masing-masing juga mengisytiharkan yang masing-masing mempunyai perjanjian dengan Rasulullah SAW yang mesti ditunaikan.
    Di sini pena-pena ahli sejarah menjadi kelu dan kelemahan menyelubungi akal mereka. Mereka tidak dapat menangkap rahsia yang tersembunyi di dalam perjalanan hidup dua orang tokoh besar orang-orang Islam dan tokoh yang mempunyai fikiran yang paling bernas ini. Keduanya menyalahi kefahaman yang biasa dipraktikkan oleh orang ramai dan memusnahkan neraca kehidupan masing-masing semata-mata untuk bergerak kepada satu kehidupan yang lebih baik dan penuh dengan nikmat di samping Rasulullah SAW, setelah keduanya menanggung berbagai-bagai cabaran untuk menegakkan kebenaran, yang menyebabkan akhirnya mereka terpaksa menggadai nyawa dan menjadikan kematian sebagai jalan untuk mendapatkan kerehatan dari kejahatan kehidupan ini.
    Uthman menyatakan kepada orang yang berusaha mempertahankannya: Rasulullah SAW telah berjanji kepada saya dengan satu perjanjian dan saya bersabar menghadapi perjanjian itu. Setelah itu beliau bertemu dengan Rasulullah SAW di dalam mimpinya dan Rasulullah SAW berkata kepadanya” Berbukalah bersama dengan kami pada mala ini.
    Al-Husain berkata kepada orang-orang yang bersimpati dengan beliau dan inginkan beliau terus hidup: Sesungguhnya saya beretemu dengan Rasulullah SAW di dalam mimpi saya dan saya telah diperintahkan untuk melakukan sesuatu yang telah ditetapkan bagi saya, tanpa mengira samaada ia merugikan saya atau mendatangkan keuntungan kepada saya.
    Setelah itu beliau menyuruh sahabat-sahabatnya beredar dari beliau dengan mengucapkan: Mudah-mudahan Allah sahajalah yang membalas di atas kebaikan anda semua. Walaubagaimanapun saya menyakini hari kita berdepan dengan musuh ialah esok hari, beredarlah anda semua dari saya bagi mengelakkan pertumpahan darah. Anda semua tidak mempunyai sebarang tali ikatan. Sekarang malam sudah pun tiba, ambillah kesempatan untuk beredar dari sini. Kaum itu sebenarnya mahukan saya. Sekiranya mereka telah berjaya mendapatkan saya, mereka tidak akan lagi memperdulikan orang yang lain daripada saya. Walaubagaimanapun para sahabatnya enggan beredar dari situ.
    Apakah Bukti Nasihat Yang Diberikan Oleh Penasihat?
    Sebelum penulis mengemukakan pendapat penulis berhubung intipati nasihat yang diberikan kepada al-Husain, dan ungkapan yang diucapkan oleh al-Husain yang membuktikan keyakinan beliau kepada perjalanan yang sedang ditempuhinya, penulis suka menyebut, orang-orang yang menasihati beliau semuanya adalah orang yang kasih kepada beliau dari kalangan ahli keluarga beliau sendiri. Mereka merupakan orang yang begitu beriya-iya benar untuk melihat beliau terus hidup. Apabila mereka memberikan nasihat dan mendesak beliau supaya mernarik balik hasratnya untuk pergi ke Iraq, persoalannya apakah dorongan yang mendorong mereka memberikan nasihat ini?
    Kita dapat menangkap pendirian yang diambil oleh mereka adalah sebagaimana berikut:
    1. Setiap pemberi nasihat yang ikhlas dapat merasakan urusan Khalifah telahpun berada di tangan golongan Bani Umayyah sepenuhnya dan Yazid telah menjadi Khalifah dengan rasminya, tanpa sebarang pertikaian lagi. Orang-orang Islam telah bersepakat di atas perlantikan beliau sebagai Khalifah, kerana itu tidak wajar sama sekali fitnah baru diwujudkan dalam masyarakat Islam.
    2. Setiap orang yang memberikan nasihat dan menunjukkan simpati kepada al-Husain, telah membaiah Yazid setelah mereka mengkaji kedudukan Yazid yang sebenarnya. Mereka yakin setiap percubaan untuk merubah fenomena ini akan sia-sia.
    Sehubungan dengan itu, mereka melihat adalah lebih baik mereka menghalang al-Husain dari melibatkan diri dalam urusan yang tidak akan menatijahkan sebarang hasil kecuali bala dan fitnah yang tidak mengenal erti belas kasihan sahaja.
    3. Pelajaran terdahulu yang ditunjukkan oleh saudaranya al-Hasan kepada masyarakat umum orang Islam dan contoh telah yang ditinggalkan oleh beliau dalam usaha menyatukan semula perpaduan di kalangan orang-orang Islam, masih lagi terbayang-bayang di hadapan mata orang ramai, yang sekaligus membuktikan tentang ketinggian peribadi al-Hasan dan melayakkannya memenuhi maksud Hadis Rasulullah SAW: Cucu saya ini adalah sayyid (penghulu) mudah-mudahan Allah mendamaikan melaluinya dua golongan besar umat Islam yang berselisih pendapat. (al-Awasim Min al-Qawasim, hlm. 232)
    Siapa Yang Bertanggungjawab Membunuh al-Husain
    Dalam menentukan pihak yang bertanggungjawab membunuh al-Husain, muncul dihadapan kita, banyak persoalan yang boleh ditimbulkan antaranya:
    Adakah kita boleh menghukum isu pembunuhan al-Husain berdasarkan undang-undang biasa yang dibawa oleh Islam dan diamalkan dikalangan orang ramai?
    Adakah boleh kepada qadi atau pengarah yang adil mengatakan salah satu dari gua golongan tersebut sahaja yang betul, manakala yang satu lagi adalah salah?
    Inilah persoalan-persoalan yang timbul sekitar isu pembunuhan al-Husain yang menyababkan timbulnya kemarahan di kalangan orang Islam, sehingga mereka hilang pertimbangan. Mereka langsung tidak mempunyai kesempatan untuk mengkaji isu ini dalam suasana yang jauh dari emosi dan lonjakan telunjuk asabiyah.
    Setelah penulis mengkaji isu ini di dalam suasana yang jauh dari emosi berdasarkan apa yang penulis yakin dan setelah penulis kemukakan teks-teks yang menjadi pergantungan penulis sebagai bahan untuk menginstinbatkan hukum darinya, penulis melihat ukuran-ukuran biasa dan undang-undang yang ditunduki oleh manusia, tidak sesuai menjadi asas bagi menyokong salah satu dari dua golongan ini dan tidak ada jalan untuk berlaku adil terhadapnya.
    Sebaliknya kita berusaha menangani isu ini dengan uslub yang lain dan bukan dengan uslub yang biasa diamalkan oleh para qadi dan juga ahli-ahli sejarah iaitu kita perlu mengkaji tentang pendirian yang diambil oleh al-Husain dengan segala elemen-elemen yang berkaitan dengannya dan juga pendirian yang diambil oleh Yazid dengan segala yang berkaitan dengannya. Dengan cara ini akan terserlahlah kepada kita pendirian yang diambil oleh salah seorang darinya, adalah menepati perjalanan tabi’i manakala pendirian yang diambil oleh pihak yang satu lagi adalah di luar dari perjalanan undang-undang tabi’i.
    Walaubagaimanapun kita tidak maksudkan dengan perjalanan yang tabi’i itu sebagai perjalanan yang betul, sebagaimana kita juga tidak maksudkan dengan perjalanan tidak tabi’i itu sebagai perjalanan yang salah semata-mata, kerana salah dan betul- dalam pendirian-pendirian seumpama ini – adalah ditentukan oleh niat dan dorongan-dorongan yang terdapat di dalam hati dan kemudian dijelaskan oleh tujuan yang ingin direalisasikan oleh pihak yang mempunyai niat tersebut.
    Perkataan ini sebenarnya tidak mungkin dapat dibongkar dan sampai kepada hakikatnya yang sebenar, kerana ia merupakan satu perkara yang tersembunyi di dalam hati kedua-dua pihak. Secara umumnya kita dapat simpulkan:
    1. Yazid bin Muawiyah ra adalah seorang Khalifah yang telah dibaiah oleh orang-orang Islam di Bandar besar yang dihuni oleh orang-orang Islam iaitu Damsyik yang berfungsi mengambil tempat Madinah pada masa itu. Penduduknya mangambil tempat ahli mesyuarat (ahli al-Halli Wa al-Aqdi) dari kalangan Muhajirin dan Ansar.
    Setelah itu beliau telah dibaiah oleh penduduk di Bandar-bandar besar Wilayah Islam. Di kalangan sahabat besar yang turut membaiah Yazid ialah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Muhammad bin al-Hanafiyah dan setiap keluarga Ali al-Bait. Tidak ada yang tidak membaiah Yazid kecuali hanya segelintir sahaja yang tidak berbuat demikian. Dengan pembaiahan Yazid adalah sah pada pandangan syarak dan dipegang oleh semua orang Islam, sebagaimana yang dijelaskan oleh Abdullah bin Umar dan Muhammad bin al-Hanafiyah saudara kepada al-Husain sendiri. Kemudian pembaiahan Yazid diperkuatkan lagi dengan kekuatan yang dimiliki oleh golongan Bani Umayyah.
    2. Pandangan agama adalah jelas dalam hal membaiah Yazid ini, berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Abdullah bin Umar yang mengumpulkan pengikut dan anaknya apabila beliau mengetahui penduduk Madinah memecat Yazid dan enggan membaiah beliau. Abdullah bin Umar berkata kepada mereka: Sesungguhnya saya mendegar Rasulullah SAW bersabda: Akan didirikan pada hari kiamat kelak satu panji-panji bagi orang yang khianat. (HR: Bukarhi, Kitab al-Fitan, jil. 8, hlm. 99). Kami telah membaiah lelaki ini sebagaimana baiah yang dikehendaki oleh Allah dan RasulNya seorang lelaki dalam bentuk baiah yang dikehendaki oleh Allah dan RasulNya kemudian kita melancarkan peperangan pula terhadapnya. Saya tidak mengetahui seseorang dari kalangan anda yang mencabut baiahnya dari lelaki ini dan tidak membaiahnya melainkan terputuslah hubungan antara dia dengan saya. (al-Muntaqa Min Minhaj al-Iktidal, hlm. 292-294. Al-Awasim, hlm. 225).

    Dilaporkan juga dari Ibn Umar ketika Yazid dibaiah, beliau berkata: Sekiranya ia merupakan satu kebaikan, kami meredainya dan jika sekiranya ia merupakan satu keburukan, kami bersabar menghadapinya. (al-Awasim Min al-Qawasim, hlm. 226)

    Begitulah juga yang dilakukan oleh Muhammad bin al-Hanafiyah, ibn Abbas dan setiap pencinta al-Husain dan kaum keluarganya.

    Begitulah tersebar di kalangan orang-orang Islam yang tidak menaruh hawa nafsu dan tidak juga menurut maslahah tertentu, keluar dari ketaatan kepada imam atau pemerintah, adalah satu tindakan yang boleh memecahbelahkan barisan umat Islam dan merosakkan binaannya. Pada mulut orang ramai sentiasa bermain Hadis Rasulullah SAW yang berbunyi: Akan berlaku fitnah demi fitnah. Barangsiapa yang cuba memecahbelahkan urusan umat ini, pancunglah tengkuknya tanpa mengira siapa dia. (HR: Muslim, Bab Hukmu Man Farraqa Amra al-Muslimin Wa Huwa Mujtama’, jil. 6, hlm. 22)
    3. Sebaik sahaja surat-surat yang diutuskan oleh penduruk Kufah sampai ke tangan al-Husain dan beliau berhasrat untuk keluar menuju ke Kufah bagi mengisytiharkan perang terhadap Yazid, orang-orang yang berada di sekeliling beliau dapat menangkap bahaya tindakan yang beliau ambil itu. Sehubungan dengan itu mereka telah memberitahu kepada al-Husain, rasa curiga mereka kepada masyarakat yang pernah suatu ketika dahulu mengecewakan ayahanda dan saudaranya. Setelah itu mereka memberitahu kepada al-Husain, tindakan yang beliau ambil itu bukan sahaja menghumbankan diri kepada kemusnahan, bahkan juga memudarat dan merugikan diri sendiri.
    Intipati nasihat dan desakan ini tertumpu kepada menggesa al-Husain, supaya tidak keluar menentang pemerintah yang telah dilantik oleh orang Islam atau tidak menjadi sebab kepada berpecahnya perpaduan di kalangan umat Islam, setelah mereka sebelum itu bersatu padu dan keeratan perpaduan ini melebihi keinginan mereka kepada kehidupan harian mereka dan keinginan mereka supaya anak-anak dan ahli keluarga mereka terus kekal.
    4. Daripada beberapa teks yang penulis kemukakan yang lalu menjelaskan al-Husain bertindak sedemikan rupa disebabkan oleh dorongan-dorongan yang tersembunyi, yang telah menjadi satu perkara penting yang mesti beliau laksanakan. Kepentingan ini menjadi tanggungjawab yang wajib dipikul oleh beliau dan beliau juga perlu memikul segala rintangan yang menimpanya dalam melaksanakan tugas tersebut, walaupun kehidupannya dan kehidupan keluarganya sendiri terancam dan walaupun beliau sendiri tidak berapa mempercayai tentang penerimaan penduduk Iraq terhadap seruannya. Ini dibuktikan dengan ucapan yang diungkapkannya beliau sendiri ketika tercetusnya pertempuran: Ya Allah Ya Tuhanku!, jatuhilah hukuman antara kami dengan kaum yang kami seru mereka untuk membantu kami, tetapi mereka pula yang memerangi kami. (al-Tabari, jil. 4m hlm. 389)
    Walaupun para penasihat telah mengemukakan segala alasan dan bukti, tetapi al-Husain telah menolak segala nasihat itu dan meneruskan perancangan yang telah ditakdirkan berlaku ke atas dirinya. Beliau menemui kelazatan rohani dan kerehatan jiwa dalam melaksanakan perancangan tersebut. Walaupun Abdullah bin Jaafar bin Abi Talib dan Yahya bin Said mendesak al-Husain supaya membatalkan sahaja hasratnya bertolak ke Iraq dan mereka berdua telah menjelaskan kepada beliau akibat buruk yang bakal diterimanya, namun beliau tetap dengan keputusannya. Malah jawapan beliau ialah: Saya telah bertemu Rasulullah SAW di dalam mimpi saya dan saya telah diperintahkan untuk melaksanakan satu perkara yang telah ditentukan ke atas saya samaada mendatangkan kerugian kepada saya atau mendatangkan keuntungan kepada saya. Kedua orang itu bertanya Apakah mimpi itu?. Jawab al-Husain: Saya tidak boleh memberitahu kepada sesiapaun dan saya tidak akan memberitahukannya kepada seseorang pun sehinggalah saya bertemu dengan Tuhan saya. (al-Tabari, jil. 4m hlm. 388)
    Apakah dia perintah yang diterima oleh al-Husain dari datuknya sehingga ia bersusah payah untuk meneruskan juga hasratnya ke Iraq, sedangkan orang-orang yang menasihati beliau di sekelilingnya merasa hairan dengan sikap beliau itu?!.
    5. Antara riwayat yang dikemukakan oleh sejarah yang lalu dapat difahami Yazid bin Muawiyah tidak pernah berniat untuk membunuh al-Husain, walaupun ia terpaksa berbuat demikian selepas para petugasnya menyakinkan beliau, yang negaranya berada dalam keadaan yang cukup bahaya. Beliau tidak pernah menjangkakan akan melakukan tindakan sebegitu rupa terhadap al-Husain sebagaimana yang berlaku dalam peristiwa Karbala, sebaliknya sikap sebenarnya diambil oleh Abdullah bin Ziyad kerana ingin menunjukkan kejaguhan dan mendekatkan diri kepada pemerintah. Faktor inilah yang bertanggungjawab secara langsung mencetuskan pertempuran berdarah itu. Faktor inilah juga yang melampaui segala batasan akal dan tunduk kepada keinginan yang menggila dalam melakukan keganasan dan pembunuhan. Inilah perkara yang membuatkan Yazid sendiri begitu marah dan menangisi kematian al-Husain. Beliau mengisytiharkan kemarahannya kepada Ubaidillah bin Ziyad apabila beliau membawa kepala al-Husain ke istananya.
    At-Tabari melaporkan – melalui lidah hamba kepunyaan Muawiyah bin Abu Sufyan ra – katanya: Apabila kepala al-Husain dibawa kepada Yazid dan diletakkan dihadapan beliau, saya melihat Yazid menangis seraya mengatakan: Andai kata antara beliau dengan al-Husain mempunyai hubungan kekeluargaan, beliau tidak sanggup berbuat demikian. (al-Tabari, jil. 4m hlm. 393)
    Kemungkinan Yazid mengisyaratkan kata-katanya ini kepada penasihat yang pernah diberikan kepadanya oleh ayahandanya Muawiyah sebelum ia meninggal. Ujar beliau kepada Yazid: Berhubung dengan al-Husain, beliau adalah seorang yang ringan. Penduduk Iraq tidak sekali-kali membiarkannya melainkan mereka akan mengeluarkannya dari sana. Sekiranya ia mempunyai hubungan tali silaturrahim yang kukuh, hak yang besar dan juga hubungan kerabat dengan Nabi Muhammad SAW. (al-Kamil oleh Ibn al-Athir, jil. 3m hlm. 264)
    Pembunuh al-Husain sebenar
    Sebenarnya jika dikaji sejarah permulaan Islam kita dapati pembunuhan Sayyidina Husain di zaman pemerintahan Yazidlah yang merupakan fakta terpenting mendorong segala fitnah dan keaiban yang dikaitkan dengan Yazid tidak mudah ditolak oleh generasi kemudian. Hakikat inilah yang mendorong lebih banyak cerita-cerita palsu tentang Yazid diada-adakan oleh musuh-musuh Islam. Tentu sekali orang yang membunuh menantu Rasulullah s.a.w yang tersayang-dibelai oleh Rasulullah dengan penuh kasih sayang semasa hayatnya kemudian ditatang pula dengan menyebutkan kelebihan dan keutamaan-keutamaannya di dalam hadis-hadits Baginda- tidak akan dipandang sebagai seorang yang berperi kemanusiaan apalagi untuk mengatakannya seorang soleh, budiman, bertaqwa dan pemimpin umat Islam.
    Kerana itulah cerita-cerita seperti Yazid sering kali minum arak, seorang yang suka berfoya-foya, suka mendengar muzik dan menghabiskan waktu dengan penari-penari, begitu juga beliau adalah orang terlalu rendah jiwanya sehingga suka bermain dengan monyet dan kera, terlalu mudah diterima oleh umat Islam kemudian.
    Tetapi soalnya, benarkah Yazid membunuh Sayyidina Husain? Atau benarkah Yazid memerintahkan supaya Sayyidina Husain dibunuh di Karbala?
    Selagi tidak dapat ditentukan siapakah pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya dan terus diucapkan ‘ Yazidlah pembunuhnya’ tanpa soal selidik yang mendalam dan teliti, maka selama itulah nama Yazid akan terus tercemar dan dia akan dipandang sebagai manusia yang paling malang. Tetapi bagaimana jika yang membunuh Sayyidina Husain itu bukan Yazid ? Kemanakah pula akan kita bawakan segala tuduhan-tuduhan liar, fitnah dan caci maki yang selama ini telah kita sandarkan pada Yazid itu ?
    Jika kita seorang yang cintakan keadilan, berlapang dada, sudah tentu kita akan berusaha untuk membincangkan segala keburukan yang dihubungkan kepada Yazid selama ini dan kita pindahkannya ke halaman rumah pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain yang sebenar. Apalagi jika kita seorang Ahlus Sunnah Wal Jamaah, sudah tentu dengan dengan adanya bukti-bukti yang kuat dan kukuh daripada sumber-sumber rujukan muktabar dan berdasarkan prinsip-prinsip aqidah yang diterima di kalangan Ahlus Sunnah, kita akan terdorong untuk membersihkan Yazid daripada segala tuduhan dan meletakkannya ditempat yang istimewa dan selayak dengannya di dalam rentetan sejarah awal Islam.
    Sekarang marilah kita pergi ke tengah-tengah medan penyelidikan tentang pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala bersama-sama dengan sekian ramai ahli keluarganya.
    Pembunuh al-Husain Adalah Syiah Kufah
    Terlebih dahulu kita akan menyatakan dakwaan kita secara terus terang dan terbuka bahawa pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya bukanlah Yazid tetapi adalah golongan Syiah Kufah.

    Dakwaan ini berdasarkan beberapa fakta dan bukti-bukti daripada sumber-sumber rujukan sejarah yang muktabar. Kita akan membahagi-bahagikan bukti-bukti yang akan dikemukakan nanti kepada dua bahagian :
    (1) Bukti-bukti utama
    (2) Bukti-bukti sokongan
    I. Bukti-bukti utama
    Dengan adanya bukti-bukti utama ini, tiada mahkamah yang dibangunkan untuk mencari kebenaran dan mendapatkan keadilan akan memutuskan Yazid sebagai pesalah dan sebagai penjenayah yang bertanggungjawab di dalam pembunuhan Sayyidina Husain. Bahkan Yazid akan dilepaskan dengan penuh penghormatan dan akan terbongkarlah rahsia yang selama ini menutupi pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya di Karbala.
    Bukti pertamanya ialah pengakuan Syiah Kufah sendiri bahawa merekalah yang membunuh Sayyidina Husain. Golongan Syiah Kufah yang mengaku telah membunuh Sayyidina Husain itu kemudian muncul sebagai golongan “At Tawwaabun” yang kononnya menyesali tindakan mereka membunuh Sayyidina Husain. Sebagai cara bertaubat, mereka telah berbunuh-bunuhan sesama mereka seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi sebagai pernyataan taubatnya kepada Allah kerana kesalahan mereka menyembah anak lembu sepeninggalan Nabi Musa ke Thur Sina.
    Air mata darah yang dicurahkan oleh golongan “At Tawaabun” itu masih kelihatan dengan jelas pada lembaran sejarah dan tetap tidak hilang walaupun cuba dihapuskan oleh mereka dengan beribu-ribu cara.
    Pengakuan Syiah pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain ini diabadikan oleh ulama-ulama Syiah yang merupakan tunggak dalam agama mereka seperti Baaqir Majlisi, Nurullah Syustri dan lain-lain di dalam buku mereka masing-masing. Baaqir Majlisi menulis :
    “Sekumpulan orang-orang Kufah terkejut oleh satu suara ghaib. Maka berkatalah mereka, ” Demi Tuhan! Apa yang telah kita lakukan ini tak pernah dilakukan oleh orang lain. Kita telah membunuh “Ketua Pemuda Ahli Syurga” kerana Ibn Ziad anak haram itu. Di sini mereka mengadakan janji setia di antara sesama mereka untuk memberontak terhadap Ibn Ziad tetapi tidak berguna apa-apa”. (Jilaau Al’Uyun, m.s. 430)

    Qadhi Nurullah Syustri pula menulis di dalam bukunya Majalisu Al’Mu’minin bahawa selepas sekian lama (lebih kurang 4 atau 5 tahun) Sayyidina Husain terbunuh, ketua orang-orang Syiah mengumpulkan orang-orang Syiah dan berkata, ” Kita telah memanggil Sayyidina Husain dengan memberikan janji akan taat setia kepadanya, kemudian kita berlaku curang dengan membunuhnya. Kesalahan kita sebesar ini tidak akan diampunkan kecuali kita berbunuh-bunuhan sesama kita “. Dengan itu berkumpullah sekian ramai orang-orang Syiah di tepi Sungai Furat sambil mereka membaca ayat yang bermaksud, ” Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang telah menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu “. (Al Baqarah :54). Kemudian mereka berbunuh-bunuhan sesama sendiri. Inilah golongan yang dikenali dalam sejarah Islam dengan gelaran “At Tawaabun”.
    Sejarah tidak tidak akan melupai peranan Shits bin Rab’ie di dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala. Tahukah anda siapa itu Syits bin Rab’ie? Dia adalah seorang Syiah pekat, pernah menjadi duta kepada Sayyidina Ali di dalam peperangan Siffin, sentiasa bersama Sayyidina Husain. Dialah juga yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk mencetuskan pemberontakan terhadap kerajaan pimpinan Yazid, tetapi apakah yang telah dilakukan olehnya?
    “Sejarah memaparkan bahawa dialah yang mengepalai 4,000 orang bala tentera untuk menentang Sayyidina Husain dan dialah orang yang mula-mula turun dari kudanya untuk memenggal kepala Sayyidina Husain”. (Jilaau Al’Uyun dan Khulashatu Al Mashaaib, m.s. 37)
    Adakah masih ada orang yang ragu-ragu tentang Syiahnya Syits bin Rab’ie dan tidakkah orang yang menceritakan perkara ini ialah Mulla Baaqir Majlisi, seorang tokoh Syiah terkenal ? Secara tidak langsung ia bermakna pengakuan daripada pihak Syiah sendiri tentang pembunuhan itu.
    Lihatlah pula kepada Qais bin Asy’ats ipar Sayyidina Husain yang tidak diragui tentang Syiahnya tetapi apa kata sejarah tentangnya? Bukankah sejarah mendedahkan kepada kita bahawa itulah orang yang merampas selimut Sayyidina Husain dari tubuhnya selepas selesai pertempuran ? (Khulashatu Al Mashaaib, m.s. 192)

    Selain daripada pengakuan mereka sendiri yang membuktikan merekalah sebenarnya pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain, kenyataan saksi-saksi yang turut serta di dalam rombongan Sayyidina Husain sebagai saksi-saksi hidup di Karbala yang terus hidup selepas peristiwa ini juga membenarkan dakwaan ini termasuk kenyataan Sayyidina Husain sendiri yang sempat dirakamkan oleh sejarah sebelum beliau terbunuh. Sayyidina Husain berkata dengan menujukan kata-katanya kepada orang- orang Syiah Kufah yang siap sedia bertempur dengan beliau :
    ” Wahai orang-orang Kufah! Semoga kamu dilaknat sebagaimana dilaknat maksud- maksud jahatmu. Wahai orang-orang yang curang, zalim dan pengkhianat! Kamu telah menjemput kami untuk membela kamu di waktu kesempitan tetapi bila kami datang untuk memimpin dan membela kamu dengan menaruh kepercayaan kepadamu maka sekarang kamu hunuskan pedang dendammu kepada kami dan kamu membantu musuh-mush di dalam menentang kami “. (Jilaau Al’ Uyun, ms 391).
    Beliau juga berkata kepada Syiah:
    “Binasalah kamu! Bagaimana boleh kamu menghunuskan perang dendammu dari sarung-sarungnya tanpa sebarang permusuhan dan perselisihan yang ada di antara kamu dengan kami? Kenapakah kamu siap sedia untuk membunuh Ahlul Bait tanpa sebarang sebab? ” (Ibid).
    Akhirnya beliau mendoakan keburukan untuk golongan Syiah yang sedang berhadapan untuk bertempur dengan beliau:
    “Ya Allah! Tahanlah keberkatan bumi dari mereka dan selerakkanlah mereka. Jadikanlah hati-hati pemerintah terus membenci mereka kerana mereka menjemput kami dengan maksud membela kami tetapi sekarang mereka menghunuskan pedang dendam terhadap kami “. (Ibid)
    Beliau juga dirakamkan telah mendoakan keburukan untuk mereka dengan kata-katanya: “Binasalah kamu! Tuhan akan membalas bagi pihakku di dunia dan di akhirat……..Kamu akan menghukum diri kamu sendiri dengan memukul pedang-pedang di atas tubuhmu dan mukamu akan menumpahkan darah kamu sendiri. Kamu tidak akan mendapat keberuntungan di dunia dan kamu tidak akan sampai kepada hajatmu. Apabila mati nanti sudah tersedia azab Tuhan untukmu di akhirat. Kamu akan menerima azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir yang paling dahsyat kekufurannya”. (Mulla Baqir Majlisi-Jilaau Al’Uyun, m.s. 409).
    Daripada kata-kata Sayyidina Husain yang dipaparkan oleh sejarawan Syiah sendiri, Mulla Baqir Majlisi, dapat disimpulkan bahawa:
    (i) Diayah yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam menerusi penulisan sejarah bahawa pembunuhan Ahlul Bait di Karbala merupakan balas dendam dari Bani Umayyah terhadap Ahlul Bait yang telah membunuh pemimpin-pemimpin Bani Umayyah yang kafir di dalam peperangan Badar, Uhud, Siffin dan lain-lain tidak lebih daripada propaganda kosong semata-mata kerana pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain dan Ahlul Bait di Karbala bukannya datang dari Syam, bukan juga dari kalangan Bani Umayyah tetapi dari kalangan Syiah Kufah.
    (ii) Keadaan Syiah yang sentiasa diburu dan dihukum oleh kerajaan-kerajaan Islam di sepanjang sejarah membuktikan termakbulnya doa Sayyidina Husain di medan Karbala ke atas Syiah.
    (iii) Upacara menyeksa tubuh badan dengan memukul tubuhnya dengan rantai, pisau dan pedang pada 10 Muharram dalam bentuk perkabungan yang dilakukan oleh golongan Syiah itu sehingga mengalir darah juga merupakan bukti diterimanya doa Sayyidina Husain dan upacara ini dengan jelas dapat dilihat hingga sekarang di dalam masyarakat Syiah.
    Adapun di kalangan Ahlus Sunnah tidak pernah wujud upacara yang seperti ini dan dengan itu jelas menunjukkan bahawa merekalah golongan yang bertanggungjawab membunuh Sayyidina Husain.
    (iv) Betapa kejam dan kerasnya hati golongan ini dapat dilihat pada tindakan mereka menyembelih dan membunuh Sayyidina Husain bersama dengan sekian ramai ahli keluarganya walaupun setelah mendengar ucapan dan doa keburukan untuk mereka yang dipinta oleh beliau. Itulah dia golongan yang buta mata hatinya dan telah hilang kewarasan pemikirannya kerana sebaik saja mereka selesai membunuh, mereka melepaskan kuda Zuljanah yang ditunggangi Sayyidina Husain sambil memukul-mukul tubuh untuk menyatakan penyesalan. Dan inilah dia upacara perkabungan pertama terhadap kematian Sayyidina Husain yang pernah dilakukan di atas muka bumi ini sejauh pengetahuan sejarah. Dan hari ini tidakkah anak cucu golongan ini meneruskan upacara perkabungan ini setiap kali tibanya 10 Muharram?
    Ali Zainal Abidin anak Sayyidina Husain yang turut serta di dalam rombongan ke Kufah dan terus hidup selepas berlakunya peristiwa itu pula berkata kepada orang-orang Kufah lelaki dan perempuan yang merentap dengan mengoyak-ngoyakkan baju mereka sambil menangis, dalam keadaan sakit beliau dengan suara yang lemah berkata kepada mereka, ” Mereka ini menangisi kami. Tidakkah tidak ada orang lain yang membunuh kami selain mereka ?” (At Thabarsi-Al Ihtijaj, m.s. 156).
    Pada halaman berikutnya Thabarsi menukilkan kata-kata Imam Ali Zainal Abidin kepada orang-orang Kufah. Kata beliau, ” Wahai manusia (orang-orang Kufah)! Dengan Nama Allah aku bersumpah untuk bertanya kamu, ceritakanlah! Tidakkah kamu sedar bahawasa kamu mengutuskan surat kepada ayahku (menjemputnya datang), kemudian kamu menipunya? Bukankah kamu telah memberikan perjanjian taat setia kamu kepadanya? Kemudian kamu membunuhnya, membiarkannya dihina. Celakalah kamu kerana amalan buruk yang telah kamu dahulukan untuk dirimu”.
    Sayyidatina Zainab, saudara perempuan Sayyidina Husain yang terus hidup selepas peristiwa itu juga mendoakan keburukan untuk golongan Syiah Kufah. Katanya, ” Wahai orang-orang Kufah yang khianat, penipu! Kenapa kamu menangisi kami sedangkan air mata kami belum lagi kering kerana kezalimanmu itu. Keluhan kami belum lagi terputus oleh kekejamanmu. Keadaan kamu tidak ubah seperti perempuan yang memintal benang kemudian dirombaknya kembali. Kamu juga telah merombak ikatan iman dan telah berbalik kepada kekufuran…Adakah kamu meratapi kami padahal kamu sendirilah yang membunuh kami. Sekarang kamu pula menangisi kami. Demi Allah! Kamu akan banyak menangis dan sedikit ketawa. Kamu telah membeli keaiban dan kehinaan untuk kamu. Tompokan kehinaan ini sama sekali tidak akan hilang walau dibasuh dengan air apapun”. (Jilaau Al ‘ Uyun, ms 424).
    Doa anak Sayyidatina Fatimah ini tetap menjadi kenyataan dan berlaku di kalangan Syiah hingga ke hari ini.
    Ummu Kulthum anak Sayyidatina Fatimah pula berkata sambil menangis di atas segedupnya, ” Wahai orang-oang Kufah! Buruklah hendaknya keadaanmu. Buruklah hendaklah rupamu. Kenapa kamu menjemput saudaraku Husain kemudian tidak membantunya bahkan membunuhnya, merampas harta bendanya dan menawan orang-orang perempuan dari ahli rumahnya. Laknat Allah ke atas kamu dan semoga kutukan Allah mengenai mukamu”.

    Beliau juga berkata, ” Wahai orang-orang Kufah! Orang-orang lelaki dari kalangan kamu membunuh kami sementara orang-orang perempuan pula menangisi kami. Tuhan akan memutuskan di antara kami dan kamu di hari kiamat nanti”. (Ibid, ms 426-428)
    Sementara Fatimah anak perempuan Sayyidina Husain pula berkata, ” Kamu telah membunuh kami dan merampas harta benda kami kemudian telah membunuh datukku Ali (Sayyidina Ali). Sentiasa darah-darah kami menitis dari hujung-hujung pedangmu……Tak lama lagi kamu akan menerima balasannya. Binasalah kamu! Tunggulah nanti azab dan kutukan Allah akan berterusan menghujani kamu. Siksaan dari langit akan memusnahkan kamu akibat perbuatan terkutukmu. Kamu akan memukul tubuhmu dengan pedang-pedang di dunia ini dan di akhirat nanti kamu akan terkepung dengan azab yang pedih “.
    Apa yang dikatakan oleh Sayyidatina Fatimah bt. Husain ini dapat dilihat dengan mata kepala kita sendiri di mana-mana Syiah berada.
    Dua bukti utama yang telah kita kemukakan tadi, sebenarnya sudah mencukupi untuk kita memutuskan siapakah sebenarnya pembunuh Sayyidina Husain di Karbala. Daripada keterangan dalam kedua-dua bukti yang lalu dapat kita simpulkan beberapa perkara :

    1. Orang-orang yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk memberontak adalah Syiah.

    2. Orang-orang yang tampil untuk bertempur dengan rombongan Sayyidina Husain di Karbala itu juga Syiah.

    3. Sayyidina Husain dan orang-orang yang ikut serta di dalam rombongannya terdiri daripada saudara- saudara perempuannya dan anak-anaknya menyaksikan bahwa Syiahlah yang telah membunuh mereka.

    4. Golongan Syiah Kufah sendiri mengakui merekalah yang membunuh di samping menyatakan penyesalan mereka dengan meratap dan berkabung kerana kematian orang-orang yang dibunuh oleh mereka.

    Mahkamah di dunia ini menerima keempat-empat perkara yang tersebut tadi sebagai bukti yang kukuh dan jelas menunjukkan siapakah pembunuh sebenar di dalam sesuatu kes pembunuhan, iaitu bila pembunuh dan yang terbunuh berada di suatu tempat, ada orang menyaksikan ketika mana pembunuhan itu dilakukan. Orang yang terbunuh sendiri menyaksikan tentang pembunuhnya dan kemuncaknya ialah pengakuan pembunuh itu sendiri. Jika keempat-empat perkara ini sudah terbukti dengan jelas dan diterima oleh semua mahkamah sebagai kes pembunuhan yang cukup bukti-buktinya, maka bagaimana mungkin diragui lagi tentang pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain itu ?

    II. Bukti-bukti Sokongan
    Walaubagaimanapun kita akan mengemukakan lagi beberapa bukti sokongan supaya lebih menyakinkan kita tentang golongan Syiah itulah sebenarnya pembunuh Sayyidina Husain. Di antaranya ialah :
    1. Tidak sukar untuk kita terima mereka sebagai pembunuh Sayyidina Husain apabila kita melihat kepada sikap mereka yang biadap terhadap Sayyidina Ali dan Sayyidina Hasan sebelum itu. Begitu juga sikap mereka yang biadap terhadap orang-orang yang dianggap oleh mereka sebagai Imam selepas Sayyidina Husain. Bahkan terdapat banyak pula bukti yang menunjukkan merekalah yang bertanggungjawab terhadap pembunuhan beberapa orang Imam walaupun mereka menuduh orang lain sebagai pembunuh Imam- imam itu dengan menyebar luaskan propaganda- propaganda mereka terhadap tertuduh itu.
    Di antara kebiadapan mereka terhadap Sayyidina Ali ialah mereka menuduh Sayyidina Ali berdusta dan mereka pernah mengancam untuk membunuh Sayyidina Ali. Bahkan Ibnu Muljim yang kemudiannya membunuh Sayyidina Ali itu juga mendapat latihan serta didikan untuk menentang Sayyidina Utsman di Mesir dan berpura-pura mengasihi Sayyidina Ali. Dia pernah berkhidmat sebagai pengawal Sayyidina Ali selama beberapa tahun di Madinah dan Kufah.
    Di dalam Jilaau Al’ Uyun disebutkan bahawa Abdul Rahman Ibn Muljim adalah salah seorang daripada kumpulan yang terhormat yang telah dikirimkan oleh Muhammad bin Abu Bakr dari Mesir. Dia juga telah berbai’ah dengan memegang tangan Sayyidina Ali dan dia juga berkata kepada Sayyidina Hasan, ” Bahawa aku telah berjanji dengan Tuhan untuk membunuh bapamu dan sekarang aku menunaikannya. Sekarang wahai Hasan jika engkau mahu membunuhku, bunuhlah. Tetapi kalau engkau maafkan aku, aku akan pergi membunuh Muawiyah pula supaya engkau terselamat daripada kejahatannya”. (Jilaau Al U’yun, ms 218)
    Tetapi setelah golongan Syiah pada ketika itu merasakan perancangan mereka semua akan gagal apabila perjanjian damai di antara pihak Sayyidina Ali dan Muawiyah dipersetujui, maka golongan Syiah yang merupakan musuh-mush Islam yang menyamar atas nama Islam itu memikirkan diri mereka tidak selamat apabila perdamaian antara Sayyidina Ali dan Muawiyah berlaku. Maka segolongan dari mereka telah mengasingkan diri daripada mengikuti Sayyidina Ali dan mereka menjadi golongan Khawarij sementara segolongan lagi tetap berada bersama Sayyidina Ali. Perpecahan yang berlaku ini sebanarnya satu taktik mereka untuk mempergunakan Sayyidina Ali demi kepentingan mereka yang jahat itu dan untuk berselindung di sebalik beliau daripada hukuman kerana pembunuhan Khalifah Utsman.

    Sayyidina Hasan pula pernah ditikam oleh golongan Syiah pehanya sehingga tembus kemudian mereka menunjukkan pula kebiadapannya terhadap Sayyidina Hasan dengan merampas harta bendanya dan menarik kain sejadah yang diduduki oleh Sayyidina Hasan. Ini semua tidak lain melainkan kerana Sayyidina Hasan telah bersedia untuk berdamai dengan pihak Sayyidina Muawiyah. Bahkan bukan sekadar itu saja mereka telah menuduh Sayyidina Hasan sebagai orang yang menghinakan orang-orang Islam dan sebagai orang yang menghitamkan muka orang-orang Mukmin.

    Kebiadaban Syiah dan kebusukan hatinya ditujukan juga kepada Imam Jaafar As Shadiq bila seorang Syiah yang sangat setia kepada Imam Jaafar As Shadiq iaitu Rabi’ menangkap Imam Jaafar As Shadiq dan membawanya kehadapan Khalifah Al-Mansur supaya dibunuh. Rabi’ telah memerintahkan anaknya yang paling keras hati supaya menyeret Imam Jaafar As Shadiq dengan kudanya. Ini tersebut di dalam kitab Jilaau Al ‘ Uyun karangan Mulla Baqir Majlisi.

    Di dalam kitab yang sama pengarangnya juga menyebutkan kisah pembunuhan Ali Ar Ridha iaitu Imam yang ke lapan di sisi Syiah, bahawa beliau telah dibunuh oleh Sabih Dailamy, seorang Syiah kental dengan perintah Al Makmun. Bagaimanapun diceritakan bahawa selepas dibunuh itu Imam Ar Ridha dengan mukjizatnya terus hidup kembali dan tidak ada langsung kesan-kesan pedang di tubuhnya.

    Bagaimanapun Syiah telah menyempurnakan tugasnya untuk membunuh Imam Ar Ridha. Oleh itu tidaklah hairan golongan yang sampai begini biadapnya terhadap Imam-imam boleh membunuh Sayyidina Husain tanpa belas kasihan di medan Karbala.

    Boleh jadi kita akan mengatakan bagaimana mungkin pengikut-pengikut setia Imam-imam ini yang dikenali dengan ‘syiah’ boleh bertindak kejam pula terhadap Imam-imamnya? Tidakkah mereka sanggup mempertahankan nyawa demi mempertahankan Iman-imam mereka? Secara ringkas bolehlah kita katakan bahawa ‘perasaan kehairanan’ yang seperti ini mungkin timbul dari dalam fikiran Syiah, yang tidak mengetahui latar belakang kewujudan Syiah itu sendiri. Mereka hanya menerima secara membabi buta daripada orang-orang terdahulu. Adapun orang-orang yang mengadakan sesuatu fahaman dengan tujuan-tujuan yang tertentu dan masih hidup ketika mana ajaran dan fahaman itu mula dikembangkan tentu sekali mereka sedar maksud dan tujuan mereka mengadakan ajaran tersebut. Pada lahirnya mereka menunjukkan taat setia dan kasih sayang kepada Imam-imam itu, tetapi pada hakikatnya adalah sebaliknya.

    2. Di antara bukti yang menunjukkan tidak ada peranan Yazid dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala, bahkan golongan Syiahlah yang bertanggungjawab membunuh beliau bersama dengan ramai orang-orang yang ikut serta di dalam rombongan itu, ialah adanya hubungan persemendaan di antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah, selepas berlakunya peperangan Siffin dan juga selepas berlakunya peristiwa pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala.

    Tidak mungkin orang-orang yang bermaruah seperti kalangan Ahlul Bait akan berkahwin dengan orang-orang yang diketahui oleh mereka sebagai pembunuh-pembunuh atau orang-orang yang bertanggungjawab di dalam membunuh ayah, datuk atau bapa saudara mereka Sayyidina Husain. Hubungan ini selain daripada menunjukkan pemerintah-pemerintah dari kalangan Bani Muawiyah dan Yazid sebagai orang yang tidak bersalah di dalam pembunuhan ini, ia juga menunjukkan mereka adalah golongan yang banyak berbudi kepada Ahlul Bait dan sentiasa menjalinkan ikatan kasih sayang di antara mereka dan Ahlul Bait.

    Di antara contoh hubungan persemendaan ini ialah:

    (1) Anak perempuan Sayyidina Ali sendiri bernama Ramlah telah berkahwin dengan anak Marwan bin Al-Hakam yang bernama Muawiyah iaitu saudara kepada Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan. (Ibn Hazm-Jamharatu Al Ansab, m.s. 80)

    (2) Seorang lagi anak perempuan Sayyidina Ali berkahwin dengan Amirul Mukminin Abdul Malik sendiri iaitu khalifah yang ke empat daripada kerajaan Bani Umaiyah. (Al Bidayah Wa An Nihayah, jilid 9 m.s. 69)

    (3) Seorang lagi anak perempuan Sayyidina Ali iaitu Khadijah berkahwin dengan anak gabenor ‘Amir bin Kuraiz dari Bani Umaiyah bernama Abdul Rahman. (Jamharatu An Ansab, m.s. 68). ‘Amir bin Kuraiz adalah gabenor bagi pihak Muawiyah di Basrah dan dalam peperangan Jamal dia berada di pihak lawan Sayyidina Ali.

    Cucu Sayyidina Hasan pula bukan seorang dua yang telah berkahwin dengan pemimpin-pemimpin kerajaan Bani Umaiyah bahkan sejarah telah mencatatkan 6 orang daripada cucu beliau telah berkahwin dengan mereka iaitu:-

    1. Nafisah bt Zaid bin Hasan berkahwin dengan Amirul Mukminin Al Walid bin Abdul Malik bin Marwan.

    2. Zainab bt Hasan Al Mutsanna bin Hasan bin Ali juga telah berkahwin dengan Khalifah Al Walid bin Abdul Malik. Zainab ini adalah di antara orang yang turut serta di dalam rombongan Sayyidina Husain ke Kufah dan dia adalah salah seorang yang menyaksikan peristiwa pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala dengan mata kepalanya sendiri.

    3. Ummu Qasim bt Hasan Al Mutsanna bin Hasan bin Ali berkahwin dengan cucu Sayyidina Uthman iaitu Marwan bin Aban. Ummu Qasim ini selepas kematian suaminya Marwan berkahwin pula dengan Ali Zainal Abidin bin Al Husain.

    4. Cucu perempuan Sayyidina Hasan yang keempat telah berkahwin dengan anak kepada Marwan bin Al-Hakam iaitu Muawiyah.

    5. Cucu Sayyidina Hasan yang kelima bernama Hammaadah bt Hasan Al Mutsanna berkahwin dengan anak saudara Amirul Mukminin Marwan bin Al Hakam iaitu Ismail bin Abdul Malik.

    6. Cucu Sayyidina Hasan yang keenam bernama Khadijah bt Husain bin Hasan bin Ali juga pernah berkahwin dengan Ismail bin Abdul Malik yang tersebut tadi sebelum sepupunya Hammaadah.

    Perlu diingat bahawa semua mereka yang tersebut ada meninggalkan zuriat.

    Dari kalangan anak cucu Sayyidina Husain pula ramai yang telah menjalinkan perkahwinan dengan individu-individu dari keluarga Bani Umaiyah, antaranya ialah:-

    (1) Anak perempuan Sayyidina Husain yang terkenal bernama Sakinah. Selepas beberapa lama terbunuh suaminya Mus’ab bin Zubair, beliau telah berkahwin dengan cucu Amirul Mukminin Marwan iaitu Al Asbagh bin Abdul Aziz bin Marwan. Asbagh ini adalah saudara kepada Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz sedangkan isteri Asbagh yang kedua ialah anak kepada Amirul Mukminin Yazid iaitu Ummu Yazid. (Jamharatu Al -Ansab)

    (2) Sakinah anak Sayyidina Husain yang tersebut tadi pernah juga berkahwin dengan cucu Sayyidina Uthman yang bernama Zaid bin Amar bin Uthman.

    Sementara anak cucu kepada saudara-saudara Sayyidina Husain iaitu Abbas bin Ali dan lain-lain juga telah mengadakan perhubungan persemendaan dengan keluarga Umaiyah. Di antaranya yang boleh disebutkan ialah:-

    Cucu perempuan kepada saudara Sayyidina Husain iaitu Abbas bin Ali bernama Nafisah bt Ubaidillah bin Abbas bin Ali berkahwin dengan cucu Amirul Mukminin Yazid yang bernama Abdullah bin Khalid bin Yazid bin Muawiyah. Datuk kepada Nafisah ini iaitu Abbas bin Ali adalah di antara orang yang ikut serta dalam rombongan Sayyidina Husain ke Kufah. Beliau terbunuh dalam pertempuran di medan Karbala .

    Sekiranya benar cerita yang diambil oleh ahli -ahli sejarah dari Abu Mukhnaf, Hisyam dan lain–lain tentang kezaliman Yazid di Karbala yang dikatakan telah memerintah supaya tidak dibenarkan setitik pun air walaupun kepada kanak–kanak yang ikut serta dalam rombongan Sayyidina Husain itu sehingga mereka mati kehausan apakah mungkin perkahwinan di antara cucu kepada Abbas ini berlaku dengan cucu Yazid. Apakah kekejaman–kekejaman yang tidak ada tolak bandingnya seperti yang digambarkan di dalam sejarah boleh dilupakan begitu mudah oleh anak – anak cucu orang–orang yang teraniaya di medan Karbala itu? Apa lagi jika dilihat kepada zaman berlakunya perkahwinan mereka ini, bukan lagi di zaman kekuasaan keluarga Yazid, bahkan yang berkuasa pada ketika itu ialah keluarga Marwan. Di sana tidak terdapat satu pun alasan untuk kita mengatakan perkahwinan itu berlaku secara kekerasan atau paksaan.

    Perkahwinan mereka membuktikan kisah–kisah kezaliman yang dilakukan oleh tentera Yazid ke atas rombongan Sayyidina Husain itu cerita–cerita rekaan oleh Abu Mukhnaf, Al Kalbi dan anaknya Hisyam dan lain–lain.

    Cucu perempuan kepada saudara Sayyidina Husain, Muhammad bin Ali (yang terkenal dengan Muhammad bin Hanafiyah) bernama Lubabah berkahwin dengan Said bin Abdullah bin Amr bin Said bin Al Ash bin Umaiyah. Ayah kepada Lubabah ini ialah Abu Hisyam Abdullah yang dipercayai sebagai imam oleh Syiah Kaisamyyah .
    Demikia

    Suka

  12. ADA YG BILANG SYIAH ITU WAKTU REFOLUSI IRAN…
    TP MENURUT CATATAN ANDA SYIAH SDH ADA WAKTU ZAMAN SAYYIDINA HUSAIN RA?? BAGAIMANA MENURUT ANDA??

    Suka

  13. berbantah di sini gak asyik lah — banyak yang ngaku Islam padahal tidak hanya membuat panas diskusi — jadi tau cara mereka merusak Islam–wkw kwkkwwkwkwwkwwwkw… perlu dicontoh gak ya cara merusak agama laen– gak lah Islam bukan agama seperti itu —

    Suka

  14. Saya heran sama penulis,sumber g jelas,tp sudah berani menyalahkan syiah ali
    saya cuma mau tanya sma orang sunni,klo kalian menganggap aisyah benar,kenapa aisyah menganggap ustman sbg natsal?dan jika kalian menganggap ustman benar,berarti kalian menganggap aisyah salah,mereka adl orang2 yg d anggap benar oleh sunni
    klo kalian merasa benar,silakan jawab

    Suka

  15. Ping-balik: NABI ISA AS AKAN TURUN KEMBALI DI DAMASKUS, SURIAH « STORY OF ME

  16. Siapa bilang Yazid tak berniat membunuh Husein? Bohong itu
    Kepala Husein diarak kota dan dipajang disampung singasana Yazid sambil menghina keluarga Ali ra yang ditangkap.
    Saya malu masih ada orang yang mengaku Sunni tetapi mendukung Yazid!!!!

    Suka

  17. labaika ya hussayn…………………!!!!!!!!!!!!!!
    demi kedudukan politik/kekuasaan sejarah yang sebenatnya di sembunyikan………….!!!!!!!!!!!!
    tapi tak mengapa…….kami manusia yang kritiss yang bisa berpikir benar dan salah…..!!!!!!!!!!!
    aku bukan sunni atau syiah tapi aku muslim yang mencintai apa yang nabi cintai !!! ahlul bait !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    oia…1 lagi…………sejarah perang uhud….paman nabi hamza hatinya di makan oleh abu sofyan ayah muawiyyah …..!!!! jadi buah itu tak jatuh jauh dari pohon !!!!!!!!!!

    yazid bin muawiyyah bin abu sofyan laknatallah !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Suka

  18. Yang membatai Sayidina HUSEIN adalah YAZID (LA) kok malah di bilang Ubaydillah Bin Ziyad artikel lelucon, belajar sejarah dulu sampeyan, jangan memutarbalikan sejarah menurut akal kamu, ini arikelnya Wahabi yang sekarang mengaku2 ahlisunnah, kalau ASWAJA pasti akan bilang YAZID itu fasik semua pandangan ulama ahli sunnah, belajar yg pentir lagi ya jangan main comot artikel sampah mas

    Suka

  19. Umat Islam yg bermazhab syiah jafary atau syiah 12 imam yg dianut mayoritas orange di Iran, Bahrain, sebagian Pakistan, afgan, Uzbek, tazkistan, Kuwait, arb Saudi, me sir, DLL adalah saudara kit a sesama Muslim.
    Berhati hatilah menjatuhkan NA a baik saudara Muslim kit a, bahkan walaupun yg baru saja mengucapkan syahadat atau mualaf.

    Silahkan kunjungi: http://www.umatyangsatu.blogspot.com

    Semoga Allah Swt merahmati Dan mengampuni kit a semua. Amin

    Suka

  20. Sejarah Tragedi Karbala bukan punya orang syiah aja, seharusnya orang islam semua tau yg membunuh sayidina Husain adalah Yazid laknatallah, dialah orang2 fazik sebagian para perawih hadis mengatakan, hati2 sama arikel ini seperti cerita fiksi saja, jangan mengaduh domba umat islam, tidak semua pencita ahli bait itu syiah, tp mencitai ahlibait adalah kewajiban bagi umat islam seharusnya.

    Suka

  21. Ping-balik: karbala | aanbetawie

  22. Alhamdulillah, dan trimakasih atas keterangan yg saudara syiah ibn muljam paparkan. Krn dari sekian banyak komen, analisa yg dipaparkan bung syiah ibn muljam sangat logis bagi yg menggunakan akal dg adil. Dan skrg jelas bagi ana bahwa pembunuh imam Husein adalh warga kufah dan para syiah kufah. Jelas juga bagi ana bahwa yazid telah difitnah secara sistematis dlm buku buku syiah yg pernah ana baca

    Suka

Tinggalkan Balasan, mohon maaf bila tidak bisa membalas

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s