Romusha, Kerja Paksa Soekarno untuk Jepang yang membunuh 300.000 Jiwa

romusha jepang

Kerja paksa di era penjajahan Jepang yang biasa disebut dengan Romusha adalah termasuk buah tangan kebijakan Presiden Soekarno. Para Pekerja itu dihimpun langsung oleh Presiden Soekarno sebagai konsekuensi langsung dari kebijakan politik terkait kesepakatanya dengan Kaisar Jepang, Tenno Heika, untuk mempercepat dan mendukung proses kemerdekaan Indonesia.

Lebih parah lagi, Soekarno tidak hanya menjual nyawa pemuda-pemuda Indonesia itu, tapi juga Sumber Daya Alam dengan gratisan. Selain membangun jalan raya, terowongan dan rel kereta api, para pekerja Romusha juga menambang sumber daya alam Indonesia seperti emas, batu bara dan lainnya untuk Jepang.

Kebijakan Ramusho ini menjadi perdebatan antara Bung Karno dengan Tan Malaka. Pidato Soekarno bahwa Indonesia bersama Jepang akan mengalahkan Sekutu dan setelah itu Jepang memberikan kemerdekaan buat Indonesia, dibantah Tan Malaka.


bung karno promosi romushoFoto: Bung Karno menjadi model mempromosikan romusha. Pada lengannya tertulis pita besar bernomor 970. Romusha bernama Soekarno itu ditulis koran-koran zaman itu tinggal di pondokan sederhana romusha, makan makanan mereka. Koran juga memuat foto saat Bung Karno mengangkat karung pasir dalam pekerjaan sehari-hari romusha.

Totalitas Bung Karno dalam menyokong program Kerja Paksa Jepang ini memang luar biasa, dia bagai mabuk terbius dengan iming-iming menjadi “Presiden Indonesia Merdeka” setelah perang dunia ke-II usai. Salah satunya dalam pidatonya saat melepas rombongan Romusha berikut ini:

” Tujuan usaha ini adalah untuk menunjukkan kepada Jepang bahwa penduduk Jawa telah siap sehidup semati dengan Dai Nippon. Kita berjanji tidak akan bercukur selama pengabdian sebagai romusha, sebagai tanda bukti kepada negara,” kata Bung Karno, seperti tertuang dalam buku yang ditulis Aiko Kurasawa.


Dalam biografinya yang ditulis oleh Cindy Adam, Soekarno sangat menyesali kebijakanya di era Jepang ini:
“Sesungguhnya akulah Sukarno yang mengirim mereka kerja paksa. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha.
Aku bergambar dekat Bogor dengan topi di kepala dan cangkul di tangan untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi seorang romusha.
Dengan para wartawan, juru potret, Gunseikan Kepala Pemerintahan Militer- dan para pembesar pemerintahan aku membuat perjalanan ke Banten untuk menyaksikan tulang-tulang-kerangka-hidup yang menimbulkan belas, membudak di garis-belakang, itu jauh di dalam tambang batubara dan tambang mas.
Mengerikan. Ini membikin hati di dalam seperti diremuk-remuk.”

ramusha 12

Bapak proklamasi Indonesia ini memang “agak” bermasalah dalam hal sense of crisis terutama penderitaan rakyat. Seperti yang dicuplik oleh Soe Hok Gie
“Soekarno adalah tipikal Raja Jawa, dia sangat menyukai wanita dan pesta, hingga derita rakyat yang menjerit karena harga-harga melambung tak terdengar dalam tembok-tembok istananya. Dalam setiap pawainya, dia seperti tak bisa membedakan lambaian tangan rakyatnya, lambaian tangan meminta-minta atau lambaian bangga menyapanya”

Yaghh itulah manusia, tak ada yang sempurna. Sebagaimana halnya para Presiden yang pernah memimpin Indonesia. Di samping prestasi yang membanggakan, mereka tetap hanya manusia biasa yang memiliki kesalahan dan kekurangan.

 

roda2blog di sosial media

15 Komentar

  1. wkwkwk.

    hoax itu gan..

    sejarah udah diputerbalikkan biar sampeyan skrng bisa ngomong : ijik enak jamanku tho?

    pdl pret..

    hati2 sejarah udah diputerbalik slama 32 thn cuk !!

  2. klw ane lihatny ini seperti pencitraan tempo doeloe, citra trhadap rakyat yg tdk tereksploitasi, mimpi buruk trhadap rakyat tereksploitasi itu mngkin disadari beliau demi segera merdeka dengan “instan” iming2 hadiah nippon krna merdeka tujuan utamanya saat itu

  3. Liat Soekarno sbg manusia, ada salah ada benarnya…Jangan spt sekarang, karena dosa orde baru trus Soekarno jadi benar semua.. bahkan katanya, PKI malah diberi ruang lagi…

  4. ^jangan dijudge, gimanapun juga kita harus hormatin karena beliau presiden indonesia pertama, ambil aja positifnya, yang negatifnya buat dirinya sendiri

Tinggalkan Balasan