5 Bukti Orang Indonesia Paling Jujur di Dunia

image
Diantara bentuk kejujuran Orang Indonesia

Berikut ini bukti bahwa pada dasarnya, kita bangsa Indonesia adalah yang paling jujur di dunia.

1. Makan dulu, Bayar Kemudian
Pernah ada orang Jerman yang berlibur di Jogja merasa takjub dengan kejujuran konsumen angkringan.

Mereka duduk, makan dan minum sepuasnya. Bahkan penjualnya juga tak memperhatikan apa yang dimakan konsumen, atau mencoba mencatatnya apa yang dipesan dan diambil konsumen.

Setelah selesai, konsumen dengan jujur menyebutkan apa saja yang telah dimakan dan diminum. Tanpa satu pun yang terlewat, bahkan ada konsumen balik lagi ke warung karena lupa membayar tempe yang telah dimakan.

Kata si Jerman yang sudah liburan ke banyak negara. Model seperti ini cuma ada di Indonesia. Di negara lain, harus bayar dulu baru makan. Atau pesan secara tertulis di bon nota baru dihidangkan.

Tapi Indonesia? Di angkringan, warung bakso, warung padang, warung lengko. Selalu makan dulu, bayar kemudian. Tanpa nota, mau nambah krupuk juga tak perlu minta izin. Aneka gorengan tersedia di meja, gak daftar perlu bayar dulu ke kasir.

2. Ngutang di Warung, Cuma nulis di buku tanpa jaminan.
Di Amerika jangan harap bisa begini. Fasilitas ini banyak tersedia di kantin sekolah, pabrik sampai kantor pencakar langit. Rumah makan yang dekat daerah kos. Dan masih banyak lagi.


Hebatnya lagi. Pas makan ya tetap cara prasmanan. Yang ngutang tetap jujur saat laporan apapun yang sudah dimakan.


3. Ngasih uang ke Pengamen/pengemis, boleh minta kembalian.
Jujur dan murah hati. Tipikal orang Indonesia banget deh. Saat berada di bis antar kota, sering banget ketemu orang yang ngasih uang ke pengamen, tapi minta kembalian.

Pengamenya juga jujur dan gak serakah. Jika sang pemberi minta kembalian 4.500 (misalnya) dari uang 5.000. Pengamen juga sukarela ngasihnya.

4. Isi Amplop Hajatan.
Datang ke kondangan terus ngisi uang amplop ke kotak yang disediakan. Pihak yang punya hajatan akan mendokumentasikan tiap isi uang di dalam amplop.

Fungsinya, jika si pemberi amplop suatu saat nanti punya hajatan. Maka menjadi kewajiban untuk balik “menyumbang” dengan nilai jumlah uang yang setara.

Misal tahun 1990 pak A menyumbang pak B sebesar Rp.10.000. Lalu di tahun 2015 pak A punya hajatan, maka wajib hukumnya pak B balik menyumbang Pak A senilai 100.000, bukan 10.000. Karena nilai 10.000 tahun 1990 sama dengan 100.000 tahun 2015.

5. Bayar Toilet Sesuai Tarif.
Di toilet umum juga bukti bentuk kejujuran. Belum pernah saya menjumpai ada orang yang masuk toilet umum.

Lalu saat keluar bilang ke penjaganya begini:
“Maaf mas, tadi di dalam gak jadi pipis. Cuma saya basuh saja.”

Hampir semua pengguna toilet umum membayar uang sesuai penggunaanya. Dan petugas pun 100% percaya pada konsumen.

Buktinya, gak ada tuh petugas toilet umum yang memeriksa untuk memastikan bahwa konsumenya bener-bener pipis atau BAB. :mrgreen:

roda2blog di sosial media

11 Komentar

Tinggalkan Balasan