Membayar 100 Milyar Untuk Menjadi Pecundang Di F1, Potret Salah Asuh Olahraga Indonesia

image

Beredar kabar bahwa akhirnya pemerintah siap membantu uang senilai 100Milyar demi membeli 1 kursi sopir di Balapan Formula 1. Harga yang fantastis itu adalah untuk membalap di tim yang musim lalu tak meraih satu poin pun dalam klasemen konstruktor.

Sakitnya, 100Milyar itu adalah biaya untuk menjadi pecundang di gelaran Formula 1. Seorang pemuda Indonesia, menjadi pembalap tapi di tim kroco. Mungkin nanti nama Indonesia, akan lebih sering terdengar karena DNF atau di-overlap atau malah gak lolos kualifikasi.


Lalu dimana promosinya?

Mengutip statemen Timo Shceunman. Indonesia lebih banyak menghabiskan uang untuk biaya ongkos daripada membangun infrastruktur yang bisa digunakan untuk mencetak atlit secara berkesinambungan.


Bandingkan Jepang dan Amerika dengan Indonesia dalam hal sepakbola.

Jepang dan Amerika Serikat. Dua negara yang awalnya tak punya tradisi sepakbola tapi nekad menjadi tuan rumah Piala Dunia. Menghabiskan Milyaran dollar untuk membangun stadion olahraga yang sebenarnya minim peminat di kala itu, di negaranya.

Hasilnya mereka berdua kini adalah penghasil pemain bintang kelas dunia,  timnasnya disegani, langganan Piala Dunia dan juara di kawasanya.

Bandingkan dengan negara-negara Arab. Yang memilih ngabisin uang untuk jalur naturalisasi. Hasilnya? jeblok kan?.

Indonesia?.
Sepakbola di Indonesia lebih banyak menghabiskan uang untuk gaji dan biaya operasional Klub. Yang sumbernya dari uang rakyat APBD/APBN.

1 klub ISL, menghabiskan uang 10-20Milyar dalam semusim. Padahal biaya membangun 1 Stadion hanya 15-20 Milyar.

image
fotografis: liputan6.com

Sama dengan kasus Rio Haryanto. 100Milyar hanya untuk sebuah kursi balap selama setahun. ?!?!?#&*#+)&-#+ di tim gurem lagi.

Uang segitu cukup untuk membangun sirkuit sendiri bertaraf internasional bintang 5. Yang dari sirkuit itu bisa lahir 10-100 talenta semacam Ryo Haryanto dalam 10 tahun ke depan.

Kata PSSI-nya Amerika,
“Timnas kami tidak sebagus Brazil atau Argentina. Tapi kami bisa menjadi tuan rumah yang hebat bagi Sepakbola. Lalu dari warisan 1994, TimNas kami akan hebat dalam 20tahun ke depan, para pemuda akan bersemangat mengolah bola dalam stadion baru”.

Contoh kasus Filipina adalah pertandingan paling bersejarah dk dunia Tinju. Ali vs Frazier III yang dilabeli Thrilla in Manila.

Uforia publik Filipina pada pertandingan itu. Menginspirasi semangat petinju-petinju lokal hingga lahirlah Pacquaio.

Cukup hanya menjadi tuan rumah yang baik dengan fasilitas yang baik juga. Nanti akan lahir bakat-bakat hebat. Daripada membiayai bakat hebat untuk menjadi pecundang di panggung fantastis.

Lebih baik biayanya untuk membangun fasilitas sirkuit. Yang dari sirkuit itu akan lahir lagi Rio-rio baru yang lebih hebat.

Sirkuit Sepang Malaysia diresmikan tahun 1999 untuk balapan MotoGP dan F1. Tahun 2001 sempat ada Alex Yoong yang membalap di F1.

Tapi baru tahun 2012 (10tahun kemudian) publik Malaysia bisa bangga karena ada pembalap tuan rumah yang tampil di Podium atas nama Zulfahmi Khairudin. Setelah Zulfahmi akan lahir talenta lain dari rahim Sepang untuk Malaysia.

Indonesia? rahimnya (sirkuit) aja gak punya gimana mau melahirkan pembalap kelas dunia. 

roda2blog di sosial media

16 Komentar

  1. jangan terlalu banyak berspekulasi
    .
    .
    .
    kita berharap banyak pada Rio, dukung dan doakan semoga dia sukses di F1 dan bisa membanggakan bangsa

  2. SETUJU Banget! TOP…Sama Pemikirannya..
    Saya MAu Share Ke PERISIDEN Dan Konco2 Nya Tulisan Mas AMAMOTO…
    Ada YAng Tahu Wathsapp Nya RI 1?

  3. saya kira, itu terlalu subjektif,

    kalau dibandingkan dengan Sepak bola, Berapa Milyar dana APBD yang sudah diserap sejak jaman dulu, dan sampai saat ini prestasi juga biasa saja.

    karena Mc Laren, Mercedez, Ferrari, renault mereka tidak perlu uang dari driver , dan mereka mengambil driver dari tim-tim gurem yang sudah menunjukan kemampuannya walaupun tim mereka gurem (minim paket pengembangan mobil), schumi dan alonso dulu juga berangkat dari tim gurem, masih ingat alonso di tim Minardi? Minardi jaman dulu tak lain 11 12 dengan Manor Racing,

    ya saya pikir masuk akal analogi dengan filipina, kita berusaha menarik Motogp Wsbk bahkan F1 ke indonesia dengan harapan nanti kedepan akan ada putera bangsa yang berlaga disana.,
    sekarang malah kesampaian dulu jadi driver f1 duluan.

    dan menilik prestasi rio, di penjenjangan sebelum F1 juga bagus,

    Seandainya saja Penulis Blog ini moro2 bangun tidur pengen jadi pembalap F1 dan kebetulan dia punya cash 1 triliun pasti juga manor akan menolaknya :D, karena duit saja di F1 gak cukup , dan Skill saja juga gak cukup…untuk memulai karirnya sebagai pembalap F1.

    semoga perjuangan Rio, Andi Gilang, gerry salim, dimas Ekky, dll di jalur otomotif bisa mendapatkan hasil yang menggembirakan untuk bangsa indonesia…,

  4. gak apa anda subjektif. tapi tolong masbro bisa adil lah. atlet sepak bola kita kalo mau jago kek pesepak bola eropa saja perlu kompetisi di luar. faktanya pesepak bola indonesia yang ikut klub eropa skill dan mentalnya bagus. begitu pun gerry, rio haryanto dkk…

    bikin sirkuit buat melahirkan pembalap f1. sentul kecil bisa. sentul besar apalagi. saya dulu suka baca majalah bobo sempat dihebohkan dengan rio bocah cilik juara asia di ajang gokart.

    coba deh anak kecil indonesia mau ikut ajang itu. sudah banyak kan. apa bisa sehebat rio? rio itu anak ajaib. karena pola asuh ortunya juga.

    saya pikir sentul sudah bisa dimaksimalkan. yang penting ada organisasi yang serius membimbing.

    pesepak bola kita pada stress dengan lingkungan olah raga kita. makanya mau jago belajarnya di luar negeri.

    sentul besar bisa digunakan ajang balap mobil supersport. pascal temannya rio awalnya pembalap supersport. kenapa bisa masuk di f1. karena dibimbing pabrikan marcedes.

    gerry dan gilang adalah hasil dukungan pabrikan. hasilnya dijamin akan mudah berlaga dengan kompetitif di moto2 (kelas yang lebih murah dibanding moto3).

    sedangkan rio kenapa pertamina rela gelontorkan duit gede. karena pertamina sudah membimbing dan penuh perhitungan. semua sudah sesuai rencana. dan ada faktor lain yaitu mempromosikan indonesia.

    khusus untuk f1 ada 2 jalan masuk. didukung pabrikan (karena di indonesia hanya ada pabrikan honda dan toyota, maka rasanya mustahil bisa direkrut marcedes, ferrari, apalagi bukan tim pabrikan.

    cara selanjutnya pakai uang. kalo malaysia ada pembalap yang jago di gp2, tetap saja kalo masuk ke f1 perlu dana. vandroofe yang juara gp2 tahun lalu aja belum ada yang menarik dia ke f1. pascal rekannya rio saja perlu 2 tahun di f1. sengaja marcedes latih dia di manor racing. dan tahun depan dia berhak di tim papan tengah.

    kalo anda suka nonton f1. bukan juaranya saja di lihat. teknologi, tim dan pembalapnya. jadi pembalap kelas bawah gak bisa dengan mudah dikatakan pecundang. kalo track record pada debutnya bagus maka kemungkinan besar tetap di manor sebagai pembalap utama. atau ditarik tim papan tengah.

  5. Setuju sama tulisan agan,
    Tapi jgn dikata2in pecundang juga dong rio haryantonya, kan kasihan.
    Kita yg di sini beri semangat dan dukungan sebisanya saja untuk rio,
    dan doakan semoga rio bisa memperbaiki penampilannya dari balapan yg satu ke balapan2 yg menanti berikutnya. .

Tinggalkan Balasan