Astra Honda Racing Team, Wadah Bagi Pebalap Indonesia Menuju Arena MotoGP

Indonesia adalah negara dengan tingkat minat pada MotoGP tertinggi di dunia, bisa dibuktikan pada gambar statistik Google Trend tentang MotoGP yang saya lampirkan di akhir artikel ini. Sebagai arena balapan sepeda motor tertinggi di dunia, berlaga di arena MotoGP adalah impian bagi setiap pecinta motorsport, baik pembalap ataupun sekedar pengagum.

Sebagai produsen dengan penjualan sepeda motor merek Honda terbanyak di dunia. PT Astra Honda Motor (AHM) punya kesempatan untuk “memaksa” tim legendaris di arena MotoGP, Honda Racing Corportaion, untuk sekedar memberi “wild card” ke pembalap asal Indonesia untuk berlaga di MotoGP, terutama tampil reguler di kelas Moto3 atau Moto2. Apalagi AHM juga sebagai sponsor utama dengan memasang logo ikonik “One Heart” dan Satu Hati di motor yang dipakai berlaga di kelas MotoGP.

Tapi berkaca pada pengalaman seorang pembalap Nasional yang terlalu prematur masuk ke arena MotoGP dan malah hasilnya nol. Maka AHM melalui tim balapnya Astra Honda Racing Team (AHRT) memilih untuk melakukan pembinaan secara bertahap daripada mengorbitkan pembalap ngetop yang sedang ngepop.

Memilih langkah pembinaan tentunya butuh biaya lebih daripada sekedar mengontrak pembalap nasional yang lagi ngetren untuk dibawa ke MotoGP.

AHRT memiliki jenjang pembinaan bertahap. Bibit termuda berumur 16 tahun yang digembleng secara khusus di Astra Honda Racing School (AHRS).  Sekolah balap ini telah beroperasi sejak tahun 2010. Proses seleksi perekrutan siswa balap berbakat di bawah usia 16 tahun ini dilakukan dari berbagai kegiatan balap di Tanah Air.

Juara dunia MotoGP 2016 Marc Marquez memberi coaching clinic kepada 16 siswa AHRS di sela-sela aktivitas menyapa penggemarnya di Sentul, Jawa Barat (25/10/2016). Foto: AHM

Para pembalap yang lulus di AHRS akan tampil bersama Astra Honda Racing Team (AHRT) di level Nasional, lalu naik ke level Asean lalu Dunia dan yang terbaik ke arena MotoGP.

Kiprah para pembalap AHRT di Akhir Tahun 2016.

Di kancah Nasional, tim AHRT mempersembahkan 4 gelar juara nasional dari 6 kelas yang dilombakan pada Grand Final Kejuaran Nasional Motoprix 2016 di Sirkuit Sidrap, Sulawesi Selatan (17-18/12/2016). Kemenangan tersebut menjadi bukti semakin kuatnya tim dan pebalap Honda hasil pembinaan balap berjenjang AHM.

Di Kancah ASEAN, Seri Pamungkas Asia Road Racing Championship (ARRC) 2016 berhasil ditaklukan oleh pebalap Astra Honda Racing Team (AHRT) yang berhasil mengumandangkan Indonesia Raya melalui keberhasilan pada kelas Asia Dream Cup (ADC). Pebalap Yaasiin Gabriel Soma meraih podium tertinggi dan rekannya Muhammad Febriansyah (Ferry) sebagai runner up kedua pada race pertama. Pada race kedua Yassin kembali mengibarkan bendera Merah Putih setelah berhasil finish pada posisi ketiga pada ajang yang berlangsung di Chang International Circuit, Buriram, Thaliand.

Di Kancah Dunia, dua pebalap bertalenta AHRT, Andi Gilang dan Dimas Ekky dikirim berlaga CEV International Championship. Ini merupakan bagian dari upaya penting AHM menguatkan modal skill balap yang mumpuni untuk meraih mimpi pebalap muda Indonesia bertarung di ajang balap tertinggi, MotoGP. Kompetisi ini juga tempat Marc Marquez mengasah skill balapnya sebelum masuk ke MotoGP.

Dimas Ekky dalam balutan livery merah putih khas tim AHRT. Foto: AHM

Di laga pamungkas CEV 2016 di Valencia, pada race yang pertama. Andi Gilang mampu naik ke posisi 7 dari start grid 30 di race pertama Moto3 Junior World Championship dan Dimas Ekky sempat memimpin balapan di kelas Moto2 European Championship. Namun nasib kurang beruntung dialami Andi Gilang dan Dimas Ekky, pertarungan ketat dan ditambah cuaca yang tidak bersahabat membuat mereka tidak bisa menyelesaikan balapan.

Pada race yang kedua, Andi Gilang melakukan start dari posisi 18 namun gagal finish meski sempat berada di rombongan terdepan, padahal balapan hanya tersisa 8 laps lagi.

Performa gemilang sempat ditunjukkan Dimas Ekky yang melakukan start sempurna dari grid 6 meraih posisi 2 sebelum masuk tikungan pertama. Di lap ke-6 Dimas menjadi pembalap terdepan. Persaingan sangat sengit dengan tekanan hebat dari pebalap-pebalap terbaik di belakangnya, Dimas sempat melorot ke urutan 6 dengan beda waktu tipis. Sayangnya saat berusaha merebut posisi terdepan lagi, Dimas kehilangan grip roda depan dan terjatuh.

Andi Gilang menyelesaikan balapan sebagai rookie tahun ini di CEV kelas Moto3 Junior World Championship di urutan 33 total klasemen pebalap dengan 4 poin. Dimas Ekky yang turun di tahun kedua kelas Moto2 Kejuaraan Eropa meraih posisi 7 total klasemen pebalap dengan 66 poin.

Selain di CEV Championship, AHM juga mengirim pembalap di ajang Asia Talent Cup (ATC) 2016 yaitu Andi Gilang dan Gery Salim serta 3 pembalap muda yang siap mengorbit yaitu Irfan Ardiansyah, Alif Utama dan Dwiki Suparta. Hasil di ATC, Andi Gilang meraih posisi 3 dan rekanya Gery Salim di posisi 5 klasemen akhir. Sedangkan 3 pembalap lain di posisi 13,18 dan 20.

Berkibar di Suzuka Jepang!.

Kejuaraan Dunia lain yang diikuti pembalap AHRT adalah Suzuka 8 hours di Jepang. Di ajang ini, giliran Dimas Ekky Pratama, yang menunjukkan skill balap kelas dunia setelah berhasil menempati posisi 8 besar di Suzuka 8 Hours Endurance World Championsip di sirkuit Suzuka, Jepang. Pertarungan ketat ditunjukkan Dimas Ekky di jajaran terdepan bersama pebalap MotoGP seperti Pol Espargaro dan Nicky Hayden.

Pebalap dari Tim AHRT berhasil menjuara Suzuka 4 hours. Foto: AHM

Dalam ajang Suzuka 8 Hours Endurance World Championship 2016, Dimas Ekky dan rekan setimnya mengendarai Honda CBR1000RR yang disiapkan langsung oleh Honda Motor Co. dengan dukungan teknis dari Honda Racing Corporation (HRC). Wah udah mirip dengan motor kelas Superbike, benar-benar persiapan yang mantap.

Sehari sebelum balapan 8 hours, di kancah 4 hours Suzuka, di Sirkuit yang sama. Pebalap AHRT, Irfan Ardiansyah dan Rheza Danica Ahrens, berhasil mengibarkan bendera Merah Putih dari podium pertama kejuaraan ketahanan balap Suzuka 4 Hours Endurance Race. Hebatnya, kedua pebalap baru pertama kali ini bertanding di kejuaraan balap yang harus menuntaskan 100 lap balapan selama 4 jam dengan mengendarai Honda CBR600RR.

Kapan pembalap binaan AHRT berlaga di MotoGP?
“Jika sudah siap!” demikian jawab Koji Sugita, Direktur Marketing AHM saat saya wawancarai di sela acara Honda Bikers Day 2016.

Sebelum muncul Marc Marquez, si Baby Alien, para pembalap masuk ke arena MotoGP di usia antara 23-25 tahun. Marquez adalah pengecualian karena memang dianugerahi bakat luar biasa dan terbukti banyak pembalap muda usia dibawah 22 yang meniru jejak Marquez justru tenggelam saat berlaga di kelas MotoGP padahal di kelas sebelumnya sangat moncer sekali performanya.

Seperti yang saya tulis diatas proses pembinaan membutuhkan waktu yang lebih lama dan modal yang lebih banyak dibanding cara instan untuk masuk ke arena MotoGP dengan membeli kursi balap dengan gelontoran dana menjadi sponsor. Dan AHM sudah berkomitmen untuk memilih jalan panjang penuh kerja keras ini dibanding yang instan.

Honda CBR150RR dengan livery tim AHRT. salah satu warga favorit konsumen di Indonesia. Foto: R2B.

Ambil Contoh Akademi Sepakbola La Masia milik klub Sepakbola Barcelona, Spanyol. Didirikan sejak tahun 1979 tapi baru berbuah pada tahun 2009 saat mereka menjadi Juara Liga Champions Eropa dengan 11 pemain home ground asal La Masia. Jalan yang panjang, bahkan di era 1998-2004 barca sempat terpuruk hingga dipecundangi rivalnya 4 kali dalam semusim (2 di liga, 2 di semi final Liga Champions) tapi Barcelona tetap percaya pada jalan pembinaan La Masia. Dan semoga AHRT bisa menjadi La Masia bagi para pembalap Indonesia dalam merajut asa ke Moto GP.

“AHM akan terus menemani pebalap tanah air dengan pembinaan balap berjenjang terstruktur agar bisa menjadi pebalap MotoGP,” janji Margono Tanuwijaya, Marketing Director AHM setelah tim AHRT meraih prestasi maksimal di Suzuka 8 Hours Jepang.

Satu lagi bakti Astra untuk negeri, menyediakan tempat untuk meraih mimpi dan inspirasi.

 

Advertisements

1 Komentar

Tinggalkan Balasan