Jalan-jalan di Surabaya Serasa di Singapura

Pagi Kota Surabaya

Akhirnya punya kesempatan juga mimin jalan-jalan ke Singapura eh Surabaya. Selama ini mimin hanya mengenal Surabaya melalui koran Jawa Pos di bagian halaman Metropolis. Tapi sejak Persebaya diakuisisi oleh Jawa Pos laman Metropolis sekarang diganti dengan Persebaya saja.

Ini adalah pengalaman pertama jalan-jalan di Kota Pahlawan, walau mimin juga orang Jawa Timur aslinya. Ketika ada tawaran turing bareng Suzuki, dikasih 2 pilihan, etape 2 atau etape 3. Saya pun memilih etape 3, karena ada kesempatan jalan-jalan di Surabaya.

Di Surabaya kami menginap di Hotel Santika di daerah Gubeng. Begitu selesai acara press konferens dengan keadaan menggigil, karena baju basah kuyup kehujanan sejak dari Malang di atas motor sedangkan mobil logistik yang ngamot tas saya belum datang.


Begitu tas datang langsung ganti kostum, buka google maps dan mencari obyek wisata populer terdekat. Malam itu saya dapat dua, Masjid Agung Sunan Ampel dan Wisata Pecinan Kya-Kya, keduanya satu arah lagi. Yo Wiss joss… budalll.

Saya masih ingat, kawasan pecinan Kya-kya ini dimotori oleh Dahlan Iskan saat itu beliau masih jadi Pimred di Jawa Pos sekitar awal tahun 2000an. Kita cuma melintas aja. Pokoke wis eruh iki lhoo kya-kya.

Tujuan selanjutnya adalah Masjid Agung Ampel. Kata mas Gojek, “pas banget mas, ini kan malam jumat legi, pasti ramai banget.”

Lumayan rame, begitu masuk gerbang menyusuri lorong ke Masjid, suasananya persis dengan pasar seng di Masjidil Haram Mekkah. Penjual di kanan kiri dengan jajanan khas Arab. Mulai dari kurma, roti maryam, gamis dan penthol. ehh di Arab gak ada pentol broo.

Tak ada karcis masuk di kompleks masjid ataupun di kompleks makam sunan Ampel. Sedikit perbandingan dengan kompleks Masjid Demak, baru mau masuk masjid aja kita sudah ditodong untuk masukin duit ke kotak amal. :mrgreen:

Mantablah.

Buat backpaker, di dekat masjid ada penginapan yang hanya perlu bayar 50ribu untuk satu malam. Saya kok gak tanya jam buka komplek wisata ini yaa. Tapi di jadwal tertulis jika kompleks wisata ziarah ini buka hanya sampai jam 2 malam. Saya sendiri baru cabut dari sini jam 12 malam, mata sudah ngantuk berat.

Selepas subuh, kembali otak-atik Google Maps.
Kali ini ngajakin Mas Adhani buat jalan-jalan sekaligus ke Stasiun Gubeng buat ngecek tiket kereta lalu ke Monumen Kapal Selam.

Saat di pintu keluar Hotel, kita disapa basa-basi oleh Satpam, “mau kemana mas?”
“Ke Stasiun Gubeng,” jawab kami
“Wah jauh lho mas,” katanya.


Walah kami ya cuma senyum aja,
“Dasar orang kota, jarak cuma 1,2KM aja kok jauh,” kata si Adhani.

Sepanjang jalan kaki di trotoar, saya bener-bener kagum sama kota Surabaya. Mirip banget sama Singapura. Trotoarnya lebar dan bersih. Banyak warga kotanya yang lari pagi di trotoar tanpa takut diklaksonin motor.

Kagum saya, jauh lebih nyaman buat jalan kaki dibandingkan dengan kota Jogja yang menurut saya sudah lebar trotoarnya. Trotoar di Jogja sudah enak buat jalan kaki, tapi klo buat lari pagi di trotoar ya masih sempit broo. Di Surabaya ini dua kali lipat lebarnya.

Lebar jalan raya di dalam kotanya juga dua kali lipat dibanding kota Jogja. Sama juga ada banyak taman di median jalan dan persimpangan jalan.

Selepas dari Stasiun Gubeng kita langsung ke Monumen Kapal Selam. Karena kepagian, loketnya belum buka. Monumen ini terletak di tepi sungai yang cukup bersih airnya.

Kembali ke hotel buat sarapan, kali ini jalan pulang kami melewati pinggir sungai. Ekspektasinya sih bakal mirip jalan-jalan di pinggir Sungai Code Jogja dari Jl. Abu Bakar Ali sampai ke Sayyidan, yang bersih dan segar. … ealahhh lha kok ternyata bau busuk dan penuh sampah sungainyaa.

Secara keseluruhan keliling Surabaya jalan kaki itu enak dan mengasyikkan.

Galeri fotonya sob

Ketemu simbah-simbah di pinggir sungai, kayaknya beliau ini perawat kucing liar, kucingnya gemuk dan lucu-lucu
Lari pagi ben sehatt
Persimpangan dari Stasiun Gubeng ke Monumen Kapal Selam
Trotoar enak buat jalan kaki di pagi hari
Trotoarnya luas
Pagi Kota Surabaya
Dinding Kurma heheh
Komplek Makan Sunan Ampel
Suasana pasar di lorong menuju masjid Ampel, mirip dengan pasar seng di Masjidil Haram Mekkah
Gerbang Masjid Sunan Ampel
Naik Gojek helmnya masih baru komplit sama stikernya, mau nglepas kok yo ndak tegaa
Trotoar yang lebar, sungai yang bersih, bangunan yang tinggi dan monumen yang gagah.

roda2blog di sosial media

2 Komentar

1 Trackback / Pingback

  1. Liburan Murah di Apartemen Puncak Marina Surabaya Bareng Pemain Bintang Persebaya – roda2blog.com

Tinggalkan Balasan