Sadar Kalau Mobil Listrik Tanpa Emisi, Pemerintah Akan Memberi Insentif Pajak

Masih ingat pernyataan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus), Sarjono Turin, yang menyebut mobil listrik “Selo” mobil listrik buatan Dasep Ahmadi tak lulus uji emisi dan bahaya jika digunakan di jalan umum pada Selasa (23/06/2015). Dagelan koplak di awal pemerintahan Presiden Joko Widodo itu lalu berlanjut pada vonis 7 tahun penjara pada Dasep Ahmadi.

Sejak itu, perkembangan mobil listrik nasional yang sempat gegap gempita diinisiatori oleh Dahlan Iskan lalu surut. Dahlan Iskan sendiri lalu terjerat kasus “Dagelan” koplak yang berujung vonis penjara 2 tahun meski dijalani sebagai tahanan rumah.

Namun setelah beberapa tahun, sepertinya para pejabat di pemerintah Pak Jokowi ini mulai tahu kalau mobil listrik tidak menghasilkan gas buang (emisi) sehingga tidak perlu uji emisi. Makanya sekarang mereka sedang menggodok aturan insentif pajak untuk menekan harga jual mobil listrik.

Hal ini dibuktikan dengan tengah dibahasnya program ini di beberapa kementerian terkait, yakni Perindustrian, Keuangan, dan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).


Hal yang menjadi daya tarik utama dari bahasan ini adalah kemungkinan mobil listrik yang dijual di Indonesia nantinya akan dibebaskan dari Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

“Hitungannya kan dari seberapa emisi dia (teknologi), semakin kecil semakin tinggi insentifnya. Kalau listrik seharusnya nol (PPnBM), kan tanpa emisi sama sekali,” kata Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan seperti dilansir tribunnews.com

Merujuk regulasi PP No 41 Tahun 2013, ada dua diskon yang ditawarkan pemerintah buat kendaraan berteknologi ramah lingkungan, seperti mesin biofuel, gas, hibrida, sampai motor listrik.

Diskon 25 persen buat yang mampu mencapai rata-rata konsumsi bahan bakar 20-28 km/l atau 50 persen buat 28 km/l ke atas.

Putu menambahkan, bahwasannya pengembangan mobil listrik ini juga berkaitan dengan keputusan standar emisi Euro IV yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Maret 2017 lalu.

Namun, Putu juga tak mau kehilangan kesempatan untuk mendorong industri lokal berkembang.

“Insentifnya sedang dibicarakan, tetapi wajib TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri). Kalau LCGC (low cost and green car) itu 80 persen wajib lokal, kalau mobil listrik belum ditentukan, masih dibahas,” kata Putu.

“Buat industri yang mau merakit secara lokal mobil listrik, juga bisa memeroleh insentif,” tutup Putu.


Tapi sebelumnya, tolong kebeneran meme ini diklarifikasi dulu pak sama orangnya :mrgreen:

 

 

 

9 Komentar

    • still… listrik bakal gantiin bahan bakar fosil.. mau ngga mau . batre lithium di mobil listrik kebakar di jalan kayaknya jarang deh… yang horror mah kalo crash.. penanganan mobil listrik sama mobil biasa… ekstrem mobil listrik.. kalo ngga hati hati bakal mati kena kebakar kena listrik

      • maksudnya mobil listrik menggantikan mobil fosil? karena listrik sampai sekarang dihasilkan dari fossil yang emisinya standarnya jauh dibawah emisi mobil. Mau pakai solar masih lama. panas bumi ada efek samping gempa. Pakai nuklir ada efek samping radiasi.

        Kejadian mobil listrik terbakar bukan hanya crash seperti richard hammond, tapi juga waktu di pengisian macam tesla/gandhis. Ada juga yang waktu diam diparkir

        terbakarnya bukan karena listrik tapi karena batre. batre yang rusak akan konslet, menimbulkan panas. panas akan bereaksi dengan lithium dan bisa menimbulkan bunga api yang sangat panas dan sangat besar.

        • panel surya lama lama bakal jadi common , ya gara gara itu tadi . fossil pasti abis . salah satu pembesar listrik tesla sendiri udah buat wacana wacana untuk pindah ke energi non fosil , listrik juga sering di ambil pake wind power plant .

          kalo hammond kan human error , intinya mobil listrik lebih jarang berita nya dari pada mobil bensin kebakar , bisa propaganda atau emang faktanya lebih susah kebakar .

          yang saya maksud kebakar itu orang nya konslet megang rangka atau apa yang ngalirin listrik dari batre yang konslet , coba deh liat penangan crash Electric formula , ga asal ngambil driver gitu aja toh..

          nice opinion aja deh … i appreciate orang yang ngajak debat ga pake kata kata kasar dan bermutu… dah susah nyari yang kayak gini

          • Lebih susah terbakar bila pabrik dan pemakainya hati hati. Kalau di Indonesia saya pesimis. Penyebab utama terbakar bukan konslet tapi overheat, Overheat ini jadi perhatian serius pabrik luar negeri. Overheat juga jadi perhatian pemakai karena bikin boros.

            Saat konslet, bukan bunga api di sumber konsletnya atau kena orang yang bahaya, tapi aliran arus terlalu besar penyebab panas di batre yang harus diperhatikan.

            Masalahnya kalau disini baik pabrik atau pemakai sembrono banget. Saya nanya teknologi pendinginan ke pembuat SELO nggak dijawab. Di berita motor/mobil listrik Indonesia juga jarang sekali teknologi pendinginan batre dibahas.

            DI spesifikasi di sebut batas suhu sat ngecharge maksimal 45 derajat. Saat dipakai maksimal 60 derajat. Kalau publik di Indonesia perhatian bahwa panas itu nggak bagus untuk batre lithium, maka implementasi mobil/motor listrik bakal aman. Tapi nyatanya terbukti banyak yang nggak tahu itu dan sangat meremehkan.

            http://kupasmobil.blogspot.co.id/2017/07/mobil-listrik-indonesia-sangat-pantas-dituduh-tidak-lolos-uji-kelayakan-banyak-orang-nggak-paham-bahayanya-mobil-listrik.html

            Sembrono begitu mereka seharusnya nggak ngotot pakai Lithium tapi pakai NIMH macam gigacel yang diiklankan kawasaki.

            Semoga sebelum rame kendaraan listrik pada sudah sadar sangat berbahayanya overheat di kendaraan listrik kalau batre pakai lithium.

            Jangan dibandingkan dengan mainan anak anak yang pakai aki lead acid ya.

Tinggalkan Balasan