Jerat Kejam Member MLM QNet, Kapan Polisi Bertindak?

Jerat MLM makin kejam gan. Jika dalam skema Ponzi uang member dihabisi untuk foya-foya upline-nya seperti kasus First Travel, kali ini saya ingin mengupas jerat perekrutan member QNET yang sudah banyak korbanya.

Perekrutan member QNet ini sangat kejam mirip dengan penculikan, modusnya diawali dengan iming-iming lowongan kerja lalu calon member disekap disebuah ruangan, kemudian disuruh membeli barang/produk  senilai 8juta rupiah sebagai bentuk join pendaftaran.

Jika tidak punya uang, dipaksa untuk menghubungi sanak saudara teman atau siapapun yang bisa menyetor uang sejumlah 8juta itu atau menggadaikan barang berharga seperti STNK atau BPKB.

Korbanya kebanyakan adalah lulusan fresh graduate SMK/SMA serta para Mahasiswa baru dan yang baru lulus Sarjana yang tertarik dengan iming-iming lowongan kerja.

Korban dari member QNet ini sudah meluas sampai ke seluruh Indonesia dan bahkan banyak TKI dan TKW yang kerja di luar negeri pun kena tipu. Salah satu pusat operandi Q-Net ini di daerah Madiun.

Berita QNet yang banyak menjerat korban di kalangan TKW Hongkong

Jika Polisi Cyber aktif, cukup akses kolom “search” di Facebook dan masukkan kata kunci Qnet, maka sudah didapatkan berbagai keluhan korban dengan modus operandi seperti yang disebutkan di atas.

Yang jadi masalah dan kenapa QNet susah dijerat pasal kriminal, adalah alasan jual beli. Karena member atau calon dipaksa untuk membeli paket obat senilai jutaan rupiah. Para member QNet beralasan, ini jual beli, bukan pemerasan atau penipuan?


Berikut ini screenshoot dari keluhan warganet Facebook yang menjadi korban dari QNet dari berbagai forum dan masih banyak lagi. Kalau gak percaya silahkan masuk ke kolom search/cari masukkan kata “Korban QNet”

 

 


Ayoo pak polisi, segera bertindak sebelum makin banyak korban dari QNet ini. Berikut ini kesaksian salah satu mantan anggota QNet di forum Info Cegatan Jogja

Para upline Q-Net biasanya beralasan bahwa mereka itu legal, ada surat izin perusahaan resmi dari pemerintah. Sama kayak First Travel, legal dan berbadan hukum. Tapi kalau caranya enggak bener ya ujung-ujungnya akan merugikan banyak orang.

Berikut ini berita belasan remaja yang jadi korban Q-Net dari solopos.com

Belasan remaja itu hanya mampu tertunduk lesu. Mimpi-mimpi mereka untuk mendapatkan pekerjaan mapan kini tinggal kenangan.

Alih-alih mendapatkan gaji rutin bulanan, mereka bahkan terpaksa gigit jari lantaran harus menebus produk bernama Cakra sebagai syarat bisa menjadi keluarga besar bisnis multilevel marketing (MLM) Qnet.

Tahukah harga Cakra yang konon dipercayai bisa menyembuhkan penyakit itu? “Saya beli seharga Rp8 jutaan. Tapi, sampai sekarang juga belum saya gunakan. Masih terbungkus rapat di rumah,” ujar Irfan, salah satu remaja korban MLM Qnet saat berbincang dengan Solopos.com menjelang proses evakuasi pemulangan dari penampungan di Dukuh Tegalruyung, Pelem, Simo, Selasa (18/7/2017).

Sebagai anggota Qnet dan pembeli Cakra, Irfan sebenarnya meragukan khasiat benda itu. Namun, ia tak mau peduli. Ia tetap beli benda itu betapa pun mahalnya. Baginya, benda itu diyakini bisa membalik kehidupannya menjadi lebih baik.

“Sekarang kamu sudah sadar belum, bahwa kamu ini sudah dicuci otak. Pekerjaan macam apa ini kalau cuma mengajak orang lain beli produk yang tak masuk akal,” cecar polisi yang ikut membantu proses evakuasi remaja itu.

Tak hanya Irfan, belasan bahkan puluhan remaja yang berada di penampungan itu juga bernasib sama. Bahkan ada pula yang remaja perempuan. Ada yang dari Pekalongan, Pacitan, Magetan, Semarang, Salatiga, Kendal, Ponorogo, Wonogiri, Sukoharjo, bahkan Kalimantan.

Mereka semua telanjur membeli benda seharga Rp8 jutaan itu dan belum dapat gaji atau bonus seperti yang diimpikan. Mereka hanya mendapatkan motivasi dan suntikan semangat agar pantang menyerang mencari pengikut agar bisa dapat bonus.

“Terkadang, pengurus Qnet bikin seminar rutin di hotel-hotel di Boyolali. Biasanya Rabu dan Jumat. Anak-anak remaja ini diminta mendengar ceramah motivasi,” lanjut polisi bagian intel tersebut.

Berhasilkah anak-anak itu dalam mengajak orang lain untuk ikut membeli produk Cakra itu? Sebagian besar gagal di jalan. Hanya satu-dua anak yang mengaku berhasil, itu pun mereka hanya menerima fee sekitar Rp1,5 juta untuk sekali jual.

“Untuk sekali jual produk, ada fee Rp1,5 juta,” kata anggota Qnet yang sudah senior, Erfan.

Anak-anak remaja itu tinggal di rumah penampungan itu sejak dua hingga tiga bulan lalu. Di sana hanya ada satu kamar mandi dan toilet. Untuk aktivitas mencuci, mandi, dan lain-lain, mereka harus bergantian.

Tak jarang mereka memanfaatkan fasilitas masjid kampung. Setiap periodik penghuni penampungan itu berganti. “Dulu pernah sampai 40-an orang. Banyak yang tak kerasan, lantas pulang,” ujar Ketua RT setempat, Suparman.

Camat Simo, Hanung Mahendra, mengambil langkah tegas. Ia memerintahkan penutupan lokasi penampungan itu karena menimbulkan keresahan berkepanjangan. Bersama warga, Satpol PP, polisi, serta TNI, anak-anak remaja itu dipulangkan ke orang tua mereka.

“Mereka ini anak-anak remaja lugu, baru lulus sekolah, dari jauh-jauh semua, hanya menjadi korban pekerjaan yang tak jelas. Saya melihat mereka saja tak tega. Di mana perasaan pengelola MLM ini,” tegasnya

http://www.solopos.com/2017/07/19/ini-kisah-para-remaja-korban-mlm-qnet-di-boyolali-834873

 

roda2blog di sosial media

6 Komentar

Tinggalkan Balasan