Mobil Pedesaan Segera Dipasarkan Dengan Harga 60Juta

Setelah mobil murah LCGC, pemerintah melalui Kementrian Perindustrian dan Institut Otomotif Indonesia (IOI) tengah menyiapkan program regulasi untuk mobil pedesaan. Mobil ini dikhususkan untuk memudahkan mobilisasi warga desa yang sesuai karakteristik profesi warga di desa.

Pekan lalu Kementerian Perindustrian telah menyelesaikan konsep produk dan proses pengembangan kendaraan pedesaan.

I Made Dana Tangkas, Presiden IOI mengatakan, dari perspektif pengembangan kendaraan pedesaan secara komprehensif terdapat beberapa pelaku dalam negeri yang bisa dikategorikan sebagai kendaraan pedesaan yaitu seperti Wintor, Fin Komodo, KHS/Quick, generasi 2A & 2B yg didesain oleh team IOI dan Kemperin.

Menurutnya, dari pemetaan saat ini baru Wintor dan Fin Komodo yang sudah masuk tahap pemasaran.

Sedangkan yang lain dalam persiapan produksi dan pengembangan produk yang sesuai dengan permintaan konsumen di pedesaan.


Untuk finalisasi akhir dari rencana produksi massal, saat ini sedang dipersiapkan untuk segmentasi khusus bagi masyarakat pedesaan termasuk petani, pekebun, peternak dan nelayan.

KD 250 termasuk mobil yang diproyeksikan untuk mobil pedesaan

Namun saat ini sedang digodok dan dikaji oleh tim, beberapa persyaratan yang masuk kriteria kendaraan pedesaan seperti kendaraan multiguna, mesin dibawah 1.000 cc serta kisaran harga.

“Sesuai arahan dari Kemperin harga di bawah Rp 100 juta, maka kami IOI mengancangkan produk kendaraan pedesaan dengan berbagai variasinya diharapkan bisa mencapai harga Rp 60 juta sampai Rp 80 juta,” kata Made kepada KONTAN, Senin (11/9/2017).


Menurutnya, hal ini dijalankan sesuai dengan konsep Value Engineering dan Value Analysis. Termasuk mendapat beberapa kemudahan seperti insentif dari pemerintah.

Proyek ini akan melibatkan rekanan dari pemasok, prinsipal lokal, main assembler/assembly, karoseri, perusahaan alsintan, dealer/outlet dan perbengkelan, leasing company dan asuransi lokal. Saat ini sudah terdaftar lebih dari 40 pemasok yang merupakan anggota Pikko, Giamm, Koperasi Batur Jaya Ceper, Koperasi Tegal, dan para beberapa pelaku industri otomotif di luar keanggotaan.

“Yang dibangun bersama Kemperin dan seluruh stakeholder adalah membangun industri otomotif pedesaan secara berkesinambungan dengan melibatkan pelaku IKM, Koperasi/UKM dan masyarakat di perkotaan sampai ke desa-desa,” kata Made.

Sumber: tribunnews.com, kontan.co.id

2 Komentar

Tinggalkan Balasan