Ojek Online Pun Mengeluh Sepi Pak Jokowi

Ekonomi sedang melambat, efek dari pemimpin baru yang beda filosofi dengan pemimpin lama. Yang lama mengambil kebijakan dengan mendorong masyarakat untuk berbelanja, agar tercipta transaksi sehingga ekonomi berputar. Caranya, pemerintah mensubsidi ini itu agar biaya hidup murah. 

Sedangkan yang baru mengambil kebijakan berbeda, bahwa ekonomi bisa berputar jika sarana, fasilitas dan alat transportasi bergerak dinamis. Caranya, pembangunan infrastruktur agar jarak antara produsen dan konsumen lebih dekat. Karena butuh biaya besar, subsidi dicabutin untuk mendukung pembangunan. 

Mana yang lebih baik? ya gak bisa dinilai sekarang. 

Kebijakan yang pertama justru memancing nafsu serakah manusia. Gaji dinaikkan, tunjangan diberi, biaya hidup disubsidi, jadilah gaji pokok besar. Namun nafsu manusia itu, jika diberi hati minta jantung. Selalu merasa kurang gaji dan padahal gengsi naik tinggi, akhirnya korupsi dimana-mana. Kredit di mana-mana karena berasumsi, … ahh taun depan juga naik lagi kok. 

Saat Presiden ganti. Ternyata gaji gak naik malah biaya hidup yang naik. Subsidi dicabut demi pemerataan pembangunan. Jadolah kolaps!! Setelah dipotong cicilan rumah, mobil dan motor. 

Ambil contoh seorang PNS dengan gaji total 5 juta. Setelah dipotong cicilan rumah, mobil dan motor …. Terima gaji bersih hanya 2 juta saja.


Biaya listrik yang biasanya 80rb naik jadi 250rb … tersisa 1.750.000

Dulu BPJS kelas II cuma bayar 170.000 sekarang naik jadi 204.000 … tersisa 1.546.000

Jatah BBM 30liter sebulan yang dulu hanya 135ribu (6500/liter) sekarang naik 7800liter jadi 234.000 untuk 30liter …. tersisa 1.312.000


Untungnya tarif internet dan telpon masih tetap dengan rata-rata 300.000 jadilah tersisa 1.012.000 uang di kantong.

Uang SPP si Sulung di SMP 100.000/bulan …. sekarang sisa 912.000 di dompet.

Uang SPP si Bungsu di SD 50.000/bulan …. sekarang sisa 862.000 

Uang saku si Sulung 10.000/hari dan Si Bungsu 5.000/hari. Totalnya 450.000 …. sekarang sisa uang di dompet hanya 412.000

Beras untuk makan sekeluarga 15kilogram, dengan harga 8.000/kilo totalnya 120.000 sebulan … uang take home pay sekarang tersisa 292.000 rupiah saja.

Sisa 292.000 untuk bertahan hidup 30 hari mendatang. Untuk beli Elpiji, Lauk pauk, Air minum galon, beli kopi, beli gula sampai garam sejimpit.

Apa iya sempat untuk jalan-jalan ke mall? 

Jangankan toko yang di mall-mall, para driver ojek online pun juga mengeluh sepi orderan. Sekarang sudah sedikit yang minta dianter ke mall. Yang pesan makanan online juga gak sebanyak dulu.

Tingginya tarif listrik, BBM dan BPJS sudah menguras uang gaji yang seharusnya dinikmati keluarga di rumah. 

Pembangunan infrastruktur memang benar luar biasa, tapi itu jalan tol. Bukanya tak bisa bayar uang masuk tol, tapi takut kehabisan BBM di jalan tol. 

Yaa itulah kondisi di desa sob. Pasar tradisional sepi bukan karena penjualnya sudah buka lapak di facebook, tapi karena para PNS yang belanja sekarang gak belanja lagi. Karena ada kenaikan biaya hidup.

Konsumen dari kalangan Petani ya sama saja nasibnya. Hasil panen tetap dibeli murah, padahal tarif listrik, BBM dan BPJS naik. Pupuk juga susah dicari. 

5 Komentar

  1. Dalam contoh jelas banget kan, “Ambil contoh seorang PNS dengan gaji total 5 juta. Setelah dipotong cicilan rumah, mobil dan motor …. Terima gaji bersih hanya 2 juta saja.” pertanyaannya ngapain maksa beli kalau belum mampu? lebih baik nabung jadi gak terlalu puyeng

Tinggalkan Balasan