Wafatnya Choirul Huda Bukti Kalau Evakuasi Korban Kecelakan Jangan Sembrono

Meninggalnya kiper Persela Lamongan setelah benturan adalah bukti kesembronoan dalam evakuasi korban kecelakaan. Makanya yang biasanya nnyinyir “kok gak segera digotong sih?” mohon baca pendapat dari dokter tim PSS Sleman.

Kiper dan Kapten Persela tersebut mengalami patah tulang leher, namun saat evakuasi, terlihat jelas asal gotong dari tim medis. Pengenya cepat nyampe rumah sakit, namun malah mempercepat meninggalnya beliau.

Saat digotong ke tandu, Cak Huda tampak asal ngangkatnya. Yang lebih parah, tangan Cak Huda dibiarkan melambai-lambai. Pasti sakitnya luar biasa. Padahal saat ada cedera tulang (terutama leher) diharuskan seluruh badan dipastikan tidak ada yang bergerak selama evakuasi.

Setelah kabar meninggalnya Choirul Huda tersebar, memang cukup banyak orang yang mengunggah pendapatnya mengenai pertolongan pertama yang dianggap dilakukan tidak benar. Salah satunya adalah @sigitpramudya1, akun Twitter milik Sigit Pramudya, fisioterapis PSS Sleman yang sebelumnya juga pernah bekerja untuk Persib Bandung dan Sriwijaya FC

Ada beberapa hal yang disoroti oleh Sigit, yaitu tidak adanya cervical collar (alat penyangga leher), proses mengangkat Choirul Huda ke atas tandu, hingga proses membawa Huda ke ambulans yang tergesa-gesa.

Perhatikan dua foto ini

Wajah Cak Huda sudah membiru, tanda suplai oksigen ke otak tersumbat. ehh itu tangan ngapain pak?
Perhatikan posisi kepala Cak Huda saat digotong, tampak sudah patah dan tidak nyaman. Serta posisi tangan kiri yang menjuntai ke bawah.

Bandingkan dengan evakuasi Fernando Torres yang mengalami cedera patah tulang leher yang sama. Tim Medis dengan tenang melakukan pertolongan sementara dan menyiapkan evakuasi yang nyaman dan selamat untuk Torres. Leher dipasangin alat bantu, tangan diikat sementara agar posisi tubuh dan tulang tidak bergerak.

Tugas tim evakuasi adalah menjamin keselamatan korban untuk sampai di rumah sakit. Bukan sesegera mungkin membawa korban ke rumah sakit.

Perbedaan mencolok antara Liga Indonesia dan Liga Spanyol, di Spanyol sana, Tim Medis harus didampingi seorang dokter, sedangkan di Indonesia tidak ada. Semoga aturan diwajibkan adanya dokter tim dan dokter panpel dalam regulasi benar2 diterapkan.


Nah buat mas bro sekalian yang mau nulungin korban kecelakaan, sebaiknya diobservasi dulu kondisi korban bagaimana. Jangan asal diangkat aja.


Saya sendiri dua kali kecelakaan di jalan raya. Dua kali pula menolak dibopong ke pinggir jalan oleh orang-orang yang ingin segera menolong. Saya bilang, “nanti dulu! saya tak ngatur nafas dulu” baru setelah saya mastiin gak ada yang patah, saya minta bantuan untuk dibopong ke pinggir jalan.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan