Sopir Ojek Online Bagai Rakyat Terbuang

NKRI harga mati, sopir Ojek Online mati siapa yang peduli, yang penting Ojek Online tetap diguyur investasi dari luar negeri. 

Ojek Online atau Ojol dulu sangat bangga mengaku sebagai perusahaan asli Pribumi yang harus dibanggakan oleh NKRI dibanding jasa transportasi online yang lainya. Dari NKRI, oleh rakyat NKRI untuk melayani warga NKRI. Itu dulu, sekali lagi, itu dulu. 

Iming-iming pendapatan yang besar, ribuan warga NKRI rela antri untuk daftar melayani Ojol, untuk mengembangkan NKRI. 

Seiring waktu berlalu, Ojol akhirnya tidak lagi berdarah NKRI. Dengan alasan kurang Gizi, mereka rela disuntik darah asing biar gemuk badan modalnya. Investasi asing pelan tapi pasti membeli saham Ojol, menjadi pemilik mayoritas, menjajah anak negeri dengan divide det impera, politik pecah belah.

Dengan tekanan investor, agar investasinya balik modal, agar setoran laba lancar. Invasi jumlah sopir Ojol diluar akal nalar dan bahkan anak SD yang belajar IPA aja juga faham teori ekosistem. 

Ekosistem transportasi yang selama ini ada hancur lebur ditabrak Ojol. Guabloknya, masih ada aja rakyat yang berdalih, itu semua kan karena online!!! maju dong!!!

Ingat kawan, yang hancur bukan hanya ekosistem pelaku transportasi sebelumnya. Ekosistem di Ojek Online juga sedang hancur lebur. Jumlah sopir melebihi permintaan konsumen.

Ini persis seperti teori populasi ekosistem IPA anak kelas SD! jika lupa silahkan tanya mbah google.

Akhirnya terjadi konflik horizontal, sikat kanan kiri demi memperebutkan konsumen. Mirip saat dua hewan predator (singa dan komodo) berebut rantai makanan yang jumlahnya tak sebanding dengan jumlah predator.

Yang mati akhirnya salah satu predator,singa, selain karena kekurangan pangan, karena juga ditikam oleh sainganya. Masalahnya, saat jumlah komodo melebihi populasi hewan buruan, nantinya juga komodo akan mati satu persatu kekurangan makanan. Inilah teori keseimbangan ekosistem. 


Makanya dulu Pak Harto mati-matian mengkampanyekan KB. Agar pertumbuhan jumlah penduduk Indoensia tidak over seperti Filipina atau Bangladesh. Karena jika over, lapangan pekerjaan susah, bahan makanan juga susah dicukupi hasil pertanian.

Sayangnya, para pimpinan Ojol gak punya pikiran seperti itu. Dalam pikiran kapitalis mereka, makin banyak sopir, makin banyak setoran, terserah nasib sopir seperti apa. 

Bergabung lah ke grup-grup keluh kesah sopir Ojel Online di Facebook. Anda akan tahu betapa mudahnya mereka dipecat oleh perusahaan dengan hanya keluhan 1 konsumen saja. 


Soal sepinya order? simak juga di sana.

Soal kejamnya manajemen Ojol? cukup 1 kata, “elu kan ke sini atas kemauan elu sendiri, klo emang udah gak suka, ya sono pergi” kalimat yang sering jadi jawaban PHK dari orang kantor ke orang lapangan.

 

Kusamnya jaket Ojol saat menolong rekanya yang meninggal saat bekerja. Dulu Jaket gratis sekarang harus beli sendiri. Mereka menyabung nyawa saat negara tak peduli tentang kepastian perlindungan hukumnya.  Foto: Grup FP Koran Gojek

Nasib buruk lalu perlahan-lahan menimpa rakyat NKRI yang selama ini hidup melayani Ojol sebagai sopir. Berjuang menggadaikan nyawa di jalan raya demi tegaknya kerajaan Ojol yang dipimpin secara monarki absolut, layaknya kerajaan yang berkuasa mutlak adalah CEO. 

Sopir, hanya kasta sudra, kaum pekerja yang hanya boleh kerja bukan bicara ngasih usulan. 

Persis seperti era Tanam Paksa di Zaman penjajahan VOC Belanda. Warga ketika itu dipaksa untuk menanam Kopi, Tebu dan Nira. Hasil panen harus dijual pada Belanda dengan harga yang telah ditentukan. Persis seperti nasib sopir gojek harus rela mengantar penumpang meski cuma dibayar “terima kasih” bila pun dengan rupiah, harus rela dengan upah yang sangat minimum sekali, jauh dari UMR dan UMK.

Massa Ojol melakukan demo tarif yang kebangeten murahnya, ada media yg ngliput?
Soal untung rugi sopir si Petani? mana peduli si Ojol. Mirip seperti VOC yang penting dia tetap sebagai penjual komoditas terbesar di Eropa sono. Bagi Ojol yang penting penumpang sampai di tujuan dan puas, sopirnya? ngapain dipikirin, ini inovasi bung!!

Sekarang tarif Ojol hanya 1.600rupiah/km. Namun Raja negeri Ojol tetap berkoar bahwa penghasilan sopir Ojol dua kali lipat Gaji UMR Buruh. 

Cobalah sesekali Raja Ojol itu turun narik, dan rasakan betapa susahnya nyari orderan!!.

roda2blog di sosial media

3 Komentar

Tinggalkan Balasan