Beli Hape ViVo Bekas Harga 600 Ribu, Anggota Banser Ditangkap Polisi Dengan Tuduhan Penadah Barang Curian 

Hati-hati membeli barang bekas terutama handphone atau hape. Bisa-bisa anda bakal ditangkap aparat hukum dengan tuduhan penadah barang curian.
Seperti yang dialami oleh Ahmad Syarifudin dari Ponpes Darul Fati’in Desa Tegalrejo Kecamatan Badas Kediri yang tuduh melanggar tindak pidana dalam kasus 480 KUHP, sebagai penadah barang curian.

“Tuduhan Penadah Hape, padahal cuma beli hp vivo harga 600 tukar tambah dg Huawei +200 dg kesepakatan antara penjual dan pembeli,” tulis akun FB M Shobir Abdullah.

Syarifuddin bahkan sudah diajukan ke depan hakim untuk bersidang di ruang Cakra Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri. Agenda sidang kali ini penyampaian keberatan dari Penasehat Hukum atau eksepsi. Dalam pelaksanaan sidag juga dihadiri massa kurang lebih 70 orang dari GP Ansor dan Banser Kabupaten Kediri.


Kehadiran massa tersebut, untuk memberi dorongan moral kepada Syarifudin. Selain itu untuk mengawal hukum dan berharap hakim menegakkan kebenaran dan keadilan.


 Namun sidang ditunda Senin mendatang dengan agenda Tanggapan JPU terhadap Esepsi Terdakwa dan sidang dilakukan secara terbuka.

Berikut berita lebih lengkap dari Andika FM

Ahmad Syaifudin, warga Jawa Tengah. Pria 18 tahun itu adalah santri di ponpes wilayah Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri.

Kasus ini bermula saat Ahmad Syaifuddin membeli handphone dari Rosid melalui media sosial. Handphone tersebut dibeli dengan harga Rp 600 ribu. Ternyata, handphone yang dibeli Ahmad merupakan handphone hasil curian. Dan Ahmad dituduh sebagai penadah barang hasil curian.

Rosid sendiri mendapatkan hanphone itu dari tangan Ridwan (pelaku pencurian). Setelah polisi mengamankan Rosid dan Ridwan, akhirnya Ahmad juga ikut diamankan dengan tuduhan sebagai penadah barang curian.

Dianggap salah sasaran dan bukan sebagai penadah barang curian, massa santri menuntut agar Ahmad dilepaskan dan dibebaskan dari dakwaan sidang.

“Ahmad Syaifudin ini santri yang baik, jujur. Dia cuma sedang membutuhkan handphone. Lalu chatting di FB, dia dapat barang di Jombang yang ternyata barang curian,” ucap Turagung, Divisi Sosial GP Ansor Kabupaten Kediri kepada detikcom Rabu, (06/12/2017) di halaman PN Kabupaten Kediri.

Sidang terhadap Ahmad yang bertempat di ruang sidang Cakra PN hari ini memiliki agenda mendengarkan eksepsi, keberatan terhadap dakwaan majelis hakim.

“Kami meminta majelis sidang menggunakan hati nurani agar membebaskan terdakwa dari dakwaan karena terdakwa merupakan santri yang lugu dan tidak bersalah,” tegas Turagung.

Usai mendengarkan agenda eksepsi, keberatan terhadap dakwaan sidang. Sidang berakhir untuk dilanjutkan pada sidang berikutnya dengan agenda tanggapan jawaban dari Jaksa Penuntut Umum pada Senin, (11/12/2017)

3 Komentar

  1. Bila logika hukum ini yang diterapkan, maka seluruh orang beragama yang taat dan jadi PNS, ketika menerima gaji harus mengurus asal-usul uang gajinya. Apakah uang gajinya itu dari uang halal, atau dari pajak minuman keras.
    Betapa sulitnya hidup ini kalau logika itu yang digunakan.

Tinggalkan Balasan