Baru Bisa Nyopir, Ibu Guru Tabrak Muridnya Sampai Mati Di Gerbang Sekolah

Kejadian di Magetan ini patut menjadi perhatian. Seorang siswi SLTP kelas 7 tewas setelah ditabrak oleh gurunya yang baru bisa nyopir, tepat di depan gerbang sekolah. Pada Senin (8/1/2017) jam 2 Siang.

Korban meninggal atas nama Mentari Anggi siswi kelas VII MTsN Takeran, Magetan, Jawa Timur.

Menurut keterangan yang dirilis Infomadiunraya.com, kejadian tragis itu bermula saat korban sedang berdiri di samping kiri depan pintu keluar sekolah menunggu jemputan orang tuanya. 

Pada saat bersamaan, mobil Avanza bernopol AE 1522 NH yang dikendarai oleh Wiwik Rusmiati guru MTsN Takeran bergerak dari selatan ke utara hendak keluar dari sekolah tersebut. Saat belok ke barat, tiba-tiba mobil oleng ke kiri dan menabrak korban.

“Saat belok, posisi mobil terlalu ke kiri, kemudian mundur. Namun saat maju lagi, pengemudi kehilangan kendali dan menabrak korban. Murni karena faktor human error,” kata Kanit Lantas Polres Magetan Ipda Yudi Wiyanto.

Korban sebelum dievakuasi
Korban meninggal dunia seketika di lokasi kejadian dalam posisi terjepit antara mobil dan tiang baleho yang berada di depan sekolah tersebut. Sementara mobil Avanza milik Wiwik Rusmiati mengalami rusak di bagian bemper sebelah kiri dan dasboard.

Berdasar beberapa keterangan, guru yang merupakan warga RT 05/08 Desa Pupus, Kecamatan Lembeyan, Magetan tersebut baru bisa mengemudikan mobil dan masih belum mahir. 

Jika si Ibu Guru tidak memiliki SIM, maka seharusnya terkena sanksi pidana tanpa perlu aduan dari keluarga korban. Meskipun sudah berdamai atau memberikan santunan, seperti tertera dalam Pasal 235 UULLAJ
“bahwa jika korban meninggal dunia akibat Kecelakaan Lalu Lintas baik kecelakaan lalu lintas ringan, sedang maupun berat, pihak yang menyebabkan kecelakaan wajib memberikan bantuan kepada ahli waris korban berupa biaya pengobatan dan/atau biaya pemakaman dengan tidak menggugurkan tuntutan perkara pidana.”

Ibu Guru Wiwik harusnya dijerat pasal berlapir berikut ini:
Jika tidak memiliki sim.


Pasal pertama,
Karena tidak memiliki SIM, maka ia dikenakanPasal 281 UULLAJ dengan ancaman pidana kurungan paling lama 4 bulan atau denda paling banyak Rp1 juta.


Pasal kedua,
karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan sehingga B dan D luka berat, maka ia dikenakan Pasal 310 ayat (3) UULLAJ dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp10 juta.

Pasal ketiga,
karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan sehingga orang lain meninggal dunia yaitu C, maka ia dikenakan Pasal 310 ayat (4) UULLAJ dengan ancaman pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp12 juta.

Bila ternyata Ibu Guru sudah memiliki SIM, maka harus dipertanyakan bagaimana kok bisa lolos ujian praktek SIM? nah itu menjadi tugas Unit Provost untuk memeriksanya yang meloloskan SIM bagi Ibu Guru Wiwik.

roda2blog di sosial media

4 Komentar

  1. “..Bila ternyata Ibu Guru sudah memiliki SIM, maka harus dipertanyakan bagaimana kok bisa lolos ujian praktek SIM? nah itu menjadi tugas Unit Provost untuk memeriksanya yang meloloskan SIM bagi Ibu Guru Wiwik.” te es te ajalah.

Tinggalkan Balasan