Yuk Dinalar, Siapa Yang Menurunkan Ongkos Produksi Untuk Promosi dan Eksistensi

Dunia sepeda motor tanah air sedang tidak ekuilibrium atau tidak seimbang. Jika dulunya ada dua pemain besar, sekarang ini sedang menuju ke arah penguasa tunggal.

Jika sudah begini, maka pemainya terbagi menjadi tiga posisi sebagai berikut ini:

Posisi pertama, Sang Pemuncak
adalah pabrikan yang produknya laris manis tanjung kimpul. Produk yang laris manis terus-terusan sampai anak cucu seperti ini gak mungkin bisa laris hanya karena iklan saja.

Tentunya juga karena ada kepuasan batin konsumen lalu merekomendasikan pada konsumen yang merasa sakit hati karena menggunakan merek lain.

Ingat!, sebelumnya konsumen H dan Y itu, 1 banding 1. Dan selama zaman itu, tentunya konsumen sering membandingkan motorku dan motornya, untuk membeli motor selanjutnya.

Dan jika yang dipilih adalah selingkuh ke motor merek lainya dibanding meneruskan memakai motor merek nYA, maka tentu ada yang salah dengan rasa si nYA.

Proses peralihan itu ternyata menimbulkan nikmat yang berlipat-lipat. Kalau bahasa Dr. Boyke, orgasme yang berkali-kali yang bikin konsumen yang awalnya hanya pengen coba-coba, lalu setia dengan Satu Hati saja.

Pabrikan H lalu mendapat kepercayaan konsumen, produknya laris manis.
Pabrik H juga sebelumnya punya pengalaman buruk , saat tahta sebagai raja bebek digusur oleh Jupiter Komeng.

Naghh pertanyaanya?
apa iya setelah bersusah payah, mengeluarkan ongkos besar untuk riset dan promosi. Dan sekarang sedang menikmati hasilnya, panen besar, laris manis …. terus pabrik H akan mengurangi kualitas produksi demi mendapat laba yang lebih besar lagi?

Tentu enggak mungkin lagh. Lha wong harga lebih mahal aja, produk juga bisa laris manis tanjung kimpul sampai orderan inden berbulan-bulan, buat apa ngurangi ongkos produksi …. jalan terbaik adalah mengurangsi ongkos promosi.

Jadi, pilihan bagi pabrik H dalam mempertahankan tahta dan memperluas kerajaanya adalah mengurangi ongkos Promosi.

Posisi Kedua, Yang Tergusur
jadi yang kedua rasanya lebih pahit dibandingkan jadi yang nomer tiga atau nomer 4. Kalah di final, lebih menyakitkan dibandingkan kalah di babak penyisihan. Kalau gak percaya, silahkan tanya pada bobotoh persib dan pendukung Juventus, mana yang lebih sering sakit hati. :mrgreen:

Punya slogan semakin di depan, tapi nyatanya semakin nyungsep dalam penjualan. Jelas sakit bangett.

Pendapatan laba jelas turun, karena jumlah unit yang terjual juga turun.

Di satu sisi kita jelas harus terus “sombong” dalam hal iklan, karena slogan kita semakin di depan. Sekali saja berhenti berkampanye (ngiklan), brand Y bisa langsung dilupakan orang, karena sekarang ini mindset orang tentang motor adalah H dan H adalah motor.

Simalakamanya … Ongkos iklanya banyak karena varian produknya juga banyak. Yang lebih parah lagi, dari sekian banyak produk tersebut, dari kelas bebek, matik sampai sport tidak ada satu pun yang lebih laris dari si punya si H. Kecuali produk yang tidak punya kompetitor di H.

Belum lagi dana untuk nyeponsorin siaran langsung balapan motor yang juga semakin tinggi nilai duitnya.

Naghh jika penjualan makin turun, pendapatan laba juga turun, terus dari mana uang untuk promosi?

Menaikkan harga jual produk jelas gak masuk akal. Wong ukuran ban-nya lebih kecil, kok harga minta lebih mahal dari H, bisa diketawain konsumen nanti.


Maka satu-satunya jalan untuk menambal biaya promosi adalah dengan mempermurah ongkos produksi, caranya …. ada banyak gan, bisa dengan mengurangi jumlah karyawan pabrik, mengubah campuran metalurgi cor-coran besi, mengurangi warna motor dan lain sebagainya.

Jadi? pilihan kedua adalah mengurangi ongkos produksi
entah bagaimana caranya, i dont know, saya gak tahu, wong itu kebijakan manajemen di dalam kantor sana.

Posisi ketiga dan Keempat, Yang Terpencil.
Pabrikan berlogo eS dan K ini adem ayem tentrem, mirip dengan posisi Liverpool dan Leicester City di Liga Inggris. Sudah pernah berjaya pada suatu masa, tidak pernah ada tuntutan untuk berjaya lagi jadi nomer satu seperti dulu.

Yang dimau konsumen motor adalah, kau tetap ada di sana dalam pertarungan ini. Yang penting ada, jangan sampai tutup untuk sebuah nostalgia.

S dan K ini tidak akan berani menurunkan kualitas, sekali saja ada produknya yang bobrok akan langsung dilupakan konsumen.

Juga tidak perlu biaya promosi yang jorr-jorran, karena memang niatnya bukan untuk jadi nomer 1. Bagi mereka berdua, yang penting menjaga produk “ikon” tetap laku, itu sudah cukup.


Produk S dan K telah menjadi maskot di masing-masing kelas. gak perlu dipromosikan terlalu wah, orang juga sudah faham tentang KLX, Ninja dan Satria.

biaya promosi juga gak banyak karena lini produk juga gak banyak, sudah tertutupi dengan volume penjualanya.

roda2blog di sosial media

6 Komentar

  1. Tulisan paling tendensius dan ngawur selama saya baca blog motor.

    Kalau penulis bisa membuktikan bahwa Y memang mengurangi kualitas produk mereka demi bertahan, kasih buktinya di sini. Kalau sekedar nalar2an sih arahnya bisa kemana2 tergantung keinginan penalar.

    Sekarang saya kasih logika, pabrikan yg dipercaya oleh prinsipal mengekspor produk lebih sedikit drpd rival, kualitas produksinya nggak oke dong.. Setuju? Nalar aja sih ini.

  2. gk setuju kalo dibilang yamaha menurunkan qualitas. tempat saya kerja merupakan salah satu supplyer yamaha, dari jamannya dl sampe sekarang standart produk dan material sama saja tuh. saya rasa turunnya penjualan yamaha karena modelnya yang kurang diterima pasar. jamannya jupiter burhan mendominasi karena kompetitor modelnya kalah ganteng, gilran ganti model penjualannya langsung nyungsep, selain modelnya jelek kompetitor punya model yg lebih cakep. kasus mio juga sama, mio gen 1 dan beat gen 1 modelnya manisan mio, giliran diganti mio j dan honda ngeluarin beat yg jauh lebih enak dipandang mio j gagal dipasaran. di kelas sport juga gitu, vixion merajai karena modelnya yg ok, sementara kompetitor modelnya begitu2 saja, begitu muncul cb150r yg model keren honda mulai mengejar, bahkan kl mau jujur cb150r sekarang bisa ngalahin vixion juga karena modelnya yg jauh lebih sporty, bandingkan dengan cb gen 1, dgn model kayak gitu gk bisa bicara banyakkan?. intinya desainer yamaha banyak gagal membuat produk yg masuk selera orang indonesia, bukan karena qualitas yamaha yg bosok. saya rasa banyaknya motor bosok honda dijalanan sama motor bosok yamaha sebanding.
    kalo masalah promosi, yamaha dl gk akan pernah jaya kalo gk jor2an promosi. promosi dalam jualan adalah komponen penting, honda juga setelah hampir di KO yamaha iklannya jor2an juga tho?. dan biaya promosi sudah punya pos sendiri dalam penentuan harga sebuah produk.

  3. Bah….mulai deh …ketahuan mbanged mulai nggosok ke H setelah recall artikel Cibi2
    ente bisa ngomong begini kalau ada data valid yang bisa dijadikan dasar penerbitan artikel.
    Misalnya ente punya data valid ,material cornya komposisinya x untuk tahun x dan sekarang komposisi y untuk tahun y untuk produk yang sama..baru bisa ngomong
    atau ente beli aja motor merk Y terus ente teliti berapa kadar wajar campuran di metalurgi tersebut//
    #keselex ahmmplop

  4. Wkwkwkwkwkk
    Jago euy kalo nulis mahh.
    Logikanya gini lho mas….
    Downgrade kok masa iya di percaya jadi basis produksi global.

    Produk ymh(entry level) Soul gt125 dan force z bisa di eksport k thai.
    Itu brarti thailand nerima kualitas produk yimm dgn baik, bukan downgrade lho mas.

    Skrang gini z ngomong2 masalah kualitas coba bandingin rangka vixi ama cbr150 mahal mana, dan kualiatas bagus mana masss.
    Harga lebih mahal belum tentu lebih bagus.
    #Salam recal artikel.

  5. Penggiringan luar biasa pak

    Kalo mo bilang nurunin kualitas produksi mana datanya? Bisa dijabarkan?

    Artikelnya “cuma” berdasarkan nalar yg sangat diragukan kebenarannya.

    AHMplop enak ya pak
    Ngoahahahahahah

Tinggalkan Balasan