Di Singapura Aturan Sepeda Listrik Sangat Ketat, Di Indonesia Kapan?

Apa bedanya sepeda listrik dengan motor listrik? jika pertanyaan itu ddihadirkan di INdonesia, maka jawabanya adalah … hampir tidak ada bedanya. Nah ini nih yang bikin konsumen juga bingung, sehingga mau beli motor listrik juga ogah karena dianggap sama dengan sepeda listrik.

Di Indonesia, sepeda listrik saat ini memiliki bentuk dan model yang hampir mirip dengan sepeda motor asli. Yang bikin bingung ada juga mobil roda tiga yang banyak jadi bahan hoax disebut sebagai mobil.

Gambar: kompas.com

Beda dengan di Singapura. Di negeri seberang itu, aturan soal sepeda listrik baik bentuk dan spesifikasinya sangat ketat. Bahkan di sana, sepeda listrik gak boleh punya handle gas dan tombol start. Jika melanggar, dendanya gede broo. Bisa sampai ratusan juta rupiah dan kurungan 6 bulan penjara.

Menurut Land Transport Authority (LTA) per 1 Februari 2016, PAB (Power Assisted Bicycles) harus memenuhi kriteria di bawah ini agar memenuhi standar:\

– Konstruksi PAB harus menyerupai sepeda konvensional;
– PAB hanya ditenagai oleh sumber elektrik;
– PAB memenuhi European Standard, EN15194;
– Tenaga motor elektrik tidak boleh melebihi 250 Watt (setera 0,33 Tk)
– Motor elektrik hanya menyala saat pesepeda mulai mengayuh (tidak boleh ada alat menyerupai handle gas (tuas putar) seperti motor);
– Tenaga motor elektrik harus berkurang saat sepeda mencapai 25 km/jam, atau sebelumnya saat pesepeda berhenti mengayuh;
– Bobot maksimum PAB adalah 20 kg.

Nah coba lihat poin utama di atas. desain sepeda listrik tidak boleh menyerupai sepeda motor, ini penting agar konsumen bisa membedakan mana motor listrik dan mana sepeda listrik. Jika enggak, sepeda listrik merek selis juga entar dikiranya motor listrik.


Denda yang diterapkan cukup fantastis, denda tersebut akan dikenakan kepada penjual maupun pengguna sepeda listrik yang tidak memenuhi standar, bahkan memodifikasi sepeda listrik.

Untuk penjual sepeda listrik yang tidak memenuhi standar dan memodifikasi sepeda listrik, dendanya adalah:
– Pelanggaran pertama akan didenda hingga S$5.000 (setara Rp 50 juta) atau/ dan dipenjara hingga 3 bulan.
– Pelanggaran selanjutnya akan didenda hingga S$10.000 (setara Rp 100 juta) atau/ dan dipenjara hingga 6 bulan.
Untuk pengguna sepeda listrik yang tidak memenuhi standar, dendanya adalah:
– Pelanggaran pertama akan didenda hingga S$5.000 (setara Rp 50 juta) atau/ dan dipenjara hingga 3 bulan.
– Pelanggaran kedua akan didenda hingga S$10.000 (setara Rp 100 juta) atau/ dan dipenjara hingga 6 bulan.

Yang penting lagi soal regulasi pemakainya,  jangan mentang-mentang sepeda listrik terus anak TK juga diizinkan memakainya. Kan berabe ..

Di Singapura maupun yang dibonceng harus berumur minimal 16 tahun. Dan wajib menggunakan helm yang memadai.

Nah kapan kira-kira regulasi soal sepeda listrik diperketat di Indonesia? terutama sebagai bentuk deviasi mana sepeda listrik dan mana motor listrik.


 

roda2blog di sosial media

1 Komentar

  1. jadi inget, kemaren2 ditanya bocah, kenapa orang naik sepeda listrik kok gak disuruh pake helm…., hehehe…., iya juga yah…, bingung jawabnya 😀

Tinggalkan Balasan