Mulai Juni 2018, Bikin Sim Harus Ikut Tes Psikologi

Mulai bulan Juni 2018 ini, Tes Psikologi akan diwajibkan oleh Polisi bagi yang mau bikin SIM. Baik baru maupun memperpanjang.

Penerapan ini diharapkan dapat mengurangi angka kecelakaan lalu lintas akibat faktor psikologi. Ya seperti diketahui, sekarang ini makin banyak video video viral soal sopir atau biker yang tiba-tiba marah atau mencolot emosinga tanpa sebab.

“Mulai 25 Juni 2018 perpanjang SIM dan buat baru dengan tes psikologi,” kata Kasi SIM Polda Metro Jaya, Kompol Fahri Siregar seperti dilansir detikcom, Selasa (19/6/2018).

Nah masalahnya, hal ini bakal diterapin di Pulau Jakarta aja atau seluruh Indonesia? untuk diketahui, prakter psikiater di daerah belum tentu ada lho sob!. Lha terus nanti yang nguji siapa klo di daerah.

Seingat saya, Polda Jawa Timur pernah ngluarin kebijakan yang sama. Uji Tes Psikologi bagi pemohon SIM, namun hanya untuk pemohon SIM yang usianya sudah tua di atas 65 tahun.

Cekidot artikelnya:


klik disini

Landasan hukum dan bentuk ujianya bagaiamana?

Polisi beralasan jika penerapan tes psikologi bagi penertiban SIM merupakan amanah dari pasal 81 ayat (4) UU No. 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan dan sebagainya yang dituangkan dalam pasal 36 peraturan Kapolri No 9 tahun 2012 tentang surat izin mengemudi.

Untuk bentuk tes sendiri, akan ada soal tanya jawab.

“Kalau materi tes psikologi itu biasanya menjawab soal tetapi semua kita serahkan kepada lembaga psikologi profesional. Dan juga kita minta bantuan dari Psikologi Polda Metro Jaya, mereka akan melakukan pembinaan kepada lembaga-lembaga psikologi yang akan melaksanakan tes psikologi,” imbuh Kompol Fahri Siregar.

Komentar Ahli Psikolog?

Yang menarik lagi komentar seorang psikolog forensik, Reza Indragiri, hasil psikotes tidak banyak berpengaruh terhadap potensi kecelakaan lalu lintas. Menurutnya, tes kepribadian terbagi menjadi dua, dan tes psikologi tidak teralu berpengaruh dalam kondisi nyata saat menyetir di jalan.

“Kepribadian bisa dipilah menjadi dua. Yang cenderung ajeg disebut trait. Yang lebih mudah berubah-ubah (dinamis) disebut state. Tes kepribadian menjadi dasar untuk pembuatan simpulan tentang kepribadian yang trait tadi. Yang state bagaimana? State sangat dipengaruhi oleh faktor situasi, sebagai respons terhadap perubahan keadaan lingkungan secara tiba-tiba,” kata Reza kepada seperti dilansir kumparan.com Rabu (20/6).

Kondisi demikian menjadikan situasi mengemudi yang dinamis menjadi faktor yang sulit ditebak karena situasinya berubah-ubah. “Apalagi di Indonesia yang lalinnya ruwet,” ungkap Reza.

Terus Biayanya Bagaimana?


Biaya masih belum jelas, karena pihak Polri baru akan berkonsultasi dengan para Psikolog. Malah nanti, soal biaya pihak Psikolog yang akan merumuskan, dan biaya masuk ke kantong Piskolog bukan kas negara.

roda2blog di sosial media

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan