Menanti Ledakan Ekonomi Kota Madiun Paska Jalan Tol

Jika di tulisan sebelumnya saya membahas tentang ledakan ekonomi Jogjakarta yang disebabkan banyaknya pilihan transportasi untuk menuju ke sana dari kota-kota Metropolitan seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya. Kali ini mimin mau bahas soal potensi ekonomi Kota Madiun.

Berdasarkan data statistik BPS, pertumbuhan ekonomi di Kota Madiun melaju sampai 8%, melebihi pertumbuhan ekonomi nasional yang di kisaran 5-6%.

Aston Madiun

Pembangunan di Kota Madiun juga melesat, mall-mall sampai hotel-hotel berbintang bertumbuhan.

Penyebabnya?

Madiun berbeda dengan kota lain yang tumbuh karena industri, atau banyak pabrik. Makanya sebutan Kota Gadis (Perdagangan, Pendidikan dam Industri) dihapus diganti kota Kharismatik.

Daya dorong utama kota ini “konsumsi” atau belanja. Dan 60% uang yang beredar berasal dari luar negeri seperti Singapura, Australia, Hongkong dan Taiwan.

Sun City Madiun

Yup, karena konsumen terbesar Kota Madiun adalah keluarga para buruh migran (TKI). Termasuk juga para TKI yang sedang berlibur maupun eks TKI.

Bagi warga Ponorogo, Ngawi, Nganjuk dan Magetan. Kota Madiun adalah referensi jujukan utama.

Dengan adanya Tol yang mengubungkan Ngawi – Madiun – Nganjuk. Arus konsumen ke Kota Madiun akan semakin deras.

Madiun memang tidak akan pernah punya bandara komersil meskipun sudah ada Bandar Udara Iswahjudi karena kepentingan militer.

Namun dengan jalan tol, jarak Madiun ke Bandara Adi Soemarmo Solo bisa ditempuh hanya dalam 1,5jam saja.

Kereta Api juga menyediakan banyak rute perjalanan ke berbagai kota metropolitan di Jawa. Arah Surabaya dan Jogja akan segera dilayani dengan rel ganda.

Armada Bus Umum (PO Mira dan PO SR) tujuan ke Jogja dan Surabaya juga tersedia 24 jam nonstop setiap 5 menit sekali.

Selain Kota Madiun, Kota Caruban ibukota Kabupaten Madiun juga bersiap menjadi pusat Industri.

Angka pengangguran yang tinggi di wilayah Madiun Utara dan UMR yang lebih murah dibandingkan di Jatim bagian timur. Banyak pabrik yang telah berencana untuk melakukan relokasi ke Kabupaten Madiun. Yang buka baru juga sudah banyak.

Daya tarik utama kota Madiun dibandingkan yang lain adalah pluralitasnya. Di kota ini orang Tionghoa, Arab dan Jawa bisa duduk semeja di warung kopi pinggir jalan.


Harmoninya luar biasa.


Tinggal bagaimana memoles identitas “Kampung Pesilat” sebagai pusat Pencak Silat di Indonesia menjadi daya tarik wisata. Biar makin joss lagii.

Logo Madiun Kampung Pesilat

roda2blog di sosial media

4 Komentar

  1. Pertanyaan saya,apa alasannya bahwa kota Madiun tidak akan punya bandara sipil? Karena ada Iswahjudi kah? Lhah,bukankah Jakarta, Surabaya,Malang,Makasar,semua punya pangkalan militer? Dan juga punya bandar udara sipil.

    Asal anda tahu,jaman kepemimpinan walikota Ahmad Ali(1999-2004),beliau sudah mewacanakan untuk membuat lapangan terbang sipil. Itu karena cita2 beliau untuk menjadikan kota madiun sebagai embarkasi haji untuk wilayah jatim barat. Asrama hajinya sih sudah jadi,tapi proses membuat lapter sipil tentunya tak bisa semudah membalik telapak tangan. Dan sampai saat ini sepertinya menguap begitu saja.

    Btw,thanks telah mengulas kota madiun. Kota kecil yang plural,tidak primodial dan fanatis. Serta rata2 kesadaran pendidikan yang cukup bagus.

    (Saya warga kota madiun,kelahiran Gunung Kidul)

  2. jangan lupa kang, identitas diri jangan sampe kelupaan juga.. jakarta sudah kelewatan soalnya kang.. identitas betawi yang dulu kaya akan kearifan udah hilang, diganti dengan budaya petantang petenteng jago kampung yang seakan tersingkir sama banyaknya pendatang.

Tinggalkan Balasan