Hentikan Mencerca AGAMA yang diakui PANCASILA

Setiap mengunjungi toko buku, ada rasa yang aneh tiap kali saya memilih buku di zona Agama. Terserak belasan atau mungkin puluhan judul buku yang mencolek hati saya.
Hati besar saya tidak ada masalah dengan judul maupun essensi-essensi buku tersebut, tapi hati kecil saya kok merasa ada yang nggak bener. Saya membayangkan jika saya tidak termasuk golongan si penulis tentu saya akan tersinggung.
Masih segar dalam ingatan, bagaimana marahnya saya dan saudara-saudaraku umat Islam ketika Rasulullah SAW divisualkan.
Tiba-tiba saya kok merasa, bagaimana kira-kira rasanya ketika keimanan kita dihina secara bertubi-tubi seperti itu.
Jujur, andaikan ada judul buku “Muhammad Bukan Nabi” hmmm pasti kemarahan yang muncul…Anehnya, kemana aparat penegak hukum…bukankah ini termasuk pelecehan agama yang diakui oleh negara…keyakinan warga negara yang harus dijamin kenyamanan dan keamanannya dalam menjalankan ibadah sesuai sila ketuhanan..dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dakwah seperti inikah yang dicontohkan oleh Rasulullah?. Saya tidak akan berkaca mata berdasarkan halal atau haram, sunnah atau bid’ah. Tapi lebih kepada Akhlaq, pantas atau tidak.
Dan tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan Akhlaq manusia” demikian salah satu statemen kenabian Rasulullah.
Pada masa awal Islam, umat Islam hidup berdampingan dengan Agama Pagan (Penyembah Berhala) dan Agama Samawi (Yahudi dan Kristen). Oleh karenanya terdapat perbedaan pendekatan dakwah yang dilakukan Rasulullah.
Dakwah Rasulullah pada penyembah batu (pagan) dapat dikategorikan keras dan menohok. Selain mengirim para sahabat untuk bekhotbah langsung dihadapan mereka, Rasulullah juga turun langsung. Bahkan beliau berkeliling ke kota-kota di dekat Makkah, seperti kejadian Thaif.
Pendekatan berbeda diambil dalam mendakwahi komunitas Yahudi dan Kristen, Rasulullah lebih banyak melakukan pendekatan Akhlaq. Tidak sekalipun Rasulullah mendatangi sinagog maupun gereja untuk mencela keyakinan mereka. Bahkan dalam melaksanakan hukum terhadap mereka, Rasulullah menunjuk orang mereka sendiri seperti pada peristiwa perang Ahzab.
Al-Qur’an memang dengan sangat tegas menyatakan kekafiran mereka. Tapi Al-Qur’an juga memberi kabar gembira untuk mereka sebagaimana tersebut dalam surat al-Baqarah ayat 62 berikut:
“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin , siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah , hari kemudian dan beramal saleh mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak mereka bersedih hati.”
Dakwah harusnya dijadikan ladang fastabiqul khoiraat (berlomba dalam kebaikan) oleh setiap umat beragama.
Saya selalu teringat alasan paling klasik missionaries Kristen ketika disidang para Ulama muslim. Bahwa apa yang mereka kerjakan hanyalah kegiatan social. Mereka mau menghentikan kegiatannya asalkan para penyidang tersebut itu mau menggantikanya.
Dan keputusannya, para ulama tetap buncit perutnya sedangkan umat tetap tidak terpikirkan kepuasan rohani maupun jasmani.
Bila memang sudah sedemikian egois sikap Ulama maupun da’I, maka janganlah ditambahi dengan meneror Umat agama lain dengan menulis buku-buku yang berjudul provokatif.
Jika memang kita masih menghendaki agar hidayah Islam tersebar, maka janganlah kita menjadi penghalang turunnya hidayah. Perbanyak ikhtiar melalui silaturrahmi bukan sikap yang bermusuhan.
Yang paling utama, tentu doa, memohon kepada Allah agar memberi hidayah Islam kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan siapa saja yang berkehendak menjemput-Nya. Sadarilah, bahwa usaha tanpa do’a adalah kesombongan dan do’a tanpa usaha adalah kemustahilan.
Saya pun sadar, jika tulisan ini mungkin akan memantik cap-cap kafir atau musuh Islam atau apalah yang tidak Islami kepada diri saya. Tapi saya maklumi, karena mungkin mereka sedang dalam pengembaraan yang mungkin sedang mencari arah.

(Tulisan ini ada di 2 blog lama saya, saya hadirkan kembali dengan niat mudzakarah dengan perubahan judul dan beberapa tambahan)

Baca Juga:   ZEV T-3 Mobil Listrik Roda Tiga Yang Sering Jadi Hoax Di Facebook

roda2blog di sosial media

8 Komentar

  1. secara garis besar saya setuju dengan pendapat anda, islam adalah rahmatan lil alamin, rahmat bagi umat manusia. agama untuk membawa keselamatan bagi umat manusia. tapi persoalannya, anda hanya melihat dari satu sisi saja, dan lupa meninjau dari sisi lainnya. secara sepintas judulnya memang prpokatif, btw buku itukan ditujukan buat kalangan muslim dan bertujuan untuk memperkuat keimanan umat muslim ditengah gencarnya kristenisasi. mungkin masih banyak umat muslim yang gak percaya dengan gencarnya kristenisasi ini, tp kenyataannya ini beneran terjadi kok. lagian isi buku itukan berasalal dari penelitian literatur umat kristen, terus apa bedanya dengan publikasi penelitian orang2 non muslim tentang islam.

  2. @alilin:
    Bedanya…tuh buku dipajang di tempat umum yang orang Non Muslim bisa membacanya
    Kecuali kalau tu buku dijual di Pesantren, Masjid, Majlis Ta’lim ya nggak masalah…monggooo
    Ujung-ujungnya kan itu bukan dakwah, tapi duit untuk si penulis dan penerbit

  3. Tapi sebenarnya inti dari semua saling menghormati baik dengan yang berbeda agama ataupun sama adalah “Penegakan hukum yang benar”.
    Lihat saja bagaimana negri kita ini hancurnya, tarnsportasi yang hancur-hancuran, teroris yang katanya sedang berkeliaran (siapa yang bisa menjamin bahwa yang di kejar polisi sekarang teroris ), dan ber juta juta masalah lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
    Intinya bila penegakan hukum jalan, secara otomatis kerukunan umat beragama pun bisa berjalan dengan baik, simpel saja siapa yang menghina agama orang lain kan ada hukumnya, jalankan hukum itu maka secara otomatis pula memberi efek jera pada orang yang akan melakukan hal yang sama

  4. “…. Agama Pagan (Penyembah Berhala) dan Agama Samawi (Yahudi dan Kristen).”

    Kenapa agama harus digolongkan kedalam kelas seperti diatas? Pagan dan Samawi? Terkesan bahwa salah satu golongan (Agama Samawi) lebih superior dibanding golongan lainnya (Agama Pagan).

Tinggalkan Balasan