Contoh Kebusukan Pejabat tentang TKW/TKI

Tulisan ini saya buat setelah acara dialog antara Din Syamsudin dan beberapa wartawan Kompas dan Tempo, untuk diketahui, Din Syamsudin ini pernah menjabat BNP2TKI (Badan Nasional Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia )….

Inipula yang menjadi salah  satu alasan saya berhenti dari pekerjaan saya….nggak pernah ada niat untuk memperbaiki dari pemerintah kita

Seandainya Mereka Ibumu, Pak Din Syamsudin

Tak perlu saya sebutkan tanggal berapa dan bulan apa. Dan tak penting apakah forum tersebut formal atau hanya makan-makan, ataukah orang yang mengapit anda adalah ketua MPR dan Duta Besar RI.

Terserah mau sama atau tidak setidaknya inilah yang anda ucapkan ketika menanggapi pernyataan saya mengenai Turida:

“….bahwa prosentase TKW yang “gagal” dan yang sukses itu lebih banyak yang sukses. Yang gagal itu hanya 1-4% persen saja. Kalau anda pergi ke daerah yang menjadi basis TKW, anda akan menemui desa yang seperti kota. Rumahnya bagus, sawahnya luas, punya motor bahkan mobil”

Wahai Pak Din Syamsuddin, bagaimana bila anda menghadapi seperti ini?.

Baca Juga:   Dari Jakarta ke Cibinong sekarang ada Bus Bandara Damri dan APTB

Seorang TKW, berumur sekitar 36 tahun datang ke kantor Polisi sambil menangis. Tanpa membawa paspor, nomor telepon majikan, bahkan nama lengkap majikan pun tak tahu. Jangankan alamat KBRI Doha, alamat rumah majikan pun dia tahu. Sedang dia juga belum melaporkan kedatanganya  di KBRI. Beruntung dia bertemu dengan sopir taksi yang baik yang bersedia mengantar ke kantor polisi tanpa memerkosanya.

Sekarang dia dihadapan anda, hanya bisa menangis karena sama sekali tidak paham bahasa Arab apalagi Inggris. Tangisanya semakin keras, setiap kali polisi Arab membentaknya karena jengkel dan bingung menghadapi bahasa Indonesia.

Buka hati dan mari bayangkan. Bagaimana seandainya dia adalah Istri anda?, atau Ibu anda?. Ingatlah!

Baca Juga:   7 Tips Merawat Mesin Mobil Manual Paling Jitu

Berapapun persen dari total TKW yang anda sebut “gagal”. Mereka tetaplah manusia biasa, istri dari seorang suami, ibu dari anak-anak. Masalah seperti itu bukan satu atau dua kali, tak perlu saya hitungkan karena pengalaman anda di Depnakertrans tentu sudah memberi tahu anda.

TKI/TKW hanya sebuah komoditas ekspor oleh pemerintah kita, jangan salahkan Arab Saudi atau Malaysia, salahkan pemerintah Kita yang nggak pernah mau bertindak……hanya menikmati devisa untuk mencicil hutang


roda2blog di sosial media

7 Komentar

  1. ☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺
    ☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺
    ☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺
    ☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺
    ☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺
    ☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺

    pemimpin amanah masih adakah …?

  2. bagi pemerintah kita, rakyat Indonesia cuma sebagai angka bro..

    angka kemiskinan, angka pengangguran.. dll

    they dont really care about us..

  3. Tingkat kegagalan 1-4 % itu gede bro, itupun yg trdaftar. Ini manusia bukan part atau mesin. Harus na zero failure. Dunia otomotive aja zero failure. Ane anggap pemerintah sukses klu tingkat kegagalan 0%. Ingat ini nyawa manusia bukan mesin. No toleran utk yg menyangkut nyawa manusia. Klu saya, ga akan mau berpergian jauh klu tingkat kegagalan 1-4%. Gila, pemerintah gila. 1-4% ko dianggap sukses

  4. Utk ilmu statistik, tingkat kegagalan yg menyangkut keselamatan nyawa manusia adalah 0%. Ane ketawa geli sambil kesel pada yg bilang 1-4% itu sukses. Artine tu orang ga ngerti statistik

  5. sangat sedih. sediiiiiiiiiih sekali. bila kita orang beagama, ayolah jadi tki. agar bisa tau keadaan sebenarnya, bagaimana yang dikatakan berhasil, dan bagaimana yang dikatakan gagal. bagaimana cara mereka mendapatkan uang..? bagaimana kok ada yang gagal. apakah bisa tki yang cuma punya gaji 600 bisa bikin rumah bagus? berapa tahun?….tiki yang gajinya cuma seribu…bisa bikin rumah gedong membeli sawah dsb…berapa tahun?…ayo berfikir…

Tinggalkan Balasan