Renungan: Obsesi Hidup

Dalam ruang kuliah, Pak Dosen memerintahkan kepada mahasiswanya untuk menuliskan obsesi mereka dalam 10 tahun ke depan pada sebuah kertas. Waktu yang diberikan hanya 1 menit, setelahnya mereka disuruh membacanya satu persatu kemudian harus menyimpanya dalam dompet agar selalu ingat.

Pada ruang lain, ada seorang anak manusia yang sangat terobsesi dengan mobil BMW. Setiap penjuru rumahnya penuh dengan poster mobil BMW, bahkan dikamar mandi. Setiap dijalan, bahkan dalam radius beberapa meter, manusia ini bisa merasakan adanya sebuah BMW. Dalam tidur pun, BMW menjadi igauan.

Obsesi, impian, cita-cita atau semacamnya adalah makhluq yang susah saya pahami dan definisikan. Saya selalu iri pada mereka yang memiliki obsesi ini atau itu. Setiap gerak langkahnya selalu teratur, semangat dan fokus pada tujuan.

Setelah kematian adik saya dan seorang sahabat karib ditambah dengan dahsyatnya gempa di Jogja. Saya selalu takut untuk berobsesi pada hal-hal duniawi. Bukan kerana takut mati atau takut tidak mampu untuk mewujudkannya.

Baca Juga:   Gibernau: Pedrosa Hebat Tapi Belum Level Juara

Tapi takut untuk tidak bisa menikmati saat obsesi itu menjadi nyata.

Bude saya sangat terobsesi dengan rumah mewah selayaknya istana dan Honda CR-V. Dua tahun yang lalu dia berhasil mewujudkanya. Lalu menggelar syukuran sebagai pertanda bahwa dia telah sampai pada garis finish.

Masalahnya, setelah mencapai garis finish dan segala perayaan perolehan medali selesai. Selesai sudahlah rasa puas. Kemudian muncul obsesi baru  yang harus diwujudkan. Masalahnya, obsesi baru berarti masalah baru. Padahal obsesi lama juga membawa masalah lama, seperti menjadi kuno yang berarti harus direnovasi, atau model yang CR-V yang harus diganti baru padahal nanti harganya turun dll.

Yang ada kemudian, masalah lama ditambah masalah baru.

Baca Juga:   Kisah Nyata Rumah Hantu Beli Sepeda Motor Cash, Dikirim Malam Hari, Salesnya Kaget Ketika Nganter STNK Besoknya

Sama seperti dengan seorang mentor saya di Entrepreneur University. Saat awal pembicaraan dia sangat bangga dengan hutangnya yang mencapai 20 Milyar dan dengan perkembangan usahanya. Tapi saat seorang rekan bertanya, apakah bapak sudah menikmatinya?. Tiba-tiba dia terdiam sejenak, kaget dan lalu balik bertanya sebelum kemudian menjawab ya.

Diam sejenaknya si mentor sudah menjawab pertanyaanya tadi. …. setidaknya, kadang dia bahagia tapi kadang pusing.

Saya masih teringat saat terpaku didepan kakbah. Tak pernah sekalipun terlintas obsesi bahwa saya harus sowan ke sini. Tapi sekarang, bangunan yang biasanya hanya saya nikmati lewat gambar tiba-tiba hadir didepan mata saya. Kejutan yang indah.

Akhirnya…surprise dari buah usaha kita itu lebih nikmat daripada merayakan obsesi yang kita raih …. Wallahu a’alam

 

roda2blog di sosial media

5 Komentar

  1. Hidup saya biarkan mengalir saja, tanpa mimpi, tanpa obsesi, kadang timbul perasaan seandainya saya punya mimpi mungkin saya akan lebih giat tuk menjalani hidup demi meraih mimpi itu. Tapi sayang saya sudah terlanjur terbiasa tak punya mimpi… Hanya punya harap dan do’a semoga semua yang terjadi adalah yang terbaik versi Allah SWT.
    _saya berharap bisa berdiri di depan Ka’bah_

    Salam kenal pak 🙂

  2. buat saya, kehidupan yg saya dambakan itu adalah bisa melakukan semua kegiatan berdasar atas apa yg “benar2” saya ingini dari dlm diri, dan bukan atas paksaan, ketentuan jg tuntutan yg mengharuskan saya utk “berlaku” jauh dari apa yg saya ingini tadi…

Tinggalkan Balasan