ISTIMEWA nya JOGJA : Perjuangan (I)

Panas juga melihat komen-komen di forum maupun media internet macam kompas.com dan detik.com…biar lebih gamblang, ane tulis aja di sini.

Yogyakarta adalah Daerah Istimewa, begitu yang sering ditulis, 3o propinsi dan 5 daerah khusus Istimewa … AcehJakartaPapua,Papua Barat dan Yogyakarta. naaghh sekarang, JOGJA sedang diusik sama Pak BY, katanya “monarki” dan nggak layak hidup dalam sistem demokrasi di Indonesia. Jogja yang adem ayem pun jadi agak hangat.

Status ini merupakan sebuah warisan dari zaman sebelum kemerdekaan. Kesultanan Yogyakarta dan juga Kadipaten Paku Alaman, sebagai cikal bakal atau asal usul DIY, memiliki status sebagai “Kerajaan vasal/Negara bagian/Dependent state” dalam pemerintahan penjajahan mulai dari VOC , Hindia Perancis (Republik Bataav Belanda-Perancis), India Timur/EIC (Kerajaan Inggris), Hindia Belanda (Kerajaan Nederland), dan terakhir Tentara Angkatan Darat XVI Jepang (Kekaisaran Jepang). Oleh Belanda status tersebut disebut sebagai Zelfbestuurende Lanschappen dan oleh Jepang disebut dengan Koti/Kooti. Status ini membawa konsekuensi hukum dan politik berupa kewenangan untuk mengatur dan mengurus wilayah [negaranya] sendiri di bawah pengawasan pemerintah penjajahan tentunya. Status ini pula yang kemudian juga diakui dan diberi payung hukum oleh Bapak Pendiri Bangsa Indonesia Soekarno yang duduk dalam BPUPKI dan PPKI sebagai sebuah daerah bukan lagi sebagai sebuah negara[1].

Pertama, we see DEMOKRASI dulu, jika mayoritas rakyat Jogja menginginkan Sistem yang demikian, lha mbok yo dipersilahkan, toh selama ini Jogja adem ayem toto tinentrem gemah ripah loh jinawi . mossok kudu ngenekno referendum?.

Baca Juga:   Goodbye Loris Capirex" Capirossi, welcome Simoncelli

Bandingkan penanganan bencana gempa bumi 2005 antara korban yang di Jogja dan di Klaten. wiss nggak usah jauh-jauh, Bencana Merapi yang barusan saja…. pengungsi yang di daerah kerja DIY, lebih terjamin daripada yang di Boyolali, Klaten dan Magelang….wah, yo ra iso ngono no bandingane. OK, mari kita lihat sejarah panjang per-Kraton-an.

Meski tunduk pada Belanda, sejatinya Sultan-sultan Jogja tetap berkuasa penuh pada wilayah dan rakyatnya. Belanda hanya menaklukan Sultan secara simbol, tapi tidak secara de-facto. Untuk lebih mengawasi Sultan Jogja, dibangunlah benteng Vrederburg tepat di depan Kraton….kasarane, macem-macem tak dor! :mrgreen:

Perlu diketahui Kraton yang sekarang pun juga didirikan setelah Kraton yang lama (Komplek Tamansari) hancur lebur dihujani meriam Inggris…Sejarah perang Jogja itu panjang lho, termasuk perang melawan Inggris juga

Baca Juga:   Ditangkap, Serda Wira Sinaga Diborgol Kaki Dan Tanganya Di Penjara

Saat tegaknya NKRI, saat dimana Soekarno gamang, karena banyaknya kraton di Indonesia yang malah mendukung status quo (baca: pro pemerintahan Belanda) 😀 diantaranya adalah Kraton Kasunanan Surakarta. Hamengku Buwono X malah membuat dekrit 5 september 1945 dengan mengatakan bahwa seluruh wilayah Kasultanan Ngayogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman….dengan suka rela menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia

Asal tahu saja…. Raja Kerajaan Luwu Sulawesi akhirnya terpaksa meninggalkan istananya untuk pergi bergerilya melawan Sekutu dan NICA untuk mempertahankan dekritnya mendukung Indonesia. Dan Sultan Hamngku Buwono IX berani ambil segala resiko itu plus sumbangan harta benda demi tegaknya NKRI…

Malah di zaman Jepang, Sultan berani pasang badan demi melindungi rakyatnya dari kerja paksa romusha, dengan alasan, bahwa kraton Jogja punya proyek bernama selokan Mataram sepanjang 30KM.

bersambung…

roda2blog di sosial media

6 Komentar

  1. Apapun alasannya, pak beye tdk ingin citranya turun gara2 penanganan merapi kemaren, makanya sri sultan ‘diobok2’…(kurang kerjaan wae)…

  2. Kata orang jogja : kami cinta indonesia, TAPI KAMI LBH CINTA JOGJA&KBUDAYAANYA. Ak orang sumatera tp ak cinta bngt sama jogja coz 4 thn ak prnh hdp di bumi mataram itu. Perjuangkan trus keistimewaan ngayogyakarta hadiningrat. Ak pribadi siap membela jogja..

Tinggalkan Balasan