Nge-fiqh (1): Hukum Makmum dan Imam berbeda Niat

sumber gambar: prasetyoalami.blogspot.com

Berdasarkan hukum untung rugi, jelaslah bahwa pahala sholat berjamaah yang berlipat 27 dibanding sholat sendirian bikin ngiler. Maka sudah sepatutnya jika kita bisa, kenapa nggak sholat berjamaah, kan enak rame-rame.

Naghh kadang ada juga yang niat pengen sholat jamaah, tapi ketinggalan rombongan. Pas udah nyampe, ehh udah bubar. Enaknya sih pas lagi begituan, pas ada temen juga yang siap diajak untuk sholat berjamaah, lha kalau tidak ada …

Bisa juga kita bermakmum pada seorang yang lagi sholat … eitttss, tapi kadang yang kita jadiin imam itu lagi sholat sunnah rawatib (ba’diyah) … padahal kita kan maunya sholat fardlu, Dlzuhur umpamanya … teruss gimana donggg

Baca Juga:   Nyamar Jadi Akhwat, Pria Ini Gadaikan Motor Rental Diciduk Polisi

Menurut Imam Malik dan Abu Hanifah, Sholat yang beginian tidak boleh. Wajib bagi makmum untuk mengulanginya serta menjadi kewajiban bagi yang akan dijadikan imam untuk memberi isyarat bahwa dia sedang sholat nafil (sunah).

Tapi menurut Imam Syafi’i, keadaan sholat yang beginian ini boleh saja.

Ada dua Hadist dan sebuah Atsar dari Muadz bin Jabal yang menyebabkan para imam diatas berbeda pendapat. Salah satunya pemahaman terhadap hadist yang terkenal, tentang niat.

Dimana setelah berhijrah, Rasulullah mengetahui bahwa niat beberapa sahabat yang berhijrah bukan karena mematuhi perintah Allah dan Rasulullah, Tapi ada yang motifnya karena ingin menikahi seseorang, ada karena ingin memiliki kebun kurma dan lain-lain, sehingga bersabda lah Rasulullah, yang artinya kurang lebih sebagai berikut:

“Setiap perbuatan karena niat, barang siapa berhijrah karena wanita yang ingin dinikahinya, maka baginya (hanya) wanita itu. Barang siapa berhijrah karena ingin harta, maka baginya harta. Dan barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasulullah, makanya baginya pahala yang tak terhingga”

Semua pendapat imam diatas tidak ada yang salah, monggo di pilih sukanya yang mana

Baca Juga:   3 Warna Baru Honda Supra GTR 150 

Semoga bermanfaat!

Sumber hukum: Kitab Bidayah wa Nihayatul Muqtasod (Ibnu Rusydi), Sunan As-Syafii (Imam Syafii)

roda2blog di sosial media

1 Komentar

Tinggalkan Balasan