Sejarah Never be 100%

Salah satu pelajaran yang menjadi momok selain Matematika adalah Sejarah. Hal yang menakutkan adalah menghafalkan tahun peristiwa, bahkan mungkin tanggalnya terus siapa pelaku dan korbanya lalu apa dakwaanya 🙄 . Substansi sejarah (mengenal masa lalu untuk membangun masa depan yang lebih baik) menjadi dilupakan.

Sejarah menjadi tekstual letterleg. Menjadi doktrin dan dogma yang  selalu di ulang-ulang dari bangku SD sampai SMA lalu menjadi sesuatu yang suci dan tidak terbantahkan. Padahal sejarah adalah ilmu yang masih mencari dan terus mencari.

Berbeda dengan sejarah bangsa China yang tertulis jelas di atas kertas sejak awal abad Masehi (Sejak Kertas pertama dibuat oleh Ts’ai Lun tahun 100 M). Sejarah Bangsa Indonesia terserak di atas prasasti, relief Candi, Nissan kuburan dan benda-benda arkeolog lain. Catatan resmi justru hadir dari luar negeri dan para pelancong di zaman itu.

Baca Juga:   Arab is not Islam #2: Kisah Kebiadaban Orang Arab pada Buruh Asing

Karenanya dibutuhkan korelasi  imajinatif  faktual untuk terus membaca dan menikmati sejarah. Ya … sejarah haruslah dinikmati dengan bumbu imajinasi berdasarkan fakta-fakta terbaru. Agar tumbuh kebanggaan betapa besarnya Bangsa Kita.

Sama seperti JUPe yang selalu dengan riang gembira menemani anak-anak didiknya mengunjungi situs-situs bersejarah sembari mendongeng, dan menyuruh mereka berkhayal … jika seandainya saat ini adalah saat dulu saat dimana kerajaan Mataram berkuasa … kamu ingin jadi apa?

Kalao JUPe jelasss … ingin jadi Rakai Pikatan yang sedang dikelilingi dayang-dayang cantik :mrgreen:

Ahi hi hi :mrgreen: ada Ibu Suri ternyata

roda2blog di sosial media

2 Komentar

Tinggalkan Balasan