Jangan Lagi Memaknai Bencana sebagai Musibah

Gempa dan Tsunami di Jepang kembali menegur akan keberadaan dan status kita sebagai makhluq biasa di muka Bumi ini.  Pada saat yang bersamaan, banjir bandang juga menimpa wilayah Aceh yang dulu juga pernah disapu Tsunami.

Manusia pun kembali menyadari ketidakberdayaanya dalam menghadapi kekuatan Alam. Dalam posisi titik terendah inilah, manusia umumnya baru akan merasa tentang keberadaan Sang Penguasa Alam. Menafikkan kekuatan berfikir yang selama ini dibangga-banggakan pada makhluq lain untuk tiba-tiba menjadi “bodoh” meminta pada sesuatu yang tidak nyata.

Hati kecil manusia dimana pun dan kapan pun, selalu menyadari bahwa mereka adalah makhluk terlemah yang membutuhkan perlindungan kuasa dari sang penguasa alam. Sayangnya, kesadaran ini sering terlupakan oleh penyakit lupa yang juga selalu ada.

Dalam lupa nya, manusia berbuat semaunya sendiri. Membunuh makhluk lain dan merusak alam, mereka lupa bahwa semuanya itu ada yang menguasai, melihat dan mengawasi. Yaitu, Sang Penguasa Alam.

Baca Juga:   Beli Honda Jazz, Ada Cicilan 800ribu Per Bulan

Saat terjadi bencana, sesaat mereka akan tersadar akan kelemahanya. Menangis dan berdoa memohon pada Sang Penguasa Alam. Ingat, hanya sesaat dan lupa akan perilaku mereka sebelum bencana itu terjadi.

Bangsa Jepang terkenal dengan perilaku lalimnya membunuhi paus-paus yang tidak bersalah di lautan. Dunia sudah berteriak memohon untuk menghentikan itu semua, tapi apa daya. Selama itu pula kita disuguhi kenyataan ribuan paus yang tidak pernah mengancam hidup kita, dibunuh dan dibantai.

Lalu apa salahnya jika Penguasa lautan  yang selama ini hanya menjadi saksi kebiadaban tersebut, marah dan mengirimkan Tsunami?

Bangsa Indonesia pun setali tiga uang. Kita telah mencatatkan rekor atas nama negara kita Indonesia, sebagai Bangsa yang paling cepat menggunduli hutan. Lalu salahkah jika Penguasa hutan yang menciptakanya mengirimkan balasan berupa banjir bandang?

Baca Juga:   Honda New Megapro Memakai Mesin 160cc ?

Sah saja jika kita mencoba membesarkan dan membantu korban bencana, tapi bencana harusnya juga menjadi koreksi atas perilaku kekurangan ajaran kita pada Alam. Jangan hanya dimaknai sempit sebagai musibah lalu diperkecil lagi menjadi resiko hidup di Planet Bumi.

Selama Bencana “hanya” dikonotasikan sebagai musibah, selama itu pula tidak akan ada evaluasi perilaku manusia pada Alam sekitarnya dan kepada Sang Penguasa Alam.

 

roda2blog di sosial media

8 Komentar

  1. sudah fitrah manusia menjadi perusak dan sudah fitrahnya bahwa alam semesta ini menuju ke kehancuran…makanya diutuslah “utusan2” Sang Penguasa untuk mengingatkan manusia…sayangnya hanya sedikit yang mau dengan ajakan tersebut 😀

  2. Benar sekali,manusia sering sekali sadar baru ketika musibah itu telah terjadi, namun sebelum itu mereka seolah lupa klo pengrusakan yang telah mereka lakukan tersebut akan berakibat musibah. Yah sedikit sekali manusia yang sadar akan lingkungan, kebanyakan mereka tidak memikir efek kedepan dari apa yang mereka perbuat sekarang. Dan bahkan ketika musibah itu terjadi mereka akan anggap hanya sebagai cobaan karna ketika kondisi itu pulih mereka kembali lupa akan pelestarian lingkungannya.

  3. bencana dan anugerah. satu hal yg berseberangan.
    bencana adalah segala sesuatu yg bisa mengantarkan kepada keburukan.
    dan anugerah adalah segala sesuatu yg bisa mengantarkan kepada kebaikan.

    motor bisa menjadi bencana jika dipakai untuk maling, maksiat, dll.

    motor bisa menjadi anugerah jika dipakai untuk mencari nafkah, menuntut ilmu, dll.

    musibah bisa menjadi bencana jika menyikapinya dengan berburuk sangka kpd Allah sehingga melakukan hal yg menjauhkannya kpd Allah.

    musibah bisa menjadi anugerah jika menyikapinya dengan berbaik sangka kpd Allah sehingga melakukan hal yg mendekatkannya kpd Allah.

    sedikit berbagi pemikiran..

Tinggalkan Balasan