Murabahah … alternatif selain Leasing

Menurut terminologi definisi Murabahah adalah akad jual beli antara calon pembeli dengan Lembaga/Bank Syariah dimana bank memfasilitasi pembelian suatu barang dengan imbalan menarik laba.

sumber gambar: sanggelombang.wordpress.com

Contohnya, si Ahmad pengen banget beli CBR250cc tapi cuma punya 5juta. Singkat kata bertemulah dengan si Bang Maman yang sanggup membelikan CBR250 CC non ABS seharga 40jeti, tapi setelah adanya tawar-menawar sepakatlah bahwa harga jual CBR250 non-ABS  dari Maman ke Ahmad 42 juta (selisih 2 juta sebagai laba Maman/profit margin) dengan pembayaran mencicil selama 24 bulan (42juta : 24 bulan = besar cicilan flat).

Begitulah ilustrasi pembiayaan Murabahah di Bank/lembaga keuangan syariah. Sekilas emang mirip dengan leasing, tapi … di mudharabah, konsumen tahu berapa total harga barangnya, dan berapa laba yang didapat oleh si lembaga, tidak langsung glodakkkkk asal nyicil.

Halal atau Haram? … yo jelas halal laghh, karena ini adalah jual beli dan sama-sama disepakati oleh keduanya, seperti firman Allah dalam al-Qur’an.

Kecuali jual beli yang dilakukan dengan saling rela.” (QS. An-Nisa’:29)

Tapi tentu anda harus berhati-hati dengan beberapa lembaga keuangan yang ngakunya memasang kata syariah, tapi profit margin nya nggak bisa ditawar, alias harus nurut karena sudah ditetapkan… biasanya terjadi pada beberapa BPR Syariah atau Koperasi Syariah yang nggak punya DPS (Dewan Pengawas Syariah)

Baca Juga:   Dual Shock Pulsar 135 LS ... bikin shockk!

Tapi, di beberapa Lembaga Keuangan Syariah Mikro tertentu, ada fasilitas penggratisan pembayaran profit margin, jika pinjaman dilunasi sebelum masanya. Contoh, klo ternyata si Ahmad pada bulan ke-12 si Ahmad sanggup membayar sekaligus sisa 12 bulan kewajibanya, (cicilan pokok per bulan 1,666,666 sedang cicilan margin 83,333) maka yang perlu dibayar hanya sisa cicilan  pokoknya saja. Tanpa perlu membayar margin bahkan penalti.

Contoh pembiayaan Mio Bekas saya untuk armada. Tahun 2010, harganya 8.000.000, dengan profit margin 2.100.000 dengan lama angsuran 15 bulan.

Tapi jika pada bulan ke 12 saya melunasi, maka total yang saya bayar cuma 9.680.000, karena bulan 13+14+15 hanya perlu dibayar pokok saja. plus dapet pengembalian CTR (semacam jaminan) senilai 240.000. Jadi total harga si Mio rondo cuma 9.440.000. Kok bisa murah?, karena yang punya BU CPT BGT.

Baca Juga:   Fitur wajib Sepeda Motor India

roda2blog di sosial media

30 Komentar

  1. contohnya terlalu baik. mana ada leasing yg ngaku syariah itu mau cuma dapat laba 2jt.
    mohon jgn jual angin surga.

    btw kalo berdasarkan
    “Kecuali jual beli yang dilakukan dengan saling rela.” (QS. An-Nisa’:29)

    orang2 yg ambil motor di leasing biasa jg saling rela

  2. sory,nimbrung dixit yach.memang yang di katakan amama ali ada benarnya.ane dua kali pinjam duit,tapi melalui bank.satu 10jti dan satu 5jti.buat keperluan rumah tangga.yang enak di bank tuch kalo kita bisa melunasi sebelum waktunya,kita tidak terkena bunga pinjaman.hanya cicilan pokoknya saja yang di bayar.dan alhamdulillah karena karunia rezeki dari alloh.saya bisa melunasinya lebih cepat tanpa harus membayar bunga,hehehehehehe 😆

  3. oh ya boz amama ali,setau ane di bank pemerintah pun atau bank bumn seperti mandiri atau bri,bisa juga ko’ pake system seperi ituh.lumayan loh bunganya juga aga’ rendah,cmiiw.

    • jgn bilang bunga. ntar haram lho. pake istilah profit margin aja. walaupun nanti kalo nunggak, debt collector jg yg datang.

      copy paste lagi :

      Depositor menyimpan uangnya di bank yg oleh bank kemudian diberikan kpd para pebisnis dg imbalan pembagian keuntungan (atau kerugian). Keuntungan (atau kerugian) ini disalurkan pada depositor. Bunga mungkin dilarang, TAPI keuntungan tidak. Jadi apa perbedaan antara bunga dan keuntungan ?

      Kunci perbedaannya adalah : bunga itu tetap dan pasti, sedangkan keuntungan bisa naik atau turun, tergantung iklim bisnis. Jadi makin sukses suatu proyek, semakin banyak bank akan mendapat untung dan menyalurkan keuntungan ini ke depositor. Ini disebut Profit/Loss Scheme (PLS) dan dianggap adil menurut para cendekiawan muslim. Tidak membagi keuntungan dengan bank dan depositor dianggap tidak adil.

      Tapi, rencana ini punya kelemahan besar. Ingat, semakin tinggi keuntungan, semakin tinggi resikonya. Cacat yg utama adalah bank dan depositor harus membagi risiko dari kegagalan proyeknya, yg mana dalam kasus yg terburuk bisa mengakibatkan hilangnya seluruh simpanan. Depositor itu bisa jadi seorang pensiunan yg tidak mau mengambil risiko. Dia cuma ingin yakin uangnya aman dan cukup puas dg keuntungan (dg kata lain ‘bunga’) yg kecil dari simpanannya dibank.

      Jika dia rela mengambil risiko tinggi dg harapan mendapat keuntungan besar, sudah ada instrumen lain bagi penanaman uangnya itu. Dia bisa membeli saham secara langsung atau melalui trust funds. Jika dia pikir George Bush akan berperang melawan negara2 Poros Setan, dia dapat membeli saham perusahaan kontraktor pertahanan seperti McDonald Douglas. Jika dia pikir masyarakat semakin doyan sex dan perbuatan maksiat, dia bisa membeli saham pabrik kondom.

      Jadi bagi klien yg ingin keuntungan tinggi, Islamic banking mubazir saja karena klien2 ini sudah terlayani dg baik oleh sistim perbankan lain. Dan bagi mereka yg hanya ingin menyimpan jumlah uangnya dan cukup puas dg suku bunga rendah, Islamic bankingPUN tidak mampu melayani kebutuhan mereka.

      Kenapa ? Karena bagi klien2 ini, lebih aman menyembunyikan uang mereka dibawah bantal agar modal mereka tetap utuh karena Islamic banking tidak dapat menjamin bahwa jumlah modal mereka akan tetap ! Kelompok orang ini cuma perlu keluar duit uang utk membeli racun atau perangkap tikus agar lembaran uang mereka dibawah bantal itu tidak dilahap tikus. Entah kenapa, islam cenderung membawa orang2 kembali ke abad 7. Jangan heran !

      Masalah lain dg PLS adalah bahwa : pebisnis lihai yg meminjam duit dari sebuah islamic bank akan ENGGAN utk melaporkan keuntungannya kpd bank tsb. Lebih untung baginya utk melaporkan sebuah kerugian. Dg cara itu, ia tidak perlu membagi keuntungannya dg bank.

      Dapatkah kau lihat ironinya? Dibawah sistem keuangan kafir, manajer yg serakah dan curang melaporkan keuntungan saat mereka sebenarnya rugi, jadi mereka mendapat uang dari pembagian keuntungan tsb.

      Dibawah sistem keuangan dunia Islam yg menakjubkan ini, pebisnis curang akan mencoba melaporkan kerugian, saat sebenarnya mereka untung. Ini dapat dilakukan dg sedikit hitung2an akunting. Saya kasih contoh sederhana.

      Misal pemilik perkebunan korma perlu uang utk membeli tahi onta utk pupuk. Bank meminjamkan uang dg imbalan pembagian keuntungan. Dia pakai uang itu utk beli tahi onta dari pedagang tahi unta yg sebenarnya iparnya sendiri dg harga yg ditinggikan. Ini akan menaikkan biaya2. Dia tidak mendapat keuntungan dari penjualan kormanya karena dia membeli tahi kelas F (menurut laporan akuntingnya) dan bukan kelas A. JADI dia tidak berhutang pada bank, karena perkebunannya rugi, PADAHAL ia bagi uang itu dg iparnya.

      Ngertikah kau sekarang ?

      Nah, untuk mencegah penipuan macam ini, setiap islamic bank harus punya pengetahuan mendetail mengenai bisnis yg mereka masuki dan punya peran dalam manajemennya. Dalam kasus ini, bank harus mampu membedakan tahi kelas A dan tahi kelas F. Dalam praktek, hal ini mustahil dilakukan oleh bank ! Bahkan jika mereka bisapun, mereka tidak punya tenaga manusia utk mengawasi keputusan2 manajemen. Dalam sistem bank konvensional, bank biasanya tidak terlibat dalam manajemen perusahaan.

      Trik Akunting lainnya yg dapat dilakukan utk mengurangi nampaknya keuntungan adalah sbb:

      1) Early recognition of expenses. Pengakuan dini akan pengeluaran
      2) Late recognition of revenues. Pengakuan lama akan keuntungan
      3) Change from FIFO accounting to LIFO accounting
      4) Shortened amortization/depreciation periods Amortisasi/periode depresiasi yg lebih pendek
      5) Reporting bogus revenues. Etc Melaporkan keuntungan2 palsu …

      Dalam praktek, bank2 islam sadar akan masalah rawan ini. Sebuah laporan dari the Institute of Islamic Banking and Insurance menyatakan:

      “Ketika merancang sebuah sistim alternatif bagi bunga bank ini, disadari bahwa sistem PLS ini mengandung risiko dan bahaya serius bagi islamic bank karena kecenderungan yg meluas dalam praktek2 akunting yg tidak etis utk menyembunyikan keuntungan yg sebenarnya …”

      Dalam prakteknya, kebanyakan yg disebut islamic banking tidak benar2 didasarkan pada sitem PLS. Karena depositor dan bank tetap saja mendapat fixed return/kembalian uang yg tetap dari uang simpanan mereka. Instrumen2 keuangan yg umum itu adalah:

      1) Muradaha (Cost-plus sale).
      2) Deferred payment sales
      3) Purchase with deferred delivery
      4) Leasing
      5) Loans with a service charge

      Yg paling penting adalah Muradaha. Cara kerjanya: Bank, atas permintaan klien, membeli sejumlah barang dan menjual barang tsb kpd kliennya dg keuntungan tetap/fixed profit (baca: bunga) tanpa melihat sukses atau gagalnya bisnis si klien. Pembayaran dapat sekaligus atau beberapa kali dalam sekian tahun. Risiko satu2nya bagi bank adalah jika klien tidak menghormati perjanjian utk melunasi hutangnya itu – yahhh, sama seperti bank konvensional.

      Walau bisnis kliennya untung atau tidak, dia berhak utk meminta “keuntungan” tetap. Jadi, intinya tidak ada perbedaan dg sistim keuangan konvensional. Sama juga dg instrumen2 bank lainnya. Seluruh islamic banking sebenarnya adalah ‘penipuan diri.’

      Cendekiawan muslim, Hakim Taqi Usmani berkata:
      “Islamik bank memakai instrumen Muradaha dalam rangka kerja standar seperti LIBOR (London Interbank Offered Rate) dll. dimana hasil bersih tidak berbeda dari transaksi yg berdasarkan bunga.”

      Dia menambahkan:
      “Saat orang2 sadar bahwa hasil bersih transaksi dalam islamic bank sama dg transaksi dg bank biasa, mereka akan ragu2 atas fungsi islamic bank. Dg begitu, sulit utk menjual konsep islamic banking kpd klien, khususnya non-muslim yg merasa bahwa ini cuma pelintiran/kebohongan dokumen2 saja.”

      Dg jujur pula, Institute of Islamic Banking and Insurance menulis:
      “Kalau masalah ini berkelanjutan, banyak muslim akan meragukan feasibility, praktek dan kegunaan dari ‘Islamic Banking” meskipun sebenarnya kesalahan ada pada kita & bukan pada sistemnya.”

      • Faktanya, LDR bank syariah bisa menyentuh angka 100% sedang Bank konvensional terbesar aja, LDR-nya cuma 70% … welll, jadi kira-kira siapa yang lebih diminati dalam pembiayaan? 😆

      • jika dilihat sepintas memang bank syariah lebih diminati.. masalahnya, bank syariah gak gencar promosi.. masyarakat banyak yang gak tahu..
        hasilnya: bank konvensional lebih banyak peminatnya..

  4. oh ya satu lagi,kalo ingin lebih mudah mendapatkan fasilitas kredit di bank,ada baiknya terlebih dulu membuka rekening tabungan di bank tersebut.biasanya setau ane di setiap bank juga ada system peminjaman kredit mikro baik untuk keperluan rumah tangga atau untuk keperluan lainnya.cmiiw

  5. Bener banget artikelnya..
    Apalagi lembaga syariah yg dah ikutan jawara dinar. yg dijamin dengan fisik dinar. Tikus2 inflasi ga ngaruh ke duitnya heh
    Untung atau rugi ditanggung bersama kan sudah akad.
    Masa bodo aja yg mo bilang kembali ke abad ke 7.

  6. Bedanya di Akad. Ada kejelasan didalamnya,
    Ga usah sinis ama syariah..

    Nikah ama kumpul kebo juga bedanya diakad aja..
    hehe kembali kemasing2 aja…. pisss

    • kalo tidak jelas, itu minjem ama renternir. loe kira bank2 konvensional itu gak taat pada aturan BI ?

      analogi yg aneh & ujung2nya jualan

      • Hehe larinya ke jualan. Sinis amat Om.. piss
        Ga usah panas dingin gitu denger kata syariah. Nyante aja napa.. Pinjem ama rente juga jelas tuh dikasi bunga berapa. ntar bunga berbunga. ujung2nya kaget kayak sekjen PPB 😀

  7. Amama Ali

    April 2nd, 2011 at 11:50
    Faktanya, LDR bank syariah bisa menyentuh angka 100% sedang Bank konvensional terbesar aja, LDR-nya cuma 70% … welll, jadi kira-kira siapa yang lebih diminati dalam pembiayaan?

    ————————-

    gak urusan dgn siapa yg lebih diminati. tapi yg jelas lembaga syariah2an ini cuma mamanfaatkan kata syariah yg ditujukan kepada orang Islam, sehingga orang2 Islam akan merasa berdosa kalo tidak menggunakan jasa lembaga syariah2an mereka.

  8. Kalo udah nyentuh syariah koq jadi lebih panas dari bakar2an FBH & FBY… ;p
    Tetep suarakan dengan adem bro, jangan kepancing…

  9. Rajin aja menabung kalo pengen beli motor cash. Ga kredit. Cuman duit tabungan selalu menyusut nilainya gara2 tikus inflasi ga ketutup ama bunga bank 😀
    Salah satu solusinya nabung pake mata uang yg tahan terhadap inflasi malah nilainya selalu naek ngikutin nilai intrinsik
    nabung pake dinar aja
    http://jawaradinar.com/
    Hehe buat yg sinis tuh bukan jualan cuman informasi komunitas yg mempraktekan muamalah secara syariah..
    Ga usah sinis dan panas dingin gitu denger kata syariah..
    Piss.. ah …:D

Tinggalkan Balasan