BANDARA KAIMANA Lebih cocok CN-235 daripada MA-60

CN-235 Spanyol

Menurut kompas.com … Prosedur pendaratan di bandara kaimana memang cukup unik … klo nggak boleh dibilang sulit. Di sebelah kiri landasan pacu terdapat gunung yang cukup tinggi. Pesawat dari Sorong harus naik ke atas melewati gunung tersebut dan melintasi landasan pacu. Kemudian pesawat harus belok ke kiri untuk menempatkan posisi pendaratan di Runway 01.

Naghhh … sekarang coba andaikan pesawat rombeng MA-60 juga dilengkapi “Fly by Wire” seperti CN-235. Pasti tugas pilot lebih mudah.

Karena saat membelok, system fly by wire akan secara otomatis mengenali medan, cuaca dan mengabaikan perintah pilot dengan tujuan supaya belokannya bisa enak, tidak stall, atau membahayakan struktur pesawat

Dengan sistem kendali yang bisa berpikir ini, kerja pilot menjadi lebih ringan, seumpama akan belok, maka pilot akan belok saja, tidak perlu memikirkan berbagai informasi secara detil, kalau belokannya terlalu bahaya, maka fly by wire akan mengkoreksinya secara otomatis.

Kurang apa lagi?!? … kurangnya … beli “Made in Indonesia” itu nggak ada untungnya buat saku korupsi 😈 

Pikiran jelek saya (padahal gak boleh suudzonya 😆 ) mungkin yang beli pesawat rombeng MA-60 ini punya pikiran rasis …. begini :mrgreen:

“Halah, lha wong pesawatnya untuk daerah Papua yang tertinggal aja, gak apa-apalah jelek sekalian untuk ngurangin penduduk … kan masih lebih penting proyek listrik PLTU 10.000 mega watt untuk pulau Jawa.” 

Sekarang kita tunggu beranikah pejabat terkait terutama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro bertanggung jawab, secara dia paling “gatel” dengan proyek PLTU 10.000 mega watt yang tersendat gara-gara ulah JK dan Direksi Merpati yang mencoba membatalkan … termasuk juga presidenya tuh

roda2blog di sosial media

17 Komentar

  1. “Halah, lha wong pesawatnya untuk daerah Papua yang tertinggal aja, gak apa-apalah jelek sekalian untuk ngurangin penduduk … kan masih lebih penting proyek listrik PLTU 10.000 mega watt untuk pulau Jawa.”

    hiiy..pak mentri kezam ‘kali, pan penduduk Indonesia juga manusia pak, koq begitu kalimatnya…kualat lho pak 😛

  2. Maaf gan…klo begitu fly by wire itu mirip autopilot yah? Terus teknologi Aprilia RSV4 ride by wire itu berarti mirip autorider yah…. :mrgreen:

  3. “Halah, lha wong pesawatnya untuk daerah Papua yang tertinggal aja, gak apa-apalah jelek sekalian untuk ngurangin penduduk … kan masih lebih penting proyek listrik PLTU 10.000 mega watt untuk pulau Jawa.”

    yg naik juga bukan orang papua bos,,,

  4. bener bro, aneh negeri ini. bangga udah bs bikin pesawat sendiri kok diacuhkan. syg bgt.. N250 pun gagal, medan irian emang ganas, diperlukan pembangan sistem tranportasi sesuai geografis.

  5. Bukannya CN235 belum dilengkapi dengan fly by wire? Kalo ga salah, pesawat baling2 pertama yang dilengkapi dengan sistem itu adalah CN250 yang belum diproduksi secara massal.

  6. Pemerintakita pinter bodoh udah kita bisa bikin pesawat malah beli pesawat dari cina bukan cinta produk anak bangsa kapan mau maju bangsa ini kalau made in anak bangsa ga di hargai gua doain buat para pejabat cepat ingsap sblm ajal menjemput. :devi: parakoruptor

  7. Pemerintakita pinter bodoh udah kita bisa bikin pesawat malah beli pesawat dari cina bukan cinta produk anak bangsa kapan mau maju bangsa ini kalau made in anak bangsa ga di hargai gua doain buat para pejabat cepat ingsap sblm ajal menjemput. :devil: parakoruptor

  8. Adapun pesawat Wings Air dari Ambon juga terlambat mendarat. Begitu cuaca mulai baik dan setelah menunggu satu jam, semua pesawat berangkat lagi. Terbatasnya fasilitas di Bandara Utarom, atau hampir kebanyakan bandara di wilayah Papua, menyulitkan pendaratan pesawat. Minimnya fasilitas itu antara lain tak adanya lampu landasan yang berfungsi memandu pesawat mendarat.

    http://www.koransuroboyo.com/2011/05/secara-teknik-ma-60-lebih-unggul-dari.html
    – Kondisi teknik pesawat Merpati MA-60 masih lebih unggul dibanding jenis Fokker dan CN 235. FREDY NUMBERI Menteri Perhubungan seperti dilaporkan JOSE reporter Suara Surabaya, Minggu (15/05), mengatakan, pesawat Merpati MA-60 yang jatuh di Teluk Kaimana Papua secara teknis sudah memenuhi syarat.

    http://www.tempo.co.id/hg/nasional/2005/07/21/brk,20050721-64196,id.html
    “Pesawat lose power pada ketinggian sekitar 25 meter sebelum menyentuh landasan,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI-AU Marsekal Pertama Sagom Tamboen kepada Tempo melalui telepon.

Tinggalkan Balasan