Dasar Kamprett, KBRI Dunia ARAB

Miris baca berita di kompas.com, seorang TKI dipancung dan sekali lagi alasan klasikk KBRI setempat adalah

“gue gak diberitahu sama kepolisian setempat!” alasan yang dulu juga sering saya dengar di ujung telepon. 😈

Alasan kampret yang dibuat-buat. Selama saya bekerja sebagai penerjemah di Kantor Kepolisian Doha-Qatar selama 1,5 tahun. Rekan kerja saya asal Filipina, Sri Lanka, India dan China cukup sering bertanya ke saya

“Ehhh di Doha (ibukota Qatar) ada Indonesian Embassy gak sih?”

Ya wajarlagh mereka bilang begitu, karena perwakilan dari setiap embassy (kedutaan) yang saya sebutkan tadi. Selalu hadir di kantor kepolisian tiap hari Kamis (hari kerja terakhir) dan hari Minggu (Awal Pekan) untuk mengecek kondisi tahanan dan memfollow up setiap perkembangan persidangan.

Lha kok sampeyan tahu mas Bro? … lha yo jelas tahu, lha wong kerja saya dulu di bagian pemberkasan Perkara dan eksekusi keputusan kejaksaan dan kehakiman … 

bahasa kerenya الارشيف و متابعة الاحكام  😳

Karena bebal-nya wakil pemerintah kita di Doha-Qatar, pemerintah Qatar sampai mendatangkan para penerjemah seperti saya di tiap-tiap lembaga Hukum. mulai dari kepolisian, kejaksaan sampai pengadilan. naghh kurang apa coba baiknya kerajaan Qatar ini… untung di gue juga sih :mrgreen: tapi makan hati 🙁

Naghh berhubung tingginya biaya hidup di Qatar dan adanya kesenjangan gaji antara local staff KBRI (non PNS) dan home staff KBRI (PNS Deplu) kinerja mereka jadi mawutt (pernah dibongkar di kaskus.us). Selalu saja lempar sana-sini klo ditelpon, padahal saya telpon hanya sekedar pemberitahuan … bukan nagih hutang :mrgreen: parahnya, para Home Staff selalu sukses dikadali sama pegawai kontrak local staff … lha jelas, lha wong local staff lebih tahu medannya

Baca Juga:   Akankah YAMAHA YZF r250 turun tangan?

Dan yang pualing parahh, ada locak staff di KBRI Doha yang bekerja sama dengan PJTKI nakal. Mulai dari memberi doktrin Undang-undang ketenagakerjaan palsu sampai menjual para TKW dalam akadnya … nggak tahu apakah si sampah itu sudah dipecat atau belum? … yang lebih memuakkan lagi, itu orang senior saya di pesantren.

kata Muhaimin Iskandar sang menteri somplak (maaf bukan SBY ternyata) … yang gagal dari total migran workers itu kan hanya 1-5%. Hwadoohh, persis karo lambene Din Samsudin … pernah saya tulis disini (klik). sobek-sobek san 😈

Bukan masalah besaran gagal sukses, tapi perlindungannya itu lohhh. Contohlah Filipina, kenapa mereka bisa total protect pada para pahlawan devisa. Tapi kenapa kita enggak?

ini berita di kompas.com

KBRI Tak Diberi Tahu Ruyati Dipancung

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Indonesia melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tene menyampaikan kecamannya terkait eksekusi mati TKI di Arab Saudi. Menurut informasi, Ruyati binti Sapubi dihukum mati, Sabtu (18/6/2011), setelah mengakui perbuatannya membunuh seorang wanita asal Arab Saudi pada 2010.

Baca Juga:   Guyub Rukun PCX Fun Rally di Kota Jogja

“Tanpa mengabaikan sistem hukum yang berlaku di Arab Saudi, Pemerintah Indonesia mengecam bahwa pelaksanaan hukuman mati terhadap Ruyati tidak diinformasikan kepada KBRI kita di Riyadh sebelumnya,” kata Michael di Jakarta, Minggu.

Dia menjelaskan selama ini KBRI di Ryadh mengetahui kasus yang dialami Ruyati dan sudah mencoba dengan berbagai cara melindungi TKI tersebut, baik mendampinginya selama mengikuti persidangan maupun mengusahakan untuk mendapat pengampunan dari keluarga korban. Namun, kata Michael, KBRI Riyadh sama sekali tidak diberi tahu mengenai waktu eksekusi Ruyati.

“Eksekusi tersebut dilakukan tanpa mengindahkan praktik internasional yang berlaku terkait dengan hak tahanan asing untuk mendapat bimbingan kekonsuleran,” kata Michael.

Dia menambahkan sebagai respons atas kasus ini, maka Pemerintah Indonesia dalam waktu dekat akan melayangkan surat kepada Duta Besar Arab Saudi di Indonesia yang berisi mengenai sikap pemerintah terhadap eksekusi Ruyati. “Dalam waktu dekat kita juga akan memanggil Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi untuk melakukan konsultasi bersama atas kasus ini,” kata Michael

roda2blog di sosial media

22 Komentar

  1. Semoga ini yg terakhir mas, n buat keluarga yg ditinggalkan diberi Kesabaran n Alm Ruyati mendapat tempat yg Layak disisiNya, amin…

  2. Prihatin sangat t t
    Tulisan ini reliabilitasnya tinggi, krn ditulis oleh yg mengetahui situasi lapangan. :salutto:

    Btw dulu ma’had dmn masbro?

  3. KBRI & Pemerintah lemot!!!

    untuk sementara, tahan nafsu untuk jadi TKI, sampai pemerintah & KBRI benar2 bisa memerikan perlindungan bagi yang berangkat. Pahlawan devisa kalo pulang tinggal nama, trus mau apa???

  4. kalo menurut pandangan saya, jangan langsung menyalahkan local stafnya, dilihat dulu kinerja dari home staff itu sendiri berkompeten atau tidak, menguasai situasi atau tidak,

    karena lemahnya pengawasan dari home staff di kbri doha maka tidak dipungkiri akan terjadi hal-hal diluar dugaan pada bawahan (local staff) itu sendiri…..

    pendapat saya adalah kiranya deplu kalau mengirimkan para diplomatnya ke luar negeri yang sudah bisa siap pakai dan lebih bagus lagi menguasai bahasa setempat agar tidak dibodohi local staffnya…

    kasihan saya melihat hal ini pada lembaga ini…

    nb:
    home staffnya yg bego.. local staffnya terlalu pinter…

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Kata JUPe Soal TKW? « RODA 2 BLOG
  2. Ingin Tahu Kisah Nyata Kehidupan TKI di Luar Negeri? Baca Ini Dulu | UNTAIAN MAKNA

Tinggalkan Balasan