@Fatwa MUI: MUSLIM KATARIS VS ULAMA ROMAWI

what different between these? (ulama vs politician)

Dalam sejarah perjalanan perkembangan Agama, selalu ada fase dimana pemuka Agama berdekatan dengan kekuasaan yang pada akhirnya malah membawa kehancuran bagi perkembangan si Agama dan pembangkangan umat pada imam-imam mereka.

Hindu, Budha, Yahudi, Katolik semua sudah mengalami fase tersebut dan sekarang umat Islam sedang menghadapinya. Sejarah perang Salib Eropa antara Kekuasaan Paus di Roma melawan Kaum Kataris di Perancis adalah contoh nyata.  Pertarungan antara umat agama yang sudah muak dengan perilaku imam agama yang bergelimang kemewahan dunia. 

Saat utusan resmi Paus datang ke Perancis membujuk kaum Kataris untuk kembali ke pangkuan kepausan. Jawab kaum kataris cukup simpel:

“Lepaskan jubahmu, atau tinggalkan khotbahmu?” … klo sekarang mungkin, “lepaskan Jasmu sebelum khotbahmu?”

yaaghhh, kemewahan para pemuka Agama selalu membawa kemuakan bagi penganutnya, termasuk juga bagi umat Islam.

Kalau kemudian fatwa MUI (dan ormas lain) selama ini ora digugu oleh umat, ya jelass wajar saja. lha wong perilaku mereka jauh dari gambaran sikap seorang pewaris Nabi.

Baca Juga:   Yamaha R15 Prothol Berantakan Setelah Tabrak Truk Pasir

Nabi rela menahan lapar karena emang umatnya banyak yang menahan lapar. lha sedang mereka, membahas nasib umat yang sedang kelaparan di hotel berbintang? … opo masuk dan merasuk! padahal kan kalau mau nginep di masjid bisa pake “tiket” iktikaf 😉 gratiss, dapet pahala lagi … mossook arep ngeyel ora level?!?

Mengeluarkan fatwa setelah datang diundang oleh si peminta fatwa. Padahal dalam sejarah, biasanya seorang ulama besar pantang untuk diundang dan datang ke istana. Apalagi sampe datang ke suatu jamuan lha terus ngasih fatwa sesuai dengan kemauan si penyaji jamuan … datangnya rombongan lagiii 😀

Saya mungkin agak mulai setuju dengan statemen kawan penulis dari Jogja, Mr. Dwi Suwiknyo. Bahwa selama ini paradigma keislaman Indonesia terlalu sempit karena segala sesuatu selalu dilihat pake kacamata fiqh yang berorientasi halal-haram. Lha mbok sekali-kali cara lain?!

Yaghhh semoga sebelum mengeluarkan fatwa, para ulama di MUI sudah mengaji kitab ini:

Baca Juga:   Waspada, Sebuah PowerBank Meledak

Economy n Islamic Financial on the Islamic state by Prof. Muhammad Mara’i (a diggest of Taxation Book of Abu Yusuf)

Tentang opo kui kitab?, terjemahannya sudah mejeng di rak-rak buku terkemuka di kota anda :mrgreen:

intermezo: sebenarnya kemana arah tujuan para ulama yang menahkodai lembaga maupun ormas-ormas keagamaan di Indonesia. Meski bukan agama resmi negara (hanya diakui), tapi potensi umat islam itu sangat besar. Tidak miskin seperti yang di-image-kan selama ini …. lha wong ormas-nya kaya-kaya, lihat aja biaya arena muktamar yang bermilyar-milyar demi memilih seorang amir, hebat to?

Nahdlotul Ulama atau Nahdlotul Uang … Muhamadiyah atau muhamma-uang … Kebangkitan Ulama atau Kebangkitan Uang … Seperti Muhammad atau Mementingkan Uang ? (ini dulu ucapan Romo Kyai Warsun dari krapyak Jogja lhoo)

Majelis Ulama Indonesia atau Majelis Uang Indonesia? :mrgreen: (klo ini asli dari saya)

roda2blog di sosial media

18 Komentar

  1. Heheheh…menyentil sekali mas, tapi emang bener, yang namanya fungsi keagamaan tidak bisa sejalan dengan dunia politik, kalo nekat mo berdampingan biasanya salah satu akan kejeblos…dan akhirnya ya seperti ini…dikit2 diharamkan…lha opo tho rek!

  2. Y wislah.sbg orang bodoh yg kurang mengerti agama saya cuma bisa manut beliau2..
    Manut/taat,sebuah kata yg sangat susah diterapkan pd jaman sekarang.kalah sama reformasi,revolusi,rebel,berontak..

  3. trus orang awam harus ngikutin sapa? gak semua orang semengerti sampeyan tho?

    ada orang2 yang gak bisa menentukan jalannya sendiri, perlu dipapah dan diberi rambu yang jelas….

  4. ini terjadi karena ketidaktegasan pemerintah kita pada masalah subsidi premium ini…..semua peraturan dibikin ngambang…dengan interpretasi antar warganya yang berbeda – beda…..

    • agama yg mana dulu yah? xixixixi

      mang agama cuma satu??

      lebih baik asas Ketuhanan (semua agama toh Tuhannya sama) dan berlandaskan nilai dan norma yang ada di masyarakat, tu lbh baik drpd berlandaskan satu agama aja dan agama lain tertindas.

  5. Wah,tulisan ini tujuannya apa?membuat rakyat indonesia tidak percaya lagi pada ulil amri nya (ulama-ulama kita)?saat umat sudah merasa sinis dg ulama,mereka akan cenderung menjahui agama,itu yg situ mau?bahaya pemikiran situ bro..
    apakah situ merasa lebih baik dr semua ulama yg ada di MUI,NU,Muhammadiyah,&ormas islam lainnya?smp situ dg gampangnya merendahkan beliau2? Taubatlah..

Tinggalkan Balasan