Refleksi 17-an: Perang itu menghasilkan Nasionalisme sempit

Bagi generasi yang lahir di orde baru, pasti akrab dengan film-film heroik tentang perang kemerdekaan. Ada janur kuning, kereta terakhir, joko sembung, jaka petir, si buta dari goa hantu, samson dan lain-lain. Seringkali digambarkan betapa kejamnya Pemerintahan penjajahan Hindia Belanda.

Tapi anehnya, mbah kakung saya selalu ngomong. Film bohongan kok ditonton!. Waktu masih kecil, petuah beliau itu tidak terlalu saya gugu, tapi setelah sekarang mengajar sejarah. Tiba-tiba saya teringat kembali petuah itu. Apalagi setelah nonton bareng Janur Kuning bareng anak-anak didik.

For Who we got war? … For What that war? … n what freedom for?

Benarkah perang kemerdekaan selama 1945-1949 itu murni keinginan rakyat untuk merdeka, untuk damai dan untuk sejahtera?. Benarkah selama masa penjajahan Belanda kita itu ditindas, miskin dan tidak sejahtera? …. Benarkah Belanda tidak pernah berusaha memakmurkan Hindia Belanda?, Benarkah Belanda tidak membangun untuk Nusantara?

Dalam film Janur Kuning, jelas terlihat siapa yang diburu Belanda. “Republik”!, yup, hanya orang-orang yg pro republik yang diburu, dan siapa mereka? … Mereka adalah yang pro-Soekarno.

Baca Juga:   Awal Tahun Meriah ala Astra Motor Yogyakarta, Beli Motor Honda Bisa Bawa Pulang Emas dan Skutik Premium

Bila memang Belanda memerangi seluruh komponen rakyat Indonesia, kenapa setelah sukses menangkap seluruh elemen eksekutif Republik Indonesia, Belanda tidak menangkap elemen (Raja dan Patih) pemerintahan Kasultanan ngaYogyakarta yang jelas-jelas telah membiayai berdirinya Republik Indonesia.

Ahh sudahlah … pada akhirnya, toh kita tetap dijajah pajak. Klo dulu dipungut Belanda, sekarang dipungut pemerintahan kita sendiri. sama saja to?

Yang disayangkan, perang kemerdekaan itu bermuara pada sempitnya dalam memaknai Nasionalisme. Seharusnya kita bercermin pada rakyat Thai.

Mereka sadar, bahwa mereka tertinggal dalam Industri otomotif. Percuma untuk mengejar dengan membuat merek sendiri. Lebih baik kemampuan digunakan untuk didayagunakan di lahan pertanian dan perkebunan.

Biarlah Otomotif tetap dikuasai Asing, asal pabriknya tetap di tanah Thai, pekerjanya juga orang Thai, pada akhirnya kemakmuran juga untuk orang Thai yang bekerja disana, daripada menjadi buruh pabrik di tanah orang.

Baca Juga:   Jangankan Jumlahnya, Bahkan Jenis Rudal Yang Dibawa Kapal Selam TNI pun Tak Boleh Bocor

Sedangkan pertanian dan perkebunan bisa maju pesat didukung para ilmuwan dan menjadi prioritas.  Lalu menjadi kebanggaan negara dan identitas negara dalam dunia global. Jeruk Bangkok, Ayam Bangkok, Mangga Bangkok, Durian Bangkok … dan entah kapan Jeruk Pontianak, Pisang Ambon, Durian Petruk bisa mendunia.

Lalu dimana identitas Indonesia setelah lebih dari 60tahun menang perang?. Selalu berteriak motor-mobil Nasional tapi toh akhirnya menyerah juga. Anti pada investor asing yang berniat membuka lapangan kerja di Indonesia tapi juga nggak suka klo saudara sebangsa di ekspor jadi babu ke luar negeri … lha terus arep dikon mangan opo?

Sektor pertanian? …. persis seperti semut yang mati di kandang gula.

Note: Sengaja tanpa foto, karena dengan foto hanya mempermalukan tata kota pemerintah kita dibandingkan tata kota Belanda.

12 Komentar

  1. “..Anti pada investor asing yang berniat membuka lapangan kerja di Indonesia tapi juga nggak suka klo saudara sebangsa di ekspor jadi babu ke luar negeri … lha terus arep dikon mangan opo?…”

    xixixixixixixi….itulah bangsa ini…banyak maunya…yah kalau mau ditulis penyebab gak majunya RI ini…gak muat satu page….sepertinya memang harus keluar dari RI dulu untuk bisa lebih bijak menjadi bangsa Indonesia…

Tinggalkan Balasan