Wajar, Jika Eropa Khawatir Invasi Islam

Norwegia, sebuah bom diledakkan oleh ekstremis kanan dan sebuah pembantaian di sebuah pulau benar-benar mengguncang kedamaian di Norwegia.

Sang pelaku berdasarkan video di Youtube.com mengatakan bahwa aksinya memang diperlukan untuk menyadarkan dan memurnikan Eropa dari proses Islamisasi yang sedang gencar berdalih multikulturalisme.

Benarkah sedemikian dahsyat Islamisasi di Eropa sehingga mengancam ke-asli-an kebudayaan Eropa? Sehingga bisa menjadikan Islam menjadi mayoritas pada tahun 2022?

Bagi selama ini berkutat atau aktif di level organisasi Islam yang hanya memperbincangkan pro-kontra Qunut, pasti agak susah memahami gencarnya Islamisasi di Eropa. Tapi bagi yang aktif di gerakan-gerakan Islam internasional terutama yg berbasis di Asia Selatan, pasti mudah memahami.

Efek era Kolonialisme.

Biang kerok proses Islamisasi Eropa jelas Inggris. Setelah kemerdekaan negara bangsa dan redupnya kolonialisme ย dan dengan dalih “persemakmuran”. Inggris membuka keran datangnya para pendatang dari negara bekas jajahan. India, Pakistan dan Bangladesh.

Banyak diantara mereka adalah ummat Muslim yang sudah aktif dalam gerakan Islam progressif. Dan setelah memegang paspor Inggris, mereka bebas menjelajah Eropa dan bebas berdakwah.

Disinilah letak perbedaan mendasar organinasi Islam di Indonesia dan di Asia Selatan.ย 

Beda Organisasi Islam Indonesia dan Asia Selatan.

Organisasi Islam di Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah lebih banyak terlena dalam dunia politik praktis. Kemaruk dalam hal pengumpulan dana, tapi lemah (melempem) dalam hal dakwah penyiaran Islam. ย Yang utama, manja dan tidak militan.

Baca Juga:   Rudal Kh-29, Salah Satu Rudal Dahsyat Yang Nemplok di Sukhoi TNI AU

Muktamar harus setara konferensi di hotel bintang lima. Sidang isbat harus disebuah ruangan hotel. Bahtsul masail harus seperti ini itu… belum lagi tetek bengek AD/ART, kartu anggota, simbol, bendera sampai kisruh pemilihan ketua umum.

Berbeda dengan Organisasi Islam asal Asia Selatan yang berbasis di Pakistan, India dan Banglades.

Rata-rata mereka tidak memiliki telek-bengek AD/ART tapi memiliki sistem yang solid dan administrasi akuntabel walaupun tidak tertulis, tapi didoktrin melalui mudzakarah. Tidak memiliki simbol, bendera dan kartu nama … mirip dengan Organisasi Tanpa Bentuk (OTB)

Militan, bukan berarti suka ngebom apalagi bunuh diri, militan disini berarti siap berkorban demi tersebarnya Islam dimana pun bumi dipijak tanpa perlu harus mengemis dana kesana-sini. Siap berkumpul dimana saja, walaupun harus ditenda bukan dihotel.

Di Indonesia mungkin kita mengenal Jamaah Tabligh, tapi sejatinya di Asia Selatan ada banyak sekali jamaah-jamaah model jamaah tabligh ini. Ada Jamaah Tauhidiyah, Jamaah Anshorr, Jamaah Bagyan dll. Intinya semua memiliki kesamaan seperti JT. Militan dalam menyebarkan Islam dan tahan ujian.

Satu Tujuan, Satu Tekad, Satu Gerakan.

Mereka membuang jauh-jauh perbedaan khilafiyyah demi satu tujuan, tersebarnya Islam.ย Maka nggak heran jika saat ini para ekstremis kanan Eropa begitu mengkhawatirkan perkembangan Islam.

Pemerintah Barat sebenarnya tidak tinggal diam, mereka mencoba membendung arus imigran “da’i” dari Pakistan dengan cara menyuntik dana donor ke APBN Pakistan dan Bangladesh.

Baca Juga:   Ubah Gaya Berkendara, Vinales Yakin Bisa Lebih Cepat Lagi Di Atas Yamaha M1

Tapi apa daya, jamaah-jamaah dakwah ini sama sekali tidak memiliki afiliasi ke politik praktis, tidak perduli siapa presidenya, bahkan Bangladesh yang selalu dipimpin presiden perempuan pun mereka tidak peduli. Selama ada masjid di bumi, selama ada nyawa dibadan mereka tetap bergerak.

Ketika pemerintah mau menyuap juga percuma, karena mereka tidak memiliki anggaran keuangan ataupun gaji untuk para anggotanya, ketuanya, sekertatisnya atau siapanya. Semua bergerak dengan uangnya sendiri-sendiri.

Jika ada suntikan dana, malah digunakan membangun masjid disamping stadion utama Olimpiade London 2012 …naghh kurang ajjar to?

Sekedar Infonya, masjid tersebut bernama Masjid Ilyas di Abbey Mills di atas tanah seluas 7,3 ha di dekat komplek stadion Olimpiade di kawasan Stratford, West Ham, London Timur. Biaya sepenuhnya ditanggung kerajaan Qatar, Keraajaan Inggris kabarnya menyetujui sebagai balas budi atas berdirinya Gereja Katolik terbesar di Timur Tengah di Doha-Qatar.

gereja di Qatar yg ditukar dengan izin Masjid Ilyas di samping Std.Olimpiade

Naghh mummet to? … di sisi lain koar-koar pluralisme, tapi ditanah sendiri terancam dengan faham dari luar.

Bagaimana dengan di Indonesia? tetap Bhineka Tunggal Ika dan Basmi Para Terroris, Setuju?

58 Komentar

  1. terus terang saya lebih suka style NU. Islam damai.

    kalo dijakarta marak jamaah2 punyanya habib habib itu. yg ditiap perempatan jalan masang poster mereka dgn sangat besar (persis seperti pejabat mau ikut pilkada)

    aliran jamaah2 ini jauh dari kesan Islam yg cinta damai. tabligh akbar nutup jalan, bikin macet. apa gak bisa dilapangan aja ?
    tiap berangkat & pulang selalu pawai liar tanpa helm. dikasih tau malah marah2.

    saya rasa aliran2 seperti ini yg malah menghancurkan imej Islam yg cinta damai

  2. Saya pernah bertemu orang JT dari Australia. Mereka memiliki kewarganegaraan Australia meski orang Pakistan. Mereka mengerti banyak tentang Islam dan berbisnis untuk berdakwah. Di Australia saat menjadi tetangga, mereka dikenal sebagai tetangga yang baik bagi para bule sana. Meski mereka tidak pernah lama menetap di sebuah tempat.

    Luar biasa perjuangan mereka. Meski ada beberapa paham mereka yang agak berbeda dari yang saya pelajari, namun saya pikir Islam mereka masih pada jalur yang benar. Saya salut dengan mereka.

    Salam kenal. ๐Ÿ™‚

    • Yup, begitulah kenapa Islam tersebar begitu cepat di Dunia Barat
      tanpa melihat apa agamanya, mereka bisa dgn mudah memberi kewarganegaraan

      Bandingkan dengan saudara-saudara Tionghoa yg lahir di Indonesia tapi gak pernah jadi WNI?
      tanya kenapa?

      • “Bandingkan dengan saudara-saudara Tionghoa yg lahir di Indonesia tapi gak pernah jadi WNI?
        tanya kenapa?”

        saya termasuk golongan yg disebutkan :mrgreen:
        dan bersyukur bahwa keadaan negara ini semakin membaik, sehingga kami tidak merasa terlalu dipojokkan lagi. Semua itu toh awalnya juga dari orang2 Islam moderat seperti Gus Dur dan kolega2 NU nya….

        Bahkan, saat kami merayakan natal, Banser NU juga turut menjaga beberapa Gereja, sehingga cukup terlindungi. Komitmen NU tentang kebangsaan dan pluralisme patut diacungi jempol ๐Ÿ™‚

      • maksud saya menulis ini

        “Bandingkan dengan saudara-saudara Tionghoa yg lahir di Indonesia tapi gak pernah jadi WNI?
        tanya kenapa?”

        Kita mengaku negara demokrasi, dan mayoritas Islam, tapi kenapa kita pelit untuk ngasih pengakuan warga negara, padahal disaat bersaamaan, yg non muslim begitu mudah memberi kewarganegaraan pada yg muslim

        sebagai umat muslim Indonesia, kita harusnya malu!

  3. Seperti sejarah yang terulang , Eropa memang lebih mudah menerima Islam ketimbang benua ‘barat’ lainnya. Di Amerika Islam akan kuat krn pernah menjadi ikon penindasan, persis seperti bangkitnya bangsa kulit hitam yang skrg mendominasi banyak bidang – ditambah lebih dekatnya Islam bagi kulit hitam ketimbang kulit putih. Selain itu histori dan referensi Islam terbukti positif menunjang kemajuan bangsa Eropa sendiri , berkebalikan dengan prosesi akuisisi aselinya di daratan Arab yang berdarah-darah.

  4. bagaimana caranya agar tulisan2 seperti bisa lebih banyak dibaca orang ya? khususnya para politikus-politikus dari partai-partai islam diindonesia, atau para politikus yang berangkat dari organisasi islam dindonesia seperti NU dan Muhammadiyah.

  5. Yg penting fastabiqul khoirot.. Jdlah hamba terbaik..Jdlah pribadi yg baik dimanapun engkau berada.. Jng besar2kan kebencian..Besarkan islam dg kedamaian.. Jadikan tetangga anda nyaman berada didekat anda..

  6. Ini tanda2 awal dari The Clash of Civilizations. Tidak bisa dihindari, pada waktunya politik akan membunuh agama. Kalau mau ikut berpolitik, lebih baik tahu perkembangan ini, supaya tidak berada di pihak yg kalah. Tapi yg terbaik, netral sajalah, paling panjang umurnya.

  7. nais Inpoh…

    dulu ada Partai yg tujuannya sempat untuk kemaslahatan umat. bergerak dengan biaya anggotanya sendiri. tnpa mengandalkan bantuan negara…
    tp syg, begitu masuk pemerintahan, disibukkan menjaga imej…

  8. wah…mas agamanya apa toh??gak perlulah ikut campur urusan agama orang lain,apalagi dengan beerapa kalimat anda seperti tentang membangun masjid besar di london anda bilang kurang ajar?!…gliran gereja dibngun diqatar,anda tenang2 aja???, jangan memancing hal sara mas bro…..bahaya
    lebih baik untuk mmbahas agama lain mending anda lakukan di forum/blog khusus untuk agama anda….

  9. “maksud saya menulis ini
    โ€œBandingkan dengan saudara-saudara Tionghoa yg lahir di Indonesia tapi gak pernah jadi WNI?
    tanya kenapa?โ€
    Kita mengaku negara demokrasi, dan mayoritas Islam, tapi kenapa kita pelit untuk ngasih pengakuan warga negara, padahal disaat bersaamaan, yg non muslim begitu mudah memberi kewarganegaraan pada yg muslim
    sebagai umat muslim Indonesia, kita harusnya malu!”

    saya ngerti maksud om :mrgreen: bagi saya, mendapat kewarganegaraan di Indonesia setelah reformasi itu gak terlalu susah2 amat kok. Sy brani bicara gt karena saya termasuk golongan yg om sbut itu, dan slama ini dengan org2 Muslim saya akrab-akrab saja ๐Ÿ™‚ Malah kadang2 lebih akrab dengan Muslim daripada dgn yg sama agamanya.

    Terus, bedakan jg om, antara agama dan suku, karena kami juga ada yg org Muslimnya. Trus org Jawa ataupun Sumatera juga banyak yg Kristen/Katoliknya. Om saya org Jawa tulen, tapi katolik. Sdangkan saudara jauh saya Tionghoa, tp Muslim.

    Intinya, kita itu harus saling bersatulah, jgn ada perpecahan, karena pada dasarnya bangsa kita, satu, bangsa Indonesia. Sy gak mau dibilang org “China”, karena kami gak lahir di China, gak berbahasa China, dan gak tau tradisi China. Kami ini mengaku Indonesia tulen. Klo dibilang suku Tionghoa bolehlah :mrgreen: Toh saya juga ada darah Sunda dan Jawa pesisir juga :mrgreen: Campur-campurlah :mrgreen:

    Kok malah jadi curcol ๐Ÿ˜† klo kepanjangan bolehlah komen saya ini dihapus :mrgreen:

  10. islam ngak identik dengen pencitraan, tetapi islam adalah rahmatan lil alamin,
    tp indonesia adalah mayoritas islam, kenapa tidak bisa memberikan sumbangsi yg besar bagi islam,
    apakah ada yg salah di dalam islam indonesia(bukan islam yg salah, tetapi cara beragama/mengamalkan agama islam)?

  11. saya hanya bisa mengatakan :
    suatu ssat nanti Anda akan tahu islam sebenarnya..
    Kenapa ??
    Karena Islam yang Anda lihat saat ini bukanlah Islam yang sesungguhnya…
    Islam sesungguhnya mengajarkan toleransi, tenggang rasa, perdamaian, dan keadilan..

    Masalah NU, Muhammadiyah atau apapun itu
    Hanya ada 1 golongan yang benar2 islam..

    Jika Anda mengalami masa khilafah dan masih hidup pasti akan tahu kenapa islam mudah diterima di eropa dan negara2 lain..

    Sekian..Mohon maaf bila ada kesalahan..

Tinggalkan Balasan