Arab Persia (Persis Amerika) Vs Iran Persae (Perangi Israel)

Menarik sekali membaca opini Ibnu Burdah (Dosen UIN Jogja) dalam menyikapi konflik di Timur Tengah, benar-benar obyektif tanpa tedeng aling-aling … mo sunni/syiah, pro Arab atao Iran atao Islam-kafir, yang pasti, harus ada yang bisa menghentikan ancaman perang besar di timur-tengah. … Klo Paus yg katolik aja peduli, kenapa umat muslim tidak?

Tulisan dibawah ini mengingatkan saya pada percakapan dengan seorang asal Iran tapi suku Baluchistan Sunni, bukan Syiah seperti mayoritas. Awalnya saya mengobrol dengan beberapa rekan yang kebetulan mengenakan jaket bertuliskan “Free Palestina” dengan mencolok mata di sebuah kedai makan, naghh si Baluchistan ini tertarik berdiskusi dan membahas Palestina.

 

Setelah melalui pembicaraan panjang, dengan bahasa Arab bercampur persae (Persia) … si orang tua ini coba mengatakan bahwa:

gak mungkin Israel membiarkan begitu saja hubungan mesra Amerika dengan negara arab teluk (Saudi-Qatar-Kuwait-Oman) klo nggak menguntungkan Israel … kamu masih percaya bahwa rezim-rezim Arab-Sunni peduli dengan Palestina, anehnya kenapa hanya orang-orang Arab-Syiah yg rela bersimbah darah demi Palestina (Hezbulloh, Iran dan Syiria).

Sebuah ucapan yang menyadarkan saya, beruntunglah di Indonesia tidak ada konfrontaasi Sunni-Syiah 

Saturday, 20 August 2011 10:07

Perang atau Campur Tangan Tuhan
Oleh Ibnu Burdah*

Proxy war dengan skala terbatas sesungguhnya telah pecah di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Rivalitas negara-negara Arab poros AS, terutama Israel, Arab Saudi, dan beberapa negara Teluk lain, versus kekuatan-kekuatan poros Iran memang sangat tinggi.

Namun, sejauh ini, konflik bersenjata secara langsung dan dalam skala besar antara negara-negara itu dan Iran memang belum terjadi. Rivalitas tersebut, antara lain, kemudian mewujud dalam konflik antara kekuatan dukungan Arab Saudi dan kekuatan poros Iran di beberapa negara di Timur Tengah.

Iraq pasca Saddam Hussein menjadi arena ”sabung ayam” paling berdarah antara kelompok bersenjata Sunni dan Syiah. Milisi Sunni yang kehilangan kekuasaan diyakini memperoleh dukungan pendanaan yang kuat dari Arab Saudi dan beberapa negara Teluk lain. Sementara itu, beberapa milisi Syiah diyakini memperoleh dukungan persenjataan dan pelatihan dari Iran.

Dua kelompok tersebut sama-sama menggunakan kekerasan, bahkan pengeboman dan aksi bunuh diri, untuk mencapai tujuan-tujuannya. Ketegangan yang sebelumnya tidak pernah reda antara Hizbullah dan kelompok Sunni di Lebanon juga tidak lepas dari ketegangan hubungan Arab Saudi versus Iran-Syria. Kondisi semacam itu secara terbatas juga terjadi di beberapa negara lain, seperti Yaman, Bahrain, Palestina, dan Somalia.

Gelombang revolusi yang melanda Dunia Arab sekarang menyediakan kondisi yang memperparah rivalitas. Di tengah badai perubahan, pihak-pihak yang berkonflik di atas berupaya memanfaatkan situasi untuk mencapai kepentingan-kepentingannya di kawasan. Iran ditengarai sangat aktif mendukung gerakan rakyat Arab melawan rezim-rezim yang merupakan musuhnya selama ini. Arab Saudi, Bahrain, dan negara Teluk lain sangat geram dengan perilaku Iran.

Sementara itu, negara-negara Teluk ditengarai juga berperan aktif dalam mendukung rakyat Syria untuk menggulingkan rezim Asad, sekutu Iran. Mereka juga dituding terlibat dalam instabilitas politik di Lebanon yang saat ini dalam genggaman Hizbullah (sekutu Iran). Ketegangan antara dua poros besar di atas semakin tampak ke permukaan dan menjurus kepada konflik yang lebih terbuka.

Eskalasi Ketegangan
Pernyataan mantan petinggi CIA, Robert Baer, mengenai kemungkinan serangan Israel ke Iran pada September tidak bisa diabaikan begitu saja. Hal itu bukan hanya karena Israel pernah melakukan hal serupa terhadap Iraq pada 1981, tetapi juga perkembangan demi perkembangan di kawasan menunjukkan peningkatan secara signifikan ketegangan antara poros AS dan Iran di kawasan.

Perilaku dan pernyataan para aktor di kawasan mengindikasikan perkembangan yang  mengkhawatirkan. Iran terus mendemonstrasikan capaian-capaian teknologi persenjataannya, termasuk militansi dan kecakapan pasukan elite negara itu dalam mengoperasikannya. Teheran cenderung mandiri dalam upaya tersebut dan memberi sinyal terhadap musuh-musuhnya bahwa negara itu memiliki kapasitas yang kredibel untuk menghadapi ancaman besar.

Sementara itu, Arab Saudi, Kuwait, dan negara-negara Teluk yang jauh lebih kuat secara finansial bersandar pada pembelian persenjataan tercangggih dari AS, Jerman, Prancis, dan negara-negara berteknologi maju lain. Gelontoran dana untuk belanja senjata yang jumlahnya tidak masuk akal jelas mengindikasikan adanya persepsi ancaman yang sangat besar di kalangan pengambil kebijakan.

Keputusan Jerman dan AS untuk tetap menjual senjata-senjata itu, kendati mendapat kritik keras dari dalam negeri, menimbulkan kecurigaan adanya skenario besar di kawasan terhadap Iran. Dugaan skenario tersebut diperkuat oleh penundaan penarikan tentara AS dalam jumlah besar dari Iraq dan, yang tidak kalah penting, bocoran Wikilieaks mengenai usul Arab Saudi kepada AS untuk segera melakukan ofensif militer terhadap Iran beberapa waktu lalu.

Perkembangan di lapangan itu juga disertai ketegangan diplomatik antara Iran dan negara-negara Teluk dalam koordinasi Badan Kerja Sama Teluk atau GCC (Gulf Cooperation Council). Dua pihak itu bukan hanya saling melontarkan pernyataan keras, tetapi juga melibatkan pengusiran diplomat. GCC menuduh Iran sudah keterlaluan mengintervensi urusan dalam negeri mereka. Iran sendiri terus berteriak atas kebrutalan rezim Teluk, terutama Arab Saudi dan Bahrain, terhadap protes rakyatnya (warga Syiah).

Sekutu-sekutu Iran, tampaknya, juga dipersiapkan untuk menghadapi situasi yang sangat buruk di kawasan. Hizbullah di Lebanon, Houthsi di Yaman Selatan, dan di beberapa negara lain diberitakan memperoleh tambahan persenjataan secara signifikan, baik dari Iran maupun Syria. Pidato-pidato Hasan Nasrullah, pemimpin Hizbullah, akhir-akhir ini semakin keras dalam menyikapi perkembangan di kawasan. Rangkain penyerangan ”teroris” di wilayah Iran baru-baru ini dicurigai sebagai test case musuh terhadap kemampuan pertahanan negara itu.

Opsi perang terbuka jelas sangat mengerikan, tetapi persepsi masing-masing pihak terhadap lawan sering membuat pengambil kebijakan merasa terpaksa mengambil opsi tersebut. Yang jelas, kepanikan luar biasa tengah menimpa penguasa negara-negara Arab, terutama negara dengan kadar demokrasi dan pemerataan ekonomi yang rendah, termasuk Arab Saudi dan negara-negara Teluk lain.

Arab Saudi kini dikepung gerakan rakyat di Bahrain, Jordania, dan Yaman yang sangat mungkin menjelar cepat ke negeri tersebut. Sementara itu, pengambil kebijakan Iran mempertimbangkan kemungkinan diserang Israel atau poros AS yang lain sebagaimana bocoran Wikilieaks. Dalam psikologi yang sama-sama tertekan semacam itu dan realitas di lapangan yang semakin memburuk, opsi perang tidak mustahil diambil.

Sulit membayangkan betapa besar tragedi kemanusiaan yang akan terjadi jika opsi itu benar-benar diambil. Sebab, perang tersebut akan melibatkan hampir semua pihak di kawasan dengan spektrum luas dan sentimen yang sangat dalam. Sentimen itu terkait dengan rivalitas historis Sunni-Syiah atau bahkan Islam dan Barat.

Sepertinya, tidak salah komentar frustrasi Paus Yohannes II bahwa satu-satunya jalan realistis untuk menyelesaikan konflik Timur Tengah adalah keterlibatan langsung Tuhan ke bumi untuk memaksa masing-masing pihak berdamai. Keberhasilan cara lain adalah mukjizat atau utopia belaka.

*) Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, dosen Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga

Baca Juga:   Perbedaan Mekanik Bengkel Resmi Suzuki dan Merek Lainya 

roda2blog di sosial media

24 Komentar

  1. tulisan yang menarik. pemilik warung juga sama blak-blakan n tanpa tedeng aling2 kok :mrgreen:

    terkait hubungan sunni-syi’ah, saya agak prihatin bahwa potensi konflik dua kubu itu semakin membesar di fesbuk, setidaknya itu terasa di fesbuk dan pemberitaan media online. eh btw, sunni ma wahabi sama gak ya

    • saya gak tahu kllo di fesbuk juga ada perdebatan macam itu?
      —–
      Sunni di Indonesia lebih terbuka, malah kadang saya menyebutnya bukan sunni
      coz, sunni di Arab sangat anti dengan Ali bin Abi Thalib … 😉

      • gak hadap2an gitu sih gan. cuma ada satu pengikut wahabi yang getol sekali memprovokasi dengan menampilkan kebiasaan2 syi’ah. tanggapan pun beragam, termasuk yang akhirnya jadi ‘panas’

      • Ngakunya aja yang sunni gan.
        coz disebut sunny kalo mengakui 4 khalifah sesudah Rasullullah SAW wafat.
        disebut syiah kalo hanya mengakui khalifah Ali bi Abi Tholib RA

        Justru yang meragukan orang iran tersebut, biasanya syiah punya prinsip taqiyyah ( Bohong)
        Oleh karena itu Imam Syafii tidak menerima persaksian syiah.
        Peace gan,,,,, kalo diteruskan gak ada habisnya

    • hulunya sama gan, jadi susah membedakannya…..

      wahabi yang berusaha membedakan diri dari mereka yang disebut teroris cenderung memberikan kadar penahanan yang terkontrol agar tidak kelewat hingga melakukan seperti apa yang dilakukan oleh teroris

  2. Arab Saudi lebih sibuk melindungi diri dari Iran, baik secara politik maupun ideologi. urusan palestina pun ditakar terutama secara politik dan ekonomi. IMHO, kalo pemerintah Arab Saudi berkomitmen, tinggal tekan aja AS agar memaksa Israel mengakui Palestina. cuma gak tau ya apa karena Palestina udah “ditangani” duluan oleh kelompok yang secara ideologi terlihat berseberangan dengan Arab Saudi makanya cenderung dicuekin atau gimana, yahhh…. hanya Allah dan orang-orang tertentu saja yang tau

  3. begitulah, dari sebuah sumber, para pemimpin arab saudi ,UAE dan yg dekat dg arab itu katanya cuma islam KTP ! sbnarnya mrk gak jauh beda dg yahudi. who know, penuh konspirasi ditengah media besar yg dikuasai yahudi global

  4. apapun itu usaha menuju damai ‘agaknya’ akan menjadi sia sia karena telah begitu jelas diterangkan dalam Alqur’an bahwasanya suatu saat mendekati zaman akhir akan terjadi sebuah perang besar antara yahudi dengan muslim…….wallahu a’lam bis showaf!

  5. mnurut pemikiran ane sih, konflik dtimur tengah itu hasil scenario tahunan yg dilakukan oleh suatu negara, suatu kelompok, suatu kaum atau suatu agama..kasarnya di adu domba lah…entah utk kepentingan ekonomi,politik atau agama..
    yg mungkin misi utamanya membinasakan negara arab atau islam yg pelaku & target nya ya orang arab atau islam sendiri,,
    mnurut ane soal suni~syiah itu mereka itu terlalu guoblok, sesama islam ko saling bunuh.. soal islam-yahudi klau dalam 50tahun aja adem ayem ga ada konflik maka siap2 aja deh akan kiamat & mungkin islam saat itu masih ada tapi ga tau yg namanya shalat & azan..
    gitu sih pemikiran ane, ga tau bener apa engga…hehehe…

Tinggalkan Balasan