Koplak, Kita Emang Tidak Punya Sistem Pendidikan

Kembali guru disalahkan!. Para pengamat dan komentator pendidikan kembali berulah, menyalahkan “guru” ketika ada kejadian yang menjadi hot topic yang menyangkut siswa.

Orang-orang tersebut sebenarnya pinter, bahkan beberapa bergelar akademisi mentereng. Tapi kok guoblok nggak henti-henti, siswa berulah guru disalahkan. Blass nggak bisa membedakan antara “Pendidikan” dan “Pengajaran”.

Walau kita emang punya kementrian Pendidikan, tapi tolong dimengerti perbedaan antara pendidikan dan pengajaran. Fahami dan pelajari, apakah fungsi lembaga yang bernama “sekolah”   di negara kita, menjalankan sistem  “Pendidikan” atau “Pengajaran”?

Siswa Indonesia berada di sekolah, rata-rata hanya 6-7Jam saja, lalu kemana yang 17-18jam?.

Apakah adil menyalahkan orang (guru) yang dalam sehari kurang dari 25% menghabiskan waktu bersama murid. Lalu memvonis, bahwa guru harus mengkontrol tindak tanduk siswanya selama 24 jam.

Baca Juga:   Kenapa Gak Kunjung Pensiun, Rossi Bilang Italiano Emang Lebih Macho

Preettt

6-7jam itu saja kemudian hanya dituntut perkara angka-angka dari proses pembelajaran. Maka hasilnya, sekolah hanya memberikan 100% pengajaran … toh yang dituntut hanya tentang nilai hasil proses belajar. Itulah yang namanya pengajaran!. Lagipula juga mustahil bisa memberikan pendidikan untuk waktu sesingkat itu.

Lha terus pendidikan itu apa? … Mustahil memberikan pendidikan klo tidak meng”asrama”kan siswa. Yaghh minimal harus “full day schooling” laghhh. dari jam 7pagi sampai jam 5 sore siswa harus berada di sekolah.

Ambil contoh pendidikan calon TNI, nggak mungkin seorang calon tentara dididik dengan sistem anak kuliahan? . Masuk pendidikan jam 6-1siang … lalu setelahnya silahkan pulang, sak karepmu, mo ngapain terserah. Mo dapat input tentara “pengecut” ?

Baca Juga:   Leasing is not Kartu Kredit ... Pliss Deh!

Soo, klo menuntut siswa yang lebih terdidik daripada yang ter”ajar” (outputnya kurang “ajar” yoo wajar) … maka harusnya para pakar pendidikan itu harus memperjuangkan sistem sekolah “full day”. Selama sistem sekolah seperti saat ini, komposisi pembentuk karakter siswa adalah: Guru 25% , Wali Murid 25% selebihnya Sinetron/TV 50%.

 

roda2blog di sosial media

34 Komentar

  1. yang saya tahu sekolah unggulan atau teladan atau apalah namanya adalah bullshit. Alumni mereka pintar2 bukan krn usaha sekolah tp memang saat masuk dipilih yg pintar sdg yg bodoh masuk ke sekolah non unggulan.

  2. Pas liat kutipan bergambar siswa SD itu, aku terpukul karna yg meninggal tu masih kecil. Saat aku liat lebih dalam, aku tambah terpukul karna ku yakin klo selama di sekolah, semua siswa mendapat “nutrisi” berupa ilmu pengetahuan yang menakjubkan serta kebahagiaan yang mungkin tidak mereka dapatkan selama di rumah.

    Untuk masalah prosentasenya, saya kurang begitu yakin karna peranan guru, menurut saya, hanya sebagai “pemberi” ilmu yang berguna bagi murid-muridnya.

    Tak dipungkiri peranan dan tekanan dari lingkungan sekitar para siswa sangat berpengaruh terhadap kepribadian, pola pikir dan kehidupannya. Guru memang wakil dari orang tua TETAPI, memang, di sekolah saja. Sisanya, orang tua harus lebih selektif dan mengayomi anaknya dari pengaruh yang kurang baik. Pengawasan itu bisa berupa acara yang anak tonton, pergaulannya dengan teman sebaya, dan tempat-tempat yang anak biasa kunjungi. Memang tugas berat bagi orang tua karna orang tua juga harus bekerja.

    Maka solusi yang tepat adalah kerjasama antara guru sekolah dan orang tua dalam memberi “landasan pemikiran” berupa pengertian-pengertian yang mendukung siswa/anak menjadi lebih selektif, mandiri dan mampu memilah mana yang baik dan yang bukan. Pemerintah juga seharusnya tidak hanya menjadi wasit yang bertugas memberi “kartu”.

    Pemerintah bisa memberi penyuluhan tentang psikologi anak (teori perkembangan manusia [Piaget, Vygotsky, dll]) sehingga para orang tua mampu mengerti apa yang akan terjadi pada anak mereka. Saya mendasarkan dari pengalaman saya dimana orang tua “menyamakan” pengalaman mereka saat masih kecil atau “dulu”. Saya merasa bahwa semakin “gilanya” pengaruh globalisasi akan berdampak kurang baik terhadap anak-anak yang baru mengenal dunia dari “kulitnya” saja.

    Perlu struktur yang kokoh dari dalam (mental/pdikologi, pengetahuan) dan luar (lingkungan dan daya tahan tubuh mereka) diri mereka. Itu semua menurut saya, silahkan menganalisa sendiri. Saya percaya bahwa orang Indonesia itu sama baiknya dengan orang luar negeri. Hanya, menurut saya, orang Indonesia harus sedikit memoles “internal” dan “external” beauty untuk membangun bangsa ini menjadi lebih maju.

    Semoga saya tidak baca artikel seperti ini lagi di mana pun di masa yang akan datang karna saya yakin pula kalau kita yakin, kita pasti bisa. Amin. Terimakasih.

  3. penulis (detik.com).. Oon..!!

    emang entu guru disuruh ngawasin anak muridnya nyang bejibun satu per satu..??

    lagian ngape sich..?? koq bocah SD udah ngerti bunuh diri segala..?? seolah2 dia ngrasain beratnya hidup lebih berat dari kerja RODI.. ck..ck ck…

    sa’aken awak mu rek…!!
    konco2mu wis dolan nang endi2… koen koq malah bunuh diri…!!!

  4. kalo gak salah Ki Hajar Dewantoro menolak dijadikan menteri pendidikan, maunya menteri pengajaran, karena mendidik itu tidak sanggup dilimpahkan kpd guru di sekolah
    …..
    langganan komentar sudah dicawang, tapi jalan atau gak ya………?

  5. klo menurut saya sistem pendidikan asrama jg kurang cocok, yg paling cocok y orangtua stop sibuk dng BB, nonton sinetron, pekerjaan…dan luangkan waktu lebih banyak untuk anaknya….

  6. nanya pak guru..
    kenapa sekolah masih mengijinkan acara seperti ospek atau mos itu ?
    fungsinya apa ?
    kalo ada korban baru gurunya mewek ?

    semoga dijawab karena pertanyaan soal kenapa guru honorer yg rajin kalo udah jadi pns jadi males, gak pernah dijawab

      • biasalah tipe begini. jawaban standar, bilang gak tau. gak tau atau tutup mata ?

        dari artikel anda yg dulu, udah ketahuan kok cara berpikirnya . sampe2 nyalahin tv 😀 tv kan benda mati ? kok bisa disalahin jadi penyebab degradasi moral ?
        sama dgn anda menyalahkan api karena jadi penyebab kebakaran dong ?

        tuurunturun.uru sekarang kebanyakan bukan lulusan terbaik diangkatannya. ygma

      • @reborn:
        jangan goblok-goblok amat laghhh mass 😈
        Lhaa saya kan jujur
        emang ada ya MOS/Ospek untuk tingkat pendidikan Dasar (SD/MI)

        saya jadi guru cuma dikasih uang lelah 135ribu sumpahhhh … itupun saya kasihkan ke tukang kebun madrasah.
        saya juga lulusan timur tengahhh
        saya jadi guru bukan untuk mencari makan tapi murni pengabdian

        penghasilan per-bulan saya sudah lebih dari cukup untuk sekedar beli motor Mio baru tiap bulan.

        Klo moo egoisss, saya tidur 24 jam sehari juga Insya Allah ada rezeki

  7. mas itu kok post gw berantakan ya ? 😀 kalo nulis banyak jadi ilang.

    o iya . ini banyak terjadi di jakarta & sekitarnya lho. banyak sekolah2 swasta (abal2) ambil tenaga guru cuma dari lulusan sma atau yg sederajat . mungkin ngejar gaji kecil ya ? . tetangga saya 2 orang yg begitu. dulunya cuma kerja di pabrik, eh sekarang udah jadi guru . kesannya kualitas seadanya.

    saya jg ngeri, jgn sampe anak saya diajar guru sembarangan. kalo yg ngajar lulusan timteng sih saya percaya 🙂

    • saya jadi guru cuma dikasih uang lelah 135ribu sumpahhhh … itupun saya kasihkan ke tukang kebun madrasah.
      saya juga lulusan timur tengahhh
      saya jadi guru murni bukan untuk mencari makan

      penghasilan per-bulan saya sudah lebih dari cukup untuk sekedar beli motor Mio baru tiap bulan.

      Klo moo egoisss, saya tidur 24 jam sehari juga Insya Allah ada rezeki

Tinggalkan Balasan