Agresi Militer Islam (2): Walisongo, Panglima Perang Berjumlah Sembilan

Pada akhir abad 15 (akhir 1400M) kekuatan Majapahit telah rapuh, bahkan pengaruhnya didaerah pesisir utara jawa sudah punah. Penguasaan pada bandar-bandar perniagaan sudah absen. Pusat kerajaan juga terdesak jauh ke dalam Pulau Jawa (Daha-Kediri).Sirna Hilang Krtaning Bhumi … Hilang ke dalam perut bumi. (terj. lain:Hilangnya kerajaan Bre Kerthabumi)

Di daerah kosmopolitan niaga seperti Banten, Gresik, Demak dan pesisir utara jawa. Image, Orang Majapahit pada era tersebut tak ubahnya kaum primitif di pedalaman.

Ilustrasi yang dilukis oleh saudagar Denmark J.P. Cortemunde tahun 1673. Tentang gambaran orang Moor Islam (Arab/India/Persia), Jawa dan China.


Sebenarnya pada era kejayaan Majapahit di Trowulan, sudah ada komunitas muslim di pusat Ibukota Majapahit. (Banyak diulas dalam sejarah sunan Ampel)

Perpektif Muslim Majapahit ini berbeda dengan muslim pesisir dalam banyak hal. Terutama dalam pemahaman penyebaran Islam dan beberapa dalam fundamentalisme religi.

Maka nggak heran jika dikemudian hari, ada muncul istilah Islam Jawa, yang sering dituding ahli bid’ah. Karena mungkin tradisi Islam ini sudah ada sejak zaman Majapahit. Yang pada akhirnya nanti menimbulkan friksi dahsyat (dibahas dibagian ke-4 😉 )

Baca Juga:   Wow, Salut Pada Kedisiplinan Warga Madiun Dalam Parkir

Benarkah Walisongo berjumlah sembilan?

Cerita tentang wali/sunan penyebar agama Islam di tanah Jawa sudah sangat familiar, jumlahnya pun dibatasi sampai sembilan sesuai nama-nya, walisongo. Benarkah?.

Perkara jumlah memang telah lama diperdebatkan, ada teori bahwa Walisanga asalnya adalah waliitsna (wali 12) ataupun wali-tsana (tsana-banyak), ada pula teori bahwa walisanga adalah dewan hakim yang membawahi para wali.

Berapapun jumlahnya, peran, tugas dan fungsi wali lebih menarik ditelaah. Karena faktanya, jumlah wali tidak pernah disebutkan secara spesifit ataupun dikategorikan oleh naskah-naskah tua jawa.

Para wali/sunan ternyata lebih dari sekedar juru dakwah, kedudukan mereka di Demak mirip dengan “parlemen” yang hasil rapatnya harus dilaksanakan oleh Sultan sebagai wujud ketaatann pada syariat Agama.

Dalam kejadian sejarah, bahkan para wali/sunan maju ke medan perang sebagai panglima perang. Memimpin ekspedisi untuk menaklukan suatu wilayah demi tersiarnya Agama.

Sunan Ngundhung adalah contoh sunan yang turun ke medan perang sebagai panglima setelah dipilih lewat musyawarah para wali yang dipimpin oleh Sunan Giri dan diprakarsai Sunan Gunung Jati.

Berbekal 7.000 pasukan dan 40 imam dengan persenjataan yang cukup maju dimasanya, termasuk senapan dan pistol.

Baca Juga:   New MEGAPRO REPSOL EDITION ... Mangstapss

Rombongan pertama ini sukses dipukul mundur majapahit, bahkan walaupun datang bantuan dari pusat (Demak) dan Madura. Invansi yang dipimpin oleh Sunan Ngundung tetap belum mampu menembus Majapahit. Bahkan Sunan Ngundung pun akhirnya menemui syahid.

Bersambung:

Agresi Militer Islam (I): Dahsyatnya Agresi Penyebaran Islam di Indonesia

Agresi Militer Islam (2): Walisongo, Panglima Perang Berjumlah Sembilan

Agresi Militer Islam (3): Sunan Ampel, Mufti Demak Bintoro, Pelindung Majapahit

Agresi Militer Islam (4): Friksi Pertama Islam di Jawa

Daftar bacaan:

1. Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga jilid 1: Tanah di Bawah Angin, Pustaka Obor.

2.  Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga jilid 2: Jaringan Perdagangan Global, Pustaka Obor.

3. Sjamsudduha, Walisanga Tak Pernah Ada?, JP Books. (bersumber: serat drajat dan serat badu wanar)

4. Prof. Kong Yuanzhi, Cheng Ho: Muslim China, Pustaka Obor

5. Ratna S, H.Schulte, Perpektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, Pustaka Obor

6. Agus Sunjoto, Perjuangan dan Ajaran Syekh Siti Jenar, LKiS Jogja. (merujuk pada serat-serat caruban/cirebon)

roda2blog di sosial media

15 Komentar

  1. wali songo, wali generasi ke sembilan 🙂

    Dewan Wali Songo Generasi I (Pertama) Tahun
    1404 M
    1. Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, ahli
    tatanegara, dakwah di jawa
    timur wafat di gresik thn 1419
    2. Syekh Maulana Ishaq, asal Samarkhand Rusia, ahli pengobatan, dakwah di Jawa &
    Aceh,wafat di Pasai 1419
    3. Syekh Maulana Ahmad Jumadil Qubra, ahli
    tatanegara,ilmu perang ,asal Mesir
    dakwah keliling jawa dan Nusantara , Makam di
    Trowulan Mojokerto 4. Syekh Maulana Muhammad Al Maghrobi, asal
    Maghribi daerah Maroko, ahli tata
    negara dan agronomi,sunan Geseng makam di
    Jatinom Klaten th 1465;
    5. Syekh Maulana Malik Isroil, asal Turki , ahli
    mengatur negara dimakamkan di Gn. Santri dekat serang-merak th 1435
    6.Syekh Maulana Muhammad Ali Akbar asal Persia
    Iran , ahli pengobatan,
    dimakamkan di Gn. Santri th 1435 .
    7. Syekh Maulana Hasanuddin, asal Palestina,
    pendakwah keliling, wafat th 1462 samping Masjid Banten Lama
    8. Syekh Maulana Aliyyudin, asal Palestina
    pendakwah keliling, wafat th 1462
    samping Masjid Banten Lama
    9. Syekh Subakir, ahli mahluk ghoib dan penakluk
    sihir, tinggal di Tanah Jawa beberapa waktu lalu, namun wafat di persia 1462

    hasil copas, ngertiku mong syeh maulana ibrahim karo syeh jumadil kubro 🙂

  2. saya dari dulu juga agak curiga…kenapa perubahan atau membaliknya prilaku agama di masyarakat dari Budha, Hindu, hingga islam sangat cepat sekali di pulau jawa…..kalo dilihat perubahannya sangat masifff….penyebarannya sangat merata…..saya agak kurang percaya kalo hal itu tidak melibatkan pengaruh kekuasaan alias infiltrasi politik…kalo cuma karena akulturasi budaya…pasti tak akan semerata itu dampaknya….apalgi jaman dulu nggak ada Handphone dan TV…..mungkin perlu dicari lagi bos amama,,,apakah dulu waktu beralihnya budha ke hindu atau sebaliknya (karena sy nggak ngerti duluan mana itu keduanya)…..juga karena adanya faktor kuat kekuasaan…..kalo budaya saja akibat perdagangan dan dakwah dor to dor pasti sulit sekali…belum ketok pintu aja mungkin udah dibacok kalo urusan kepercayaan…..ngilangin budaya itu hal yg sulit…nyatanya sudah islam saja masih ada adat kejawennya,,,nah…berarti mengislamkan org jawa dulu bukan perkara mudah…..

  3. tidak setuju dengan penyebutan agresi islam seolah2 islam itu disebarkan dengan kekerasan ditanah jawa, harusnya dsebut agresi demak !! perang demak vs majapahit bukan perang agama antara islam vs hindu-budha tp murni konflik politik , ini terbukti banyak rakyat majapahit sbelumnya yg bebas beragama islam dan mereka aman sja dimajapahit , keruntuhan majapahit itu dsebabkan oleh konflik internal sendiri perebutan harta dan tahta kekuasaan , dan keberadaan islam hanya salah satu faktor mempercepat runtuhnya majapahit yg memang waktu itu sdh lemah rakyatpun tak terurus krenanya mereka menganggap datangnya islam sbg pembaruan . yg menarik berdasar pd arkeologi keping mata uang majapahit yg ditemukan itu bertuliskan syahadad huruf arab itu artinya perlu dipertanyakan kembali status majapahit sbg kerajaan hindu-budha???

Tinggalkan Balasan