(Cerpen) Bakso Sore Itu

Seperti biasanya, perjalanan pulang selalu terasa lebih cepat dari keberangkatan. Hipotesanya, mungkin karena seru-nya acara saat ditempat tujuan, sehingga ada rasa penyesalan kenapa harus berakhir.

Memori indah kenangan selalu terbayang selama perjalanan pulang. Teman-teman baru dengan aneka kisahnya, kemudian beberapa cinderamata yang ingin segera dibagi bersama keluarga.

Setelah menempuh 4 jam perjalanan, akhirnya sampai di Kota Dolopo-Madiun. Masih ada 6 Kilometer lagi sebelum tiba di rumah. Teringat menu kesukaan si kecil, Bakso Pak Lan.

Bakso adalah menu favorit dalam filosofi bikers, terutama ketika harus mengendarai motor dalam jarak jauh yang disebut touring.

Panas kuah bakso bisa mendinginkan suhu tubuh yang terpapar angin selama perjalanan panjang di atas sepeda motor. Massa bakso yang tidak bikin perut terlalu kenyang, juga cocok untuk menjaga mata dari kantuk

Niat awal cuma membelikan 3 bungkus bakso untuk dibawa pulang, untuk istri dan dua jagoan kecilku. Mengingat tadi dikota Pare,Kediri sudah menyantap dua mangkok bakso.

Apa daya, aroma kuah bakso yang sengaja terus diobori oleh Pak Lan memancing nafsu saya. Marketing ala penjual sate Madura ini memang salah satu kunci sukses Pak Lan.

Dalam gerobak baksonya terdapat dua panci besar, yang satu berisi bakso dan kuahnya selalu tertutup rapat. Sedang yang satu lagi cuma terisi air kuah saja, selalu terbuka dan terus diobori dengan api sedang, fungsinya mengeluarkan asap aroma bakso. Persis seperti asap sate Madura yang emang sengaja dibikin ngebull untuk memancing rasa lapar.

Baca Juga:   Knalpot Seharga 6juta aja Kena Tilang, Apalagi Cuma Nob!

Mantap memang, dan sebagai korban, kali ini saya harus menyerah dan bersiap menyantap bakso favorit si kecil. Selesai meracik saos tomat, kecap dan sambal, kuhirup uap kuah yang menggoda aromanya.

Inilah episode yang paling saya nikmati dalam setiap touring saya.

Menikmati semangkok bakso, sembari memandang sepeda motor kesayangan. Dalam diamnya, dia merekam semua kenangan. Seiring hangat kuah bakso menelusuri relung tenggorokan, ribuan kisah tersaji kembali dalam memori.

Helaan kenangan menjadi terhenti ketika ada ibu muda dengan dua putra kembarnya datang, lalu memarkir sepeda motornya di samping si Dazzler. Aku masih bisa leluasa memandang Dazzler dengan semua kenanganya.

Ditambah canda tawa obrolan khas anak kecil mengusili si Dazzler, mengingatkanku pada anak sulungku, Azim yang telah 3 hari aku tinggalkan. Selepas perjalanan panjang touring macam begini, bukan aku yang dirindukanya, dia biasa berlari menyambut Dazzler bukan aku.

Baca Juga:   Huawei Honor 3C, Lawan Sepadan Asus Zenfone 5

Saat malam tiba dan susah untuk tidur, Azim biasanya akan mengambilkotak peralatan bengkel. Mengambil obeng lalu menggoreskan guratan-guratan kecil di body sepeda motor. Merusak memang, tapi bagiku, itu selaksa grafis seni gratisan yang sangat berharga.

Suatu hari nanti, saat dia beranjak dewasa. Aku berharap membagi kisah ini.

Semangkok bakso sukses aku lahap, lalu lanjut meneguk kesejukan segelas es degan. Gula jawa merah yang berpadu dengan seggarnya kepala muda itu tiba-tiba, deg!, seakan berhenti ditenggorokan ketika dua anak kembar yang duduk disampingku bertanya pada mama mereka.

 “ma, motornya mirip punya ayah ya?”

“motor ayah sekarang kemana ma?”

“ya ikut dibawa ke surga lagh”

“tapi kok nggak ikut dikubur”

“….”

“coba ayah masih ada”

“iya ya … pasti sore begini diajak jalan-jalan”

Tak ada jawaban dari mulut sang mama, cukuplah senyuman yang menjadi jawaban dari setiap tatap mata penuh tanda tanya tentang orang mereka rindu dan tak kembali lagi.

Ingatanku langsung melesat jauh ke rumah. Ingin segera cepat sampai, agar istriku tak perlu menjawab ketika anakku dilanda rindu padaku. Hari ini, nanti, maupun esok.

roda2blog di sosial media

8 Komentar

Tinggalkan Balasan