Wejangan Simbah #1: Jangan Memilih Kehilangan Pendapatan daripada menguras Tabungan.

Berikut ini adalah nasehat keuangan dari almarhumah nenek saya. Beliau dulu cuma seorang penjual sate gule kambing di daerah sewulan, dagangan, Madiun. Tapi berkat kegigihan beliau yang ditinggal almarhum kakek dengan empat orang anak yg masih kecil-kecil. Anak serta cucu-cucu beliau bisa hidup berkecukupan sebagai pedagang.

Tips pertama: “Ojo nganti kelangan bati timbang kelangan celengan”
Jangan sampai kehilangan pendapatan, daripada kehilangan tabungan.

Saat menemani simbah belanja bahan-bahan sayur di pasar Slering, seringkali kami bertemu dengan penjual perabotan, alat dapur atau apalah, yang bersifat kredit.

Selesai berbelanja, barang belanjaan akan diantar tukang becak ke rumah. Sedang kami akan beristirahat di warung kupat tahu joss di sebelah utara pasar. Sambil bersantai, beliau memberi nasehat:

“Jangan sekali-kali membeli barang secara kredit kalau kamu punya tabungan. Tapi kalau enggak punya tabungan ya jangan beli. Kredit kui demit (setan).

Sekali saja kamu beli barang secara kredit, bakal terasa enak terus merasa enteng, kalau sudah lunas bakal kredit lagi. Padahal kredit itu mengurangi bathi (pendapatan), kalau pendapatanya berkurang ya berarti yang masuk ke tabungan berkurang.

wis ora iso nambah celengan, terus mengko yen ono soro tibo celengan’e ora cukup
(selama bayar kredit) tidak bisa menambah tabungan, nanti jika ada kejadian mendadak tabunganya enggak cukup”

Di zaman sekarang, muncul paradigma semakin besar pendapatanmu bakal semakin besar hutangmu 😯 Kebanyakan manusia zaman sekarang lebih memilih barang secara kredit dengan dengan asumsi bisa dicicil dengan gaji. Terutama barang-barang konsumtif seperti handphone, laptop, motor dkk-nya.

Padahal ketika diuangkan kembali, atau dijual kembali, harga bekasnya tinggal separo dari total cicilan yg dibayar. Yagh mungkin benar kata simbah, orang lebih suka kehilangan gaji daripada kehilangan tabungan. Padahal kalau gaji sudah berbentuk tabungan itu bakal lebih awet karena lebih berat hati untuk membelanjakanya.

Gaji/pendapatan itu masih samar-samar jadi kadang yg masih samar itu enggak dianggep penting. Berbeda ketika gaji sudah berwujud tabungan, bakal muncul rasa eman dan sayang karena sudah nyoto.

 

 

roda2blog di sosial media

9 Komentar

Tinggalkan Balasan