Latgab TNI 2014: Agar tak ada lagi Pasukan yang merasa paling jago

para komando TNI

Indonesia adalah  salah satu negara yang memiliki jumlah pasukan para komando terbanyak di dunia. Ancaman yang muncul adalah konflik interen antar kesatuan komando tentang siapa yang paling jago?, termasuk di kalangan peminat militer. Bahwa Denjaka lebih jago, Kopassus lebih oke, Kopaska mantab, Hantu laut lebih dahsyat, Den Bravo itu maut bro dst. Opini serta sikap prajurit yang merasa paling jago seperti inilah yang ingin dihapus oleh Mabes TNI lewat latihan gabungan tiga matra ini.

Berikut rilisan beritanya:

Sosok di Balik Sukses Implemetasi “Doktrin Baru” TNI

Selasa,10-06-2014
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro beberapa kali mengucapkan kata selamat dan sukses atas selesainya Latihan Gabungan TNI 2014 yang dipusatkan di Laut Jawa dan Pusat Latihan Tempur Marinir Karang Tekok, Situbondo.

Di balik sukses kegiatan yang digelar 1-5 Juni itu, ada “panglima” pengatur skenario latihan gabungan yang melibatkan 15.108 prajurit dari TNI AD, TNI AL dan TNI AU, yakni Letjen TNI Lodewijk F Paulus. Komandan Komando Pendidikan dan Latihan TNI AD tersebut menjabat sebagai Direktur Latgab TNI 2014.

Letjen TNI Lodewijk F Paulus
Jenderal bintang tiga kelahiran Manado, 27 Juli 1957 itu dalam Latgab ini bertugas memimpin implementasi “doktrin baru” TNI, yakni “kampanye militer”. Konsep kampanye militer itu adalah operasi gabungan ketiga angkatan, sehingga tidak ada lagi kegiatan parsial masing-masing angkatan.

Baca Juga:   Awas Ada Hape Infinix Ilegal Beredar

“Dengan doktrin ini, tidak ada lagi prajurit yang merasa paling ‘jagoan’. Semua ‘jagoan’. Tidak ada yang merasa paling pahlawan, semua pahlawan,” kata mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus dan Pangdam I Bukit Barisan itu.

Alumnus Akademi Militer 1981 yang pernah menjadi Komandan Satuan-81/Penanggulangan Teror Kopassus itu mengemukakan dengan kampanye militer, maka yang ada dalam pikiran prajurit adalah bagaimana bekerja sama dengan satuan atau angkatan lainnya.

Karena itu, kata dia, dari awal prajurit akan langsung dikenalkan dengan konsep operasi gabungan tersebut. Di kalangan perwira, dari sejak letnan dua akan dikenalkan konsep tersebut, bahkan kalau perlu ketika mereka masih menjalani pendidikan di akademi masing-masing.

“Kalau zaman saya, mengenai kepemimpinan tri matra itu ketika sudah berpangkat mayor atau saat menempuh pendidikan sesko (sekolah staf dan komando) dan dilanjutkan ketika di Sesko TNI,” katanya.

Baca Juga:   Ini dia spesifikasi Unimog 1300L milik Massa Pro Prabowo

Konsep tersebut, kata dia, akan terus diuji coba dan dilakukan evaluasi terus menerus untuk membentuk postur TNI yang kokoh dan kuat.

Sumber : Okezone

Diantara kebijakan Mabes TNI untuk mencegah konflik antar komando adalah pemusatan latihan bersama, seperti contoh untuk ketahanan air dipusatkan di Sekolah Kopaska.

latihan kopaska

roda2blog di sosial media

Tinggalkan Balasan