IMHO: Pilih Prabowo atau Jokowi, Tetap Hashim dalangnya

Prolog
Kapan pertama kali nama Jokowi menasional? Tepatnya adalah di Bulan Januari 2012 saat Jokowi mengumumkan penggunaan mobil Esemka sebagai kendaraan dinas. Apakah ketika itu nama Jokowi langsung masuk ke dalam bursa calon presiden 2014? Belum dan tidak terpikirkan oleh siapapun.

Brand Jokowi saat itu baru setara dengan brand Risma saat ini, sebagai kepala kota menengah yang sukses memimpin kota-nya. Hashim dengan jeli memanfaatkan kemonceran Jokowi ini untuk dijadikan senjata.

Hashim mendorong Jokowi untuk menjadi Gubernur DKI sebagai batu loncatan untuk menaikkan popularitas brand Jokowi dalam kancah Nasional. Hashim (dan mungkin juga Prabowo) ingin menyiapkan lawan mereka sendiri dalam Pilpres 2014 nanti. Banyak pengamat bilang bahwa Hashim-Prabowo sedang memelihara anak macan bernama Jokowi yang akan menggigit mereka sendiri ketika sudah besar.

prabowo-jokowi-ahok

Tapi si Hashim ini sangat pintar. Dia sengaja memilih dan mengorbitkan Jokowi dengan tujuan agar tokoh-tokoh capres potensial lainya seperti Dahlan Iskan tidak bisa maju. Dia memilih lawan yang dulunya kawan. Lawan yang lebih mudah dibalik dari Hero to Zero. Persis seperti cara kerja CIA membinasakan Taliban dan Saddam Hussein. Dulu dia juga yang membesarkan keduanya, lalu dia juga yang dengan mudah mengalahkanya setelah tujuan tercapai.

Akhir tahun 2012, tepatnya bulan November. Puskaptis merilis nama capres yang paling populer, hasilnya nama JK dan Dahlan Iskan berada di urutan teratas mengalahkan Prabowo, nama Jokowi belum masuk ke radar calon Presiden. Klik link ini bila anda lupa dinamika politik 2012. Bila Prabowo harus berhadapan dengan Dahlan Iskan atau JK dalam pilpress, itu jauh lebih susah daripada melawan Jokowi.

Baca Juga:   Waduhh, Pertamini dan Kios Bensin Eceran Bisa Dipenjara Sob!!

Akhir 2012 headline berita nasional juga dipenuhi rebutan antara Bakrie Group dengan Mafia Rotschild menyangkut rebutan Bumi Resources. Headline internasional lalu geger, karena untuk pertama kalinya, Nat Rotschild kalah dalam voting Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bumi Plc di London. Dan tebak siapa Agen Rotschild Indonesia? Hashim. klik di sini bila anda lupa tentang berita yang menghebohkan dunia ini. di sini juga boleh

Hashim-Djojohadikusumo-forbes.com_

Saya tidak mau beriluminasi tentang dendam keluarga Rotcsilid untuk bisa menguasai pertambangan di Nusantara lewat salesmen Hashim. Saya juga tidak bersimpati pada Klan Rotschild yang dipermalukan selaksa Drupadi dihadapan dunia (klik disini), karena kalah dari keluarga pengusaha yang diambang bangkrut dalam rebutan perusahaan penguasa tambang batubara di Nusantara.

Saya juga tidak mau menyamakan (walau sering terlintas di benak) bahwa peran Hashim dalam pilpres 2014 ini sama dengan peran Kresno dalam perang Bharatayudha – Mahabharata. Kresna punya kekuatan untuk mencegah perang terjadi, tapi malah mensponsori perang, para kurawa diberinya pasukan sedang Pandhawa dibekalinya taktik jitu untuk mengalahkannya.

Saya sebenarnya berharap banyak pada Jokowi untuk menang dalam pilpres 2014 ini, tapi lingkaran orang-orang dalam Jokowi adalah orang-orang yang selalu kalah dalam berpolitik. Ibarat kata mereka adalah para pekerja yang sering dikadali politikus, seperti Dahlan Iskan. Lalu ada juga para politikus yang selalu kalah setiap arena pertarungan seperti Agum Gumelar, termasuk Jenderal pemimpi Wiranto yang berharap dapat supersemar tahun 1998.

Adapun di Lingkaran Prabowo adalah politikus-politikus kelas garong yang selalu sukses berkelit menghadapi setiap masalah yang menghadang.

Baca Juga:   Dapat Orderan Nabi Muhammad, Driver Ojek Online Lapor Ke Polisi

Sejak awal PDIP telah menyadari potensi Jokowi yang dijadikan benalu oleh Hashim karenanya mereka terus mengulur waktu untuk deklarasi capres PDIP. Ibu Mega pun tak hadir ketika deklarasi Jokowi sebagai capres pada sebelum pileg. Mega kabarnya lebih sreg mengajukan Tri Risma Harini walikota Surabaya. Bilapun akhirnya jadi presiden, PDIP tidak kehilangan kontrol atas Surabaya, berbeda bila Jokowi jadi Presiden yang kemungkinan Jakarta akan jatuh ke tangan Gerindra.

Ahh andai elite PDIP saat itu lebih taat dan patuh pada garis strategi yang direncanakan oleh Puan sebagai ketua Bappilu partai. Menjual keberhasilan kinerja pemimpin daerah yang diusung partai selama Pileg, baru kemudian memutuskan capres berdasarkan peta suara PDIP selama pileg.
Mekanisme-nya?,
1. jika ternyata suara PDIP di Jatim lebih besar daripada di Jakarta, maka Tri Risma Harini yang dimajukan capres 2014.
2. Pada daerah yang dikunjungi Risma dan Jokowi sebagai Jurkam, akan dihitung seberapa besar efek keduanya dalam mendongkrak suara partai di daerah tersebut.
Apa daya semua lebih terpikat omongan Hasto?

kampanye-bareng-mega-risma-pilih-pakai-batikEpilog
Pilpres 2014 ini ibarat saya mau makan rendang, lha kok ternyata yang disuguhkan di meja kepada saya adalah Tongseng dan Sate Kambing, beda bentuk tapi satu bahan dasar, wedhus kabeh.

Tapi karena saya adalah fans berat Karna dalam Bharatayudha, selalu ada harapan kecil dalam hati ini untuk melihat Jokowi menang, walau telah yang telah disetting untuk kalah oleh Kresna.

 

 

 

roda2blog di sosial media

8 Komentar

  1. Kalau menurut saya JK dan Dahlan sulit maju ke bursa capres. JK yang dicalonkan PKB masih kalah pamor dengan Mahfud, dan PKB juga bukan pemenang. Golkar? Tidak mungkin dukung JK.

    Dahlan yang dari konvensi Demokrat juga susah, karena esbeye lebih memilih iparnya. Demokrat juga bukan pemenang pemilu.

    Jadi saya kira ini betul-betul kecerobohan Hasyim saja yang memelihara anak macan.

  2. waduh, justru dari isu yang saya baca di forum-forum, bahwa kalo jokowi menang bakal dikendalikan/ disetir mega. semoga saja semuanya hanya isu belaka. menjelang pilpres makin banyak isu-isu berkembang liar. baik isu positif maupun negatif.

Tinggalkan Balasan