Kultum Ramadhan #4: Hidayah datang bila kita merendahkan hati

Seringkali saya ditanya oleh sahabat karib saya, seandainya kamu hidup di zaman Nabi? kira-kira kamu masuk Islam atau menjadi pendukung Abu Jahal.

Susah sekali untuk menjawab pertanyaan diatas. Julukan lain dari Abu Jahal adalah Abul Hakam, yaitu artinya orang yang paling bijaksana dan pandai di kalangan suku Quraisy. Tapi kecerdasan otaknya tidak mampu untuk membuka pintu hatinya.

Ada juga Amru bin Ash danĀ  Khalid bin Walid dua pria yablng terkenal kepandaianya di seantero Arab pada masa itu, tapi juga tidak langsung masuk Islam seperti Ustman atau Abu Bakar.

Semua karena merasa bahwa  otak lebih penting daripada hati. sebuah rasa bahwa kecerdasan dan pendapat otak saya lebih baik dari siapapun. Sehingga ketika ada perbedaan sudut pandang, langsung memvonis saya benar anda tetap salah.

Baca Juga:   Kawasaki Ninja Zx-6 edisi 30th Anniversary

Umar bin Khattab akhirnya mendapat hidayah setelah mau bersabar dan merendahkan hati mendengar nasihat adik perempuanya. Begitu juga Khalid dan Amru yang mau membuka hati lalu mendengarkan pendapat orang lain tentang sosok kepribadian Nabi Muhammad SAW.

Apalah Khalid, Amru dan Umar tidak mengenal pribadi Nabi, mereka mengenal pribadi Nabi tapi sebelum masuk Islam mereka sering didoktrin oleh Abu Jahal untuk lebih mengedepankan Otak tentang derajat dan kesukuan daripada mendengarkan simpati kata hati pada teman bermain mereka semasa kecil.

Bila kita ingin melanggengkan hidayah Iman di hati ini, kerendahan hati adalah mutlak diperlukan. Karena sekuat apapun usaha kita mencari hidayah iman Islam, tak akan bisa ketemu bila Allah tak memberi, hidayah adalah dari Allah dan Allah sangat membenci orang yang sombong.

roda2blog di sosial media

1 Komentar

Tinggalkan Balasan