Mengenal Agama Baha’i

Sejarah
Agama Baha’i lahir pada tahun 1844 M di Iran. Pertama kali didakwahkan oleh Sayyid Ali Muhammad dari Shiraz, Iran. Sayyid Ali kemudian mendapat gelar suci “al-Baab” atau Sang Bab atau sang Pintu hidayah.

Karena ajaranya dianggap sesat oleh shah Iran pada masa itu, Sang Bab lalu diasingkan di pegunungan Azerbijan yang mayoritas bersuku Kurdi. Di sana ajaranya malah mendapat sambutan luar biaza.

Shah Iran lalu memutuskan menghukum mati sang Bab pada 1850 di Kota TabriZ. Jenazahnya lalu diambil para pengikutnya dan dikuburkan di Haifa Palestina yang sekarang masuk Israel.

Tampuk kepemimpinan lalu dipegang oleh Mirza Huseyn Ali seorang bangsawan dari keluarga penguasa Shah Iran. Mirza kemudian digelari Bahaaullan atas jasa-jasanya menyusun kitab suci dan merumuskan fondasi dasar kehidupan kaumnya. Dari gelarnya itulah nama agama Baha’i diambil.

Tahun 1860 Bahaaullah diusir dan diasingkan ke baghdad setelah 5 tahun di penjara di bawah tanah. Di sinilah Bahaaullah menyebarkan ajaran bahai melalui pena dan ceramah. Baha lalu ditangkap oleh kesultanan Turki, tapi masih diberi kebebasan menulis dan berkorespondesi dengan para pengikutnya, termasuk mengirim surat pada para pemimpin dunia.

Baca Juga:   Motor Listrik Belum Ada Payung Hukum Di Indonesia

Bahaa kemudian dipindah ke Acre Palestina dan ditahan selama 25 tahun sampai mati pada tahun 1892.

Kepemimpinan lalu dilanjutkan oleh puteranya Abdul Bahaa. Tahun 1908 Abdul Bahaa bebas dari penjara sebagai efek dari revolusi Turki. Pada masanya dibangun Taman Haifa di Acre yang menjadi tempat suci dan kiblat umat Bahaai. Sekaligus makam bagi nabi pemimpinnya.
image

Kepercayaan Bahaai tentang ketuhanan

Keyakinan Agama Bahá’í pada Tuhan Yang Maha Esa berarti bahwa alam semesta dan semua makhluk serta segala kekuatan yang ada di dalamnya telah diciptakan oleh satu Wujud supernatural yang tunggal.

Berbagai sebutan seperti Tuhan, Allah, Yahweh, dan Brahma semuanya merujuk pada Satu Wujud Ilahi, yang sifat-Nya tidak bisa diketahui dan dipahami oleh manusia. Kita belajar tentang Tuhan melalui para Utusan-Nya, yang mengajar dan membimbing umat manusia.

Ajaran Bahaai
Agama Bahá’í adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain. Pembawa Wahyu Agama Bahá’í adalah Bahá’u’lláh, yang mengumumkan bahwa tujuan agama-Nya adalah untuk mewujudkan transformasi rohani dalam kehidupan manusia dan memperbarui lembaga-lembaga masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan persatuan seluruh umat manusia.

Baca Juga:   Contoh Kebusukan Pejabat tentang TKW/TKI

Umat Bahá’í berkeyakinan bahwa agama harus menjadi sumber perdamaian dan keselarasan, baik dalam keluarga, masyarakat, bangsa maupun dunia. Umat Bahá’í telah dikenal sebagai sahabat bagi para penganut semua agama, karena melaksanakan keyakinan ini secara aktif.

Ajaran-ajaran Agama Bahá’í antara lain adalah keyakinan pada keesaan Tuhan, kebebasan beragama,  kesatuan dalam keanekaragaman, serta menjalani kehidupan yang murni dan suci.

Selain itu, Agama Bahá’í juga mengajarkan peningkatan kehidupan rohani, ekonomi, dan sosial-budaya; mewajibkan pendidikan bagi semua anak; menunjukkan kesetiaan pada pemerintah; serta menggunakan musyawarah sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Ajaran-ajaran tersebut ditujukan untuk kesatuan umat manusia demi terciptanya perdamaian dunia.

Kitab Suci Bahaai adalah Kitab alAqdas/ Kitab Tersuci.
image

roda2blog di sosial media

6 Komentar

Tinggalkan Balasan