Perang Jawa I Bagian 1

Mentari pagi mulai menyinari bumi Tuban. Para kepala desa ,dari seluruh wilayah kasunanan Tuban duduk di serambi masjid menanti Sunan Bonang.
Hari ini mereka ingin mengadu tentang pengungsi dari Majapahit yang semakin banyak berdatangan. Selepas mentari beranjak tinggi, sosok yang dinanti tiba.
Raden Maulana Makdum Ibrahim yang akrab dipanggil Sunan Bonang, beliau terlahir dengan nama Bong Ang putra dari Sunan Ampel.

Sunan adalah gelar bagi penguasa wilayah setingkat kadipaten. Tanggung jawab seorang sunan meliputi administrasi pemerintahan, militer sampai pemimpin keagamaan.
Wilayah Kasunanan Tuban berbatasan dengan Kasunanan Lamongan di Timur dan Kasunanan Muria di Barat.

Di selatan wilayahnya berbatasan langsung dengan Kerajaan Majapahit.
Masjid menjadi pusat pemerintahan kasunanan, bangunan masjid terdiri dari dua ruang. Ruangan utama untuk sholat berjamaah dan serambi masjid yang luas yang menghadap langsung ke alun-alun.

Serambi masjid berfungsi sebagai aula tempat pertemuan. Di sebelah kanan dan kiri masjid, terdapat bangunan tempat para pembantu sunan bertugas.

“Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu” ucap sunan kepada semua kepala desa yang telah menantinya di serambi.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabaraktuhu” jawab mereka serempak.

Para kepala desa kemudian menyampaikan keluhan mereka perihal para pengungsi dari Wilayah Majapahit.
“mereka ini orang-orang kafir, tidak tahu halal haram dan yang paling membuat kami sedih, kaum wanita mereka tidak menutup aurat.” Lapor seorang lurah.

“Ada yang membawa babi dan anjing dalam cikar. Beberapa kelompok yang sudah menetap malah beternak babi”

“Jumlah mereka semakin banyak di desa saya, saya takut ada pihak dari majapahit mengejar mereka lalu menyerbu desa”

Sunan mendengarkan dengan seksama keluhan para lurah lalu berkata,
“Ini adalah dilema. Islam mengajarkan untuk lebih mengutamakan menjaga nyawa manusia, tapi jika terus dibiarkan aku juga takut ada buronan dari Majapahit di antara para pengungsi sehingga mengundang serangan dari pihak yang bertikai.”

“Apakah tidak sebaiknya kita menghalau mereka ke Lamongan atau Muria?” usul seorang lurah.

“Itu sama saja dengan melemparkan masalah kita pada saudara kita tanpa ridlo darinya” jawab sunan Bonang.

“Aku harus beristikharah dulu serta bermusyawarah dengan para sunan lainya. Untuk sementara, bagi yang bersedia masuk Islam kita akan menjamin keamananya.
Sedang bagi yang tidak mau masuk Islam, harus membayar jizyah dua keping emas jika ingin perlindungan dari kita. Bila tidak mau melaksanakan pilihan di atas tetap kita tampung tapi tidak kita jamin keamananya, jika sewaktu-waktu ada utusan Majapahit menginginkanya akan kita serahkan.”

Baca Juga:   Gak Laku di Indonesia, Yamaha R25 Laris Manis Di Luar Negeri Kalahkan Honda CBR250RR

….

Majapahit telah tercabik-cabik perang saudara. Ada dua orang yang mengklaim sebagai raja, Kertabhumi dan Wardhana.

Kertabhumi memerintah dari Kahuripan di sebelah timur Gunung Kawi. Wilayah yang dikuasainya membentang dari timur gunung Kawi sampai tanjung Blambangan.

Wardhana menguasai lereng barat Gunung Kawi sampai lereng timur gunung Wilis. Lebih kecil tapi memiliki pasukan yang lebih handal daripada Kertabhumi.

Wardhana dulunya adalah seorang panglima perang kepercayaan Singhadana, raja majapahit yang digulingkan dan dibunuh Kertabhumi.
Perang ini menyebabkan minimnya kontrol pusat terhadap daerah-daerah kadipaten di Majapahit. Para pembesar istana saling menxurigai satu dengan yang lainya.

Banyak adipati selaku kepala daerah yang bertindak semena-mena menindas rakyat yang sedang menderita karena perang dan kelaparan. Bagi mereka Majapahit hanya kisah masa lalu.
Para penyamun bebas leluasa berbuat kejahatan. Para penegak hukum sudah tak lagi dipatuhi.

Saluran irigasi pertanian yang risak karena perang tak diperbaiki lagi oleh para penguasa telah menyebabkan gagal panen. Lumbung-lumbung padi telah lama kosong karena terampas untuk bekal prajurit dalam perang. Kelaparan pun melanda.

Kaum agamawan, para Resi pemuka agama dan para cantrik penghuni candi pemujaan tak bisa berbuat banyak untuk membantu penderitaan rakyat dan menghadapi para pejabat amoral.
Wilayah yang banyak dihuni kaum muslim di pesisie utara pulau Jawa memilih untuk merdeka dari Majapahit. Mereka  membentuk pemerintaan kasunanan.

Terbentuklah kasunanan Ampel, Giri, Drajad, Tuban, Muria dan Demak. Adanya kasunanan melindungi umat Islam dari perang antar umat Hindu di Majapahit.

Penduduk di pedalaman Majapahit yang menderita akibat perang memilih mengungsi ke wilayah kasunanan untuk mengubah masib. Mereka umumnya datang dengan menaiki cikar. Sebuah gerobak kayu dengan roda besar yang juga terbuat dari kayu yang ditarik oleh dua ekor sapi.

Cikar itu dibuat dari kayu-kayu rumah mereka yang sengaja dirobohkan. Dibuat besar agar mampu membawa seluruh keluarga dan banyak barang berharga untuk modal hidup di tanah tujuan.

Wilayah kasunanan telah berkembang menjadi kota bandar pelabuhan yang ramai. Banyak kapal-kapal dari India dan Arab yang singgah. Di sinilah sapi-sapi penarik cikar laku dijual.

Perjalanan laut yang memakan waktu lama antara kepulauan Maluku dan India serta Jazirah Arab mengharuskan awak kapal untuk menimbun bahan makanan. Beras dan sapi adalah barang langka di Maluku.

Baca Juga:   Saat Bus SHD Ngeblong, Rasanya Gimana Yaa

Nahkoda kapal memilih untuk berlabuh di Jawa dalam menyiapkan kebutuhan pangan selama berlayar. Di pulau  inilah mereka menemukan beras dengan kualitas yang bagus serta susu dan bahan olahan susu yang akrab dengan kehidupan mereka di tanah asal. Yang paling utama sapi.

Sapi-sapi itu mereka angkut dalam kapal hidup-hidup. Daging sapi segar adalah barang langka di tengah laut. Bila masih tersisa sapi hidup itu bisa dijual denngan harga mahal.
Kapal-kapal dagang tersebut awalnya hanya bermaksud singgah di pesisir utara jawa untuk mengisi bahan makanan setelah selesai berdagang di kepulauan Maluku. Daging sapi dan bahan olahan susu adalah komoditas utama.

Jawa pada masa itu terkenal dengan populasi sapi yang melimpah. Sapi menjadi hewan terpenting dalam kehidupan masyarakat. Selain berfungsi sebagai buruh tani dalam membajak sawah dan Alat transportasi untuk menarik pedati. Sapi juga menjadi sumber pangan masyarakat Jawa Majapahit dengan memanfaatkan susu dan bahan olahanya seperti mentega dan kejua. Sapi yang sudah berusia lanjut disembelih untuk diambil daging dan dimanfaatkan kulitnya.

Begitu banyak manfaat dari sapi membuat masyarakat menghormati sapi. Mereka menaruh patung sapi dan mensucikanya di hampir setiap candi peribadatan.

….

Ada sebuah dongen menarik ketika seekor ayam menagih patung dirinya karena iri pada sapi kepada seorang resi sakti yang bisa mengerti bahasa hewan.
“wahai Resi yang sakti, kenapa harus patung sapi yang engkau tempatkan di kuil?”
“Karena yang demikian sudah kehendak takdir dari Sang Hyang Widi”
“Tapi bukankah garis takdir kaumku lebih banyak  berkorban daripada Sapi?”.
“Maksudmu?” tanya resi heran.
“Kaum Jantan kami kalian sembelih sebagai korban untuk dewata. Lalu anak-anakku yang masih berupa telur kau jadikan lauk pauk. Kemudian kaum betina kami yang sudah tidak bertelur lagi kalian sembelih juga.” klaim si ayam.
“Itulah yang membedakan sapi dari kebanyakan Hewan. Sapi  tidak hanya ditakdirkan untuk mengorbankan dirinya tapi juga untuk melayani kami.
Sapi betina mereka memberi kami susu laksana seorang Ibu. Yang jantan melayani kami membajak sawah dan menarik gerobak.
Ketika sudah tua dan tak lagi berguna mereka menyerahkan daging tubuhnya untuk kami makan agar tidak membusuk jadi bangkai.”

bersambung

Tinggalkan Balasan