Lha kok Lucu, Ada Polisi Demo Atasanya Bro. Polres Pamekasan Madura

1437269Demo-Polres1780x390foto: kompas.com

Diberitakan oleh beritajatim.com, tiga petinggi Polres Pamekasan didemo oleh anggota mereka. Masing-masing Wakapolres Pamekasan, Kompol Hartono, Kabag Ops Polres Slamet Riyadi dan Kabag Sumda, Kompol Sugeng Santoso. Bahkan, ketiga rumah dinas mereka juga diberi police line oleh peserta demonstrasi. Tuntutan dalam demonstrasi yaitu pencopotan tiga pimpinan di Polres Pamekasan, yang juga diidentiikan dengan istilah Polres 2, 3 dan 4

Menurut Wakapolres, aksi demonstrasi yang dilakukan oleh anggora kepolisian dari Polres Pamekasan hanyalah masalah mis komunikasi saja. Seperti diketahui aksi demonstrasi yang dilakukan oleh anggora kepolisian dari Polres Pamekasan dilakukan siang tadi (sabtu 5/10/2014) terhadap tiga pimpinan mereka.

Wakapolres Pamekasan Kompol Hartono (salah seorang yang didemo) menjelaskan peristiwa tersebut berawal saat apel pagi di halaman Mapolres, Jl Stadion 81 Pamekasan.

Saat itu Kabag Ops Polres Pamekasan, Slamet Reyadi menegur salah satu anggota saat pelaksanaan apel. “Kabag Ops menegur (anggota) karena ngomong sendiri. Setelah ditegur kemudian saling memberikan respon. Otomatis kan tidak etis, yang ngomong didepan, terus di belakang juga ngomong,” imbuhnya.

“Setelah itu, seluruh anggota ke Masjid, anggota tidak tidak tahu persoalannya itu bagaimana. Dan seketika minta pindah ke Reserse,” ungkap pria asal Solo, Jawa Tengah itu.

Ditegaskan terkait tuntutan anggota yang mengatakan ketiga pimpinan seringkali mengatakan tidak wajar, pihaknya mengelak bila mengungkapkan hal yang tidak pantas. Tetapi, diakuinya bila prakata tersebut sangat wajar bagi anggota kepolisian. “Perwira ini kan sifatnya kalau salah otomatis ada konsekuensinya, ditegur sampek dua kali. Sehingga nyampek pada kata-kata marah,” jelasnya.

Baca Juga:   Yamaha Leksam semakin merana ...

“Kata-kata marah di Polisi kan tidak mungkin ‘hey kamu’ (nada pelan), tapi kata-kata keras kan. ‘Kenapa ini tidak selesai, kenapa kamu begitu’ (dengan nada keras). Memang begitu, harus tegas. Tidak seperti di Keraton, ‘hey kenapa kamu’ (nada pelan). Kan tidak mungkin,” lanjutnya.

Selain itu, pihaknya sebagai pimpinan tidak serta merta menindak anggota yang bersalah satu persatu. Tetapi harus mengambil keputusan setelah ada bukti-bukti yang salah. Sehingga bisa disimpulkan titik kesalahannya. “Kondisi di lapangan saat apel dan ada yang bermasalah tak suruh ke Provos, di belakang ada cekcok mulut antara kabag Sumda dengan anggota itu. Otomatis saya arahkan kesana,” paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan, korp Polri merupakan didikan yang ditempa langsung di lapangan, yang pastinya nuansa keras juga senantiasa mengalir pada diri masing-masing anggota. “Kita menghadapi ancaman ‘penjahat’ kan orang keras. Kalau kita lemah bagaimana dengan kemampuan kita, kan seperti itu,” jelasnya. Kompol Hartono juga meminta agar media tidak membesar-besarkan kasus ini, karena masalahnya adalah salah paham dan miskomunikasi.

Baca Juga:   Sate Ayam Jago Ngepos Mlilir, Madiun-Ponorogo.

Kenapa kok lucu?, karena jabatan di Polri seperti Kapolres dkk, paling lama hanya 2 tahun saja terus dimutasi ke lainya. Bila memang pejabat atau atasanya gak enak, apa masak iya gak bisa sabar nunggu 2 tahun saja.

Dalam opini saya, ini agak memalukan untuk institusi berbasis komando perintah seperti polri, harus diusut tuntas, bahaya bila sikap indisipliner seperti ini dibiarkan bisa-bisa nanti bukan demo lagi, tapi kudeta terhadap atasan.

 

roda2blog di sosial media

3 Komentar

3 Trackbacks / Pingbacks

  1. Kenapa Militer Indonesia ditakuti: Karena punya pasukan Para Komando Terbesar ke-4 di Dunia | roda dua blog
  2. Kemampuan Denjaka TNI AL Lebih Unggul di Arena Latihan Internasional | roda dua blog
  3. Off Air: Kisah Kehebatan Denjaka Dibalik Temuan Puing Air Asia setelah Mengapung di Lautan Selama 18jam | roda dua blog

Tinggalkan Balasan