Merana, Nasib Petabi Tebu dan Pekerja Pabrik Gula di Era Transisi Jokowi

Sekedar menyambung kan suara kesedihan dan keresahan para pelaku industri gula, mulai dari petani tebu sampai pekerja pabrik gula di eks karesidenan Madiun. Karena tak satu pun media TV skala nasional yang meliputnya secara intensif,  entah sengaja atau memang luput.

Selama 5 tahun kedua pemerintahan SBY dengan menteri BUMN Dahlan Iskan, sangat sukses dalam merevitalisasi pabrik gula dan menaikkan harga beli tebu dan berujung pada kesejahteraan petani tebu.

image

Tapi semuanya buyar bubrah di musim giling tebu 2014 ini yang bertepatan dengan kemenangan Jokowi jadi presiden.  Sebuah sistem yang sudah bagus itu tiba-tiba hancur. Semua karena gula impor yang tiba-tiba masuk.

Gula yang diproduksi Pabrik gula tidak laku dijual karena kalah harga. Walhasil pabrik gula tidak bisa membayar tebu ke petani. Dengan sangat terpaksa mereka membayar tebu mentah dengan gula pasir hasil produksi. Lalu gula dijual ke toko atau pasar dibawah harga gula impor,  harga gula impor juga terus turun walhasil harga beli gula juga terus turun.

Baca Juga:   Honda all-New Beat datang: Selamat!, Honda New Megapro bakal tambah kencangggg tarikanya!

Hancur sekali nasib ekonomi petani. Tebu hanya bisa dipanen setahun sekali. Dan tahun ini harga tebu per-satu kotak atau 1.400 meter perseginya hanya Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta itupun dibayar gula bukan pake uang tunai. Padahal tahun lalu selama periode kedua pemerintahan SBY bisa 7-10juta.

image

Pekerja pabrik gula terancam PHK masal.
Masa depan suram juga menanti pekerja pabrik gula yang terancam di PHK karena biaya modal operasional giling tebu selama tidak mencukupi. 

Penyebabnya?
inilah dugaan penyebab yang menghancurkan sistem tata kelola tebu yang sudah diwujudkan selama era kedua SBY. Demi mengembalikan modal para sponsor, kran impor dibuka bebas.
image
note: Pagotan adalah salah satu pabrik gula di madiun

Baca Juga:   Berdasarkan Hitungan Jawi, Calon Presiden Terpilih Lahir Bulan Juni

Dahlan Iskan menarik diri dari bursa menteri.
Sangking kecewanya Dahlan Iskan yang kebijakan nya hancur demi menyenangkan para sponsor kampanye, kabarnya beliau ogah jadi menteri di era Jokowi. Jika benar beliau tidak menjabat menteri lagi, kebenaran kabar ini bisa benar adanya.

roda2blog di sosial media

15 Komentar

  1. lho apa emang udah ngambil kebijakan impor presiden baru ini?
    musim giling tebu kan dari beberapa bulan lalu,coba deh liat tanggal artikel difoto,juli dan agustus kan?waktu itu presidennya siapa?

  2. Harga gula menukik sudah dirasakan sejak oktober 2013 hanya menjelang Idul Fitri th 2014 naik sedikit dan kemudian masuk musim giling 2014 harga gula terus tak berubah berkisar Rp 8.300,-/kg padahal harga yang ditetapkan pemerintah Rp 85.00,- seiring berjalannya waktu hingga bulan agustus-september tidak ada perubahan naik tapi justru terus turun akibat besarnya impor di bulan-bulan sebelumnya. Sebelum pelantikan Presiden Jokowi gula stabil di kisaran Rp 8.000,- sehingga PTPN gula menahan bulanya hingga saat ini karena jelas merugi besar jika dijual. Sementara PTPN gula terus membutuhkan dana operasionalnya, akibatnya PTPN gula harus mencatatkan nominal hutangnya sangat fantastis. Diperlukan sebuah kearifan dengan tidak saling menuduh siapa yang salah siapa yang benar karena semua salah, oleh karena itu Tripartit : Pemerintah, PTPN gula dan Petani tebu membuat Rencana stock balancing supaya petani dan PTPN gula bisa meraih untung yang wajar. Informasi Lelang terakhir hanya di hargai Rp 7.800,- jika ini berlarut maka hancurlah sudah PG. Sebagai gejala kehancuran yang lain bahwa sekarang sudah banyak lahan2 yang biasa ditanami tebu sekarang sudah ditanami komoditas lain. Bisa dibuktikan oleh siapa saja di ex karesidenan Madiun sudah tidak banyak petani yang menanam tebu lagi.

  3. Itu di skrinshut kok harga gula yang yutun malah pada 1 agustus dan 8 juli. Jadi penurunan harga gula sejak kapan mas? Dan sekarang berapa harganya?

    • Menaikkan HPP 2015 Bukan Solusi Masalah Pergulaan
      Wike Dita Herlinda Rabu, 07/01/2015 16:49 WIB

      Bisnis.com, SURABAYA—Pemangku kepentingan pergulaan di Jawa Timur mengaku kenaikan harga patokan petani gula kristal putih periode 2015 bukan lagi prioritas yang akan mereka tuntut kepada pemerintah dalam mengatasi isu kelebihan stok dan kesulitan penyerapan.

      Pasalnya, masalah timbunan stok gula kristal putih (GKP) di Jatim—selaku kontributor 48% dari total produksi gula nasional—tidak serta merta dipicu oleh harga lelang yang lebih rendah dari harga patokan petani (HPP) senilai Rp8.500/kg.

      Penasehat Senior Asosiasi Gula Indonesia (AGI) yang berbasis di Kediri Yadi Yusriadi berpendapat hal yang lebih mendesak untuk dibenahi pemerintah adalah fungsi pengawasan dan penertiban distribusi gula (baik rafinasi maupun kristal putih) sesuai segmen pasar masing-masing.

      “Jadi yang penting bukan HPP GKP, tapi pengendalian suplai ke pasar. Berapapun nilai HPP-nya tidak selalu berbanding lurus dengan harga yang diterima petani,” jelasnya kepada Bisnis, Rabu (7/1/2014).

      Dia mencontohkan pada 2012, ketika HPP GKP masih Rp8.100/kg, harga gula dapat mencapai lebih dari Rp10.000/kg. Sebaliknya, pada 2014, ketika HPP sudah naik menjadi Rp8.500/kg, harga lelang gula di Jawa Timur justru merosot di bawah Rp8.000/kg.

      “Penumpukan stok GKP yang ada di Jawa Timur saat ini lebih disebabkan karena segmen pasar sudah banyak terisi dari sumber lain. Sedangkan, harga lelang yang rendah ini hanya sebagai dampak dari produk yang berlimpah.”

      Yadi mengklaim sisa GKP di gudang pabrik-pabrik gula di Jatim diperkirakan mencapai lebih dari 1,5 juta ton, alias naik 60% dibandingkan tiga tahun yang lalu. Padahal, imbuhnya, angka produksi gula putih relatif tetap.

      Dengan asumsi kenaikan jumlah penduduk sekitar 1,7% dan konsumsi per kapita yang relatif tidak bertumbuh, menurutnya, seharusnya sisa GKP di gudang pabrik-pabrik gula Jatim saat ini kurang dari 900.000 ton.

      “Jadi, logikanya ada pangsa pasar GKP basis tebu sejumlah 600.000 ton yang diisi oleh gula hasil produksi pabrik rafinasi. Kalau pemerintah mau ada komitmen dan kemauan untuk menertibkan distribusi gula ini tidak akan terjadi. Selama ini fungsi pengawasannya lemah.”

      Di sisi lain, Sekretaris Perusahaan PTPN X M. Cholidi berpendapat harga lelang gula di Jatim yang lebih rendah dari HPP menjadi salah satu pemicu timbunan stok GKP di PG. Sebab, ketidaksesuaian harga menyebabkan banyak gula tak terjual saat lelang.

      Menurutnya, kisaran harga lelang tahun lalu adalah Rp7.500—Rp7.800/kg. Pada musim giling tahun lalu, PTPN X—selaku pembuat GKP terbesar di Tanah Air—berhasil memproduksi 468.337 ton GKP dari 11 PG miliknya di Jatim, turun 0,3% dari capaian 2013.

      Adapun, produksi gula sepanjang tahun ini diproyeksi mencapai 1,4 juta ton.  “Serapan gula di pasar tidak sesuai harapan, masih banyak yang menumpuk di gudang. Belum lagi ada kebijakan pemembukaan keran impor gula mentah .”

4 Trackbacks / Pingbacks

  1. Terjadi lagi, 2 siswa SLTA meninggal terlindas truk. Ini pengakuan sopir truk | roda dua blog
  2. Produk Bermasalah, Gaji CEO Honda dipotong | roda dua blog
  3. Gayatri Wailissa ternyata Anggota BIN | roda dua blog
  4. Capek setelah Liburan 1 Suro, Sepasang Pemotor ini kecemplung Sungai | roda dua blog

Tinggalkan Balasan