Seni Gajah dan Camel Dance, Warisan Para Kyai Ponorogo dalam Menangkal Seni Reyog

Kesenian Reyog asal Ponorogo memang menakjubkan bagi banyak orang, selain kegagahan singo barong yang mempesona juga ada atraksi canda tawa dari Bujang Ganong serta lemah gemulai dari para penari Jathil. Tapi ada sisi buruk dari kesenian ini yang sudah mendarah daging dan susah dihilangkan. Yaitu minuman keras. Hanya segelintir group reyog yang tidak mengkonsumsi miras saat pentas, seperti group Simo Budi Utomo – Milik Unmuh Ponorogo. Bila tidak tersedia arak jowo/arjo para pelaku kesenian reyog tidak akan mau mentas.

Adapun soal “gemblak” sekarang sudah tidak ada lagi. Tapi efeknya kesenian Reyog sekarang seperti kehilangan roh maskulin-nya. Tak ada lagi perang sabetan antar dadap antara dua singo barong, yang ditunggu-tunggu justru aksi lemah gemulai para jathil dan sawer-menyawer para juragan. :mrgreen:

kelompok-penari-jathilan-grup-reog-ponorogo2 resize

Ponorogo yang dulu bernama Wengker ini memang selalu terbelah dalam dua kutub, bila saat ini selain kota santri dengan Puluhan pondok pesantren seperti Gontor, Mayak, Ngabar dll. Juga merupakan kota prostitusi terbesar di Jawa Timur bahkan mungkin Indonesia dan semuanya legal.

Baca Juga:   Nyopir Sambil Menelepon, Ibu Muda ini tabrak Truk tronton.

Bila dulu prostitusi berhasil di lokalisasi di kedung banteng, sekarang kembali lagi mengepung kota dalam bentuk rumah karaoke, cafe dan warung ayu. Tapi semuanya tetap berjalan beriringan dan berkembang bersama-sama, Pondok Pesantren semakin maju seperti Pesantren Mayak, Prostitusi juga semakin merebak.

Dualisme kutub seperti ini juga sudah warisan turun temurun sejak dulu kala. Sejak zaman mataram Bumi wengker sudah terkenal dengan pesantrenya yang legendaris, Tegalsari. Asuhan Kyai Anom Besari.

Adanya keburukan dalam seni reyog juga tidak luput dari pengamatan para Kyai-kyai, tapi tidak serta merta mereka angkat senjata seperti FPI. Awalnya para ulama membuat kesenian gajah-gajahan untuk menandingi reyog, tapi daya kesenian gajah-gajahan malah jadi arena pertunjukan para waria. No waria No pentas.

Para kyai kemudian membuat kesenian onta, inilah kesenian warisan kyai zaman dulu yang sekarang dalam pentasnya tidak disusupi minuman keras ataupun waria. :mrgreen: Keliling ke desa-desa dengan suara merdu kentongan dan bedug dan lantunan sholawat.

Baca Juga:   Jerman vs Argentina: Menanti Karma Messi sebagai Deja Vu Maradona.

 

 

roda2blog di sosial media

4 Komentar

4 Trackbacks / Pingbacks

  1. Terobos Lampu Merah, Siswa SMK pengendara Yamaha Byson hantam Ibu dan Anak | roda dua blog
  2. Mengantuk Saat Berkendara, Bisa menyebabkan kecelakaan Aneh tapi Nyata | roda dua blog
  3. Waspada Investasi PT.DBS Blitar, 7 hari untung 30%, MMM model baru. | roda dua blog
  4. Masihkah anda percaya Koran Jawa Pos? | roda dua blog

Tinggalkan Balasan