Ekspedisi Misteri, Terowongan Kuno Gunung Mangge dan Legendanya

Gunung Manggge Ponorogo

Di kecamatan Sukorejo Kabupaten Ponorogo, terdapat Terowongan Kuno Gunung Mangge. Terowongan ini berada Di desa Klaten yang membelah gunung Mangge. Menurut kepercayaan orang disekitarnya, didasar gunung itu terdapat sebuah kerajaan roh halus, yang merupakan roh dari Ki Ageng Dongos dan keluarganya, ceritanya adalah sebagai berikut.

Dulu desa manggie itu bernama widodaren, Desa widodaren di kepalai oleh seorang kepala desa yg bernama Ki Ageng Dongos yang mempunyai dua orang anak gadis yang cantik, bernama Rara Srikandi dan Rara Srikanti. Pada suatu saat desa widodaren mengalami kemarau yg sangat panjang, warga desa kesulitan mencari air untuk keperluan sehari-hari dan untuk mengairi sawah.

Wedodaren pun menjadi desa yg tandus dan kering kerontang, untuk memenuhi kebutuhan air warga desa harus mengambil dari sungai Galok yg berada di seberang gunung, harus memutar cukup jauh. Ki Ageng Dongos sangat sedih melihat keadaan yg menimpa desanya, dia mengajak pembantunya yg bernama Patra Singa untuk bertapa di gunung widodaren.

Ditempat itulah Ki Ageng Dongos mendapat petunjuk dari Tuhan. Menurut petunjuk Tuhan, Ki Ageng dongos harus mengadakan sayembara, isinya adalah siapa saja yang dapat membuat trowongan dari sungai Galok ke desa widodaren dalam waktu semalam akan diberi hadiah.

Hadiahnya, bila seorang perempuan akan diangkat menjadi anaknya dan kalau laki-laki akan dikawinkan dengan Rara Srikandi. Sejak saat itu Gunung tempat Ki Ageng Dongos “Manggeh” (mendapat) petunjuk itu kemudian diberi nama gunung mangge.

Ki ageng dongos segera mengumumkan sayembara itu setiba dirumah, namun lama ditunggu tak satupun orang yg mengikuti sayembara itu. Hampir saja ki Ageng Dongos putus asa, untunglah kemudian datang laki-laki bertubuh menyerupai raksasa ingin mengikuti sayembara.

Dia memperkenalkan diri sebagai Jaka Dolok dari jurang ambang,
“saya ingin mengikuti sayembara yang Ki Ageng Dongos adakan” kata laki-laki rasaksa itu.
“baik lah, waktumu satu malam untuk membuat trowongan dari sungai galok ke desa widodaren ini. Mulailah nanti sore dan harus selesai besok sebelum matahari besinar” kata Ki Ageng Dongos.

Jaka Dolok menyanggupi, dan siap-siap pergi ke Sungai Galok. Rara Srikandi yg akan dijadikan hadiah jika pemenangnya lelaki menangis sejadi-jadinya. Dia telah melihat kalau yg mengikuti sayembara tadi seorang laki-laki buruk rupa menyerupai raksasa. Melihatnya saja dia sudah ketakutan, apalagi kalau menjadi istrinya?

Baca Juga:   Indonesia Beli Sukhoi Su-35, Singapura Ngaploo Proposal Pembelian F-35nya ditolak Amerika

Ki Ageng Dongos segera menenangkan hati anaknya.
“jangan bersedih anakku, ayah akan mencari cara untuk menggagalkan pekerjaan Jaka Dolok tadi, ayahpun tak rela kamu menjadi istri dari laki laki itu” kata Ki Ageng Dongos.

Tangis Rara Srikandi pun terhenti setelah mendengar perkataan ayahnya itu. Ki Ageng Dongos bersama Patra Singa segera mencari cara untuk menggagalkan pekerjaan Joko Dolok tadi. Akhirnya ditemukan sebuah cara. Ki Ageng Dongos menyuruh Patra Singa menemui warga desa Widodaren diminta untuk menumbuk padi dan melepas binatang piarakanya sebelum fajar tiba nanti.

Hari telah menginjak petang, Jaka Dolok telah bersiap-siap di tepi sungai Galok untuk segera memulai pekerjaanya membuat terowongan. Dengan kesaktian yg dimilikinya, Jaka Dolok mengeduk tanah dengan tanganya, sedikit demi sedikit untuk membuat terowongan.

Ketika pekerjaanya setengah jadi, terdengar ayam jantan berkokok. Joko Dolok kaget kemudian dia menghentikan pekerjaanya, dia segera bergegas keluar dari terowongan air yang dibuatnya karena ingin tahu apakah benar hari telah pagi, Jaka Dolok pun muncul dipermukaan tanah. Dilihatnya hari masih tengah malam.

Jaka Dolok pun masuk lagi ke dalam tanah dan mengeruk tanah dengan kedua tanganya, tak berapa lama terdengar olehnya orang menumbuk padi, konsentrasi Joko Dolok pun buyar. Dia kembali muncul lagi kepermukaan tanah, ternyata hari masih gelap lalu Jaka Dolok pun kembali masuk kedalam tanah.

Sekarang Jaka Dolok tak berkonsentrasi dalam bekerja. Lalu dia meneruskan mengeruk tanah sambil berjanji tak akan memperdulikan lagi suara ayam jantan berkokok dan suara orang menumbuk padi yang telah menggangu dan menipunya.

Pekerjaan membuat trowongan pun tak secepat tadi, ketika trowongan itu berhasil diselesaikan hari telah siang. Joko Dolok baru menyadarinya ketika dia sudah sampai membuat terowongan ke ujung  sisi gunung.  Itu berarti dia telah gagal membuat trowongan dengan waktu semalam, dengan rasa marah Jaka Dolok melemparkan sisa-sisa tanah yg menempel ditanganya kearah mulut trowongan, sisa-sisa tanah yang mengelantung itu kemudian dinamakan watu glantung.

Jaka Dolok melihat sebentar air mengalir deras dari trowongan yang dibuatnya itu mengalir kesawah-sawah. Warga desa bersorak-sorak menyambut datangnya air, timbul keinginan Jaka Dolok untuk tetap meminta Rara Srikandi menjadi istrinya, segera saja Jaka Dolok menjumpai Ki Ageng Dongos.

Baca Juga:   NGomongin KECAP MANIS :) ahh

Tentu saja permintaan Jaka Dolok ditolak oleh Ki Ageng Dongos. Tapi Jaka beralasan bahwa dia gagal karena diganggu oleh penduduk desa yang menumbuk padi pada malam hari sehingga ayam jantan berkokok yang menyebabkanya tidak bisa konsentrasi dalam bekerja.

Ki Ageng beralasan bahwa yang demikian adalah hal yang lumrah biasa dan sudah menjadi kebiasaan adat dari warganya dan bukan dimaksudkan untuk mengganggu dirinya dalam bekerja. Merasa ditipu, Jaka Dolok lalu mengutuk dua anak gadis Ki Ageng Dongos untuk menjadi perawan tua dan tidak laku menikah sampai mati walau secantik bidadari. Dia kemudian pergi meninggalkan desa dan kutukanya itu dikabulkan Tuhan.

Dua puteri cantik itu tidak ada yang menikahi sampai tua. Di akhir hidupnya, Ki Ageng menyadari kesalahanya lalu memilih bertapa bersama kedua putrinya di dalam terowongan air memohon ampun pada yang Maha Kuasa. Sejak saat itu ketiganya tidak lagi keluar dari terowongan air yang dibuat Jaka Dolok selamanya, sampai saat ini.

Kabarnya, sumpah kutukan Jaka Dolog itu juga menimpa beberapa warga desa Widodaren sampai saat ini. Warga perempuan banyak yang tidak laku menikah dan menjadi perawan tua. Benar tidaknya ini hanyalah sebuah legenda. 😉

Bersambung … Artikel Selanjutnya:
– Terowongan Kuno Gunung Mangge, Inikah Peninggalan Kerajaan Medang?

roda2blog di sosial media

11 Komentar

  1. Kok versine benten geh mas dengan yg di ceritakan mbah saya.
    Soale mbah saya rmhe di daerah situ. Tepatnya belakang rumah mbah saya itu Dam Mangge nya. Yg terdapat pintu air yg menuju ke arah gunung mangge.

  2. ngapunten nggeh kok critane benten ngoten to kaleh nggen kulo mas .soale omahku sanding gunung mangge gek ra enek pdo2ne ya critane iki jipuk ko buku sejarah po ya?

Tinggalkan Balasan