Ken Arok Sang Penumpas Dinasti Wangsa Syailendra Jawa dan Pendiri Wangsa Rajasa

Tulisan ini adalah hasil obrolan saya dengan seorang rekan di warung kopi ketika acara Festival Glangglang 2014, Kerajaan Ngurawan, Dolopo, Madiun. Karena kebetulan kami punya minat yang sama pada sejarah, siang itu dia membuka wawasan saya bahwa Jawa juga mengalami perang sedahsyat Mahabharata yang akhirnya me-reset kebudayaan pada jalur lain.

Sebelum Singosari dan Majapahit (dua kerajaan ini satu keturunan trah) berkuasa, kehidupan politik di tanah jawa aman dan damai. Tidak ada pernah ada huru-hara antara orang jawa sendiri. Bilapun ada serangan pada kerajaan Medang ketika pernikahan Airlangga, itu karena provokasi Sriwijaya dari tanah Sumatera.

Dari zaman Medang Mataram sampai Era Kerajaan Kediri, semua suksesi kepemimpinan berlangsung damai, serta semua masih dalam satu garis keturunan. Trah dinasti Syailendra dari Kerajaan Medang Mataram yang mewariskan pada kita Borobudur, Prambanan dan candi-candi lain di wilayah Jawa Tengah.

Bila diurutkan garis keturunan para raja jawa dulu adalah:
Wangsa Syailendra-Sanjaya (era Medang Mataram, hancur karena letusan gunung merapi pada masa Mpu Sindok)
Wangsa Isyana (Merujuk pada gelar Mpu Sindok saat bertahta  setelah pindah ke Jawa Timur, tapi runtuh setelah diserbu Sriwijaya)
Wangsa Airlangga (Airlangga sang cucu Mpu Sindok berhasil mendirikan lagi kerajaan Kakeknya dan keturunanya menjadi raja-raja Jawa sampai era Kediri)
Ketiga wangsa tersebut masih satu trah keturunan, yaitu Syailendra. Garis keturunan para raja ini terputus ketika Ken Arok menggulingkan Raja Kediri Kertajaya lalu mendirikan Singosari. Salah satu anak Kertajaya berhasil melarikan diri ke Madiun dan mendirikan kerajaan Glangglang di Ngurawan yang nantinya melahirkan Jayakatwang.

Baca Juga:   Futsal itu (Bisa) Membunuhmu, Selamat Jalan Sobat.

Jayakatwang kemudian berhasil meruntuhkan Singosari dan mendirikan lagi kerajaan Kediri. Dia berhasil menangkap Raden Wijaya, putra mahkota Singosari yang kemudian diampuninya lalu diberi tanah perdikan di hutan tarik.  Raden Wijaya kemudian berkhianat dengan memanfaatkan tentara Mongol, yang datang ke tanah Jawa untuk menghukum bapaknya tapi malah digunakan untuk menyerbu Jayakatwang Kediri. Untuk mencegah Wangsa Syailendra keturunan Airlangga bangkit lagi, Jayakatwang berserta semua keluarganya dibantai habis.

Sejak saat itu yang berkuasa di tanah Jawa adalah keturunan Ken Arok dan Ken Dedes yang kemudian disebut sebagai Wangsa Rajasa. Wangsa ini sama sekali tidak mempunyai hubungan darah dengan Wangsa-wangsa sebelumnya.
Maka tidak mengherankan bila sejarah jawa sejak era Majapahit, Demak, Pajang, Mataram Islam, Kartasura, Surakarta selalu dipenuhi perang rebutan kekuasaan.

Ken Arok yang bukanlah keturunan bangsawan atau agamawan atau brahmana, tapi berandalan. Ayahnya hanya seorang wedana, pembantu adipati pada masa Kerajaan Kediri. Saat masih dikandungan ayahnya meninggal, lalu saat dilahirkan dia pun terpaksa dibuang oleh Ibunya di sebuah  pemakaman, lalu diasuh oleh keluarga pencuri.

Baca Juga:   HDYT? Kejadian ini terjadi karena duduknya ngangkang atau menyamping?

Ken Arok lalu tumbuh menjadi berandalan dan menjadi perampok paling ditakuti di wilayah kerajaan Kediri. Dia lalu bersahabat dengan putra Tunggul Ametung, akuwu/camat wilayah Tumapel bawahan Kediri. Karena tertarik pada istri Tunggul Ametung, Ken Dedes. Dengan siasat mengantarkan keris pusaka, Ken Arok sukses membunuh Tunggul Ametung, lalu menjadi penguasa Tumapel kemudian menggulingkan kekuasaan. Keberhasilan suksesi berdarah ini karena didukung oleh seorang Brahmana sakti dan licik asal India bernama Lohgawe yang memaklumatkan pada rakyat bahwa Ken Arok adalah avatar Wishnu.

Maka cukup aneh bila ada kebanggaan legitimasi keturunan Majapahit untuk menjadi pemimpin negeri ini. 😉 Semoga masih ada keturunan Wangsa Syailendra yang nantinya tampil untuk memimpin negeri ini. Agar ada lagi pemimpin yang agung lagi bijaksana seperti Sanjaya,

Obrolan kami terhenti, karena ada dua orang turis dari Bristol-England yang mampir ke warung dan bingung mau makan apa? Setelah cas-cis-cus kami bantu menerjemahkan dia pun tertarik memesan Cassava Espana atau sayur terong atau jangan terong. :mrgreen: Oleh pemilik disajikan 1 piring nasi, 1 mangkok sayur terong, 1 piring lumpia, 1 tempe, 1 piring salak. Lha kok yang dimakan cuma semangkok sayur terong pakek nambah lagi. :mrgreen:

bule terong

 

 

roda2blog di sosial media

14 Komentar

  1. Negeri yang besar ini tidak akan ada, jika tanpa genetik kekhususan dari Ken Arok…

    Dari Ken Arok kita harusnya banyak belajar, kalaupun memang dia -cuma- sekedar seperti apa yang panjenengan utarakan. Justru ketika “berharap / pengharapan, meminta / permintaan” itu cuma menguras tenaga, dan sekarang sudah menjadi andalan dimana-mana / sebagai alih-alih malasnya pemalas untuk berusaha, pasrah / memasrahkan, lemah, lembek dan pesimistis. Bagi Ken Arok, jelas ini tai sapi. Minimal dari keberanian / kemandirian yang dimiliki nyatanya Beliau mampu membuat sejarah…

    Adanya kesultanan yang menggantikan keprabuan di tengah-tengah pulau Jawa pada saat itu juga tidak menjamin Nusantara bebas dari penjajahan. De yure itu bukan jawaban, apalagi pilihan, Mas. Salah satu benangnya, Jangan penah membandingkan Den Bocah dengan Ken Arek, apalagi menyamakan. Ibarat jangan bandingkan China dengan Jepang, apalagi Korea dengan Jepang…

    (Dari sejarah, -buatan-) yang telah dipahami, dengan berbagai kesimpulan yang dimengerti, toh pada kenyataannya leluhur kita justru menangis, bahkan semenjak penginggalannya. Karena, pada nyatanya, Indonesia (Negara-Baru) ironisnya tidak lebih baik / jauh lebih rendah, lahir dan batin… Apalagi yang diandalkan cuma pengharapan…

    “Yang Maha Kuasa tidak melenyapkan kita, tapi kita sekarang hanya disembunyikan. Melihat mutu kalian sekarang, dengan segala kualitas yang kami miliki, maka saatnya kami akan kembali”.

  2. Garis keturunan dinasti selendra dijawa tidak terputus pada kertajaya raja panjalu/ kediri terakhir. Sebab raja raja singasari dan majapahit adalah keturunan tunggul ametung dan kenarok. Tunggul ametung adalah keturunan raja panjalu dari selir. Dan ken arok keturunan raja jenggala dari selir. Kenarok adalah anak raja jenggala dari selir.

  3. Lho Mas, sampeyan bilang di atas begini:
    ” Sebelum Singosari dan Majapahit (dua kerajaan ini satu keturunan trah) berkuasa, kehidupan politik di tanah jawa aman dan damai. Tidak ada pernah ada huru-hara antara orang jawa sendiri”

    Lha .. setelah Raja Airlangga yg bijaksana turun tahta tahun 1042 M kerajaan Kediri dibagi 2 yaitu menjadi Jenggala (diperintah oleh Mapanji Garasakan) dan Panjalu (diperintah oleh Samarawijaya). Keduanya putra Raja Airlangga dari selir, dan mereka beserta anak keturun
    an nya terus berperang (perang saudara) memperebutkan tahta Kediri. Perang saudara itu terus terjadi sampai di zaman Prabu Kertajaya tahun 1194 M. Pada akhirnya Kediri dikalahkan Ken Arok tahun 1222 M.

    Kesimpulan nya kalau dibilang suksesi nya aman-aman saja tidak ada peperangan menurut saya kok tidak benar ya Mas. Juga kalau dibilang Ken Arok menumpas wangsa Syailendra ya tidak benar juga karena Ken Arok adalah Wangsa Syailendra , dia adalah keturunan Sri Maharaja Girindra raja Jenggala. Penaklukan Kediri oleh Singasari dengan terbunuhnya Prabu Kertajaya oleh Ken Arok masih bertema perebutan tahta Kediri. Dan itu masih berlangsung hingga Prabu Jayakatwang membunuh Sri Kertanegara raja Singhasari.

    Siapa pembunuh Jayakatwang? Menurut catatan sejarah China, Jayakatwang dibunuh oleh pasukan Mongol, bukan oleh Raden Wijaya keturunan Raden Tunggul Ametung, wangsa Syailendra.

  4. syailendra itu jelas dan terang sekali asalnya dari melayu sriwijaya bukan asli jawa, jawa ini dijajah sama sriwijaya seratus tahun lho, termuat di prasasti sojomerto gelar syailendra aja sama persis sama gelar raja sriwijaya dan prasatinya berbahasa melayu kuno lagi… apa itu ga terang kalau syailendra yg paling tua berasal dari sriwijaya… jadi kesimpulannya adalah sebagian besar raja jawa saat itu adalah keturunan sriwijaya… apalagi kalau kita baca di prasasti laguna berbahasa melayu kuno di pilipina jelas disitu di tuliskan bahwa mataram kuno adalah wakil yang di utus oleh kerajaan penguasa saat itu yaitu sriwijaya…

  5. pada SEBUAH PERSEPSI : semua pendapat di atas adalah “BENAR” … “BENAR” menurut sebuah persepsi yang di implementasikan dari pemikiran pemikiran pemberi pendapat diatas … sedangkan “BENAR” menurut persepsi lain yaitu persepsi berdasarkan konkrit pendalaman dan penerjemahan prasasti-prasasti yang sudah ditemukan juga “BENAR” adanya … namun ada 2 lagi kebenaran lain … yaitu “BENAR” berdasarkan “KEBENARAN” dan “BENAR” berdasarkan yang paling “BENAR” yaitu ALLAH SWT … pada intinya : FAKTA sejarah raja-raja di JAWA (NUSANTARA / INDONESIA) itu secara PASTI belum terkompulir dan terdokumentasikan dengan baik … lantas bagaimana kita mengambil kesimpulan kesimpulan apalagi mengambil intisari kebenaran itu sendiri ? yaaa … semua masih sebatas PERSEPSI (meskipun) banyak yang sudah pada titik KEBENARAN LELAKU SEJARAH itu sendiri … sehingga ketika (MANUSIA MANUSIA BARU) DI TANAH JAWA INI melalui berbagai macam prosesi spiritual dari alam HIKMAH menuju alam HARFIAH atau dari ALAM LAHIR menuju ALAM BATIN … Insya’ALLAH akan ada petunjuk lebih luasss tentang “KEBENARAN” itu sendiri … sialnya (sialnya lagi) ketika KITA SUDAH MENCAPAI PADA TITIK ITU, MAKA KITA TIDAK AKAN MEMBICARAKANYA karena yang ada nantinya hanya KEYAKINAN dan KEYAKINAN adalah tahap selanjutnya atau tahap lebih dalam daripada KEBENARAN itu sendiri !!!

  6. Garis trah Syailendra-Sanjaya terputus setelah Ken arok mendirikan Wangsa Rajasa, sehingga raja-raja sesuadahnya sampai Yogyakarta-Surakarta-Mangkunegaran-Paku Alaman tidak ada sama sekali garis keturunan Syailendra dan Sanjaya…?? Apa benar begitu…?. Coba ditelusuri ulang :
    1. Ken Arok :
    Rasanya janggal jika Ken Arok berasal dari rakyat kalangan bawah bisa jadi raja. Apalagi jaman dulu, masa sekarang saja yang sudah ada kebebasan berpolitik tidak ada ceritanya rakyat miskin/wong cilik/tukang ngarit rumput bisa jadi Camat, Bupati dst
    Analisa paling mungkin adalah Ken Arok masih ada trah raja sebelumnya (entah dari ibu atau bapaknya) yang sudah berada di luar kraton dan menjadi rakyat biasa.Atau ibunya Ken Arok menjadi pembantu di keluarga ningrat lalu dinikahi (Siri jaman sekarang) keluarga ningrat tsb lalu mengandung Ken Arok. Bukankah sekarang juga banyak orang bergelar R(Raden), Rr(Raden Roro) tapi jadi warga biasa..?
    2. Ken Dedes
    Ken Dedes anak Mpu Purwa (seorang agamawan kharismatik pada jamannya). Nah apa mungkin Mpu Purwa juga dari kalangan rakyat biasa..? Sepertinya dia juga masih ada keturunan raja yang pilih menjadi rohaniawan. Ulama sekarang juga kebanyakan berasal dari trah raja.
    3. Tunggul Ametung
    Dia adalah seorang yang dipercaya oleh Kertajaya (Raja Kediri terakhir) untuk menjabat Akuwu di Tumapel). Pada jaman dulu orang yang dipercaya menjadi pejabat tinggi juga masih ada hubungan kerabat keraton, bukan murni rakyat biasa
    4. Siapa istri Anusapati yang menurunkan Ranggawuni…? Siapa istri Mahisa Wongateleng yang menurunkan Mahisa Cempaka..?? Apakah mungkin para istri tsb berasal dari rakyat jelata..?? Rasanya juga nggak mungkin.. Mungkinkan istri mereka masih ada garis keturunan Syailendra..? Bisa jadi YA….

    Dari analisa saya itu berarti raja-raja jawa setelahnya tetap masih ada garis trah dari Syailendra-Sanjaya

  7. Leluhur kita adalah orang2 super istimewa…
    Berjalannya waktu dan politik ..
    Sejarah terkubur dan hanya bisa menerka..
    Berusaha membuat senyum untuk sesama..
    Minimal Kluarga kita…

Tinggalkan Balasan